Touch My Body

Touch My Body
Adik Ipar


__ADS_3

Satu jam setelah Richard pergi, Cima dan Gober tiba di rumah sakit. Pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu berjalan tergesa-gesa mencari di mana ruang operasi berada.


Cima sempat menghubungi ibunya sebelum dia pulang dari butik Amanda setelah menyelesaikan satu rancangan pakaian klien mereka.


"Mom...," sapa Cima mendekati ibu dan kakak laki-lakinya.


"Apa yang terjadi sama Mulan, Ka?" tanyanya pada Rama yang terduduk lemas di kursi.


"Mulan dicelakain orang, Ci. Sini, duduk sama Mommy. Kakak kamu jangan diganggu dulu," sahut Amanda tidak ingin anak keduanya bertanya macam-macam dulu pada Rama.


"Dicelakain ... kok bisa?" Cima menjatuhkan dirinya, duduk di samping kiri Amanda.


"Mommy juga belum tahu cerita jelasnya kayak gimana, Sayang. Mungkin ada orang yang dendam sama Mulan sampe tega celakain dia kayak begini."


Amanda sengaja belum memberitahukan masalah yang sebenarnya pada Cima karena merasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk dia menjelaskannya.


Rama masih butuh waktu berpikir tenang tanpa memikirkan masalah pelik yang mendera Mulan dan kakak tirinya. Amanda tidak mau menambah beban dihati dan pikiran Rama untuk itu.


"Astaga ... tega banget yang ngelakuin itu, Mom. Jadi sekarang keadaan Mulan gimana?" tanya Cima lagi ikut khawatir bersama kakak dan ibunya.


"Dia lagi di operasi sekarang, Ci. Kata dokter ada pendarahan kecil yang terjadi di kepalanya." Cima refleks menutup mulut tidak percaya.


Siapa kira-kira yang begitu tega mencelakai wanita sebaik Mulan? Meski belum terlalu lama mengenal kakak iparnya tapi Cima menganggap Mulan adalah wanita yang tulus dan berhati malaikat.


Cima benar-benar tidak habis pikir dengan manusia yang dengan tega mencelakai manusia yang lain, hanya demi keuntungannya sendiri.


"Lo yang sabar yah, Bro...!" Gober ikut bersuara setelah mendengar pembicaraan anak dan ibu di dekatnya.


Pria berwajah manis itu duduk di samping kanan sahabatnya, menepuk pundak Rama yang menatap kosong ke pintu ruang operasi.


"Makasih, Ber," sahut Rama singkat.


Sepertinya Rama memang tidak ingin diganggu. Semua yang di sana diam, menunggu dengan hati yang cemas dan perasaan yang kalut.


Hampir dua jam menunggu, lampu operasi di depan mereka pun padam. Tidak sampai lima menit seorang dokter yang masih memakai baju operasi keluar mendekati keluarga Rama.


"Operasinya berjalan lancar, Pak, Bu. Kita tinggal menunggu pasien sadar dan saya bisa mengecek keadaan pasien lebih lanjut," ucap dokter Abian menatap satu per satu semua yang ada di depannya.


Rama, Amanda, Cima dan Gober kompak menghembuskan nafas lega. Jelas terlihat ada sedikit beban yang terangkat dari wajah masing-masing mereka.


"Makasih, Dok. Makasih banyak," sahut Amanda tulus.


Rama langsung terduduk di kursi depan ruang operasi setelah dokter Abian pamit meninggalkan mereka. Kaki Rama seketika lemas seiring beban yang dirasa menguap dari hatinya. Syukurlah Mulan baik-baik saja, gumamnya.


"Kita kayaknya masih harus nunggu di sini dulu, Ra. Kamu mau Mommy ambilin apa?"

__ADS_1


Rama mendongak, menatap wanita yang tidak lagi muda itu. "Mommy mau ke mana emang?"


"Mommy mau ke depan sebentar. Daddy kamu dari tadi nggak balik-balik, nggak tahu ngapain aja di luar! Kamu mau nitip sesuatu, hm?"


Rama menggeleng. "Enggak, Mom. Aku lagi nggak butuh apa-apa," ucapnya lemas.


Amanda mengangguk tidak tega melihat anaknya, wanita itu berlalu dari sana ditemani Cima setelah berpamitan juga pada calon menantunya, Gober.


