
"Hati-hati, Yang." Rama memapah tubuh Mulan masuk ke rumah orang tuanya.
Setelah diizinkan pulang oleh dokter Abian, Mulan dijemput keluarga suaminya dan kembali ke sana bersama-sama.
"Mau langsung istirahat aja apa mau duduk dulu, Yang?" tanya Rama begitu tiba di ruang tamu.
"Istirahat aja, Ra. Aku capek," jawab Mulan masih lemah.
"Iya istirahat aja dulu. Nanti Mommy panggil kalo udah mau makan malam," sela Amanda ikut berdiri di samping kiri menantunya membantu Rama memapah Mulan.
"Iya, Mom. Makasih," sahut Mulan tersenyum hangat.
Rama membawa Mulan naik ke lantai dua setelah berpamitan pada ibu dan juga ayahnya. Sambil menggendong tubuh Mulan, Rama melangkah menuju kamarnya dengan langkah panjang.
"Suasana kayak gini berasa lagi bulan madu yah, Yang?" ucap Rama disela-sela langkah kakinya menuju kamar.
Mulan mengernyit dengan tangan melingkar di leher Rama. "Maksud kamu?"
"Gendong kamu, Yang. Aku berasa kayak pengantin baru mau main pertama kali di kamar," kekeh Rama mengerling nakal.
"Emang kamu pernah gendong aku sebelumnya?"
Rama menggeleng. "Belum pernah, sih. Tapi mulai sekarang, aku bakal gendong kamu terus setiap kita ke kamar. Sensasinya berasa beda kalo kayak gini...," sahutnya masih tertawa.
Mulan tersenyum dengan hati membuncah. Hanya ucapan sederhana seperti ini saja bisa membuat perasaan Mulan melayang berbunga-bunga indah.
"Emang kamu nggak malu sama mommy dan daddy?" tanya Mulan dengan pipi yang merona.
"Nggaklah, ngapain malu. Lagian kita juga nggak bakal terus-terusan tinggal di sini, kan? Kita bakal menetap di Itali abis ini."
"Eh, jadi kita bakal tinggal di sana?" kaget Mulan.
"Iya, Yang. Perusahaan di sana, kan udah jadi milik aku. Nggak mungkin, kan aku tinggalin begitu aja." Rama membuka pintu kamar dengan susah payah, dan mendorongnya dengan kaki begitu terbuka.
__ADS_1
"Tapi aku sebenernya mau kita tinggal di sini aja, Ra...." Rama menundukkan Mulan ke tepi ranjang sebelum dia ikut duduk di samping wanitanya.
"Kenapa, kamu nggak mau temenin aku di sana, yah?" tanya Rama dengan raut wajah sedih.
"Bukan, bukan gitu. Aku cuman ngerasa jauh aja dari makamnya mama, Ra...," jujur Mulan.
Sudah cukup lama wanita dengan hidung mancung itu tidak pernah lagi mengunjungi makam ibunya. Mulan tiba-tiba sangat merindukan ibunya saat ini.
Rama membuang nafas panjang, mengambil tangan Mulan sebelum berucap. "Sebenernya, makam mama itu bukan makamnya mama, Yang. Itu cuman makam nggak bernama yang dikasih nisan sama ibu tiri kamu."
Mulan tersentak. "A-apa, apa maksud kamu, Ra?" ucapnya terbata.
Rama menatap manik mata coklat muda Mulan dalam. "Aku baru tahu kalo makam itu bukan milik mama, Yang. Bora baru aja temuin fakta baru tentangnya. Jasad mama sebenernya nggak pernah ditemuin sampe sekarang."
"Apa?" kaget Mulan tidak percaya. "Nggak ditemuin gimana maksudnya, Ra?"
Rama pun menceritakan kejahatan ibu dan kakak tiri Mulan terhadap ibu kandung istrinya beberapa tahun yang lalu.
Keadaan Wati lah yang tidak waras malah membuka kejahatan dan kebohongan keduanya selama ini. Wanita itu dengan nyaringnya bersuara tentang dia yang telah mendorong simpanan suaminya ke tengah laut hingga mati tenggelam di sana.
