Touch My Body

Touch My Body
Kejadian Masa Lalu


__ADS_3

"Apa?! Dibunuh?"


"Iya, Bu."


Mulan menutup mulutnya tidak percaya. "Ma-maksud kamu, mami Wati yang ngebunuh papi aku, Bor?"


Bora mengangguk.


Mulan merasa tubuhnya oleng seketika, kepalanya mendadak pusing dengan mata yang berkunang-kunang. Rama segera menangkap wanita itu sebelum jatuh menyambar lantai rumah mereka.


"Yang...," ucapnya khawatir.


Mulan memegang kepalanya dengan dada yang terasa sesak. Berita kematian Cokro yang dibunuh oleh istrinya sendiri sudah berhasil diketahui asisten suaminya, Bora.


Pria berkacamata itu baru saja tiba dirumah mereka setelah mendapatkan informasi dari detektif yang menangani masalah ini.


"Duduk dulu, Yang." sambung Rama membawa wanitanya ke kursi.


Bora segera pergi ke dapur mengambil minuman hangat untuk Mulan yang pasti sangat syok mendengar berita ini.


Mulan disandarkan Rama ke bahunya sesudah meminum minuman hangat yang Bora bawa.


"Udah kita nggak usah bahas masalah itu dulu, Yang. Kita istirahat aja, yah?" ajak Rama mengusap kepala Mulan hangat.


"Nggak, Ra. Aku nggak pa-pa. Aku cuman kaget aja tadi." Mulan menggeleng, merasa lebih baik setelah beberapa saat.


"Tapi aku khawatir, Yang. Kamu bikin aku takut tahu nggak!"


Mulan tersenyum, gantian mengusap pipi Rama. "Iya maaf, aku kaget sampe kayak gitu. Aku nggak nyangka aja mami Wati bisa sampe sekejam itu sama Papi," ucapnya jujur.


Rama mendengus, membuang nafas panjang. Melihat wanitanya seperti tadi membuat Rama tidak tega. Harusnya Bora tidak perlu melaporkan hal itu di depan Mulan pikirnya.


"Yaudah, tapi janji kamu nggak bakal kenapa-napa lagi setelah ini, yah?" Mulan mengangguk, mengalihkan pandangannya pada Bora yang sontak salah tingkah tidak tahu harus bagaimana melihat kemesraan yang ditunjukkan pasangan suami istri itu di depannya.


"Jadi sekarang keadaannya mami Wati gimana, Bor?" tanya Mulan ingin tahu.


Bora sempat berdehem, sedikit melirik pada Rama menunggu pria itu memberi kode agar bisa mulai bicara pada Mulan.

__ADS_1


Dari pandangannya Bora tahu Rama ingin dia tidak memberitahukan semua hal yang bisa membuat Mulan syok kembali seperti tadi.


"Keadaannya masih belum stabil, Bu Mulan. Dokter masih mengikat tangan dan kaki nyonya Wati karena sering memberontak di dalam kamar perawatannya. Mungkin tim dokter bakal pindahin nyonya Wati ke rumah sakit yang lain biar bisa ditanganin dengan baik sama dokter kejiwaan," terang Bora panjang lebar.


Mulan sempat terdiam memikirkan nasib ibu tirinya yang kejam. Apa mungkin ini adalah karma dari sikapnya di masa lalu padanya? Mulan ikut sedih memikirkan apa yang menimpa wanita itu sekarang.


"Kalo gitu, besok kita jenguk mami Wati yah, Ra? Aku pengen liat keadaanya sebelum dipindahin ke rumah sakit yang lain," izin Mulan mengalihkan pandangannya pada suaminya lagi.


"Boleh, tapi janji nggak bakal kenapa-napa lagi, yah?"


"Astaga ... emangnya aku bakal kenapa kalo liat mami Wati? Ada-ada aja kamu!" Rama tersenyum memberi kode kembali pada Bora agar menunggunya di ruang kerja.


Masih banyak hal yang perlu dia bahas bersama asistennya. Rama harus memastikan membereskan satu pengacau lagi yang masih tersisa diluar sana.


