
"Bor!" Mulan menahan tangan Bora sebelum pria berkacamata itu dia keluar dari rumahnya.
"Eh, iya, Bu? Ada apa?" kaget Bora menepis tangan Mulan, pelan. Bisa gawat kalau atasannya melihat mereka berpegangan seperti ini, pikirnya.
"Gimana sama misi kita? Udah ada berita baru belum?"
"Mmm itu ... Ibu tanya aja langsung sama Pak Rama," sahut Bora bingung harus menjawab apa.
"Kok Rama, sih? Bukannya misi kita ini masih rahasia, yah?"
"Aduh gimana yah, Bu. Semenjak Pak Rama tahu tentang ini, Pak Rama yang handle semuanya sendiri. Aku sama sekali nggak diizinin Pak Rama ikut campur. Jadi kalo Ibu mau tanya informasi terbaru, Ibu bisa tanyain langsung sama Pak Rama," sahut Bora setengah berbohong.
Sebenarnya bukan tidak diizinkan, tapi dia lebih kepada tumbal yang dikorbankan Rama demi kesuksesan misi balas dendam wanita yang tampak sedang menatapnya kesal.
Bora tahu Mulan tidak mau Rama ikut campur dengan masalahnya. Tapi mau bagaimana lagi, setelah Rama tahu semuanya pria itu memaksa ingin membantu Mulan balas dendam.
Rama ikut kesal melihat keluarga istrinya masih hidup tenang dan bahagia sampai sekarang setelah apa yang mereka perbuat pada Mulan. Apalagi setelah mengetahui rahasia terbesar tentang kematian Ibu wanita itu, Rama semakin meradang dan tidak ingin berlama-lama lagi membalas semua perlakuan keji mereka.
Tinggal menunggu waktu dan bom yang sedang dipersipakan oleh mereka berdua meledak meratakan keluarga itu sampai hancur.
"Ck, yaudah terserah kamu aja. Sana pergi!" usir Mulan mendorong Bora yang berdiri tepat di pintu rumahnya sambil membanting pintu, kuat.
"Astaga ... nggak suami, nggak bini kelakuannya sama aja!" kesal Bora berbalik meninggalkan rumah bergaya Eropa itu.
Mulan masih berdiri menyandarkan kepalanya di pintu dengan pikiran berkecamuk. Jika Rama benar membantunya dalam masalah ini, dia harus bagaimana? Apa dia harus memasrahkan semua masalahnya ke tangan Rama?
Bahkan setelah malam-malam panjang mereka, Mulan masih saja tidak yakin Rama akan tetap bersamanya setelah semuanya selesai. Mulan takut Rama malah meninggalkannya di saat dia sudah sepenuhnya jatuh ke dalam pesona pria berhidung mancung itu.
"Kenapa, Ty?" Rama berdiri di depan Mulan, menatap bingung wanita yang bersandar di pintu dengan raut wajah menunjukkan kesedihan.
Mulan tersentak, kaget melihat suaminya sudah berada di depannya. "Nggak pa-pa," ucapnya singkat.
Mulan melangkah, maju meninggalkan Rama yang sontak menahan tangannya.
"Kenapa, Ty? Ada apa?" tanya Rama lagi menarik istrinya mendekat.
"Nggak pa-pa, Ra. Beneran...."
Rama memicingkan mata menatap penuh selidik wanita yang dia yakin tengah berbohong padanya.
__ADS_1
"Jangan boong, aku tahu kamu lagi mikirin sesuatu. Mata kamu nggak bisa boongin aku, Sweety!"
Mulan menghembuskan nafas panjang tidak tahu harus berkata apa. Kekhawatiran dihatinya memang tidak bisa dia tutupi lagi, semakin hari rasa takut akan ditinggalkan Rama semakin besar menyelimuti hatinya. Mulan hanya takut ditinggalkan orang yang dia sayangi lagi kedua kalinya.
"Kenapa, Ty? Cerita sama aku ada apa." Rama mengusap pipi Mulan dengan tangan yang lain menarik pinggangnya, menepis jarak diantara mereka.
Menautkan bibir keduanya dengan hisapann bibir yang lembut, Rama ingin memberi rasa nyaman dan tenang untuk Mulan agar bisa membuat wanitanya mau berbicara dengannya.
Rama tahu ada sesuatu yang tengah mengganggu hati dan pikiran Mulan. Dia hanya ingin Mulan semakin terbuka dan mau belajar jujur dengannya.
