Touch My Body

Touch My Body
Jasa


__ADS_3

"Sorry gue telat."


Jacob berdecak, menatap jengkel sahabatnya yang terlambat hampir satu jam dari janji temu mereka.


"Kemana aja, sih Lo?! Nggak tahu apa orang udah berkarat nungguin Lo disini!" sentak Jacob menatap tajam Gober.


"Iya, sorry ... tadi gue anterin Cima pulang dulu kerumah," sahut Gober duduk di samping kiri sahabatnya.


Jacob mengernyit mendengar nama adik sahabat mereka yang lain disebut. "Cima? Ngapain Cima sama Lo?" tanyanya ingin tahu.


"Ada, deh. Mau tahu aja Lo...," goda Gober mengambil segelas brandy di atas meja.


"Ck, jangan macem-macem sama adik temen Lo sendiri, Ber. Inget gimana protek-nya daddy Richard sama Cima, kan? Hati-hati aja leher lo digorok sama dia!" sahut Jacob mengingatkan.


"Iya tahu, gue cuma mau deketin dia, doang, kok. Nggak ada maksud mau macem-macem juga sama dia. Lo tenang aja, gue masih tahulah batas-batasnya...," ucap Gober santai.


Cima memang wanita yang menarik, tumbuh bersama dengannya sedikit banyak membuat Gober mengenal Cima dengan baik.


Gober hanya ingin mencoba mendekati Cima yang jika dia mau, Gober akan dengan senang hati menjadikan wanita itu satu-satunya untuknya. Namun jika Cima menolak, Gober hanya akan sekedar dekat namun tidak akan serius dengannya.


"Serah Lo, lah. Yang penting gue sebagai temen Lo udah ingetin." Jacob beranjak, bermaksud keluar dari ruang VVIP dalam club langganan mereka.


"Trus Lo mau kemana, hah? Baru juga gue sampe, Cob," protes Gober tidak mau ditinggal.


"Gue mo ke toilet, Lo mau ikut?"


Gober menggeleng cepat dengan wajah meringis. "Ogah! Sono, Lo pergi. Gue mau cari betina pandan aja, siapa tahu ada yang nyantol."


Jacob berdecak, keluar meninggalkan Gober di ruang VVIP sendiri. Malam ini adalah malam terakhirnya di Indonesia, besok Jacob akan kembali ke Jerman mengurus perusahaan opanya yang kini sudah di pindah tangankan padanya.


Jacob akan semakin sibuk dengan rutinitas pekerjaan yang pasti tidak akan pernah ada habisnya. Malam ini Jacob akan bersenang-senang sepuasnya sebelum dia benar-benar memulai pekerjaannya di Jerman.


Menuju toilet dalam club, Jacob harus melewati lorong dengan pencahayaannya yang remang. Di depan sana terlihat ada seorang wanita yang tengah berjalan terhuyung-huyung dengan pakaian yang tampak berantakan. Jacob yakin wanita ini pasti sedang mabuk berat dan sedang menuju ke toilet juga.


Tidak ingin ambil pusing, Jacob berjalan cepat melewati wanita itu dan masuk lebih dulu ke toilet pria yang kebetulan sedang sepi saat itu.


Bersiap membuang isi dalam perutnya yang sudah penuh di depan toilet berdiri, Jacob dibuat kaget dengan pintu yang tiba-tiba dibuka dan dibanting oleh wanita tadi dari luar.


"Woii ... ngapain Lo disini?! Ini toilet cowok!" pekik Jacob kembali memasukkan benda perkasanya di balik celana.


Wanita itu terdiam, mengangkat kepalanya dengan pandangan mata yang memburam.

__ADS_1


"Jadi Lo cowok yang dibilang temen gue tadi? Sini, deket gue...," panggil wanita itu menggerakkan jari telunjuknya ke arah Jacob.


"Maksud Lo apa ngomong gue cowok yang dibilang temen Lo? Ini Lo lagi di toilet cowok woi...! Mabuk nggak liat tempat, nih betina!" kesal Jacob merasa kegiatan akhirnya terganggu karena kehadiran wanita ini.


Wanita dengan rambut panjang yang memakai terusan pendek sebatas bokongnya berdecak, maju mendekati Jacob yang sedang menatapnya kesal.


"Nggak usah sok jual mahal Lo. Gue masih mampu bayar biji Lo itu. Sini, ikut gue cepet!" Wanita mabuk itu menarik Jacob, membawanya ke depan wastafel toilet dengan kaca yang mengelilinginya.


"Apa-apaan, sih Lo?!" risih Jacob.


"Udah nggak usah banyak mulut, buka cepet celana Lo!"


"Apa?! Sinting, nih betina! Lo kira gue gigolonyaa elo!" sahut Jacob tidak terima.


