Touch My Body

Touch My Body
Tinggal Sama Aku


__ADS_3

"Halo, Pak?"


"Kesini bentar." Bunyi telepon diputus terdengar di ujung sana.


Anna menghembuskan nafas panjang mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak tenang. Terhitung sudah dua hari ini dia menghindari atasannya karena malu dan tidak punya muka untuk sekedar bertemu dengan Jacob.


Ah, ini semua karena ucapannya yang tidak pada tempatnya. Gegara ciuman tiba-tiba Jacob waktu itu dia sampai mengatakan atasannya sendiri sebagai gigoloo.


Bagaimana ini? Dia sudah berusaha menghindari Jacob namun tidak mungkin dia terus menerus memberikan alasan sakit hingga tidak masuk kerja selama dua hari.


"Kenapa, Na?" tanya rekan kerja satu timnya yang juga orang Indonesia.


"Dipanggil Pak, Bos...," sahut Anna tidak bersemangat.


"Yaudah sana pergi, selama kamu nggak masuk Pak Jacob jadi sering uring-uringan nelpon kesini. Aku sampe males setiap lima belas menit sekali angkat telpon dari dia!" gerutu teman timnya yang bernama Ika.


Anna menghembuskan nafas panjang lagi. Apa dia resign saja dari sini? Tapi bisa digaji dengan uang yang lumayan banyak setidaknya bisa memenuhi kebutuhannya yang cukup banyak juga.


Kalau dia sampai berhenti, Anna tidak mau harus kembali lagi ke negaranya. Dia harus pergi sejauh mungkin dari sana untuk menghindari seseorang yang telah melukainya dengan sangat dalam dan kejam.


Lebih baik dia menghadapi apa yang ada di depannya sekarang daripada terjebak lagi dengan seseorang itu, pikirnya.


Anna pun akhirnya bangkit, melangkahkan kaki dengan malas menuju ruang kerja Jacob yang berhadapan langsung dengan ruang kerjanya. Sebelum masuk wanita itu mengetuk pintu, menunggu Jacob menyahut dari dalam.


Dia tidak mau lagi melakukan hal yang sama keduanya kalinya dan melihat benda menggelantung panjang milik atasannya lagi seperti tempo hari.


Jacob terdengar mengatakan 'masuk' sebelum Anna mendorong pintu dan melangkah ke dalam.


"Bapak panggil saya?" tanya Anna berusaha terlihat biasa.


"Duduk," ucap Jacob sibuk dengan kertas-kertas di depannya.


Anna tidak bisa membantah dan menjatuhkan dirinya di kursi depan meja kerja Jacob. Pria itu tidak bersuara sampai pekerjaannya mengecek berkas-berkas yang ada selesai.


"Kamu sakit?"


"Iya, Pak."


"Sakit apa?"


"Meriang, Pak," sahut Anna berbohong.


Jacob mengernyit, menatap penuh selidik wanita berhidung mancung itu. "Meriang kenapa? Perasaan dua hari yang lalu kamu baik-baik aja."

__ADS_1


"Mmm, kayaknya masuk angin, Pak. Sebelum ke kantor saya sempat kena hujan waktu belanja di market dekat apartemen," sahut Anna tidak berbohong.


Dia memang sempat ke market pagi itu membeli bahan-bahan untuk kulkasnya sebelum berangkat ke kantor. Anna rasa hal itu bisa dia jadikan alasan kenapa dia sampai meriang karenanya.


Jacob diam, masih menatap Anna yang perlahan menundukkan kepala malu. Anna masih tidak sanggup berlama-lama saling bertatapan dengan atasannya. Tangannya mulai dingin karena gugup, resah, dan takut akan dimarahi oleh Jacob.


"Kalo gitu mulai sekarang kamu nggak perlu belanja lagi!"


Anna tersentak, mendongak menatap Jacob tidak mengerti. "Maksud Bapak?"


"Kamu tinggal bilang aja sama aku, kamu perlu apa. Semua yang kamu butuhin bakal aku kasih sama kamu."


"Hah? Buat apa, Pak? Aku nggak perlu—"


"Nggak usah ngebantah!" potong Jacob cepat. "Ini perintah dari aku!" sambungnya mulai mengintimidasi.


Pria berlesung pipit itu memang sengaja membuat Anna tidak bisa berkutik lagi di depannya. Jacob tahu Anna sengaja menghindarinya setelah ciuman mereka waktu itu.


