Touch My Body

Touch My Body
Perasaan Rama


__ADS_3

"Gue minta maaf, yah, Lan...."


"Maaf buat?"


"Udah ngehina Lo kemaren," sahut Rama tidak enak.


Mulan tersenyum memeluk suaminya erat. "Nggak pa-pa, Ra. Gue udah biasa dari dulu dihina begitu. Lo bukan orang pertama yang ngatain gue. Buat gue hinaan orang justru bikin gue makin kuat jalanin hidup, dan karena mereka juga gue masih ada, bernafas sampe sekarang," jujur Mulan dengan hati yang lapang.


Dada Rama seketika berdenyut mendengarkan ucapan istrinya. Setelah berbicara panjang lebar tentang latar belakang Mulan, satu hal yang diketahui Rama darinya adalah ... Mulan hidup sebatang kara diantara keluarga yang tidak menganggap dia ada.


Masa lalu Mulan yang penuh penderitaan dan sakit membuat hatinya tidak tega. Perasaan ingin melindungi wanita itu semakin kuat merasuki hatinya. Rama ingin bisa menjadi obat untuk semua rasa sakit dihati Mulan, dan juga terang untuk menyinari kehidupan Mulan selanjutnya.


"Tetep aja gue harus minta maaf sama Lo, Lan. Maafin gue udah kasar selama ini juga sama Lo. Kita mulai semuanya dari awal, yah?" ucap Rama lembut.


Dari balik dekapan hangatnya Mulan mengangguk. Pembicaraan antara hati ke hati itu berlangsung dengan sangat baik. Keduanya sudah sama-sama terbuka tentang masa lalu dan juga latar belakang mereka masing-masing.


"Oh yah, Ra. Pacar Lo gimana keadaannya?" tanya Mulan tiba-tiba.


"Pacar?"


"Iya, si siapa itu ... A, au—"


"Aurel?"


"Iya, itu." sahut Mulan teringat nama wanita yang sempat dia lemparkan dari atas pesawat.


"Oh, dia bukan pacar gue...," ucap Rama santai.


"Hah? Bukan pacar elo?" Rama mengangguk. "Tapi kemaren bukannya Lo sama dia ngaku—"


"Yang kemaren yah, kemaren, Lan...," potong Rama cepat. "Sebenernya kita belum ada kata jadian, sih. Cuman emang kita udah deket banget kayak orang pacaran," sambung Rama apa adanya.

__ADS_1


"Jadi kalian deket tapi nggak pacaran, gitu?" tanya Mulan penasaran.


"Iya, selama ini gue emang belum pernah nembak dia secara resmi." Mulan manggut-manggut mengerti.


Ternyata status diantara mereka belum sejauh itu, pikir Mulan.


"Kenapa emang Lo nanyain dia?" Kali ini berganti Rama yang penasaran, wanita yang tengah dia dekap menggeleng cepat di atas dadanya.


"Nggak pa-pa, gue cuman kepikiran aja gimana keadaan Aurel abis gue buang ke laut waktu itu...," sahut Mulan tidak enak.


"Udah selama ini kita tinggal disini, Lo baru nanyain soal dia sekarang, Lan? Astaga ... gue pikir Lo bener-bener kesel sama Aurel sampe nggak mau peduliin nasibnya dia abis Lo lempar dari pesawat."


Mulan berdecak, meregangkan pelukannya ditubuh Rama. "Gue emang kesel sama dia, tapi gue juga masih punya hatilah, Rama. Gue sempet bayangin parasut yang dia pake nggak bisa kebuka ato rusak pas itu. Tapi denger Lo kayaknya santai banget pas ngebahas Aurel, ya udah. Berarti dia emang baik-baik aja sekarang."


Rama sontak tertawa dan menarik pinggang Mulan kembali mendekatinya. "Sekarang gue santai, Lan tapi kemaren enggak. Kalo Aurel kenapa-napa gue juga yang repot. Daddy pasti bakal tahu dan gue pasti disuruh tanggung jawab sama dia. Emang Lo mau suami Lo nikah lagi sama cewek lain?" tanya Rama setengah menggoda istrinya.


"Gue, sih nggak masalah, yah ... toh, emang Lo suka, kan sama Aurel. Kalian nikah pun nggak apa-apa. Kalian pasti bahagia karena saling suka, beda sama kita yang--" Mulan menggantung ucapannya, bingung harus berkata apa.


