Touch My Body

Touch My Body
Modal Biji


__ADS_3

"Pi!"


"Hmm?"


"Bantuin aku, dong?"


"Bantuin apa?"


"Besok aku mau ngelamar cewek."


Donal seketika terbatuk, menyemburkan air minum yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


Celin dengan cepat mengambil serbet, mengusap mulut suaminya yang basah dengan air.


"Pelan-pelan dong, Nal...," ucap wanita paruh baya itu ikut kaget dengan ucapan anak mereka.


"Astaga Cel ... Kamu denger, kan apa kata anak kamu ini?"


"Iya, aku denger. Aku nggak budek kali!"


"Trus ini gimana, Cel? Ini anak kamu tiba-tiba minta kita ngelamar anak orang, Cel...."


"Ish, Papi...!" sela Gober masih duduk bersama orang tuanya di meja makan.


"Diem dulu, kamu diem dulu, Ber! Jangan nyela dulu omongan Papi sama Mami!" sahut Donal kembali menatap istrinya yang tampak santai duduk di dekatnya.


"Ish, yang mau ngelamar, kan aku, Pi. Kenapa jadi aku yang harus diem, sih!" kesal Gober bersedekap dada.


"Ceritanya Papi kamu itu nggak pernah ngelamar cewek, Ber. Makanya Papi kamu takut pas kamu ngomong bilang mau ngelamar cewek," timpal Celin terkekeh geli menatap Donal yang mencebik.


"Hah? Emang waktu Mami sama Papi nikah, Papi nggak ngelamar Mami, gitu?" tanya Gober penasaran.


"Enggak."


"Ada!" jawab pasangan suami istri itu hampir bersamaan.


Gober yang bingung menatap penuh tanya ayah dan juga ibunya yang saling melirik dengan pandangan berbeda.


"Nggak usah boong sama anak sendiri, Nal. Nggak baik...!" ujar Celin lebih dulu.


"Ck, siapa yang boong sih, Cel? Kan, emang aku pernah ngelamar kamu," sahut Donal membela diri.


"Masa?"


"Iyalah."


"Yakin?"

__ADS_1


"Iya!"


"Bener?"


"Iya...!"


"Boong banget, sih kamu sama anak!" Celin mulai terdengar kesal, tahu suaminya sengaja berbohong di depan Gober yang diam bingung di tempatnya.


"Ish, gimana mau ngelamar kamu kalo kita aja nikah karena dijodohin!" jujur Donal pada akhirnya.


"Tuh, kan ngaku juga, kan kamu. Dasar biji!"


Donal berdecak, mengingat bagaimana dulu mereka bersama dengan drama-drama panjang yang harus dia lewati demi bisa terus bersama Celin yang dia cinta.


"Jadi bener Mami sama Papi dijodohin dulunya?" tanya Gober tidak percaya.


"Iya, Ber. Kita nggak tahu aja kalo ternyata kita yang dijodohin sama oma dan opa kamu dulu. Mami sama Papi udah pacaran padahal," jawab Celin tersenyum geli.


Membayangkan kejadian dulu memang menyimpan banyak kenangan manis dan pahit untuknya. Celin kadang masih tidak percaya jika Donal lah pria yang sempat dia tolak karena tidak menginginkan adanya perjodohan dari kedua orang tuanya.


"Iya, dan kita kompak nolak waktu itu, Ber," sambung Donal ikut menimpali ucapan istrinya.


"Ih, beruntung banget, yah Mami sama Papi. Pacaran tahu-tahunya udah dijodohin sama opa dan oma. Kalo aja aku begitu, pasti aku bakal seneng banget sekarang."


Donal dan Celin mengernyit, merasa ada yang tidak beres dengan ucapan anak tunggal mereka.


"Adalah pokoknya, Pi. Yang pasti besok temenin aku ngelamar pacar aku yah, Pi, Mi." sahut Gober menatap bergantian Donal dan Celin.


"Tunggu, tunggu. Kamu udah punya pacar emang?" Gober mengangguk. "Siapa?"


"Nanti aja aku kasih tahu sekalian besok, Mi. Yang pasti ceweknya kalian kenal, aku udah bilang sama dia besok kita bakal ke rumahnya ngelamar dia," ucap Gober bahagia.


"Eh, kamu udah kasih tahu dia?"


"Iya, Pi."


