Touch My Body

Touch My Body
Tetep Nomor Satu


__ADS_3

"Ra, ini apa namanya tadi?"


"Analisis, Yang. Kamu butuh itu buat bikin laporan keuangan perusahaan bulan ini." Rama berdiri di samping istrinya, mulai mengajari cara membuat laporan keuangan yang valid dan lengkap.


Terhitung sudah tiga hari Rama dengan setia mengajarkan hal yang benar-benar baru untuk Mulan. Wanita itu duduk dengan serius di depan laptop sembari memperhatikan apa yang dijelaskan Rama padanya.


"Jadi tugas Sayang sekarang coba buat laporannya dulu. Nanti kalo ada yang Sayang nggak ngerti, tanya aja sama aku." Mulan mengangguk, fokus menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan hari ini.


Rama senang karena Mulan cepat tanggap dan mengerti dengan semua yang dia berikan. Tidak butuh waktu lama baginya mengajarkan hal yang sebenarnya cukup sulit bagi mereka yang tidak pernah berkutat dengan laporan-laporan keuangan perusahaan.


Mulan sepertinya menyenangi hal yang berbau angka-angka seperti ini.


"Pak." Bora masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


Pria berkacamata itu sedikit melirik ke arah Mulan yang duduk di meja kerja atasannya dan tampak serius dengan apa yang sedang dia kerjakan.


"Gimana, udah kabar, Bor?" tanya Rama melangkah mendekati asistennya.


"Seperti yang Pak Rama mau, perusahaan itu sudah berhasil kita kuasai." Bora menyodorkan sebuah dokumen yang dia bawa kepada Rama dan ikut duduk di depannya saat Rama pindah ke kursi sofa ruang kerja.


"Beliau cuma punya saham sekitar sepuluh persen saja dari perusahaannya sendiri selebihnya saham di sana adalah milik Pak Rama dan Ibu Mulan."


Rama tersenyum puas melihat laporan kepemilikan perusahaan kakak tiri istrinya yang kini sudah berhasil mereka kuasai. Tinggal sedikit lagi dan pembalasan mereka atas perbuatan keluarga mantan Wakil Presiden itu selesai.


"Kerja bagus, Bor. Gue seneng liat Lo kerja gercep begini. Bonus bulan ini buat Lo bakal gue cairin secepatnya!"


"Eh, aku dapet bonus juga, Pak?" tanya Bora sedikit terkejut.


"Kenapa, Lo nggak mau?"


"Enggak, bukan gitu, Pak. Aku cuma nggak nyangka aja bisa dapet bonus dari Pak Rama...," sahut Bora penuh kejujuran.


Pasalnya selama hampir tiga bulan menjadi asisten anak atasannya yang dulu selalu galak dan seenaknya memperlakukan dia, Bora sama sekali tidak menyangka Rama ternyata bisa bersikap sangat baik dengan memberikannya jatah bonus untuk pekerjaan yang baginya sangat mudah.


Bora merasa Rama sedikit demi sedikit mulai berubah semenjak hubungannya dengan Mulan membaik.


"Makanya mulai sekarang Lo kerja yang rajin. Gue bakal selalu ngasih Lo bonus asal semua kerjaan yang gue kasih, Lo kerjain dengan bener. Gue bisa gaji Lo lebih gede dari yang dikasih Bokap gue kalo Lo tahu!" ucap Rama bangga.


Perusahaan yang dia kelola memang sedikit demi sedikit mulai menunjukkan perkembangan yang luar biasa pesat. Keuntungan yang Rama dapatkan pun tidak sedikit. Pria itu merasa bangga dengan hasil capaiannya dan kerja kerasnya selama ini.


Ayah dan ibunya pasti akan ikut bangga jika tahu sudah berapa banyak yang dia hasilkan untuk perusahaan yang dia bangun dari nol itu.

__ADS_1


"Asik ... Pak Rama makin ganteng, deh kalo lagi baik begini," goda Bora cekikikan di kursinya.


"Maksud Lo selama ini gue nggak baik, gitu?!" sahut Rama menatap tajam asistennya.


Bora seketika terdiam, buru-buru mengayunkan tangannya di depan dada. "Bu-bukan gitu, Pak. Maksud aku—"


"Halah, udah nggak usah banyak bacot!" potong Rama cepat. "Bonus Lo nggak jadi gue kasih!" sambungnya kesal melemparkan dokumen yang dia pegang ke atas meja.