"Lo yang sabar yah, Ra. Kasih tahu gue kalo Lo perlu apa-apa."


Rama menyandarkan tubuhnya dengan kepala ikut menempel ke dinding. "Ini ulah Menteri sialan itu!" ucapnya marah.


"Hah? Menteri siapa maksud Lo?" tanya Gober tidak tahu.


"Gue belum sempet cerita, yah sama Lo dan Jacob? Jadi Mulan itu anak Pak Cokro, mantan Wakil Presiden kita yang belum lama meninggal itu."


"What?!" kaget Gober. "Seriusan?" tanyanya tidak percaya.


"Iya. Dan kakak tirinya si Menteri Deno sialan itu yang nyelakain Mulan. Tadi sore gue temuin Mulan di tangga darurat karena di dorong sama dia!"


"What?!" kaget Gober lagi makin tidak percaya. "Astaga ... gila bener, tuh orang! Ada, yah orang kayak begitu? Tega banget sama keluarga sendiri."


"Iya, makanya abis ini gue mau nyari manusia brengsek nggak tahu malu itu. Dia mesti tanggung jawab sama apa yang dia lakuin ke Mulan!" ucap Rama berapi-api.


"Bor, Lo di sini?" Gober menyapa.


"Baru aja tiba, Pak Gober."


"Ck, Gober aja. Gue bukan atasan Lo!"


"Tapi bentar lagi, kan jadi suami anak atasan aku, Pak. Jadi aku harus manggil Pak Gober mulai sekarang," sahut Bora membenarkan diri.


"Suami apaan?" sela Rama tidak tahu.


"Itu—"


"Becanda Bora, Ra. Lo kayak nggak tahu dia aja gimana," potong Gober sebelum pria berkacamata itu bersuara.


Gober merasa bukan waktu yang tepat untuknya memberitahukan hubungan dia dan Cima yang sebentar lagi akan menikah pada Rama. Nanti saja saat Rama sudah lebih tenang, pikirnya.


Rama berdecak, kesal diberi candaan seperti itu oleh asistennya. "Nggak lucu, Bor!"


Bora hanya melirik sekilas ke arah Gober, diam tidak memberi tanggapan apa-apa lagi.


"Daddy, mana? Maksud Lo apa ngomong nggak perlu juga tadi?" Rama masih penasaran dengan ucapan Bora sesaat setelah dia tiba di sana.

__ADS_1


Bora masih sempat berdehem sebelum berucap. "Itu karena dia udah diurus sama Pak Richard, Pak Rama."


Rama dan Gober kompak mengernyit bingung. "Maksudnya?" tanya keduanya.


"Pak Rama nggak perlu khawatir lagi, Menteri itu nggak akan bisa gangguin Pak Rama sama Bu Mulan lagi abis ini. Dia udah pergi jauh dan mungkin nggak akan bisa kembali."


"Hah? Kok bisa?" Gober menyahut.


"Dia sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sangat jauh dari sini, Pak Gober."


"Eh, maksudnya ke surga?" Gober menyahut lagi.


"Ish, Lo pikir daddy gue pembunuh apa?!" sentak Rama tidak terima.


"Bu-bukan gitu, Ra. Gue cuma—"


"Hati-hati kalo ngomong yah, Ber!" Pria yang baru saja diucapkan oleh Rama tiba di sana bersama Amanda dan anak perempuannya Cima.


Gober langsung beranjak, kaget melihat pria yang masih saja selalu jutek padanya bahkan sampai dia dan Cima sudah bertunangan saat ini, sudah ada di depan mereka.


"Mulut kamu dijaga kalo mau jadi menantu Uncle, Ber! Jangan macem-macem kalo nggak mau Uncle pecat biji kamu itu!" ancam Richard menatap sinis Gober yang gugup.


"Menantu? Menantu apaan, Dad?" sela Rama menatap bingung ayahnya.


"Sahabat biji kamu ini bakal jadi adik ipar kamu, Ra."


"What?!"


"Iya, siap-siap aja abis ini kamu manggil Gober adik ipar," ledek Richard menatap bergantian anaknya dan Gober.


.


.


.


.


.


.


.


Ada aja yang bikin rusak suasana 🙄

__ADS_1


__ADS_2