Touch My Body

Touch My Body
Calon Mertua


__ADS_3

"Kita ngapain ke rumah Richard, Ber?" tanya Donal begitu tiba di halaman depan rumah sahabatnya.


"Turun aja, Pi. Nanti juga Papi tahu," sahut Gober keluar lebih dulu dari mobilnya.


Mereka tiba tepat pukul tujuh malam menaiki mobil Gober. Pria itu masih sempat mengatur rambut cepaknya memastikan penampilannya malam ini tampak memukau.


"Ber, kita ngapain kesini, sih?!" Celin ikut bersuara, bingung melihat mereka malah berhenti di rumah sahabat suaminya, dan bukan di rumah calon menantunya.


Tunggu ... apa jangan-jangan?


Celin bergegas ikut keluar dari mobil mendekati anaknya yang bersiul-siul rendah di samping kaca mobil.


"Kamu nggak mungkin mau ngelamar Cima, kan, Ber?" tanya Celin menepuk lengan anaknya.


"Ish, Mami ngapain, sih mukul-mukul segala!" keluh Gober mengusap lengannya.


"Ck, jawab aja pertanyaan Mami. Pacar kamu Cima ato bukan?!"


"Kita masuk aja dulu, Mi. Nanti juga Mami sama Papi tahu sendiri, kok."


Celin berdecak, memanggil suaminya ikut keluar bersama mereka.


"Nal! Sini kamu!" panggilnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Gober.


"Kenapa, sih?!" Donal mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil menatap bergantian istri dan anaknya.


"Turun sini, ini anak kamu nggak jelas ngomongnya dari tadi!"


Donal mendengus terpaksa keluar dari mobil. Pria itu sama sekali tidak berpikir ada seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan mereka kesini.


"Kenapa sih, Cel?" tanyanya begitu tiba di samping istrinya.


"Ini anak kamu, kayaknya dia pacaran sama—"


"Udah masuk aja dulu, Mi...," potong Gober. "Aku tinggal, nih kalo nggak masuk."


Gober berbalik, berjalan meninggalkan orang tuanya yang masih berdiri di dekat mobil yang terparkir.


"Eh, tunggu, Ber. Kita ngapain kesini, sih sebenernya?" Donal berjalan cepat, mengikuti langkah anak semata wayangnya dari belakang.


Celin hanya bisa menghembuskan nafas panjang, ikut berjalan mengikuti dua pria itu. Jika benar apa yang dia pikirkan, suaminya pasti akan syok mendengar Gober akan melamar wanita yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Ber, kita ngapain kesini, hah?!" Donal masih memberondongi anaknya dengan pertanyaan yang sama sampai wanita berambut panjang dengan mata yang sipit membuka pintu rumah mereka.


"Malem, Mom...," sapa Gober begitu melihat ibu wanita yang dia cinta berada di depan mereka.


"Malem, Ber. Kirain nggak bakal dateng," canda Amanda tersenyum lembut.


"Pasti bakal dateng dong, Mom. Masa enggak, sih...," sahut Gober malu-malu.


"Eh, Lo tahu kita bakal dateng, Manda?" sela Donal kaget.


"Iya tahu ... masuk, yuk. Celin mana?"


"Gue di sini." Yang ditanya menjawab sembari mengangkat tangan.


Kakinya seketika lemas begitu mendengar Amanda tahu kedatangan mereka kesini. Sepertinya benar dugaan wanita itu tentang anak kebanggannya yang berpacaran dengan Cima.

__ADS_1


"Yaudah masuk dulu yuk," ajak Amanda membuka pintu rumahnya lebar.


Gober mengangguk dan masuk ke dalam rumah yang sering menjadi tempat persinggahannya dulu semasa kecil dan remaja.


Begitu banyak kenangan yang tersimpan di rumah nyaman milik sahabat orang tuanya. Gober merasa kembali ke jaman ingusan setiap kali berada di rumah ini.


"Duduk dulu, yah. Aku panggil Richard bentar."


"Tunggu, Manda." tahan Donal. "Richard tahu juga kita mau dateng malem ini?"


Amanda hanya tersenyum membalas pertanyaan Donal dan sedikit melirik pada Gober yang gugup.


"Kenapa nanya-nanya gue?!" Richard mendekati keluarga sahabatnya begitu mendengar suara pintu dibuka oleh Amanda.


Pria yang mulai beruban itu cepat-cepat turun ke lantai satu rumahnya menghampiri Donal, Celin dan calon menantunya.


Astaga ... Richard tidak habis pikir dengan kata menantu itu. Gober terlihat gugup dan terus menunduk tidak berani menatapnya.


"Eh, Chad. Lo yang minta Gober bawa kita kesini? Ngapain?"


Richard berdecak, menjatuhkan dirinya tepat berhadapan dengan Gober yang duduk berdehem tidak tenang.


"Tanya aja sama anak Lo kenapa, gue juga baru dikasih tahu tadi sore sama Amanda."


"Hah? Kok bisa?" Donal beralih menatap Amanda yang mengangkat bahunya, berpindah duduk di kursi sofa samping Richard.


"Ber! Kamu emang bener-bener, yah...!" Celin mencubit pinggang Gober, kesal karena anaknya tidak memberitahukan siapa wanita yang akan mereka lamar malam ini.


"Maaf yah, Manda ... Pak Richard. Gober sama sekali nggak ngomong kalo kita sebenernya bakal kesini malem ini. Aku beneran nggak tahu kalo Gober dan Cima pacaran."


