
"Ada lagi yang Ibu butuhkan?" tanya seorang pramugari berdiri di samping Mulan, sopan.
"Tidak ada, saya akan memanggilmu jika saya membutuhkan sesuatu."
"Baik, Bu. Saya permisi ke belakang," pamit pramugari itu, membungkuk sedikit memberi hormat.
Dari tempat duduknya, Aurel memperhatikan sejak tadi ada saja pramugari yang terus-menerus menanyakan apa yang dibutuhkan Mulan sementara dirinya tidak.
Aurel merasa dia tidak dianggap disini padahal jelas-jelas dia duduk di samping Rama, bos yang menyewa jet pribadi ini.
Aurel yakin sekretaris Rama itu pasti sengaja tidak mengizinkan satupun pramugari melayaninya.
"Aku mau tidur di kamar, yah Sweetie. Nggak pa-pa, kan aku tinggalin kamu sebentar?" Rama bersuara, membuyarkan pikiran Aurel tentang Mulan.
"Iya nggak pa-pa. Nanti kalo aku ngantuk, aku bakal nyusulin kamu ke dalem."
Rama tersenyum dengan hati tidak sabar. "Bener, yah?"
"Iya, sana masuk." Rama mengangguk, beranjak dari kursi dengan senyum sumringah.
Tampaknya perjalanan yang akan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya ini tidak akan sia-sia, pikir Rama.
Membawa Aurel memang keputusan yang paling tepat di saat dia tidak bisa menyentuh Mulan sama sekali.
Begitu Rama masuk ke dalam kamar khusus pesawat, Aurel beralih menatap Mulan yang fokus membaca buku di tangannya.
"Hei, kamu!" panggilnya pada Mulan.
Yang dipanggil sama sekali tidak menyahut ataupun menatapnya, Aurel semakin kesal melihat tingkah laku Mulan yang dianggapnya tidak punya sopan santun sama sekali sebagai bawahan Rama.
"Hei! Kamu tuli, yah?!" panggil Aurel lagi dengan suara yang sedikit meninggi.
Jarak antara tempat duduk mereka memang tidak terlalu jauh, tidak mungkin Mulan tidak mendengar suara dia yang memanggilnya.
Wanita berkulit putih itu akhirnya mendongak, menatap Aurel yang sedang menatapnya kesal.
"Lo manggil gue?" tanya Mulan menunjuk dirinya sendiri.
"Emang disini ada siapa lagi kalo bukan kamu!"
Mulan menatap ke sekitar dan mengangguk. "Oh," ucapnya cuek kembali membaca buku di tangan.
"Ih, emang dasar sekretaris nggak ada sopan-sopannya kamu!" Aurel bangkit dari kursi, mendekati Mulan yang diam tidak mempedulikannya.
"Cuma bawahan aja sombongnya minta ampun. Kamu nggak tahu siapa aku?!" kesal Aurel menarik buku dari tangan Mulan, membuangnya ke lantai pesawat.
"Aku ini calon istrinya Rama atasan kamu! Mau kamu aku pecat!" sambung Aurel menatap tajam wanita yang masih duduk dikursinya.
"Trus kenapa kalo Lo calon istrinya Rama? Gue musti bilang 'wow' gitu?!" sahut Mulan tersenyum meledek.
"Dasar kurang ajar! Liat aja nanti, begitu kita sampe. Aku bakal minta Rama pecat kamu!"
"Oh, yah? Emang Rama berani mecat aku?" sahut Mulan tidak gentar.
__ADS_1
Aurel mengernyitkan dahi, memangnya siapa wanita ini sampai Rama tidak berani memecatnya? Aurel yakin Mulan hanya sedang mengibulinya agar dia tidak bisa mengancamnya lagi.
"Emang kamu siapa?! Sepupu bukan, sodara bukan. Kamu pikir Rama nggak bakal berani mecat kamu, hah?!" sentak Aurel mendorong bahu Mulan, yang sontak membuat Mulan kehilangan kesabaran.
Wah, cari mati, nih bangkee! Kesal Mulan, beranjak dari kursi.
"Berani banget Lo dorong-dorong gue?!"
"Kenapa? Nggak suka? Aku bisa buang kamu dari pesawat kalo aku mau!" ancam Aurel tersenyum jahat.
"Ide bagus," sahut Mulan seperti mendapatkan angin segar.
"Apa?!"
Mulan segera menekan sebuah tombol di dekat kursi, memanggil pramugari yang selalu siap 1x24 jam melayaninya.
"Mau apa kamu?!" tanya Aurel tidak melihat ada rasa takut sedikit pun dari wajah wanita di depannya.
