
Tepat pukul tujuh malam, Mulan dijemput oleh seorang pelayan berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu menghiasi lehernya.
Wanita yang memakai dress merah dengan potongan yang cukup panjang di bagian pahanya, berjalan anggun turun menuju kolam yang terletak di depan ujung kapal pesiar.
Di sepanjang jalan menuju ke kolam, hiasan lampu-lampu indah berwarna warni menghiasi area yang Mulan lewati. Manik mata coklat mudanya tidak berhenti menikmati dan mengagumi keindahan lampu-lampu yang tampak serasi dengan keadaan malam di atas kapal yang tengah berlayar memecah deburan ombak di bawah sana. Seumur hidupnya ini adalah hal yang paling indah yang pernah dia lihat dan rasakan.
"Silahkan, Miss. Tuan sudah menunggu Miss di depan." Pelayan wanita yang membawa Mulan mempersilahkannya masuk mengikuti lorong.
Ujung lorong ini akan membawa Mulan keluar tepat di dekat kolam di mana Rama sudah menunggunya.
"Terima kasih...," ucap Mulan tersenyum ramah.
Dengan langkah kaki yang ringan dan penasaran akan apa yang akan menyambutnya di depan sana, Mulan sedikit mempercepat langkah kakinya berjalan melewati lorong di mana lilin-lilin kecil menghiasi disepanjang lorong tersebut.
Jika pikirannya benar, mungkin Rama sedang mempersiapkan sebuah kejutan untuknya. Hati Mulan seketika berdebar membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu untuk membuat dia bahagia malam ini.
Sesampainya di ujung lorong, mata Mulan tertumbuk pada satu orang pria yang tengah berdiri menatapnya berbinar dengan tangan membawa sebuah buket bunga Mawar berukuran besar.
Pria itu mendekat, tersenyum ceria melihat Mulan tampak sangat cantik dan memesona malam ini.
"Happy Valentines day, Lan...." ucap Rama memberikan buket bunga yang dia pegang ke tangan istrinya.
"Makasih, Ra." Mulan menerima buket bunganya, tersenyum dengan hati membuncah.
"Cantik banget, sih malem ini. Nggak salah ternyata gue milihin dress ini buat Lo," puji Rama tidak lupa membanggakan dirinya juga.
"Ayo," ajaknya mendekati sebuah meja yang sudah di atur di dekat mereka.
Rama menarik kursi, mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu dengan dia duduk berhadapan dengan Mulan.
"Ini Lo yang atur?" tanya Mulan terpesona.
Di atas meja yang penuh dengan kelopak bunga mawar, menghiasi hampir setiap sudut meja. Di tengah-tengah meja terdapat lilin dengan alat-alat makan yang ikut tertata rapi di sana.
Nuansa merah sangat terasa, cocok dengan dress dan dasi merah yang dipakai Rama saat ini.
"Nggaklah, Lan. Gue mana tahu ngatur beginian, gue cuma perintahin pelayan ngatur makan malam romantis buat kita...," sahut Rama jujur.
Mulan tersenyum geli sambil mencium wangi aroma bunga mawar yang masih segar ditangannya. Dia juga tahu Rama tidak mungkin mengatur hal seromantis ini sendiri. Tapi melihat niat tulus yang diberikan pria itu, hati Mulan langsung menghangat seketika.
__ADS_1
"Kita makan dulu, yah? Lo pasti laper, kan?" Mulan mengangguk.
"Bunganya taruh dulu...." Rama mengambil kembali buket bunga itu, meletakkannya pada sebuah tiang penyangga di dekat mereka.
Makan malam romantis ditemani alunan musik piano menghiasi malam yang meski terasa dingin dengan angin laut yang berhembus, namun begitu terasa hangat dihati mereka masing-masing.
Rama tidak henti-hentinya memuja Mulan yang selalu saja tersipu dengan gombalan-gombalan recehnya. Rama memang paling tahu bagaimana membuat wanita berbunga dan melayang dengan ucapan dan juga sentuhannya.
"Dansa yuk, Lan." ajak Rama setelah menghabiskan makan malamnya di atas piring.
"Nggak, ah. Gue nggak tahu caranya dansa," tolak Mulan malu.
"Nggak pa-pa, tar gue yang ajarin. Ayo...." Rama beranjak dari duduknya, mengambil tangan Mulan untuk ikut berdiri dengannya.