"What?!" Donal memekik kaget begitu mendengar ucapan istrinya. Pria itu dengan cepat menatap Gober yang tersenyum keki di dekatnya.


"Jadi selama ini Lo nggak tahu, Nal?" sela Richard pada sahabatnya.


"Gue nggak tahu, Chad. Gue bener-bener nggak tahu soal itu. Gober aja baru tadi malem ngomong sama gue dan Celin dia mau ngelamar cewek. Gue nggak nyangka cewek yang bakal dia lamar itu ... anak Lo!" Suara Donal perlahan mengecil saat menyebut kata 'anak Lo'.


Entah kenapa dia jadi sedikit malu duduk berhadapan dengan keluarga sahabat yang juga akan menjadi calon besannya.


"Yaudahlah nggak usah heboh begitu, Nal. Yang penting, kan malem ini Lo udah tahu. Gue kesel aja sama anak biji Lo kenapa mau ngelamar Cima tiba-tiba begini!" sahut Richard menatap sinis pria yang masih menundukkan kepalanya.


"Hadeh ... aku juga kaget pas dia bilang mau ngelamar cewek, Chad. Bayangin aja dia baru ngomongnya tadi malem, dia kira segampang itu apa dateng ke rumah orang ngelamar anak ceweknya. Gue, kan nggak ada persiapan apa-apa, Chad. Gue—"


"Ini jadi kenapa kalian yang pada curhat, sih!" Amanda menyela, kesal karena dua pria yang jika sudah bertemu itu akan langsung berghibah tentang banyak hal, tanpa peduli siapa yang ada di sekitar mereka.


"Eh, iya sorry, Manda. Kebiasaan soalnya." sahut Donal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yaudah langsung aja ngomong kalian mau apa dateng kesini, ini acara resmi loh bukan lagi nonton bola."


"Iya, iya ... jadi maksud kedatangan kami kesini yaitu ingin melamar anak Pak Richard dan Ibu Amanda menjadi istri dari anak penerus kami saudara Gober bin Donal. Jika berkenan kiranya lamaran kami bisa diterima oleh Bapak dan Ibu berdua," ucap Donal lancar.


Pria itu sedikit bangga karena bisa mengungkapan maksud kedatangan keluarga mereka dengan sangat baik pada Richard dan Amanda. Donal merasa telah menjadi ayah yang sangat berguna untuk anaknya.


"Tunggu, sebelum kami jawab. Aku punya satu pertanyaan buat calon menantu di keluarga kami. Boleh aku bertanya?" Gober memberanikan diri mengangkat kepala, memandang Richard yang terus saja menatapnya tajam sejak tadi.


"Silahkan Uncle," sahut Gober resah dalam hati.


"Baik, aku ingin menanyakan berapa kali kamu main dalam sehari?"

__ADS_1


"A-apa Uncle?" Semua yang ada di sana sontak menatap Richard kaget.


"Pertanyaan macam apa itu, Chad?!" tanya Amanda.


"Kamu diem aja, By. Ini pertanyaan antara pria dan pria."


Donal hanya bisa menggelengkan kepala merasa sahabatnya pasti sengaja ingin mengerjai Gober.


"Jawab, Ber. Ditanyain, tuh sama calon mertua kamu!" Donal ikut menyela, mendukung Richard bertanya tentang hal itu.


"Ha-harus, yah Uncle?" Richard mengangguk.


Gober merasa sangat malu tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. Bisa-bisanya Richard menanyakan hal sepribadi itu pikirnya.


"Mmm ... biasanya sampe tiga kali, sih Uncle."


"Kurang!" ucap Richard cepat.


"Hah?"


"Kurang kalo cuman tiga kali, Ber. Kamu harus bikin sampe lima kali kalo perlu! Jangan malu-maluin Papi kamu yang jago main waktu masih muda dulu!"


Donal, Celin dan Amanda seketika tertawa tertahan mendengar ucapan absurd Richard pada pria yang refleks menelan salivanya kasar. Gober merasa wajahnya mulai memerah antara malu dan gugup.


"Kalo mau jadi menantu Uncle, kamu harus main sampe lima kali, Ber. Uncle bakal cek begitu kamu sama Cima nikah nanti."


"Hah? Seriusan, Chad?" tanya Donal.


"Kenapa, Lo mau ngecek juga? Nanti kita sama-sama cek gimana perkasanya anak biji Lo ini!"


"Astaga ... yang bener, Chad ngomongnya!" sela Amanda mulai jengah dengan kelakuan suami dan sahabat pria itu.


"Aku beneran, By. Menantu kita musti hebat, dong kayak papi sama daddy-nya. Jangan malah malu-maluin kita nanti pas di ranjang."


Amanda menggelengkan kepala tidak habis pikir kenapa anak mereka bisa sama-sama punya calon mertua yang tidak waras begini.


Celin hanya bisa tertawa geli, ikut mendukung program kedepan dua sahabat biji itu.


"Jadi, Ber. Abis ini siap-siap aja kamu abis nikah, Uncle sama Papi kamu bakal ngecek berapa kali kamu main sama Cima."


.


.


.


.


.


.


.


Ya ampunn ...


ada-ada aja mau jadi menantunya babang Richard 😆

__ADS_1


BtW yang mau gabung di WAG pecinta biji bisa langsung DM IG author, yah @adamvanda


nanti author masukin ke WAG abis itu... 🤗


__ADS_2