Apa benar keluarga yang sudah dianggapnya sebagai keluarga itu tega menghabisi nyawa ibunya dengan keji? Rama pasti salah mencari informasi, pikirnya.
"Aku nggak boong, Yang. Aku sebenernya belum mau ngebahas ini sama kamu, tapi aku rasa cepat atau lambat kamu berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nyonya Wati yang mengakuinya sendiri. Rekaman pengakuannya pun ada kalo kamu mau liat." Rama mengambil ponselnya dari saku celana, mulai memutar sebuah video di mana Wati yang saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit jiwa, duduk sambil beberapa kali berteriak 'aku membunuhnya'.
Saat ditanya oleh perawat maupun dokter yang menanganinya, Wati pun mengakui perbuatannya tentang dia yang telah membunuh ibu tiri Mulan bersama anaknya Deno.
Mulan sontak menutup mulut tidak percaya, merasa dadanya sesak dengan jantung yang terasa diremass kuat di dalam sana. Wanita yang selalu saja kejam dan semena-mena memperlakukannya, ternyata adalah seorang pembunuh keji dan tidak punya hati. Mulan merasa dunianya semakin runtuh dan tidak bercahaya.
"Mama...," lirih Mulan dalam tangisan kesedihannya.
Rama membawa Mulan ke dalam pelukannya, mencoba memberi ketenangan dan rasa aman bagi Mulan. Tidak tahu apa dia sudah benar melakukan ini, namun Rama merasa Mulan berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya.
Tidak ada satu pun yang mengetahui perbuatan keji mereka selain orang-orang yang ikut bersama mereka waktu itu. Bahkan, Cokro saja tidak tahu menahu tentang kematian simpanannya. Mereka hanya berkata ibu Mulan meninggal karena terjatuh dari tangga.
__ADS_1
"Maafin aku, Yang. Maaf kalo aku udah bikin kamu sedih." Rama mencium kepala Mulan, mengusap punggungnya yang bergoyang.
Air mata tidak henti-hentinya mengalir membasahi kemeja biru muda Rama. Pria itu ikut menitikkan air mata mendengar lirihan kecil lolos dari bibir Mulan, diikuti isakan yang terdengar menyayat hati.
Mulan menangis hingga jatuh tertidur di pundak Rama. Dengan sisa air mata yang masih ada, Rama mencium dahi istrinya sebelum keluar mencari Bora.
"Jadi gimana, Bor ... kita emang nggak bisa temuin jasadnya beliau lagi?"
"Nggak bisa, Pak. Kejadian itu udah lama banget. Jasad mertua, Pak Rama pasti sudah lama hilang atau di makan ikan di laut. Kita nggak bakal mungkin bisa menemukan jasad beliau saat ini."
Rama menjatuhkan dirinya ke kursi sofa dengan pikiran berkecamuk. Sepertinya Mulan akan makin sedih mendengar berita ini, gumamnya.
"Ya udah, aku juga yakin kita nggak bakal bisa temuin jasad beliau di sana. Mungkin kalo kita pergi ke tempat di mana beliau meninggal, Mulan bisa jauh lebih tenang."
"Bener, Ra. Kamu emang harus ke sana sama Mulan." Richard datang menyela pembicaraan anak dan orang kepercayaannya, Bora.
"Daddy setuju banget kalo kamu bawa Mulan ke sana. Karena selain dia butuh tahu yang sebenarnya, dia juga butuh melihat bagaimana tempat terakhir ibunya berada. Setidaknya hati Mulan bakal lebih tenang setelah kalian pulang dari sana," sambung pria paruh baya itu ikut duduk di dekat Rama dan Bora.
"Aku akan atur semuanya kalo Pak Rama mau ke sana, Pak," tawar Bora ikut bersuara.
Rama mengangguk setuju. "Boleh, kalo gitu aku mau secepatnya ke sana. Mulan juga pasti seneng kalo tahu kita bakal ke tempat itu."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Karena cinta bisa membunuh sebenarnya 😣