Touch My Body

Touch My Body
Berita Bahagia


__ADS_3

"Hamil, Dok?"


"Iya, Bu Mulan. Sekarang kehamilan Ibu sudah jalan enam Minggu."


Wanita yang diberitahukan tentang kabar kehamilannya terdiam, terkejut dan tidak mampu berkata-kata.


Manik mata coklat mudanya sontak berkaca-kaca, dengan perasaan membuncah bahagia.


Jadi ini alasannya kenapa akhir-akhir ini dia jadi sangat sensitif? Akhirnya Mulan tahu jawabannya.


"Jadi untuk ibu yang sedang hamil muda harus banyak mengkonsumsi vitamin dan juga tidur yang cukup yah, Bu. Nanti saya akan resepkan vitamin untuk Ibu minum." Mulan mengangguk dan permisi keluar dari ruangan dokter OBYGN setelah menerima sebuah resep ditangan.


Wajahnya masih tampak syok dengan dada yang berdebar. Di depan sana Bora menyambut Mulan setelah hampir setengah jam menunggunya dengan sabar.


"Bu Mulan," panggil Bora membuyarkan pikiran wanita itu.


"Iya ... kenapa, Bor?" Mulan berhenti di depan asisten kepercayaan suaminya.


"Harusnya, kan aku yang nanya begitu sama Bu Mulan."


Mulan tersenyum, menganggukkan kepala. "Iya lupa," kekehnya.


Bora ikut tersenyum berjalan bersisian dengan Mulan yang kembali melangkah meninggalkan depan ruangan dokter OBGYN.


"Jadi gimana, Bu. Udah ada kabar bahagia buat Pak Rama?" tanya Bora penasaran.


"Ck, mau tahu aja kamu!"


"Yah, kan aku penasaran juga, Bu." Mulan diam, tidak ingin memberitahukan berita bahagia ini dulu pada orang lain.


Mulan berpikir mungkin dia harus memberikan kejutan pada semua keluarga besarnya mengenai ini. Mereka pasti akan sangat bahagia dan terkejut pikirnya.


"Mmm, Bor...," panggil Mulan begitu mereka masuk ke mobil.


"Iya, Bu?"


"Aku mau kamu booking satu villa di Bali pagi ini."


Bora mengernyit, "Buat apa, Bu?"


"Booking aja. Kamu undang semua keluarga kita juga ke sana nanti malem. Pastiin mereka semua harus dateng, yah?!" perintah Mulan lagi.


"Oh iya, tolong booking-in aku tiket ke Bali juga, dong sekarang. Aku bakal ke sana lebih dulu...," sambung Mulan dengan segudang rencana di kepala.


"Hah? Sekarang, Bu?" Mulan mengangguk. "Trus kalo Pak Rama tanya, aku mesti jawab apa, Bu?" khawatir Bora.

__ADS_1


Pria berkacamata itu sudah tahu bagaimana hebohnya Rama jika tahu istrinya tidak ada bersamanya lagi setelah diajak pergi oleh Mulan tadi pagi-pagi sekali.


Bahkan Rama diminta naik taksi saja ke kantor. Bora yakin dia bisa dikuliti hidup-hidup jika melihat dirinya kembali tidak bersama dengan Mulan lagi.


"Kamu tenang aja, aku bakal telpon Rama dan kasih tahu. Udah cepet pesenin aku tiket dulu. Abis itu kamu anterin aku ke Bandara." Pria yang hanyalah bawahan itu pun pasrah mengikuti perintah Mulan.


Bora langsung mengambil tab-nya di dashboard mobil, mencari aplikasi pemesanan tiket dan mengecek penerbangan secepatnya ke Bali di pagi menjelang siang ini.


Tidak butuh waktu lama bagi Bora memesan satu tiket kelas bisnis untuk Mulan dan ikut memesan satu buah villa yang entah diperlukan Mulan untuk apa.


Bora melajukan mobil begitu semua yang diperintahkan Mulan selesai dilakukan olehnya. Wanita itu dibawa ke Bandara dan masuk ke dalam dengan hati yang gembira dan tidak sabar menunggu nanti malam.


"Jadi cowok gila kemaren udah nggak bisa jalan lagi, Ra?" Gober bertanya duduk berhadapan dengan sahabatnya.


Tiga sahabat itu sedang berkumpul di ruang kerja Rama setelah Richard meminta anak laki-lakinya mengurus perusahaan di Indonesia sementara waktu sebelum dia kembali ke Itali lusa nanti.


"Iya. Bora bilang dia nggak bakal berani gangguin hidup Lo lagi, Cob." Rama menjawab, mengalihkan pandangannya pada Jacob.


