
"Selamat siang Pak Rama dan Ibu Mulan. Selamat datang di Milan...." Seorang pria memakai setelan jas rapi datang mendekati pasangan suami istri yang berdiri agak jauh menunggu jemputan mereka.
"Perkenalkan nama saya Bora, biasa dipanggil Bora-bora," ucapnya lagi sedikit membungkuk memberi hormat.
"Nggak usah cerewet, mana mobilnya?! Gue capek mau istirahat!" sahut Rama ketus.
Pria yang punya wajah tampan dengan garis kebarat-baratan itu sontak dibuat keki mendengar ucapan anak bosnya. Rama memang selalu ketus setiap kali bertemu dengannya sejak dulu.
"I-Iya, Pak. Maaf, mari saya antar ke mobil." ucapnya menangkap tas milik Rama yang langsung dia lemparkan ke arahnya.
Mulan hanya bisa menggeleng melihat kelakuan pria dewasa seperti Rama yang senang bersikap seenaknya pada orang lain. Mungkin sesekali dia harus mengajarkan cara bagaimana menghargai orang lain pada pria tidak punya sopan santun itu, pikirnya.
"Mari, Bu." ucap Bora membuka pintu lebar untuk istri calon bosnya.
"Makasih, yah...," sahut Mulan tersenyum hangat.
Rama berdecih melihat dua orang yang baru saja bertemu itu terlihat sok akrab satu sama lain. Hatinya mendadak panas dengan rasa jengkel di dalam sana.
"Kamu dari mana aja tadi?! Kenapa lama banget jemput kita?!" Rama bersuara setelah mobil yang dikendarai oleh Bora meluncur meninggalkan parkiran bandara.
"Maaf, Pak. Tadi saya sedang ada pertemuan sedikit dengan calon rekan bisnis Bapak disini. Itu sebabnya saya agak lama ke bandara."
"Halah, alesan aja Lo! Bilang aja kalo Lo lupa, jemput kita tadi. Gue heran sama Daddy kenapa malah milih elo jadi asisten gue disini!" sahut Rama tidak suka.
Bora, pria yang lebih muda setahun darinya itu dianggap Rama sebagai pria yang tidak tahu apa-apa.
Umurnya yang lebih tua membuat Rama gengsi di perintah dan bahkan diajarkan oleh Bora untuk mulai mengembangkan perusahaan ayahnya disini.
Rama merasa ayahnya terlalu mengelu-elukan Bora sebagai pria cekatan yang bisa membantunya dalam hal bisnis properti di Kota Milan.
"Saya tidak berbohong, Pak. Bapak bisa bertanya pada Pak Richard untuk hal itu," sahut Bora membela diri.
Rama berdecak memutar bola mata malas. "Dari dulu Lo emang selalu gunain nama bokap gue buat nutupin kelakuan Lo! Lo tahu gue pasti nggak bakal berani nanya sama bokap gue, kan?! Dasar muka dua!" sinis Rama.
Bora terlihat membuang nafas panjang mendengar ucapan Rama. Seperti kata atasannya tempo hari, dia harus banyak-banyak bersabar dengan kelakuan Rama yang sering seenaknya pada orang lain.
Pria yang duduk di belakang kursi kemudinya memang tidak pernah bisa cocok dengannya sejak lama. Entah kenapa kelakuan Rama bisa sangat berbeda dengan ayah dan ibunya, bahkan juga dengan saudara perempuannya Cima. Mereka sepertinya lebih tahu cara memperlakukan orang lain dibanding Rama, pikir Bora.
__ADS_1
"Berisik banget, sih Lo! Nggak capek apa mulut Lo daritadi ngomel melulu?!" Mulan bersuara, menyela pembicaraan dua pria itu.
"Lo diem aja kalo nggak tahu apa-apa! Tanggepan Lo nggak dibutuhin disini!" sentak Rama masih kesal dengan istrinya.
"Gue juga, tuh sebenernya males ngomong begini, tapi berhubung gue juga ada disini dan gue masih belum budek. Gue nggak mau perjalanan yang melelahkan hati dan nurani ini makin capek dengerin Lo ngomel mulu daritadi kayak kereta api! Di mobil ini bukan cuma ada Lo, doang Rama...!" sahut Mulan sengaja membuat pria itu meradang.
"Lo—"
"Udah diem!" Mulan menutup mulut suaminya dengan tangan, menatap manik mata coklat mudanya tajam.