Mulan hanya tersenyum menunggu pramugari tadi mendekatinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya pramugari itu dengan dua tangan terlipat di depan perut.
"Apa dipesawat ini disediakan parasut?"
"Mmm, sepertinya ada, Bu," sahut pramugari itu mengingat-ingat.
"Bisa tolong kamu bawakan kesini? Saya kebetulan memerlukannya."
"Oh, udah siap-siap rupanya kamu. Baguslah, kalo gitu aku nggak perlu buang-buang tenaga lagi nyeret kamu dari sini!" Aurel melipat tangannya di depan dada, menunjukkan siapa bosnya disini.
Mulan diam tidak ingin membalas ucapan wanita sombong itu. Tunggu sebentar lagi, gumamnya dalam hati.
"Ini, Bu." Pramugari tadi kembali, menyerahkan satu tas parasut ke tangan Mulan.
"Ini berfungsi, kan?" tanya Mulan mengamati tas itu dengan seksama.
"Iya, Bu. Kami selalu menggantinya setiap kali ada penerbangan."
Mulan mengangguk, beralih menatap keluar jendela pesawat. "Kita sedang ada di atas laut sekarang?" tanyanya pada pramugari itu.
"Iya, Bu."
"Baiklah, bisakah kamu membantuku satu hal lagi?"
"Apa itu, Bu?"
"Tolong kamu hubungi pihak berwenang di sekitar sini agar bisa menolong seseorang nanti."
Pramugari itu mengernyit, tidak mengerti dengan maksud ucapan wanita berhidung mancung ini.
"Dia pasti akan sangat membutuhkan itu," sambung Mulan beralih menatap Aurel yang seketika merasa perasaannya tidak enak.
"Ma-mau apa kamu?!" Mulan maju, mendekati Aurel yang mundur ke belakang.
__ADS_1
"Oh iya, tolong sampaikan pada pilot untuk menurunkan pesawatnya sedikit. Aku tidak mau ada daging yang berhamburan di laut nantinya." Pramugari itu akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi disini.
Buru-buru dia masuk, menghubungi pilot dan co. pilot untuk memberitahukan apa yang diperintahkan Mulan padanya.
Dia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Mulan pada seorang wanita yang terus menempel pada pria yang diketahuinya sebagai suaminya Mulan semenjak mereka masuk ke dalam pesawat.
"Lepasin aku! Rama...!" teriak Aurel ketakutan. Wanita itu tengah dipaksa dipakaikan tas parasut oleh Mulan.
"Mulut Lo emang nggak bisa diem, yah?!" Mulan mengambil sebuah lakban dari tangan pramugari yang dia minta memegang semua keperluan yang dia butuhkan, menutup mulut Aurel yang terus berteriak di dalam pesawat pribadi itu.
"Mmm...." Aurel bersuara dengan mulut yang tertutup lakban.
Manik matanya melebar dengan tubuh yang tidak bisa bergerak. Mulan sengaja menindih tubuhnya agar tidak bisa bergerak dan berontak.
Tubuh Mulan yang kecil ternyata sangat kuat dan mampu menumbangkan Aurel yang jauh lebih tinggi darinya.
"Nah, gini, kan enak." Mulan tersenyum puas, selesai memakaikan tas parasut ke badan Aurel.
"Tasnya mana?" Pramugari dengan sigap menyerahkan sebuah tas branded milik Aurel ke tangan Mulan.
"Ini, tas Lo!" Mulan menyampirkan tas Aurel ke lehernya, mengikat itu dengan kuat agar tidak lepas.
"Gue masih kasian sama Lo, jadi gue nggak akan ngebiarin Lo jatuh tanpa ada identitas apa-apa." Mulan tersenyum dengan seringai jahat.
"Ayo, udah waktunya Lo turun dari pesawat gue!" seret Mulan membawa Aurel ke depan pintu darurat.
"Mmm...." Aurel berteriak tertahan dengan rasa takut luar biasa.
Wanita di depannya ini memang gila, dia tidak menyangka Mulan akan membuangnya di tengah laut dari atas pesawat yang tengah mengudara. Kaki Aurel mendadak mati rasa dengan detak jantung yang menggila di dalam sana.
"Oh yah, satu hal yang perlu Lo tahu. Gue ini istri sahnya Rama, bukan sekretarisnya!" bisik Mulan sebelum mendorong wanita itu keluar dari pesawat.
.
.
.
.
.
.
.
.
Shadhis nggak, sih ini?
Macem-macem, sih sama istri sah...
Buang jauh-jauh si pelakor, yee 🤭😂
__ADS_1