
"Jac."
"Hmm...."
"Kamu yakin mau kenalin aku sama orang tua kamu?"
"Hadeh ... berapa kali, sih aku harus ngomong lagi sama kamu, Beb. Masih belum cukup nyokap gue kemaren liat kita ciuman?" sahut Jacob mulai kesal ditanya hal yang itu-itu saja dari wanitanya sejak tadi.
Tidak sampai sejam pesawat mereka akan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Semakin dekat dengan kota kelahiran ibunya Anna merasa hatinya diterpa dilema yang dalam.
Bayangan masa lalu yang sempat dia hindari kembali merasuk pikirannya. Apa kembali kesini bisa membuat hatinya tidak terluka lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menderanya hingga Jacob menjadi korban kegalauan hatinya sendiri.
"Bukan gitu, Jac. Aku cuman malu aja ketemu mereka. Nanti kalo ditanya-tanya yang aku nggak tahu, aku mesti jawab apa coba? Lagian kita belum lama saling kenal, Jac. Gimana nanti kalo—"
"Urusan nanti biar aja jadi nanti, Beb!" potong Jacob cepat. "Kamu nggak usah mikirin yang enggak-enggak. Nyokap bokap gue orangnya baik, mereka pasti bakal terima kamu dengan senang hati," sambung Jacob mencoba menenangkan sekretarisnya.
Dalam hati dipenuhi rasa bimbang, Anna menganggukkan kepala. Lima menit lagi mereka akan benar-benar tiba di Indonesia. Semoga saja setelah menginjakkan kakinya kesini lagi, semua luka yang masih saja membekas hingga saat ini bisa perlahan sembuh dan tidak bersisa.
"Kita langsung pulang, Den?" tanya supir pribadi Mike begitu naik ke mobil.
"Iya. Mami sama Papi di mana?"
"Pak Mike masih di perusahaan, Den. Mungkin bentar lagi pulang. Nyonya cuma dirumah aja nyiapin makan malam buat nyambut Aden sama calon istri Aden," sahut pria yang hampir seumuran dengan opa Jacob.
Sedikit melirik pada wanita dengan wajah kebarat-baratannya, supir pribadi Mike tersenyum ramah dari kaca spion samping kemudi.
"Yaudah, kita pulang aja kalo gitu." perintah Jacob menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di jok mobil.
"Eh, kita langsung ke rumah kamu, Jac?" sela Anna duduk di samping Jacob.
"Iya, malam ini kamu tidur di rumah aku aja. Besok baru kita ketemu orang tua kamu."
"Tapi, Jac—"
"Beb, kamu udah janji sama aku. Jangan nyari-nyari alesan lagi, ok?" potong Jacob dengan seringai penuh arti.
__ADS_1
Ah, lagi-lagi Anna tidak bisa membantah ucapan pria pemaksa ini. Mobil yang membawa mereka pun meluncur meninggalkan area parkir Bandara.
Tidak ada yang bersuara selama perjalanan menuju ke rumah Jacob sampai ban mobil di samping kemudi berbunyi meledak.
"Aaa...!" kaget Anna dari lamunannya.
"Kenapa, Pak?" Jacob ikut kaget, terlonjak dari duduknya.
"Kayaknya ban mobilnya pecah, Den. Aku cek dulu." Kang Slamet membuka pintu mobil dan turun mengecek sumber suara yang membuat ketiganya kaget.
Melihat kondisi ban yang pecah dan tidak bisa digunakan lagi, sepertinya mereka akan sedikit lama berada di tepi jalan menuju ke rumah.
"Maaf, Den. Ban mobilnya bener pecah, aku musti telpon bengkel dulu buat benerin bannya." Dari balik kaca yang terbuka sedikit Kang Slamet berucap.
Jacob berdecak, antara kesal dan kaget. "Ya ampun Kang, kok bisa sih pake acara pecah ban segala...?!" keluhnya.
"Iya, Den. Maaf. Rencananya emang bannya mau diganti abis jemput Aden di bandara," sahut Kang Slamet tidak enak hati.
