Touch My Body

Touch My Body
Rencana Deno


__ADS_3

"Brengsek!" pekik Deno begitu masuk ke dalam mobil.


Pria itu baru saja mengadakan pertemuan darurat dengan petinggi partai yang menaunginya.


Berita skandal pencucian uang dan korupsinya terlanjur membuat publik kecewa yang berimbas pada penurunan elektabilitas Deno sebagai Wakil Presiden yang dicintai masyarakat.


Deno harus menerima peringatan keras dari para petinggi partai, sampai pada ancaman dirinya akan dipecat dari partai jika sampai masalah ini tidak kunjung selesai sampai batas waktu pemilihan berlangsung.


Deno harus memutar otak demi memastikan posisinya sebagai Calon Wakil Presiden tidak akan terancam.


"Sial! Brengsek!" maki Deno lagi dari kursi belakang mobil.


Aman duduk di kursi kemudi, diam mendengarkan atasannya sejak tadi terus memaki dan menggerutu di belakangnya.


Sepertinya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu akan ikut menjadi gila seperti ibunya sebentar lagi, pikir Aman.


"Man, gimana sama laporan yang kemaren. Kamu udah dapet uang ganti ruginya belum?" tanya Deno setelah puas mengeluarkan kekesalannya dalam hati.


"Belum, Pak. Bu Mulan tetap bersikeras tidak akan memberikan uang sepeser pun untuk proyek itu. Pak Deno sepertinya harus mencari jalan lain, kita tidak akan berhasil membujuk Bu Mulan yang keras kepala."


Deno berdecak, semakin benci pada wanita sok berkuasa itu. Baru menjadi pemimpin di perusahaan miliknya, Mulan sudah sok mengatur dia dan seisi dalam perusahaan.


Sepertinya dia harus sedikit memberi pelajaran pada Mulan, pikirnya. Mungkin ini waktu yang tepat bagi Deno menjalankan rencana yang selama beberapa hari ini dia atur.


"Kamu tahu setiap jam berapa suami adik tiriku datang menjemputnya di perusahaan, Man?" tanya Deno tiba-tiba.


"Mmm ... kalau tidak salah sekitar jam lima tepat, Pak. Ada apa memangnya?"


Deno menggeleng. "Nggak ada, aku cuman pengen tahu aja...," sahutnya menyeringai penuh arti.


Segala macam rencana sudah ada dalam pikirannya. Hari ini akan menjadi waktu yang paling pas untuknya melakukan sesuatu.


Aman tampak memperhatikan wajah tidak biasa atasannya dari kaca spion samping kemudi. Dari tatapan matanya Aman tahu ada yang sedang direncakan pria itu saat ini.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, Pak. Besok ibu Wati sampai di bandara, Bapak mau menjemput ibu atau bagaimana?" Aman mengalihkan pembicaraan.


"Ck, aku nggak ada waktu, Man. Kamu aja yang ngurus itu. Usahakan nggak ada wartawan satupun yang tahu keadaan mami, aku capek kalo harus ngurus orang-orang nggak ada kerjaan itu lagi."


Aman mengangguk, tancap gas menuju kantor polisi untuk memenuhi panggilan atas laporan salah satu rekan bisnisnya kemarin. Deno semakin stress saat dilempari hampir dua puluh pertanyaan mengenai laporan rekannya.


Pria itu masih bisa berhasil lolos dan diizinkan pulang saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Man, kamu emang nggak bisa bikin mereka diem dulu?!"


"Maksud Bapak siapa, rekan bisnis kita?"


"Iya lah, siapa lagi emangnya! Aku males kalo harus bolak balik kantor polisi lagi, Man. Mereka kayaknya sengaja bikin masalah begini biar reputasi aku jadi rusak di mata publik. Pokoknya aku mau kamu bikin mereka diem, masalah ini udah harus selesai dalam Minggu ini!" perintah Deno memijit pelipisnya yang terasa tegang karena pemeriksaan tadi.


Pria itu butuh waktu beristirahat sedikit sebelum menjalankan rencananya sore ini. Setidaknya untuk membasmi musuh, dia harus punya kekuatan yang lebih sebelum bertarung.


"Baik, Pak. Aku akan meminta orang-orang kita bertindak secepatnya. Bapak mau langsung pulang?" tanya Aman lagi mulai melajukan mobil kembali.