"Eh, kok nggak jadi sih, Pak. Aku tadi cuma becanda, Pak."


"Bodo amat! Udah sana keluar, eneg gue liat muka Lo lama-lama!" usir Rama bersedekap dada.


Rasa kesal langsung menyelimuti hatinya, Bora selalu saja membuatnya kesal diwaktu yang tidak tepat.


"Jangan gitu, Ra...." Dari tempatnya Mulan bersuara.


Sejak tadi wanita itu mendengarkan pembicaraan dua pria yang sering berdebat untuk sesuatu yang tidak penting. Mulan sedikit terganggu dengan suara mereka yang membuatnya tidak fokus bekerja.


"Apa, Yang?" Rama bangkit mendekati Mulan yang tengah menatapnya kesal.


"Kamu kalo mau ngasih, yah ngasih aja, Ra. Jangan bikin orang kecewa dan sakit hati sama pikiran kamu yang labil!"


"Dia, kan cuma becanda, Ra. Lagian, kan kamu emang kadang baik kadang galak juga sama dia. Wajarlah kalo Bora kaget pas kamu ngomong mau ngasih dia bonus," sahut Mulan membela Bora yang tersenyum menang di depan mereka.


"Ck, belain aja terus dia! Kawin sana sekalian sama dia!" Rama menggerutu, berbalik kembali duduk di kursi sofa.


Bora bergegas bangkit, undur diri dari ruang kerja atasannya sebelum dia ikut terkena getah perseteruan suami istri itu.


"Maaf, Pak. Aku masih ada kerjaan lain, aku permisi." Bora melangkah, menutup pintu dengan hati-hati.


Biar saja anak singa jantan itu dibujuk oleh sang singa betina. Bora tidak mau mendengar rengekan apalagi sampai membawa-bawa namanya ke dalam masalah mereka berdua.


"Kamu nggak malu ngomong begitu di depan asisten kamu, Ra?" Mulan ikut beranjak mendekati Rama setelah Bora keluar.


Pria bertubuh atletis itu tidak mau menatap Mulan, sepertinya Rama sedang merajuk pada istrinya karena lebih membela Bora dibanding dirinya. Rama masih terus mengacuhkan Mulan hingga dia duduk di sampingnya.


"Nggak usah marah, lagian apa yang aku bilang tadi emang bener, kan?" Rama masih diam, tidak mau menatap istrinya.


Mulan menghembuskan nafas panjang dan berpindah duduk menempeli Rama. Sepertinya dia harus berbuat sesuatu untuk membujuk pria itu.


"Kalo aku nikah sama Bora, emang kamu rela?" goda Mulan mencolek dagu Rama.

__ADS_1


"Tau!"


Mulan tersenyum, pindah duduk di atas pangkuan Rama yang kaget dengan tingkah tiba-tiba Mulan.


"Jangan marah-marah, aku belain Bora bukan berarti aku suka, kan sama dia. Kamu tetep nomor satu dihati aku, kok...." Mulan mulai melancarkan rayuan mautnya demi membujuk Rama yang tersenyum tipis mendengar ucapannya


Hati Rama langsung berbunga mendengar Mulan yang ternyata bisa juga menggombalinya dengan sangat manis.


Meski bahagia tapi Rama masih belum mau menatap Mulan yang gemas sendiri melihat tingkah suaminya.


"Masih belum mau ngomong?" Rama diam.


"Ok, kalo gitu jatah nanti malem aku anggep angus!" ancam Mulan.


"Nggak! Nggak ada yang begitu!" sahut Rama akhirnya.


"Yang namanya jatah tetep harus dapet walau lagi marahan!" Mulan sontak tertawa, berhasil membuat Rama bersuara.


Pria yang tadinya sedang merajuk itu kembali berdecak, tahu Mulan pasti sengaja mengancamnya dengan hal yang tidak akan pernah bisa dia tahan.


Rama menarik tengkuk Mulan, mencumbu bibir wanita itu tanpa permisi. Mungkin memberikan hukuman enak pada wanitanya bisa sedikit membuat hatinya lega.


"Buka baju kamu, ini hukuman biar kamu nggak godain cowok lain lagi di depan aku!"


.


.


.


.


.


.


.


Yah, serah Lo ajalah, Ra....


Cowok emang kalo lagi ngambek bahaya 🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2