"Dasar anak biji! Udah kasih tahu dia kenapa baru ngasih tahu Papi sama Mami sekarang, hah?!" Donal memukul tengkuk Gober, gemas dengan kelakuan anaknya.


"Kamu pikir mau ngelamar anak orang tinggal bawa biji kamu, doang?! Emang ngadi-ngadi, nih anak!" sambung Donal menunjuk-nunjuk wajah Gober yang tertunduk mengusap tengkuknya yang berdenyut.


Celin seketika ikut memukul tengkuk Donal, tidak terima anak kesayangannya dipukul seperti itu oleh Donal.


Plakkk...


"Aduh...," ringis Donal memegang tengkuknya.


"Marah tapi tangannya jangan seenaknya gitu juga, dong! Kamu nggak tahu, kan gimana susahnya keluarin anak biji kamu ini. Enak aja main pukul-pukul begitu!" kesal Celin sekali lagi memukul tengkuk Donal yang kembali meringis di tempatnya.

__ADS_1


"Iya, iya, sorry ... aku refleks tadi, Cel."


Gober tertawa tertahan, mengulumm bibirnya ke dalam agar tidak ada suara tawa yang keluar. Ayahnya memang tidak pernah bisa berkutik jika ibunya sudah bertindak seperti ini.


"Lagian anak kamu juga, sih. Masa mau ngelamar anak orang ngomongnya baru sekarang? Emang dia pikir ngelamar itu cuman bawa bijinya, doang?! Mana dia janjiinya besok lagi. Kita harus bawa apa coba?" sambung Donal masih tidak terima dengan kelakuan penerusnya.


Celin meletakkan sendok dan garpu setelah menghabiskan sepiring seblak disiang hari yang panas.


"Sekarang aku tanya. Dulu waktu kamu mau nikahin aku, kamu bawa apaan coba? Cuman bawa modal biji doang, kan?! Ngomong jangan asal nyeletuk aja, nggak sadar apa gimana kamu juga dulu begitu!" sinis Celin telak berbicara.


Donal langsung bungkam seribu bahasa diikuti tawa terbahak dari mulut Gober. Sejak tadi dia terus menahan tawanya karena melihat ayahnya terus saja disudutkan oleh Celin.


Pria berhidung mancung itu hanya bisa mendengus, kesal karena ucapannya selalu saja dibantah dengan benar oleh Celin.


"Jangan ketawa kamu, Ber. Omongan Papi kamu juga tadi bener!" sambung Celin pada anaknya.


Gober ikut diam, menutup mulutnya rapat sebelum puas menertawakan ayahnya. Donal membalasnya dengan tatapan mata mengejek. Setidaknya bukan hanya dia saja yang mendapat amukan wanita yang kalau sudah marah, akan sangat menakutkan itu.


"Iya maaf, Mi. Aku sebenernya lupa ngomong soal ini sama Mami dan Papi. Kemaren aku bilang sama pacar aku, kalo aku bakal langsung ngelamar dia setelah masa training di perusahaan selesai. Aku—"


"Oh, jadi karena kamu udah punya rencana mau nikah sampe kamu tiba-tiba ngomong mau gantiin Papi di perusahaan, Ber?" potong Donal sebelum Gober sempat menyelesaikan ucapannya.


"Eh ... iya, sih sebenernya, Pi." sahut Gober malu-malu.


"Bagus, dong kalo gitu. Mami seneng kalo kamu udah berpikir dewasa kayak gini. Berarti udah waktunya biji kamu pensiun dari angsa-angsa diluar sana, Ber...," kekeh Celin sengaja menggoda anaknya.


"Papi kamu juga begitu dulu, pensiun setelah ketemu pawang bijinya!" sambung wanita itu tertawa terbahak di depan dua pria yang berdecak memutar mata malas.


Hal yang sudah dianggap biasa dan sering Gober dengar dari mulut ibunya sejak dulu, membuatnya tidak lagi kaget. Celin terus tertawa hingga Donal akhirnya berucap, mengakhiri pembicaraan yang entah sudah berlarian kemana.


"Yaudah, Ber. Besok kita kerumah pacar kamu. Bilang sama dia kita kesana jam tujuh malem!"


.


.


.


.


.


.


.


Part ini dikhususkan untuk author yang sedang rindu dengan pasangan biji Donal dan Celin 🤭

__ADS_1


__ADS_2