
"Apa ini, Man?"
"Surat panggilan Pak Deno ke kantor polisi, Pak. Ada yang laporin Bapak tentang proyek wisata kita di Pulau Mandalika."
"Apa?!" Deno menarik sebuah surat dari tangan asistennya, membukanya dengan kasar.
Surat panggilan yang datang dari salah satu rekan bisnis perusahaan pengembang yang bekerja sama dengan Kementeriannya, telah melaporkan Deno tentang penggelapan dana yang dilakukan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu.
Dana yang digelapkan berjumlah ratusan milyar dengan kerugian mencapai satu triliun rupiah. Deno meremass kertas yang dia pegang, membuangnya ke lantai dengan marah.
"Brengsek!" makinya kesal.
Berani sekali para bedebah itu melaporkannya seperti ini? Mereka sudah sepakat akan membicarakannya secara kekeluargaan sebelumnya. Kenapa tiba-tiba ada laporan begini? Deno menggeram kesal dalam hati.
"Maaf, Pak. Tapi ada satu lagi surat panggilan dari kepolisian yang datang hari ini." Aman menyerahkan lagi satu buah surat lainnya ke hadapan Deno yang makin meradang.
"Dari siapa lagi itu?!"
"Ini dari rekan kerja sama perusahaan kita di Bali, Pak. Mereka menuntut Pak Deno mengembalikan uang sisa dari pembangunan resort di sana. Katanya sudah hampir enam bulan mereka menunggu, Pak Deno belum juga mengirim uang sisanya sampai sekarang."
Deno langsung menggebrak meja, tidak terima mendengar laporan Aman. "Kurang ajar! Emang mereka pikir aku bakal bawa lari uang-uang itu?!" pekiknya marah.
"Besok kamu transfer uang yang mereka minta, Man. Aku nggak mau denger ada laporan kayak gini lagi dari mereka!" sambung Deno melempar surat yang dia pegang lagi ke lantai.
Rasanya sudah semakin banyak yang melaporkannya atas kasus pencucian uang dan korupsi. Deno mulai frustasi menghadapi satu per satu laporan-laporan yang ada.
"Tapi, Pak. Kita harus meminta persetujuan dari Bu Mulan dulu untuk hal itu. Sekarang semua laporan harus melalui beliau baik keuangan maupun pengeluaran perusahaan. Kita akan di pinalty kalau tidak mengikuti prosedurnya, Pak," sahut Aman mengingatkan.
"Tunggu, peraturan dari mana itu? Siapa yang bilang kita harus melalui dia dulu?! Perusahaan ini milik aku. Gimana ceritanya aku mesti minta persetujuan dari dia dulu, jangan becanda kamu, Man...." Deno tersenyum sinis menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan ucapan asistennya.
Aman menghembuskan nafas panjang, menarik satu buah dokumen yang berada di atas meja atasannya.
"Yang Bapak bilang tadi semuanya tertulis di laporan ini, Pak." Aman membuka salah satu halaman berisi peraturan terbaru perusahaan yang diberikan Mulan padanya tempo hari.
"Disitu tertulis semua yang menyangkut keuangan perusahaan baik pemasukan maupun pengeluaran, Bapak harus dan wajib melaporkannya pada Bu Mulan. Karena berdasarkan banyaknya jumlah saham di perusaan ini, Bu Mulan lah yang paling berhak menjadi pemimpin di sini, Pak." sambung Aman panjang lebar.
"Kamu bilang apa, saham?"
__ADS_1
"Iya, Pak. Bu Mulan memiliki saham sekitar tujuh puluh persen dengan Pak Deno yang hanya sisanya saja. Jadi bisa dikatakan, secara umum Bu Mulan lah yang paling berhak menjadi pemimpin di perusahaan ini."
"Nggak! Kamu pasti becanda, Man. Gimana dia bisa punya saham segede itu di sini?! Dia cuman punya—"
"Ini bukti-buktinya, Pak." potong Aman menunjukkan halaman yang lain di dalam berkas dokumen itu.
Di sana tertulis Mulan juga masih memiliki saham yang selama ini tidak diketahui pemiliknya siapa. Deno seketika terkejut dengan mata yang membola sempurna.
"I-ini...."
