Touch My Body

Touch My Body
Drama


__ADS_3

"Ra, enak kali, yah kalo kita Jepang tar malem?"


Rama mengernyit. "Ngapain ke Jepang malem-malem?" tanyanya bingung.


"Pengen aja, Ra. Seru aja gitu pas bangun pagi udah ada di Jepang," kekeh Mulan dalam dekapan hangat suaminya.


"Astaga ... Kamu mau ke Jepang cuman karena pengen bangun besok pagi udah di sana, Yang?" Mulan mengangguk.


"Hadeh, ada-ada aja kamu, Yang. Aku, kan bukan Doraemon yang punya pintu ke mana aja," sambung Rama menggelengkan kepala.


"Tapi aku mau ke Jepang, Ra. Kita pergi nanti malem, yah? Cuman tujuh jam aja kok dari Jakarta. Kita pergi, yah?" bujuk Mulan mendongak menatap prianya penuh harap.


"Ya ampun Yang, kamu serius? Ini udah jam tiga sore, loh...," sahut Rama tidak menyangka Mulan serius dengan ucapannya.


"Iya aku serius, Ra. Aku pengen besok pagi kita udah di Jepang pokoknya!" Rama menggelengkan kepala lagi tidak habis pikir dengan istrinya.


Sudah berapa hari ini Mulan bertingkah aneh. Apa yang dia mau harus selalu dituruti jika tidak, wanita berhidung mancung itu akan merajuk dan susah dibujuk. Rama sampai kewalahan menghadapi permintaan istrinya yang tidak biasa.


"Yaudah, ok. Aku telpon Bora dulu nyari tiket ke sana malem ini."


"Beneran?"


"Iya."


"Asik...!" Mulan memekik kegirangan.


Bak anak kecil yang mendapat permen, Mulan bertepuk-tepuk tangan kecil dengan bibir mencium pipi Rama berulang kali.


Rama sampai kesulitan mengambil ponselnya di atas nakas menerima serangan bibir Mulan yang tanpa henti mendarat di pipinya.


"Pake jet pribadi yah, Ra...," pinta Mulan lagi.


"Hah? Jet pribadi?"


"Iya. Aku maunya naik itu."


"Tapi, Yang. Susah mau dapet jet pribadi jam segini, lagian ngurus izinnya juga nggak gampang. Aku musti—"


"Oh jadi waktu bareng mantan kamu lalu gampang, yah ngurusnya?" potong Mulan berubah kesal.


"Lah, kok jadi ngomongin mantan sih, Yang? Aku cuman—"


"Udah nggak usah pergi!" potong Mulan lagi. "Males aku!" Mulan melepaskan pelukannya ditubuh Rama, beranjak dari atas ranjang.

__ADS_1


"Ya ampun, Yang ... kok jadi marah-marah lagi, sih?" Rama ikut bangun, mengejar Mulan yang berjalan cepat menuju pintu keluar kamar mereka.


"Yang, tunggu...," tahan Rama begitu tiba di depan pintu bersama Mulan.


"Apa, sih?! Lepasin!" tepis Mulan kesal.


"Jangan marah-marah, Yang. Aku, kan cuman ngomong jam segini susah nyari jet pribadinya. Bukan nggak mau pergi ke Jepang bareng kamu," ucap Rama beralasan.


"Terserah! Kamu aja yang pergi kalo mau. Aku nggak mood lagi ke sana. Pergi aja, tuh sama betina kamu biar bisa bulan madu di sana sekalian sama dia!" Mulan menarik pegangan pintu yang buru-buru ditahan oleh Rama.


"Astaga Yang ... kamu kenapa, sih? Kayaknya semua yang aku lakuin salah, deh dimata kamu!" protes Rama tidak mengizinkan Mulan keluar dari kamar mereka.


"Oh jadi sekarang kamu mau nyalahin aku, gitu!? Aku yang salah udah ajak kamu ke Jepang, iya?!"


Rama membuang nafas kasar menyeret Mulan kembali ke ranjang. Sabar, Ra ... gumamnya dalam hati mencoba menenangkan diri sendiri.


"Jangan kayak gitu, Yang. Aku nggak tahu harus bujuk kamu kayak gimana lagi kalo kamu masih marah-marah lagi sama aku," ucapnya putus asa.


"Emang salah aku kalo aku marah-marah sama kamu?! Lepasin aku!" berontak Mulan.


Wanita yang sedang emosi itu berusaha melepaskan diri, tidak mau bicara dengan Rama.


Rama kembali membuang nafas kasar dengan hati yang mulai kesal. "Ok, fine. Kita ke Jepang pake jet pribadi ikutin mau kamu!"


Wajah yang tadinya dipenuhi kekesalan dan amarah, seketika berubah sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Mulan mengulumm bibirnya ke dalam dengan nafas yang mulai terdengar berat. Tidak sampai tiga detik Mulan sudah menitikkan air mata, menangis sesenggukan dalam genggaman tangan Rama.


"Astaga Sayang...." Rama menarik Mulan mendekat.


"Kok, jadi nangis Yang?" Rama mengusap pipi Mulan yang sudah banjir dengan air mata.


Lirihan kecil terdengar keluar dari bibir tipis Mulan, wanita itu menangis seperti dipukul oleh seseorang.


"Udah, Yang. Jangan nangis lagi...." bujuk Rama membawa Mulan duduk ditepi ranjang.


Di sana Mulan malah semakin menjadi, suara tangisannya mungkin bisa terdengar hingga keluar kamar.


"Ya ampun, Yang. Iya, maaf. Aku minta maaf, Yang. Jangan nangis lagi, yah?" bujuk Rama kebingungan.


"Kamu jahat! Kamu bentak-bentak aku cuman karena hal sepele! Kamu nggak sayang lagi sama aku!" desis Mulan disela tangisannya.


Rama menggeleng cepat, menarik tangan Mulan memukul pipinya. "Iya aku minta maaf, Yang. Pukul aja aku sampe kamu puas, tapi tolong jangan nangis lagi. Aku yang salah udah bentak kamu."

__ADS_1


Rama tahu dia harus mengalah demi bisa mengakhiri drama-drama mengesalkan seperti ini. Lebih baik dia meminta maaf dan mengakui kesalahan daripada semalaman ini dia harus menghadapi kemarahan Mulan dan membujuknya sampai pagi.


"Nggak mau, kamu jahat!" Mulan masih menangis dengan suara yang semakin kuat.


Rama semakin kewalahan tidak tahu harus berbuat apa. Bisa gawat jika ibu dan ayahnya mendengar suara Mulan.


Dia tidak mau ikut disalahkan lagi oleh orang lain dan mengharuskannya menerima keadaan menyedihkan karena tangisan Mulan. Pikirannya sudah cukup pusing menghadapi sikap istrinya yang setiap hari semakin tidak terduga olehnya.


"Aku mau main...!" ucap Mulan lagi tiba-tiba.


"Apa, main?" kaget Rama.


"Iya main. Kamu yang dibawah sampe aku puas."


"What!?"


.


.


.


.


.


.


.


Guys,


bentar lagi Novel ini bakal selesai, yah


Seperti biasa diakhir bab author selalu adain Giveaway ...


Dan kali ini author bakal ambil dari Ranking Mingguan, bakalan ada 3 pemenang yang beruntung.


Penilaian juga akan author mulai Minggu depan selama seminggu penuh, yah ... jadi siapin vote dan hadiah kalian sebanyak mungkin untuk kesempatan menangin Giveaway dari author ...


Terima kasih selalu setia menanti up pecinta biji


author sayang kalian semua 🥰

__ADS_1


__ADS_2