"Ck, trus gimana dong, Kang? Masa kita harus nunggu di sini sampe berjamur?!" ucap Jacob menumpahkan kekesalannya lagi.
"Nggak pa-pa, Kang. Telpon aja tukang bengkelnya. Aku sama Jacob nanti nunggu di depan cafe sana," tunjuk Anna beberapa meter dari mobil mereka yang terparkir.
"Nanti kalo udah selesai panggil kita aja," sambung Anna tersenyum hangat.
"I-iya, Non. Aku telpon bengkel dulu," sahut Kang Slamet terbata salah tingkah.
Jacob kembali berdecak, kesal dengan kejadian tak terduga ini. Pria itu ikut keluar saat Anna mengajaknya ke cafe dekat sana.
"Udah nggak usah marah-marah lagi, Jac. Yang namanya musibah nggak ada yang tahu. Lagian supir kamu udah minta maaf, kan? Anggap aja kita lagi quality time berdua...," bujuk Anna ingin mencairkan suasana.
Udara Jakarta yang panas dengan kebisingan ibu kota memang membuat siapa saja akan kesal dengan ban yang tiba-tiba pecah di saat tengah hari begini.
Jacob hanyalah salah satu diantara banyaknya penduduk Jakarta yang mengalami nasib tidak enak, pikir Anna.
"Iya, aku nggak marah kok, Beb. Cuman kesel aja kenapa bannya harus pecah ditengah jalan gini. Mana cuaca lagi panas-panas banget, emosi jadi ikutan panas yang ada!" sahut Jacob berbicara penuh kejujuran.
__ADS_1
Anna tersenyum dan menarik tangan kekar Jacob untuk dia genggam. "Kalo udah dipegang kayak gini masih panas juga nggak?" goda wanita berambut panjang itu.
Jacob sontak tersenyum merasa tersipu dengan gombalan ala-ala wanitanya. Dia dengan cepat menarik tubuh Anna, mengikis jarak diantara mereka.
"Udah jago gombal, yah sekarang?" goda Jacob balik mencolek dagu runcing Anna.
"Apa sih, Jac. Malu tahu diliat orang!"
Jacob tersenyum berganti merangkul pundak Anna dari samping. "Kalo lagi nggak diluar, udah aku cium kamu di sini, Na...."
Jacob mendorong pintu cafe begitu mereka tiba di sana. Baru tiga langkah berjalan masuk ke dalam, pasangan itu didekati seorang pria dengan setelan jas rapi dengan kulit putih bersihnya serta rahang yang tegas.
"Anna...," ucapnya terkejut melihat wanita itu.
Anna langsung terhenti, membola sempurna melihat sosok pria yang selama ini dia hindari. "Jo-josh?"
"Ternyata ini beneran elo. Udah jadi simpenan siapa elo sekarang?!" cibir pria bernama Josh.
Jacob mengernyit, menatap seksama pria asing di depannya. Anna terlihat sangat syok melihat sosok pria itu dengan gesture tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanan. Jacob bisa tahu kalau pria asing ini adalah pria yang tidak disukai oleh wanitanya.
"Ini siapa, Beb?" tanya Jacob tidak melepaskan pandangannya dari Josh.
"Beb...?" sahut Josh geli. "Sejak kapan nama Lo diganti jadi bebek, Na?" ledeknya sengaja membuat Anna malu.
"Kenapa emangnya, masalah buat Lo?!" Jacob menjawab.
"Sorry, bro. Gue nggak ada urusan sama Lo. Gue cuman butuh ngomong sama wanita ini. Jadi gue minta lo jangan ikut campur."
Jacob merasa hatinya kembali panas mendengar ucapan Josh. Cari perkara, nih biji! Jacob maju di depan Anna sengaja menyembunyikan wanitanya di balik punggung bidangnya.
"Semua urusan Anna bakal jadi urusan gue. Jadi kalo Lo mau ngomong, ngomong aja sama gue!"
Josh berdecih melipat tangannya di depan dada. "Emang Lo siapa? Simpenan?!" cibirnya lagi.
"Lo mau tahu gue siapa?! Gue Jacob, calon suami wanita yang sejak tadi Lo ledekin!"
__ADS_1