
"Makasih udah anter sampe rumah yah, Ka. Aku masuk dulu."
"Tunggu, Ci." tahan Gober.
Cima berbalik, kembali menatap pria berwajah manis itu. "Kenapa?"
"Bisa nggak mulai sekarang kamu berhenti manggil aku, Kakak? Risih banget aku denger kamu manggil aku pake sebutan itu...," pinta Gober.
"Kenapa emangnya? Bukannya dari kecil aku biasanya manggil Ka Gober dengan panggilan Kakak? Aku nggak biasa manggil kakak pake nama," sahut Cima polos.
"Bukan gitu, Ci. Aku cuman ngerasa jadi Rama kalo kamu manggil aku kayak gitu lagi. Panggil Mas aja gimana?" usul Gober.
Cima terlihat berpikir, diam sejenak sebelum menjawab. "Yaudah, terserah Ka ... eh, Mas aja maunya gimana," ucap Cima malu-malu.
Gober tersenyum beralih mengatur rambut Cima yang sedikit berantakan. "Gitu, dong. Makasih Cima."
Wanita yang sedang tersipu itu mengangguk, turun dari mobil sahabat kakaknya dengan cepat. Wajahnya pasti sudah memerah sekarang.
Gober masih di sana sampai Cima menghilang di balik pintu rumah orang tuanya.
"Hadeh, dari dulu selalu aja gemesin begitu...," gumam Gober menyalakan mesin mobil kembali.
Baru saja memasukkan gigi dan bersiap menjalankannya, Gober dibuat terperanjat dengan pintu mobil yang tiba-tiba dibuka dari luar, di mana sosok seorang pria blasteran yang sangat dia kenal ikut masuk bersamanya.
"Astaga...!" kaget Gober menekan pedal rem seketika.
"Kenapa berhenti? Ayo, jalan!" ucap pria paruh baya itu memberi perintah.
"Eh, mau kemana Uncle?" tanya Gober takut-takut.
"Kalo bisa ke kantor polisi kesana aja, aku lagi berencana mau bawa orang kesana soalnya...."
Gober menelan salivanya susah. Sepertinya sore ini dia tidak akan pulang dengan selamat seperti sore-sore sebelumnya. Pria berkulit sawo matang itu pun pasrah dan mulai melajukan mobil perlahan meninggalkan depan rumah Cima.
Suasana di dalam mobil mendadak terasa mencekam bak sedang berada dirumah hantu. Gober bisa merasakan pandangan mata tajam pria di sampingnya yang seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Gober akhirnya memilih membawa mereka ke sebuah taman dekat rumah Cima, di mana tempat ini menjadi bukti pengakuan pria itu padanya.
"Turun!" perintah Richard lebih dulu keluar dari mobil sport Gober.
Keringat dingin mulai membanjiri dahi Gober yang gugup dan takut, mengingat dia akan habis ditangan ayah wanita yang dia suka.
"Duduk!" perintah Richard lagi menunjuk tempat di depannya.
__ADS_1
Gober dengan patuh menjatuhkan tubuhnya ke sebuah kursi besi khusus satu orang di mana di depannya terdapat meja dan juga tiga kursi lain yang mengelilinginya.
Lima menit terdiam dengan suasana yang sepi disekitar mereka, Gober perlahan mengangkat kepalanya memberanikan diri melihat Richard yang masih saja menatap dia dengan tajam.
Pria yang tengah gugup itu kembali menunduk begitu mendengar Richard mulai berdehem kuat di depannya.
"Kamu punya hubungan apa sama anak, Uncle?" tanya Richard tanpa basa basi.
"Udah berapa hari ini kamu yang suka anter jemput anak Uncle, kan?" sambung Richard melipat tangannya di depan dada.
"Jujur sama Uncle kamu punya hubungan apa sama Cima!" Suara Richard terdengar meninggi.
Pria itu mulai tidak sabar melihat Gober yang hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"A-aku, aku...."
"Aku apa? Kamu udah nggak tahu bicara sekarang?!" sarkas Richard. "Cepet jawab, daritadi diem aja kayak orang bisu!" kesalnya menggebrak meja di depan mereka.
"I-Iya, Uncle!" sahut Gober refleks.
Richard sontak memicingkan mata dengan pandangan tidak suka. "Sejak kapan? Sejak kapan kamu sama anak Uncle berhubungan?" tanyanya ingin tahu.