Rama ingin menjadi bagian terpenting dari hidup wanita yang tengah menutup mata menikmati ciuman hangat dan lembutnya.
Tanpa melepaskan pagutan mereka, Rama menggendong Mulan masuk menuju kamar, meletakkan tubuh istrinya dengan pelan ke atas kasur.
Mungkin berbicara dengan bahasa tubuh bisa membuat mereka mendapatkan rasa nyaman satu sama lain. Rama mulai menyingkap pakaian Mulan, menyapu tubuh putih mulusnya dengan lembut.
Ciuman keduanya perlahan mulai menuntut dengan deru nafas yang sama-sama menginginkan lebih. Rama membawa Mulan kembali merengkuh nikmat bersama dengan desahann yang tidak pernah berhenti dari bibir istrinya.
"Kamu selalu enak, Sweety...," bisik Rama begitu berhasil memancarkan benih-benihnya di dalam sana.
Nafas yang masih tersengal dengan peluh membanjiri keduanya menjadi bukti bagaimana permainan memabukkan itu berlangsung dengan sangat nikmat.
"Mau peluk nggak?" tanya Rama setelah menarik boxer-nya.
"Boleh...." Mulan mendekat, merangkul pinggang Rama dari samping.
Tangan kanan Rama sengaja dia jadikan bantal untuk memudahkan tubuh mereka menempel erat satu sama lain.
Mulan begitu menikmati sapuan lembut tangan Rama yang lain membelai rambut panjangnya dengan bibir yang sesekali mencium atas kepalanya hangat.
"Ra...."
"Ya?"
"Kamu mau nggak janji satu hal sama aku," ucap Mulan tiba-tiba.
"Janji apa?"
"Janji kalo kamu nggak bakal ninggalin aku...." Rama terdiam dengan tangan berhenti mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
Dia tahu sekarang apa yang membuat wanitanya resah dan terlihat sedih sejak tadi. Rama pun mengangkat dagu Mulan, meminta wanita itu menatapnya.
"Jadi kamu mikirin ini dari tadi?" tanyanya lembut.
"Mikirin apa?"
"Ini ... mikirin aku yang mungkin ninggalin kamu. Iya, kan?" Mulan diam, mengalihkan pandangannya dari Rama.
Pria itu kembali mengangkat dagu Mulan, meminta Mulan menatapnya lagi.
"Nggak usah mikirin yang enggak-enggak, Ty. Kamu istri aku, aku udah janji sama Yang Diatas buat setia dan selalu dampingin kamu sampe akhir hidup aku. Sekalipun kita belum tahu gimana hidup kita selanjutnya, tapi kamu cuma perlu percaya sama aku. Aku, Rama ... nggak akan pernah ninggalin Mulan, wanita yang aku cinta sampai kapanpun!"
Hati Mulan menghangat mendengar ucapan tegas dari mulut suaminya. Sama sekali tidak ada keragu-raguan apalagi kebohongan di sana. Mulan bisa melihat dan merasakan jika semua ucapan Rama benar dan tulus dari hatinya yang paling dalam untuknya.
Mulan dibuat terharu dan menangis bahagia begitu mendengar pengakuan seindah itu dari bibir Rama.
"Jangan nangis, kamu udah terlalu banyak nangis selama kamu hidup Sweety. Sekarang aku cuma mau lihat kamu senyum dan bahagia sama aku." Rama mengusap sudut mata Mulan, mengecup dahinya penuh cinta.
"Sebagai suami, aku janji bakal berusaha sebaik mungkin jadi pendamping dan teman hidup kamu sampe nanti. Kita bakal selalu berbagi di saat susah dan juga senang, disaat di antara kita nggak mampu lagi melangkah. Kita bakal saling menguatkan satu sama lain sampe kita bener-bener menjadi pasangan suami istri yang hidup dalam rasa bahagia dan penuh cinta." Rama tersenyum mengusap pipi Mulan sebelum mendekapnya erat.
Hati dua manusia yang tengah diliputi rasa bahagia itu berdetak seirama seiring rasa cinta mereka yang makin dalam.
Besok akan menjadi hari di mana Rama akan menuntut balas pada orang-orang yang telah banyak memberikan penderitaan untuk istrinya.
Rama akan berdiri paling depan, melindungi dan membela Mulan dari siapa saja yang coba-coba ingin menyakiti wanitanya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Rama kalo udah ngomong serius selalu bikin baper 🥺