"Kita emang nikah karena dipaksa, Lan. Tapi ... kalo gue bilang semenjak gue nikah sama Lo gue bahagia, gimana?" Mulan terdiam dengan dada yang sontak berdebar.


Bahagia? Apa maksud Rama berkata bahagia? Apa dia adalah orang yang bisa membawa kebahagiaan untuk orang lain? Gumam Mulan tidak percaya.


"Kita nikah emang nggak pernah rukun sampe sekarang, Lan. Tapi gue nggak bisa mungkiri, kehadiran Lo dihidup gue selama disini udah banyak memberi perubahan yang baik buat gue. Dari awal kenal dan kita lebih banyak berantem, gue sadar gue jadi kangen sama Lo karena hal itu." Mulan masih diam, mendengarkan dengan seksama perkataan Rama.


"Lo tahu, hari itu gue sampe yakinin diri gue sendiri gimana berartinya Lo di hidup gue, Lan. Gue hubungin Lo sesaat sebelum gue ketemu Deno pertama kali. Waktu itu gue lagi gugup luar biasa dan nggak percaya diri. Tapi begitu gue denger suara Lo, nggak tahu dapet kekuatan dari mana gue ngerasa gue akhirnya mampu. Dari situ gue akhirnya sadar kalo gue emang butuh elo. Gue butuh Lo dihidup gue yang sepi. Tanpa Lo hidup gue pasti nggak bakal seindah dan seberwarna sekarang. Gue seneng karena akhirnya gue ngerti sama perasaan gue sendiri sama Lo...." Mulan merasa jantungnya semakin menggila di dalam sana.


Rama sedang mengungkapkan perasaannya untuk dia. Tidak tahu apa pria ini benar-benar serius atau tidak, tapi mendengar hal semanis itu keluar dari mulut Rama rasanya sangat sulit dipercaya oleh Mulan.


Terbiasa mendengar kata-kata hinaan ataupun candaan dari bibir Rama, Mulan merasa dia harus waspada, takut pria bertubuh atletis ini hanya sedang mengerjainya saja.


"Lan...."

__ADS_1


"Apa?"


"Kok diem?"


"Nggak pa-pa," sahut Mulan singkat.


"Lo nggak ada tanggepan apa-apa gitu sama ucapan gue tadi?" tanya Rama ingin tahu.


"Nggak tahu, gue juga nggak tahu mau nanggepin apa," jawab Mulan polos.


Rama mendengus dengan hati sedikit dongkol. Sudah panjang lebar berucap, namun perasaannya seakan tidak dihargai oleh wanita ini gumamnya.


"Liat gue!" Rama menarik dagu Mulan, menatap manik mata coklat muda istrinya dalam.


"Perasaan Lo gimana, Lan? Lo ngerasa nggak kayak apa yang gue rasa?" tanya Rama tidak sabar.


"Gue ... gue juga nggak tahu, Ra," sahut Mulan ragu-ragu.


Rama mendengus lagi, tidak puas mendengar jawaban Mulan. "Kok nggak tahu, sih? Gini, deh. Pas gue ngomong kayak tadi, jantung Lo gimana? Berdebar nggak?" Mulan mengangguk.


"Kalo gue tatap Lo kayak gini, masih berdebar nggak?" Mulan mengangguk lagi.


"Nah, kalo gini masih berdebar juga nggak?" Rama maju mengecup bibir tipis merah muda Mulan, memberikan sensasi aneh ke sekujur tubuhnya.


Tautan yang terbilang sangat singkat itu hampir saja membuat jantung Mulan lepas dari tempatnya. Wajahnya sontak memerah dengan rasa yang tidak biasa di dalam sana.


"Pasti berdebar, kan?" Rama tersenyum melihat Mulan mengalihkan pandangannya karena salah tingkah.


"Kalo gitu kita nggak usah jadi temen deket aja, Lan. Kita bener-bener jadi pasangan suami istri yang saling jatuh cinta aja kalo gitu. Gue seneng bakal sering-sering liat Lo nutup mata dibawah gue abis ini...," kekeh Rama yang langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya.


"Dasar mesumm!" kesal Mulan ikut tertawa bersama Rama.

__ADS_1


__ADS_2