"Pak Deno, besok jenazah Pak Cokro udah bisa di ambil dari rumah sakit. Kita bakal memakamkan beliau di mana, Pak?" Aman, ajudan sekaligus asisten pribadi Deno tiba tadi pagi di Milan.


Deno menghubunginya sesaat setelah dia dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai kasus pembunuhan ayahnya.


Diperiksa selama lima puluh jam lamanya dengan pertanyaan yang sengaja diputar-putar oleh detektif membuat kepala Deno ikut pusing luar biasa.


"Kamu urus aja gimana bagusnya, Man. Aku capek mikirin itu! Akan lebih bagus kalo kita cepat pergi dari Negara ini, aku pengen pulang dan lupain semua masalah ini!"


"Baik, Pak. Kalau begitu aku akan memberitahukan pihak istana Negara dulu tentang kabar kematian Pak Cokro." Deno mengangguk, memasrahkan semuanya ke tangan Aman.


Asistennya sedikit menjauh dari Deno yang memejamkan mata dan perlahan jatuh tertidur di kursi sofa.


Deno bermimpi bertemu dengan wanita yang sempat dia dan ibunya culik bertahun-tahun yang lalu.


Dalam mimpinya wanita itu sempat berontak, berteriak menyumpahi dirinya dan Wati sebelum ia mati.


"Lepasin aku! Aku bersumpah kalian bakal membayar semua perbuatan kejam kalian sama aku!"


Deno dan Wati kompak tertawa, dengan kaki Wati berada di atas tubuh wanita yang terbaring telungkup di atas kapal pesiar nan mewah milik mereka.


"Kamu pikir sumpah kamu bakal berpengaruh sama kita, hah?! Omongan wanita penggoda kayak kamu, nggak bakalan didenger sama Yang Diatas! Terima aja nasib kamu mati mengenaskan di sini!" ucap Wati menginjak leher wanita yang dianggapnya telah menggoda suaminya sampai hamil dan memiliki anak di luar nikah.


"Dasar wanita gila! Aku pastiin keluarga kalian bakal hancur dan nggak bersisa! Tunggu aja gimana karma bakal pelan-pelan hancurin kalian semua!" pekik wanita itu merintih merasakan lehernya yang sakit.

__ADS_1


Sebelum di lemparkan ke tengah laut, Wati mengambil sebilah pisau yang dia persiapkan untuk membunuh wanita itu. Tangannya dengan cepat menusuk dada kiri wanita bernama Merry beberapa kali, hingga dia menggelepar di atas lantai kapal dengan darah yang memancar keluar.


"Buang wanita murahan itu! Biar dia mati di tengah laut dan dimakan ikan di sana!" perintah Wati tertawa puas karena berhasil membunuh ibu Mulan.


"Pak!" Suara Aman membangunkan Deno yang terkejut dengan peluh membanjiri dahinya.


Nafasnya yang terengah menandakan atasannya baru saja bermimpi buruk. Aman segera membangunkan pria itu saat Deno mulai bergumam-gumam tidak jelas saat dia baru saja selesai menghubungi pihak istana Negara.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Aman khawatir.


Deno menggeleng lemah, beranjak menuju dapur. Tenggorokannya mendadak kering dengan detak jantung menggila.


Sial! Sudah ketiga kalinya semenjak dia beristirahat pulang dari kantor polisi, Deno terus memimpikan kejadian pembunuhan Merry, ibu Mulan di kapal pesiar mereka.


Menculik dan menyuruh orang memperkosa wanita itu secara bergilir hingga sampai membunuhnya adalah rencana dia dan Wati demi membuat Merry menderita sebelum dia mati mengenaskan ditangan mereka.


Deno tidak menyangka setelah bertahun-tahun lamanya kejadian itu berlalu, hari ini dia malah memimpikan kejadian mengerikan saat itu.


Ucapan sumpah serapah yang ditujukan Merry pada dia dan Wati perlahan mulai terbukti. Deno tidak bisa menutupi rasa takut dan gelisahnya memikirkan semua perkataan Merry di masa silam.


Sepertinya dia harus segera pergi dari sini sebelum mimpi-mimpi gila itu makin membuat dia gila dan stress seperti ibunya.


.


.


.


.


.


.


Astagaaaaaaaa


Kejam banget 😫

__ADS_1


__ADS_2