"Tenang aja, dia nggak bisa berkutik kalo nggak mau masuk penjara sia-sia dan menderita di sana dalam keadaan cacat begitu. Bora udah nekan semua keluarga besarnya biar nggak macem-macem lagi."


Jacob yang duduk di samping Rama mengangguk. "Bagus, deh kalo gitu. Gue sama Anna bisa hidup tenang sekarang," ucapnya lega.


"Jadi Lo bakal pindah ke Jerman abis ini?" Gober menyela.


"Iya. Anna pengen kita di sana aja. Mertua gue juga bakalan ikut tinggal di sana bareng kita. Anna nggak mau mertua gue tinggal di sini sendirian."


Dua sahabatnya kompak menatap Gober yang tampak sedih tidak ingin ditinggal sendirian di negara kelahiran mereka.


"Sejak kapan Lo jadi lebay begitu, Ber? Dah kayak ibu-ibu hamil aja Lo nggak bisa ditinggal!" cibir Jacob lebih dulu.


"Iya bener. Nggak usah lebay kali jadi biji!" Rama ikut menimpali.


Gober yang dicibir, mendengus. Kesal sendiri dengan dua sahabatnya yang tampak santai mereka akan berpisah setelah pertemuan hari ini.


Tidak akan ada keramaian lagi jika sahabat-sahabatnya berada jauh darinya. Gober hanya merasa sedikit kesepian.


"Permisi, Pak." Bora masuk ke dalam ruang kerja atasannya dengan sedikit terburu-buru.


Ketiga pria seumuran yang sedang duduk santai di dalam sana mendongak, kompak melihat ke arah Bora.


"Kenapa Lo, Bor? Buru-buru amat...." Jacob menyapa.


"Maaf, Pak. Ini aku mau ngasih tahu ibu Mulan baru aja naik pesawat ke Bali."


"What?! Bali!?" Rama memekik terkejut.

__ADS_1


"I-iya, Pak. Tadi ibu minta dianterin ke Bandara. Katanya ibu udah telpon kasih tahu Pak Rama," sahut Bora takut-takut.


Wajah yang tadinya santai dan penuh senyum berubah kesal begitu mendengar alasan tidak masuk akal asistennya Bora.


"Jangan ngadi-ngadi Lo, Bor. Mulan nggak nelpon ngasih tahu gue daritadi! Lo bener-bener nyari perkara sama gue yah, Bor...!" Suara meninggi Rama menggelegar memenuhi ruangan tersebut, Bora refleks tertunduk merutuki istri atasannya yang ternyata tidak memberitahukan apa-apa tentang keberangkatannya ke Bali.


Sial! Kesal Bora dalam hati.


"Lagian Lo juga sih, Bor. Kenapa baru ngasih tahu sekarang, sih!? Bikin orang esmosi aja, nih bangkee!" Gober ikut bersuara, menyalahkan pria berkacamata itu.


Rama langsung bangkit dari kursi, mengambil jasnya yang tersampir di kursi sofa tempat dia duduk.


"Cepet pesinin gue tiket ke sana. Lo harus tanggung jawab kalo bini gue sampe kenapa-napa!" ancam Rama memakai jas hitamnya.


Bora mengangkat kepala, menatap pria yang seakan ingin melahapnya hidup-hidup. "Ta-tapi, Pak. Ibu Mulan minta semua keluarga juga ikut ke Bali malem ini," ucapnya memberanikan diri.


Rama terdiam, menatap bingung asistennya. "Semua keluarga?"


"Iya, Pak. Sebenernya tadi Bu Mulan sempet ke—"


"Yaudah ayok, gue juga mau jalan-jalan sebelum balik Jerman." Jacob memotong ucapan Bora, ikut beranjak dari sofa.


"Iya, gue juga mau. Gue bisa sekalian honeymoon part dua sama Cima di sana." Gober ikut menimpali, sama-sama beranjak dari sofa.


Bora yang kebingungan harus menjelaskan bagaimana akhirnya hanya bisa pasrah lagi begitu Rama memerintahkannya memesan beberapa tiket sekaligus untuk semua keluarga besar mereka ke Bali sebelum malam.


.


.


.


.


.


.


.


Udah Vote sama ngasih hadiah yang banyak belum pecinta biji?


Seminggu ini bakal ada penilaian buat Giveaway yah, guys


Author bakal nilai dari Ranking Mingguan.

__ADS_1


So, kalo mau dapet Giveaway menarik dari author, jangan lupa dukungan kalian untuk tiga biji kita 🥰


__ADS_2