"Sejak kecil, Uncle." jawab Gober masih menunduk.
Gober akhirnya mengangkat kepala, menguatkan hati untuk menatap Richard. "Kalo berhubungan deket baru akhir-akhir ini, Uncle. Tapi kalo berhubungan badan belum pernah," ucapnya jujur.
"Dasar biji!"
Pakkk....
Richard memukul kepala bagian atas Gober dengan punggung tangannya kesal mendengar ucapan absurd Gober yang tidak pada tempatnya.
Karena tidak siap Gober pun jatuh terhuyung ke tanah dengan tangan lebih dulu menyentuh permukaan kasar berbatu-batu kecil. Lecet sudah pasti, tapi merasakan kepalanya berdenyut dengan dada yang berdebar takut lebih membuat Gober resah.
Sepertinya dia sudah salah mengambil langkah bercanda disaat seperti ini, pikir Gober.
"Bangun sini, nggak usah lebay begitu kamu!" marah Richard pada anak sahabatnya.
"Amit-amit kalo sampe anak Uncle berhubungan sama kamu! Uncle nggak bakal rela anak Uncle yang masih polos begitu direcokin sama biji mesumm kayak kamu!" ucap Richard lagi menunjuk wajah Gober yang tertunduk.
Belum apa-apa dia sudah dimarahi begini oleh ayah Cima, gimana nanti kalo dia bener-bener mau jadiin Cima istrinya? Entah apa yang akan menimpanya jika hal itu sampai terjadi, gumam Gober dalam hati.
"Maaf, Uncle. Tadi aku cuman becanda, nggak ada maksud apa-apa juga ngomong begitu. Aku—"
__ADS_1
"Udah diem! Nggak usah membela diri kamu lagi!" potong Richard cepat. "Biarpun kamu anaknya sahabat Uncle, tapi bukan berarti kamu bebas deketin anak Uncle seenaknya, yah. Kamu tahu, kan gimana protek-nya Uncle jagain Cima? Harusnya kamu mikir-mikir lagi buat deketin anak, Uncle!" sambung Richard mengintimidasi.
Gober hanya bisa membuang nafas panjang, ternyata usahanya mendekati Cima butuh banyak perjuangan. Memang benar pria di depannya ini tidak akan mudah dia taklukkan. Richard pasti akan menggunakan segala cara untuk membuat dia kapok mendekati Cima.
Selama ini cinta pertamanya itu tidak pernah sekalipun dekat ataupun berpacaran dengan pria manapun. Gober yakin sedikit banyak pasti itu karena ulah Richard yang mengancam mereka seperti yang dia lakukan saat ini padanya.
"Sekarang kamu pilih, ninggalin Cima atau tetap ngejar dia sampe dapet restu dari Uncle!"
Gober tersentak, menatap kaget Richard. "A-apa, Uncle?"
"Kamu budek?!"
Gober menggeleng. "E-enggak, Uncle. Cuma tadi aku—"
"Yaudah kalo kamu udah denger apa kata Uncle," sahut Richard santai.
Gober diam dengan pikiran yang melayang, baru saja digertak oleh Richard sekarang dia malah mendengar hal yang tidak bisa dipercaya dari mulutnya. Otak Gober seketika bleng dengan perasaan bahagia namun juga deg-degan.
Gober merasa dunianya sedang di atas awan sekarang. Ucapan Richard barusan menyiratkan dia menyetujui hubungan mereka tapi tidak mengungkapkannya secara gamblang. Ah, Gober mendadak bahagia luar dalam karenanya.
"Satu hal lagi, jangan macam-macam sama Cima sebelum kamu dapet restu dari Uncle! Kalo sampe Uncle denger dan tahu kamu pegang ato grepee-grepeinn dia, abis kamu ditangan Uncle!" ancam Richard dengan wajah berubah sangar.
Gober kembali menelan salivanya susah sembari mengangguk cepat. Dia harus lebih waspada sekarang, Richard punya seribu mata diluar sana, tidak akan sulit baginya mengetahui apa yang anak-anaknya lakukan dan sedang bersama siapa mereka saat ini.
Gober harus memastikan mendapatkan restu Richard terlebih dahulu sebagai langkah awalnya mendapatkan Cima, pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Met berjuang Gober 🤭💪
__ADS_1