Touch My Body

Touch My Body
Mencari Tahu


__ADS_3

"Kamu mau apa?!"


"Sewa detektif, Pi...," sahut Jacob duduk di depan ayahnya.


"Ngapain? Kamu bikin kasus?" Jacob menggeleng. "Trus?"


"Ck, aku mau nyeledikin Anna."


"Astaga...." Mike geleng-geleng kepala mendengar ucapan anak laki-lakinya.


"Ngapain kamu nyeledikin calon istri kamu sendiri? Emang Anna bekas napi?" kekeh pria yang tidak lagi muda itu.


"Ish, ada lah pokoknya, Pi. Aku cuman pengen nyewa detektif hebat aja. Papi pasti punya satu nomor mereka, kan? Bagi aku dong, Pi...," pinta Jacob terdengar merengek.


"Tunggu, jelasin sama Papi dulu kenapa kamu mau nyewa detektif buat nyeledikin Anna? Emang kalian ada masalah? Anna boongin kamu apa gimana?"


Jacob membuang nafas kasar merasa ayahnya terlalu banyak bertanya. Harusnya dia tidak meminta bantuan pria ini saja, pikir Jacob. Mike memang selalu kepo dengan semua kegiatannya sejak dulu.


"Nggak ada yang diboong-boongin, Pi. Aku cuman pengen nyeledikin Anna aja sebelum nikah. Lagian emangnya salah kalo aku pengen tahu latar belakang calon istri aku!" sahut Jacob beralasan.


Mike merasa anaknya tidak mungkin meminta seorang detektif jika tidak ada yang sedang dia curigai dari wanitanya sendiri. Mungkin sengaja membuat Jacob kesal bisa memancing apa yang tengah dia curigai dari Anna.


"Kan, kamu bisa nanya langsung sama dia, Cob. Nggak perlu lah kamu susah-susah bayar detektif segala," sahut Mike mulai memancing.


"Ish, nggak segampang itu, Pi. Papi nggak tahu aja gimana tadi aku...." Jacob menggantung ucapannya, lupa kalau dia tidak ingin memberitahukan masalah ini dulu pada ayahnya.


Ah, sial! Bagaimana dia bisa seember ini?! Kesal Jacob dalam hati. Mike tersenyum tipis memperhatikan gerak gerik anaknya. Dia mulai tahu ke mana arah pembicaraan Jacob sekarang.


"Gimana apanya, Cob? Kalo ngomong, tuh yang jelas jangan ngegantung kayak biji begitu!" sahut Mike setengah bercanda, berpura-pura tidak mengerti.


"Ck, pokoknya begitulah, Pi. Aku belum bisa cerita sekarang. Nanti kalo aku udah dapet informasi yang bener, baru aku kasih tahu Papi."


Mike sontak tertawa, beranjak dari duduknya di depan meja ruang kerjanya dirumah. Anaknya memang tidak pernah berubah sejak dulu selalu penuh rahasia dan ingin memecahkan masalahnya sendiri. Entah Mike harus bangga dengan sikap Jacob ini atau malah harus khawatir karenanya.


"Papi, kok ketawa, sih?! Emangnya lucu!" Jacob ikut beranjak, mengikuti Mike duduk di kursi sofa dalam ruangan.


Melihat ayahnya hanya santai dan malah menertawakannya, Jacob makin kesal dan menyesal sudah meminta bantuan dari Mike.


"Abisnya kamu lucu sih, Cob. Kamu bilang kamu mau nikah. Tapi disaat udah mau nikah, malah ngomong mau nyeledikin latar belakangnya Anna. Emang selama ini kamu ke mana aja? Orang nikah itu setidaknya udah tahulah dikit-dikit tentang pasangannya. Nah, kamu ... malah mau nyewa detektif untuk cari tahu. Papi nggak abis, deh pikir sama kamu."

__ADS_1


Jacob mendengus merasa perkataan ayahnya ada benarnya. Dia memang lupa dan tidak memperhatikan hal sepenting ini dari Anna.