"Kalo Lo masih bawel lagi, gue lemparin Lo keluar dari mobil sama kayak pacar Lo kemaren!" sambung Mulan terlihat serius.
Rama seketika mengangguk dengan mulut yang tertutup. Bukan apa-apa, hanya saja akan sangat berbahaya baginya jika Bora sampai mendengar hal yang lebih banyak lagi dari mulut Mulan. Bawahan kepercayaan ayahnya itu pasti akan melaporkan apa yang dia dengar hari ini pada Richard, pikirnya.
Rama tidak mau ayahnya tahu dia membawa wanita lain dalam pesawat selama perjalanan mereka menuju ke Itali. Pria itu pasti akan langsung terbang kesini dan memukulinya dengan cambuk jika dia sampai mendengar hal tersebut. Rama masih sayang dengan diri dan juga kehidupannya ke depan.
Melihat tingkah pasangan suami istri dikursi belakang, Bora tersenyum tipis. Sepertinya kehadiran Mulan dalam hidup Rama mulai bisa membawa perubahan untuknya. Setidaknya ada satu orang yang bisa membantu Bora disini disaat dia diomeli dan di bully habis-habisan oleh Rama.
Memasuki kawasan perumahan di wilayah yang terbilang cukup elit, Bora memberhentikan mobil di depan rumah mewah dengan halaman yang strategis di depannya, dan telah siap dihuni.
Richard sudah menyiapkan semua kebutuhan anak dan menantunya selama mereka tinggal di Milan, Itali.
"Maaf, Bu. Ini kunci rumah sama kunci mobilnya. Pak Richard memberikan mobil satu, satu untuk Bapak dan juga Ibu." Bora menyodorkan tiga buah kunci ke tangan Mulan, sesaat setelah wanita berambut panjang itu turun dari mobil.
"Ngomongnya nggak usah formal begitu, Bor. Panggil Mulan aja biasa. Lagian aku cuma nggak lama jadi ibu bos kamu, kan...," ucap Mulan kembali tersenyum hangat.
Richard sudah memberitahu Mulan tentang Bora yang akan ikut membantunya juga disini dalam misi balas dendamnya.
Mulan berani bersuara begitu karena tahu Bora tidak mungkin membeberkan masalah ini pada Rama, sampai semuanya berakhir.
"Eh, emang bisa?" sahut Bora menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bisalah, masa enggak. Ada-ada aja kamu." Mulan tersenyum hangat untuk yang ketiga kalinya.
Bora sampai salah tingkah melihat senyum manis dengan perlakuan hangat yang ditunjukkan istri atasannya padanya. Wanita sebaik ini kenapa bisa disia-siain sama orang lain, yah? Gumam Bora dalam hati.
"Yaudah, aku masuk, yah? Nggak usah di dengerin apa kata Rama tadi. Besok aku bakal temuin kamu begitu kamu senggang," sambung Mulan bersiap masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Iya. Nanti aku kabarin di mana tempatnya." Mulan mengangguk, melanjutkan langkah kakinya ke dalam rumah bernuansa Eropa itu.
Mulan tahu Bora pasti sedikit tersinggung dengan ucapan suaminya di mobil. Mulan merasa dia harus meminta maaf pada Bora karena kelakuan Rama.
Baru saja menutup pintu, Mulan langsung ditarik, diseret menuju ruang tamu dan di dorong ke kursi oleh Rama.
"Ngomong apa Lo sama Bora?!" tanyanya kesal.
"Apa, sih?! Main nyeret-nyeret aja Lo!"
"Jawab aja pertanyaan gue. Lo ngomong apa tadi sama Bora, hah?!" tanya Rama lagi menatap tajam wanita di depannya.
"Bukan urusan Lo! Lagian sejak kapan Lo jadi kepo sama urusan gue?! Urus aja urusan Lo sendiri!" Mulan bangkit, mendorong Rama menjauh darinya.
Pria bertubuh atletis itu dengan sigap menarik tangan Mulan, membalikkan badannya menghadap dia hingga tubuh Mulan membentur dada Rama yang bidang.
Sentuhan dua benda besar di dada Mulan ikut terasa ditubuh Rama begitu tubuh mereka bertabrakan dan saling menempel.
Pikiran liarnya akan dua benda itu seketika membuat Rama refleks menyentuhnya dan meremasnyaa dengan gemas.
Astaga ... gede banget ini, gumam Rama dalam hati yang langsung mendapatkan tamparan penuh amarah dari Mulan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aduh ... dasar biji! 😩🤦