"Tapi, Ra. Gue bener-bener nggak tahu, gue—"
"Nanti gue ajarin, tenang aja." potong Rama membawa Mulan sedikit menjauh dari meja makan mereka.
"Lo cuma perlu ngikutin arahan gue. Sini tangan Lo, taruh sini." Rama mengambil tangan kanan dan kiri Mulan, melingkarkannya ke leher dia dengan kedua tangannya merangkul pinggang Mulan.
"Ikutin arah kaki gue kemana gue pergi, Lan." Rama mulai menunjukkan gerakan dasar dansa yang biasa dia lakukan bersama ibu dan adiknya Cima.
Terbiasa berdansa sejak kecil bersama keluarganya, Rama sedikit banyak tahu dasar-dasar gerakannya di atas lantai dengan iringan musik piano.
"Angkat kepala Lo, Lan. Kaki kita nggak bakal saling nginjek lagi." Mulan mengangkat kepalanya perlahan, menatap Rama yang berdiri sangat dekat dengannya.
"Harusnya waktu kita nikah kemaren, kita juga lakuin hal ini pas resepsi, Lan. Maaf, yah ... gegara gue yang nolak mentah-mentah nikahan kita, jadinya Lo nggak punya kenangan yang indah pas kita nikah," sambung Rama tulus.
Jika bisa mengulang momen itu, mungkin Mulan akan menjadi wanita paling bahagia di dunia pikirnya. Rama tahu bagaimana impian seorang wanita yang ingin punya pernikahan yang indah bersama pasangan yang mencintainya.
Rama jadi sering merasa bersalah sekarang setiap kali mengingat awal mula mereka menikah.
"Nggak usah dibahas, Ra. Toh, kita juga nikah, kan emang dipaksa. Nggak usah ngerasa nggak enak karena itu!" sahut Mulan dengan hati yang lapang.
Mereka menikah juga bukan karena kemauannya. Ini hanyalah bentuk balas budinya untuk Richard yang mau membantu dia membalas dendam pada keluarga ayahnya. Sampai sekarang Rama masih belum tahu alasan sebenarnya dibalik pernikahan mereka.
"Tetep aja gue sebagai cowok nggak enak, Lan. Harusnya gue bisa ngasih kesan yang indah dan bahagia buat pernikahan sekali seumur hidup kita...." Hati Mulan sedikit berdenyut mendengar ucapan tulus suaminya.
Entah apa tanggapan Rama jika dia tahu setelah semua balas dendamnya usai, Mulan akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Lan...."
"Hmm?"
"Lo mau nggak jadi istri gue?"
"Hah? Maksud Lo?"
Rama tersenyum, menarik pinggang Mulan semakin menempel padanya. "Gue nggak pernah nanya begini, kan sama Lo? Gue mau kita sekarang bener-bener buka hati dan nerima pernikahan ini, Lan. Yah, walau gue nggak tahu kenapa dulunya Lo mau nikah sama gue, tapi gue ngerasa kita masih bersama sampe ini karena jodoh. Gue yakin dan percaya Lo emang jodoh yang dikasih sama yang Di Atas buat gue."
Mulan terdiam dengan pandangan yang tidak lepas dari Rama, suaminya terdengar sangat serius dengan ucapannya barusan. Haruskah dia benar-benar membuka hati untuk Rama? Haruskah dia melupakan niat awalnya menikah dengan pria ini? Pantaskah mereka terus bersama disaat dia merasa tidak pantas mendampingi Rama yang punya segalanya?
Mulan merasa rendah diri dengan pikiran-pikiran yang terus memburunya beberapa hari ini. Dia tahu dia tidak boleh jatuh cinta dengan Rama, tapi ... bagaimana kalau cinta itu hadir tanpa permisi? Mampukah nantinya dia melepaskan pria sebaik ini?
"Kok diem, Lan?" sambung Rama lagi. "Lo nggak mau, yah?" tanyanya dengan wajah menyendu.
"Bu-bukan gitu, Ra. Gue...." Tidak sempat meneruskan perkataannya, kaki Mulan tidak sengaja menginjak tepi kolam.
Keduanya tidak sadar kalau mereka berdansa sudah sangat dekat dengan kolam, alhasil pijakan kaki Mulan yang tidak seimbang membuat keduanya jatuh, menyambar air dingin dalam kolam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ya ampun ... ada aja yang bikin suasana romantisnya berantakan 🤭😂