
"Mau ke mana pagi-pagi begini, Ra?" Mulan bangun dengan mata yang masih berat.
Suaminya sudah tampak rapi dan tengah berdiri di depan kaca menyisir rambut tebalnya.
"Udah bangun, Yang?" Rama mendekat, duduk di tepi ranjang.
"Mau ke mana? Kok nggak bangunin aku?" tanya Mulan lagi.
"Ada urusan bentar, Yang. Nggak pa-pa, kan aku tinggalin kamu nggak lama?" izin Rama.
"Mau ke mana emangnya? Urusan apa?" cecar Mulan penasaran.
"Jacob. Dia minta dianterin hari ini. Dia mau ketemu orang katanya."
Mulan mengernyit. "Ketemu orang, siapa?"
"Nggak tahu. Aku cuman minta dianterin," sahut Rama setengah berbohong.
Sengaja tidak membangunkan Mulan, Rama berpikir akan pergi diam-diam menemui Jacob di rumah sakit. Hari ini mereka berencana akan mulai melancarkan misi yang sudah mereka susun kemarin dengan matang.
Siapa yang menyangka disaat dia sudah sangat siap, Mulan malah bangun dan bertanya macam-macam padanya.
"Kalo gitu aku ikut yah, Ra? Aku males dirumah sendirian...," pinta Mulan memelas.
Rama diam, bimbang dalam hati. Menolak, tidak mungkin. Istrinya pasti akan curiga jika Rama menolak permintaan Mulan. Pria bertubuh atletis itu pun akhirnya mengangguk lemah mengiyakan ucapan Mulan.
"Yaudah aku mandi dulu, tunggu bentar yah...." Mulan beranjak dari ranjang, buru-buru masuk ke kamar mandi penuh semangat.
Rama menatap wanitanya masuk ke sana dengan pikiran melayang. Sepertinya rencana mereka hari ini terancam batal, gumamnya.
Rama pun merogoh ponselnya di saku celana. Menekan tombol pesan dan mengirim pesan singkat ke nomor sahabatnya Jacob dan juga Gober.
__ADS_1
Mungkin meminta bantuan dari dua sahabatnya bisa memudahkan mereka menjalankan misi kali ini.
Hampir tiga puluh menit menunggu Mulan bersiap, pasangan suami istri pun meluncur menuju rumah sakit di mana Anna masih dirawat.
Terhitung sudah empat hari wanita itu dirawat di sana. Mulan akhirnya bisa mengunjungi Anna setelah sempat tidak diizinkan Rama tempo hari.
Rama tidak mau istrinya melihat semua luka lebam yang masih membiru diwajah Anna dan membuat Mulan syok. Setidaknya menunggu Anna jauh lebih baik adalah keputusan yang paling tepat, pikir Rama.
"Nanti kamu tunggu aku di rumah sakit aja yah, Yang. Aku nggak enak mau ketemu kenalan Jacob trus akunya malah bawa orang lain juga." Rama membuka suara setelah keduanya berjalan bersama masuk ke gedung rumah sakit.
"Emang kenalannya siapa, sih? Cewek?" selidik Mulan.
"Ya ampun ... nggak mungkinlah, Yang. Masa Jacob minta ditemenin ketemunya sama cewek," sahut Rama was-was, takut dicurigai istrinya.
"Yah siapa tahu aja, kan. Namanya juga cowok!" sinis Mulan masuk ke dalam lift diikuti Rama.
"Kenapa bawa-bawa cowok sih, Yang? Nggak semua cowok begitu juga kali. Lagian kita semua udah pada nikah, kan. Ngapain juga nyari-nyari cewek nggak jelas diluar."
Mulan mencebik melipat tangannya di depan dada. "Terserah kamu ajalah!"
Pipi yang menggembung menjadi tanda Mulan sedang kesal padanya. Entah kenapa hari ini Mulan sangat sulit sekali diyakinkan.
"Siapa yang nggak izinin, sih?! Pergi aja kalo kamu mau pergi. Tapi inget, baliknya nggak boleh lebih dari dua jam!"
"Hah? Kok gitu sih, Yang? Jalanan, kan jam segini lagi macet-macetnya, Yang. Masa aku nyuruh Jacob ketemu orang dicepet-cepetin?" protes Rama dengan nada membujuk.
"Yaudah tiga jam. Aku lebihin kamu satu jam lagi. Nggak usah protes kalo kamu masih mau pergi!" Mulan mengalah, keluar lebih dulu begitu pintu lift terbuka.
Rama hanya bisa mengusap wajahnya kasar tidak bisa membantah perkataan istrinya. Lebih baik dia mengiyakan daripada rencana dia dan sahabat-sahabatnya batal dilaksanakan.
Begitu pintu ruang perawatan Anna dibuka dari luar, Mulan begitu terkejut melihat ada adik ipar bersama suaminya di dalam. Kedua orang itu tersenyum menatap Mulan yang membola kaget.
__ADS_1
"Cima? Kalian udah pulang?"
"Iya. Kaget, yah?" goda Gober cekikikan.
"Kok, cepet banget? Bukannya kalian di Jepang masih dua Minggu lagi, yah?" Mulan mendekati Cima mencium pipi kiri dan kanannya.
"Nggak jadi, Lan. Kita pulang lebih cepet karena denger Anna masuk rumah sakit." Cima menjawab sembari membalas cipika cipiki khas perempuan itu.
"Trus kenapa nggak ngasih tahu dulu, Ci? Kan, Rama bisa jemput kalian di bandara." Dua wanita itu larut dalam pembicaraan kenapa dan mengapa.
Anna ikut mendengar pembicaraan keduanya dengan para pria yang saling melirik memberi kode masing-masing.
Mereka sudah terlambat lima menit karena menunggu Rama yang sedikit kesulitan meyakinkan istrinya.
"Udah, yang penting semuanya udah di sini, kan? Makasih, yah udah repot-repot ke sini jengukin aku...." Anna menyela pembicaraan istri sahabat suaminya dan tersenyum menatap bergantian Mulan dan juga Cima.
Dua wanita itu kompak mendekati ranjang dan mulai membicarakan banyak hal bersama. Mereka sampai tidak mempedulikan suami mereka yang pamit meninggalkan ketiganya di dalam ruang perawatan Anna.
"Jadi gimana, Bora bener ngasih infonya, kan, Ra?" Gober bertanya setelah mereka masuk ke dalam mobil Rama.
Dia duduk di kursi belakang dengan Jacob dan Rama yang berada di kursi depan mobil.
"Udah tenang aja. Kita tinggal nunggu orang yang kita bayar beraksi." Rama mulai menyalakan mesin, perlahan meninggalkan parkiran.
"Tapi, kita nggak bakal ketahuan, kan, Ra? Gue belum sempet main enak sama istri gue kalo kita sampe ketangkep," keluh Jacob resah sendiri dalam hati.
Bulan madu saja tidak sempat, apalagi sampai mendesahh bersama. Jacob takut dia tidak akan bisa menghabiskan waktu panjang bersama Anna jika misi mereka diketahui polisi.
"Ish, maen aja di otak Lo! Ini juga kita kayak gini karena mau bantuin elo, Cob. Nggak ada juga yang mau ketangkep di sini!" sentak Gober menyentil telinga sahabatnya.
Pria yang duduk di samping kemudi merintih, mengusap telinga kanannya yang seketika berdenyut.
__ADS_1
"Sakit tahu, Ber!" kesal Jacob.
"Udah pokoknya kalian tenang aja. Untuk masalah ini asisten gue paling bisa diandelin, kita tinggal nunggu kabar baik dari dia bentar lagi."