"Nggak, aku mau ke perusahaan dulu sebentar."


"Ada yang harus aku urus. Lagian sejak kapan kamu jadi pengen tahu urusan pribadi aku?!" sentak Deno tidak suka.


"Abis nganterin aku ke sana, kamu boleh pulang dan tinggalin mobil ini di parkiran basment!" Aman seketika bungkam tidak berani bersuara lagi.


Sepertinya kecurigaannya tadi memang benar, Deno pasti punya rencana yang tidak baik. Apalagi melihat Deno yang tiba-tiba meminta berhenti di sebuah minimarket dan keluar membeli sesuatu, Aman semakin curiga. Dia mungkin harus memberi peringatan pada seseorang, pikirnya.


"Udah turunin aku di sini aja. Parkirin mobilnya dan kasih kuncinya ke satpam depan!"


"Baik, Pak." Deno keluar dari mobil dan masuk ke perusahaan dengan cepat.


Waktu sudah menunjukkan hampir setengah lima sore. Dia tidak boleh terlambat, rencananya harus berhasil sebelum suami wanita tidak tahu malu itu tiba di perusahaan.


Deno menekan tombol lift dan keluar satu lantai di bawah lantai ruangan Mulan berada. Dia membuka pintu darurat dan masuk ke sana sambil memakai sesuatu yang dia beli tadi di minimarket.

__ADS_1


Deno sudah memastikan tidak ada yang melihatnya masuk ke sana. CCTV yang ada di lantai itu pun sedang diperbaiki, rencananya pasti akan berjalan dengan sangat lancar hari ini. Tinggal memanggil mangsa dan dia bisa menjalankan semua rencana yang ada di kepalanya dengan baik.


Sambil bersiul rendah, Deno menghubungi nomor ruangan sekretaris Mulan dan mengaku sebagai suami wanita berambut panjang itu.


"Halo, selamat siang...," ucapnya dengan suara yang dibuat-buat.


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita dari ujung sana. Deno yakin ini pasti sekretaris adik tirinya.


"Bisa tolong kamu panggilkan ibu Mulan? Saya suaminya. Tolong katakan padanya aku menunggu dia di lantai sebelas tepatnya di pintu darurat."


"Maaf sebelumnya, Pak. Apa terjadi sesuatu pada Bapak? Mau saya panggilkan seseorang ke sana?" tanya wanita sekretaris itu terdengar khawatir.


"Tidak, tidak perlu. Aku hanya ingin bertemu dengan istri saya saja sebentar. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku tunjukkan padanya."


Wanita di ujung sana mengangguk, sedikit tersenyum begitu mendengar jawaban pria yang dia pikir sebagai suami atasannya. Mungkin pria tampan yang dia tahu bernama Rama itu hanya ingin memberikan surprise pada Mulan, pikirnya.


"Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada, Bu Mulan kalau Bapak sedang menunggu beliau di sana."


"Ok, terima kasih." Deno menutup pembicaraan mereka dengan senyum tersungging di bibirnya.


Rencana pertamanya memanggil Mulan kesini, berhasil. Dia semakin tidak sabar menunggu pertunjukan yang sudah dia siapkan untuk wanita yang dia benci, diseumur hidupnya.


Sambil memperhatikan jam tangan, Deno mengambil tempat berdiri di belakang pintu darurat lantai itu.


Samar-samar dia mendengar suara langkah kaki dengan heels tinggi yang biasa dipakai Mulan setiap kali datang ke perusahaan.


Deno bersiap, menunggu Mulan membuka pintu dan dengan sabar memastikan wanita itu masuk ke dalam bersamanya.


Tidak tahu adanya seseorang yang sedang menunggunya dibelakang pintu darurat, Mulan tidak sadar saat Deno maju dengan cepat mendorong tubuhnya hingga jatuh terguling di tangga darurat.


"Aaa...." Mulan memekik merasakan tubuhnya membentur kerasnya lantai tangga dengan kepala yang ikut membentur sudut-sudut tangga.


Tidak sampai dua menit Mulan pingsan begitu tubuhnya berhenti di lantai sepuluh tangga darurat.

__ADS_1


Deno tersenyum puas dan berlalu dari sana meninggalkan Mulan yang tidak sadarkan diri dengan darah terlihat keluar dari kepalanya.


To be continued


__ADS_2