"Dan satu hal lagi, kamu nggak bakal kemana-mana karena mulai nanti sore dan seterusnya ... kamu bakal selalu pulang sama aku!"


Anna mengernyit semakin tidak mengerti dengan perkataan atasannya. Baru saja akan membuka suara, ponselnya berdering nyaring dari saku celana panjang yang dia pakai.


Wanita itu memilih mengangkat panggilan tersebut karena nomor yang tertera di sana terlihat berasal dari manajemen apartemen yang dia sewa.


"Silahkan." Jacob tersenyum, tahu siapa yang sedang menghubungi sekretarisnya.


Anna sedikit menjauh sebelum berbicara dengan seseorang di ujung sana.


"What? Why?" (Apa? Kenapa?). Suara kaget Anna sontak membuat Jacob tersenyum puas.


Pria itu melipat tangannya di belakang kepala dan mulai bersiul-siul rendah. Anna kembali duduk di depannya setelah panggilan di telepon genggamnya selesai.


"Kenapa?" tanya Jacob berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Aku ... apartemen yang aku sewa udah dibeli orang lain, Pak. Aku diminta keluar dari sana hari ini juga...," sahut Anna sedih.


Baru saja dia berencana ingin menabung dan membeli apartemen itu agar menjadi miliknya sendiri, Anna harus kehilangan tempat tinggalnya tanpa pemberitahuan lebih dulu.


Di mana dia harus tidur malam ini kalau dia sudah diminta keluar hari ini juga? Tidak mungkin dia menyewa kamar hotel untuk sementara waktu, kan? Uang yang dia simpan bisa langsung habis karena harga kamar yang sangat mahal disini, batinnya.


"Udah nggak usah sedih begitu. Kamu bisa tinggal sementara waktu di apartemen aku kalo kamu mau. Lagian apartemen aku luas, kamu nggak usah khawatir sama space yang kurang di sana."


Anna mendongak, menatap atasannya tidak percaya. "Pak Jacob serius?"

__ADS_1


"Iya, itupun kalo kamu mau, sih...."


"Mau, Pak!" sahut Anna tanpa pikir panjang. "Paling lama tiga hari, Pak. Saya akan mencari apartemen dan pindah dari sana begitu dapat apartemen yang saya mau!" sambungnya penuh semangat.


Jacob tersenyum merasa rencananya berhasil dengan sangat baik, wanita ini akhirnya masuk ke dalam apartemennya juga. Setelah ini Jacob yakin dia akan menghabiskan waktu dan malam yang lebih indah dari malam-malamnya sebelumnya.


"Nggak usah buru-buru, kamu bisa tinggal di apartemen aku selama yang kamu mau juga nggak masalah. Lagian aku seneng bisa bantuin wanita yang udah pegang-pegang dan sampe ngata-ngatain aku juga kemaren," ucap Jacob yang sontak membuat Anna terdiam, membeku di tempatnya.


Wajah putih Anna langsung memerah dengan mata yang tidak mampu berkedip. Jacob memperhatikan perubahan signifikan yang terjadi pada wanita bertubuh seksi itu dan seketika tertawa terbahak dibuatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Jacob mengatur duduknya masih tertawa.


Anna menggeleng, menunduk dengan tangan meremas celana panjang kainnya. Sial! Kenapa juga Pak Jacob harus ingetin hal itu?! Kesal Anna dalam hati.


"Nggak usah malu, aku aja biasa aja...." goda Jacob bangkit dari duduknya.


"Kalo kamu inget, malam itu kamu pegang biji aku dan tinggalin aku begitu aja, kan? Kamu mabuk dan ngganggep aku ini gigoloo yang kamu pesen. Aku sampe nggak bisa duduk dan tidur dengan tenang gara-gara kamu!" Jacob berdiri di samping Anna, menarik kursi sekretarisnya menghadap padanya.


"Jadi, siap-siap aja setelah kamu tinggal sama aku. Kamu bakal ngerasain gimana susahnya ditinggal pas lagi pengen-pengennya...!" sambung Jacob tersenyum penuh arti.


Anna merutuki kebodohannya sendiri yang dengan mudahnya mengiyakan ucapan Jacob untuk tinggal seatap dengannya.


Dia merasa hidupnya tidak akan tenang selama beberapa hari ke depan karena ini. Dasar bego Lo, Anna...! Teriaknya dalam hati frustasi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kayak Bapaknya yang maksain emaknya tinggal serumah ye dulu 🤭😆

__ADS_1


__ADS_2