"Iya, Pak. Bu Mulan sudah memiliki saham yang lebih besar dari milik Pak Deno."
Semua bukti-bukti yang tertulis di sana menunjukkan kelegalan yang sah. Deno mendengus tidak percaya, bagaimana mungkin Mulan memiliki saham itu? Deno memerah dengan wajah menahan emosi.
"Brengsek! Jadi wanita nggak tahu malu itu nipu gue selama ini?!" Deno bangkit dari kursinya berjalan cepat menuju ruangan Mulan dalam perusahaan.
Deno memang sedang berada di perusahaannya saat Aman menunjukkan surat-surat tersebut.
Pria itu menaiki lift diikuti Aman yang ikut berjalan mengikutinya dari belakang. Deno langsung membuka pintu ruangan Mulan begitu tiba dan mendekati adik tirinya yang terlonjak kaget duduk di tempatnya.
"Lo nggak bisa ngetuk pintu dulu, hah?!" marah Mulan beranjak dari kursi.
Dia tahu kakak tirinya pasti akan menanyakan hal ini. Setelah beberapa hari lewat ternyata Deno baru mengetahuinya sekarang, pikir Mulan.
"Lo udah nggak bisa baca sekarang? Jadi Menteri nggak bikin Lo buta huruf, kan?! Disitu semua yang Lo tanyain jelas tertulis. Gue nggak punya waktu jelasin hal yang udah jelas-jelas ada di sana!" sinis Mulan melipat tangannya di depan dada.
"Dasar cewek nggak tahu malu! Lo bener-bener jual diri, yah buat dapetin ini semua?! Dasar murahan!" cibir Deno menunjuk wajah Mulan geram.
"Bukan urusan Lo, gue mau jual diri apa enggak! Lagian Lo ngapain kemari, hah?! Mau minta duit buat bayar utang-utang Lo sama rekan bisnis Lo?!"
Deno mengernyit, bingung kenapa Mulan bisa tahu tentang hal itu.
"Nggak usah kaget begitu kali, No. Semua laporan yang ada tentang Lo, selalu masuk ke gue. Jadi mau Lo tutupin kayak gimana juga, gue pasti bakalan tahu!" sambung Mulan tersenyum menang.
Deno mengepalkan tangan, semakin membenci wanita yang terlihat semakin sombong setelah berhasil merebut posisi kepemilikan perusahaan ayahnya.
"Dan sekedar informasi, gue nggak bakal ngeluarin uang buat utang pribadi Lo! Perusahaan nggak akan ngabisin duit cuman buat pegawainya yang rakus suka makan duit kayak elo!"
__ADS_1
"Lo...!" Deno tidak meneruskan ucapannya setelah Aman berdiri di depannya menahan tubuh Deno.
Pria itu sudah bersiap-siap ingin menyeret Mulan keluar dari sana saking kesalnya Deno mendengar ucapan Mulan.
"Sabar, Pak. Inget reputasi Pak Deno sekarang." Aman mencoba menyadarkan pria yang mungkin akan meledak sebentar lagi karena marah.
Deno menepis tangan Aman dengan kasar, mengambil barang apa saja yang ada di atas meja dan melemparkannya ke arah Mulan.
Beruntung wanita itu masih sempat menghindar hingga tidak terkena kerasnya papan nama Mulan yang dilemparkan Deno padanya.
"Liat aja gimana gue ngebales Lo, jalangg! Lo bakal abis di tangan gue kayak nyokap Lo!"
Mulan tersentak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Deno.
"Apa maksud Lo kayak nyokap gue?"
Deno tertawa, berbalik meninggalkan Mulan yang penuh tanda tanya dalam hati.
Sebelum sempat keluar dari pintu, Deno masih sempat berujar. "Kayak kata suami Lo kemaren, Lan. Tunggu dan liat gimana gue hancurin elo abis ini!"
Deno tertawa, menghilang dibalik pintu bersama Aman yang sempat melirik ke arah Mulan. Pria itu seakan memberikan kode untuk jangan khawatir.
.
.
.
.
.
.
Guys, kira-kira kalo author bikin WAG khusus pecinta biji mau, nggak? 🤭😄
Nanya doang ini, mah
__ADS_1
Kalo mau komen di bawah, yah 👇