Terlalu fokus memaksa wanita itu menjadi miliknya justru membuat pikiran Jacob teralihkan.


"Tapi nggak pa-pa juga sih, Cob. Toh yang penting kamu udah ada inisiatif mau nyari tahu tentang calon istri kamu. Itu setidaknya udah lebih baik daripada enggak sama sekali," sambung Mike bijak.


"Nah makanya Papi bantuin aku, dong ngasih nomor detektif yang hebat buat aku. Aku cuman pengen tahu aja apa yang dilalui Anna sebelum kenal sama aku," ucap Jacob cepat.


Merasa mendapatkan lampu hijau dari ayahnya, Jacob tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang datang.


"Kamu mau nyari tahu tentang Anna, kan?"


"Iya, Pi...."


"Kamu nggak perlu detektif. Ada satu orang yang bisa ngasih tahu kamu tentang Anna."


"Oh, yah? Siapa?" tanya Jacob bersemangat.


"Namanya Toni."


"Toni?"


Astaga ... siapa lagi pria ini, gumam Jacob.


"Emang dia siapanya Anna, Pi?" tanyanya penasaran.


"Bukan siapa-siapanya. Dia cuman pria yang kebetulan kenal sama Anna dan pengen ngelindungin dia aja. Toni ini yang bawa Anna ke Papi buat jadi sekretaris kamu di Jerman."


"Hah? Beneran, Pi?" sahut Jacob tidak percaya.


Mike mengangguk lagi. "Tapi soal kalian berjodoh itu bukan karena Papi yah, Cob. Papi nggak tahu kamu bisa jatuh cinta sama Anna," ucapnya penuh kejujuran.


Kaget melihat siapa wanita yang dibawa Jacob kemarin, Mike sama sekali tidak menyangka anaknya bisa jatuh cinta dengan Anna.


Sekali lagi jodoh memang tidak pernah bisa ditebak kepada siapa dia akan berlabuh. Mike sudah mengalami itu semua.


"Kalo gitu di mana aku bisa temuin dia, Pi?" tanya Jacob tidak sabar.


"Kamu yakin mau temuin dia?"

__ADS_1


"Iya, Pi. Lebih cepet aku ketemu dia lebih baik."


Mike melirik jam yang tergantung di dinding samping kiri sebelum berucap, "Kalo mau ketemu dia kamu harus gercep, Cob. Sejam lagi kayaknya penerbangan dia ke Jepang hari ini."


"What?!" kaget Jacob.


Sialan! Kenapa juga orang yang bisa memberikan informasi padanya harus pergi sekarang, kesal Jacob dalam hati.


"Hari ini dia bilang mau berangkat ke Jepang dan mungkin bakal stay di sana. Ada seseorang yang pengen dia hindarin katanya kemaren sama Papi."


"Lah, Papi ketemu dia?"


"Iya, dia ngajak Papi ketemuan sambil nanya-nanya gimana keadaan Anna sama pamit mau pergi."


"Ish, Papi kok nggak bilang-bilang sama aku, sih? Kan, aku bisa juga ketemu sama dia kemaren!" sahut Jacob kesal.


Mike berdecak, ikut kesal mendengar anaknya. "Emang Papi tahu kamu mau ketemu sama dia?! Lagian dia nggak tahu kamu bakal nikah sama Anna. Papi nggak ada ngomong ke dia karena Papi juga nggak tahu calon istri kamu wanita yang Toni lindungin itu!" ucapnya tanpa jeda.


"Dan kalo kamu bener mau nyari tahu soal Anna, Papi saranin kamu pergi dari sekarang!" sambung Mike mengingatkan anaknya.


"Iya, iya ... aku pergi." Jacob beranjak, melangkah dengan cepat menuju pintu ruang kerja ayahnya.


Sebelum menutup pintu Jacob menyambar kunci mobil ayahnya di atas meja dan berteriak meminta izin.


"Aku pinjem mobilnya, Pi...!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jadi karena kemaren banyak yang request part Jacob dulu, yaudah beberapa part nanti masih tentang biji ketiga kita, yah 🤭😄


__ADS_2