Wanita itu kembali berdecak, menarik ikat pinggang yang dipakai Jacob kuat hingga tubuh Jacob membentur tubuhnya.


"Lo pilih mana, buka sendiri apa gue yang bukain?!"


"What?!" (apa?), kaget Jacob.


Wanita dengan aroma alkohol yang sangat kuat itu menatap Jacob dengan pandangan mata sayunya. Jacob bisa melihat dengan jelas wajah cantik dengan hidung mancung dan bibir yang penuh berdiri tepat di depannya.


Tinggi mereka yang hampir sama memudahkan wanita itu menarik turun resleting celana jeans Jacob yang bahkan tidak disadari olehnya.


Wanita yang memang sedang menginginkan kehangatan seorang pria itu sontak menarik keluar benda yang perlahan menegang memenuhi kepalan tangannya.


Jacob hanya bisa memekik tertahan merasakan wanita di depannya tengah mempermainkan benda kebanggaannya dengan lihai.


"Cium gue sini," perintah wanita itu lagi.


Jacob merasa otaknya seketika blenk karena perlakuan tidak terduga wanita asing ini hingga tanpa disadari oleh Jacob, dia pun patuh mengikuti perintahnya dengan mendekati bibir penuh wanita itu dan mulai mencumbu membalas isapann bibir dan lidahnya.


Keduanya asik bertukar saliva dengan deru nafas yang sama-sama memburu. Permainan tangan wanita itu dibawah sana juga ikut cepat seiring hasrat mereka yang bergelora.


Jacob akhirnya terbuai, ikut mengusap tubuh seksi di depannya dengan tangan yang ikut masuk menerobos terusan pendeknya.


Jacob tidak membiarkan seinci pun tubuh wanita itu bebas dari sapuan lembut tangannya, sampai tangannya berhenti menyentuh dua bukit yang pas dalam genggamannya.


Jacob meremass gemas dan menarik penutupnya dengan kasar hingga terlepas tanpa melepaskan pagutan bibir mereka.


Wanita itu terdengar mendesah merasakan permainan tangan Jacob di dadanya. Mereka larut dalam sentuhan-sentuhan lembut dan bergairahh satu sama lain.

__ADS_1


"Udah, udah cukup!" Wanita mabuk itu melepaskan tautan bibir mereka, mendorong Jacob sedikit menjauh.


"Gue nggak punya banyak waktu. Mana kondomm Lo?" tanyanya mengulurkan tangan.


Jacob terlihat meraba-rabaa isi dalam saku celana jeans-nya tidak sabar, mencari benda yang dibungkus beraneka rasa itu.


Jacob baru ingat dia sempat mengeluarkannya tadi saat dia baru saja sampai di ruangan VVIP. Pria berambut gelombang itu merutuki dirinya yang dengan bodohnya malah membiarkan benda sepenting itu lepas darinya.


"Gue nggak bawa," sahut Jacob mendengus kesal.


"Gimana, sih. Katanya Lo gigoloo profesional, kok hal sekecil itu aja Lo nggak punya?! Dasar payah!" cibir sang wanita.


"Udah, minggir sana. Gue nggak mau main sama orang yang nggak punya pengaman!" Wanita itu mendorong Jacob, berjalan melewatinya tanpa peduli nasib benda perkasa Jacob.


"Eh, nggak boleh gitu. Lo harus tanggung jawab! Ini punya gue udah berdiri, nih gara-gara elo. Enak aja Lo main tinggal gitu aja!" tahan Jacob menutup pintu kamar mandi yang sempat dibuka wanita itu dan berdiri menghalanginya.


"Lah, bukan salah gue, dong punya Lo di anggurin. Siapa suruh Lo nggak bawa pengaman. Gue nggak mau nyari penyakit sama orang yang biasa dipake tante-tante kayak Lo!" sahut wanita itu masih mencibir Jacob.


"Apa? Lo bilang apa tadi, tante-tante?"


"Iya, tante-tante. Kan, emang bener jasa Lo sering Lo kasih sama mereka. Udah minggir, ini duit buat ganti rugi udah pegang-pegang biji standar Lo tadi!" Wanita itu menempelkan uang ke tangan Jacob, yang membuat Jacob melongo.


Ini pertama kalinya ada wanita yang menganggapnya seorang gigoloo dan memberikan segepok uang ke tangannya tanpa embel-embel.


Wanita itu kembali melanjutkan langkah, keluar meninggalkan Jacob yang terdiam mematung di tempatnya. Harga dirinya sontak terinjak mendapatkan perlakuan tidak manusiawi wanita asing yang tiba-tiba datang dan pergi seperti jelangkung.


.


.


.


.


.


.


.


Nggak pa-pa lah, Cob.

__ADS_1


Yang penting, kan dapet duit ganti rugi pegang biji 🤭🤣


__ADS_2