Touch My Body

Touch My Body
Lega


__ADS_3

"Kamu yakin mau masuk sendiri, Yang?"


"Iya, nanti aku panggil kamu kalo aku butuh." Rama mengangguk, melepaskan pegangan tangannya dari Mulan mengizinkan wanitanya masuk ke kamar jenazah sendirian.


Wanita dengan mata sembab itu tidak mau ditemani oleh siapapun selain petugas ruangan yang menunjukkan di mana jenazah ayahnya berada.


Di depan tubuh kaku yang pucat dengan wajah menahan sakit, Mulan diam memandangi pria yang sama sekali tidak pernah memiliki kenangan indah dengannya.


Melihat keadaan Cokro yang tidak bernyawa, hati Mulan teriris. Wanita itu kembali menitikkan airmata kesedihan dan sakit hati dalam satu paket.


Mulan akhirnya bisa memandangi wajah ayahnya dari jarak yang sangat dekat. Tangannya yang gemetaran untuk pertama kalinya bisa menyentuh pipi Cokro yang dingin.


"Aku sayang Papi," ucapnya setengah terisak.


"Aku udah maafin semua perbuatan Papi sama aku dan mama. Papi bisa pergi dengan tenang sekarang...," sambung Mulan terus terisak di samping jenazah ayahnya.


Tangisan kesedihan memenuhi ruang jenazah di mana hanya dia dan seorang penjaga yang berdiri tidak jauh dari Mulan.


Sekarang Mulan benar-benar tidak memiliki orang tua lagi, ini kedua kalinya Mulan menangisi keluarganya yang telah pergi jauh meninggalkan dia sendiri.


Rasanya sakit sekali saat ditinggal seseorang yang kita sayangi meski tidak pernah menerima kehadiran kita dihidupnya.


"Ngomong-ngomong, Pi. Aku udah nikah sekarang." Mulan mengusap airmatanya berusaha menguatkan hatinya.


"Papi pasti kaget, kan? Aku nikah sama pria yang nolongin aku waktu Deno mau ngejual aku malem itu. Aku nggak nyangka Papi nyuruh aku ikut dia ternyata cuman untuk dijual sama Deno. Tapi ... udahlah, aku udah lupain semua yang udah lewat. Aku cuma mau bilang kalo suami aku ini sangat luar biasa baik sama aku. Dia dan keluarganya nerima aku tanpa memandang latar belakang aku dari mana. Aku bersyukur, Pi. Disaat aku nggak pernah ngerasain manisnya kasih sayang keluarga dan orang lain, aku malah bertemu dengan mereka." Wajah Mulan kembali menyendu dengan pandangan mata menerawang.


"Makasih, Pi ... berkat bantuan Papi juga aku bisa ketemu mereka. Aku minta maaf kalo selama ini aku cuman bisa nyusahin dan bikin malu Papi sama keluarga Papi. Setelah ini, aku janji bakal hidup bahagia bersama keluarga kecil aku. Tolong Papi doain aku selalu dari atas sana, yah...." Mulan tersenyum tulus berharap ayahnya bisa tenang di alam sana.


Mulan menghabiskan waktu selama lima belas menit sebelum akhirnya berpamitan pada pria yang tidak lagi bisa membalas ucapannya dengan kasar.


Mulan disambut Rama di depan pintu dengan wajah khawatir. "Kamu nggak pa-pa, Yang?" tanyanya merangkul wajah Mulan.


"Iya, nggak pa-pa. Makasih udah anterin aku sampe kesini, Ra...," jawab Mulan tersenyum lega.


"Kamu nangis lagi pasti di dalem, yah?"


"Yah, namanya juga lagi berduka, Ra. Wajar kalo aku nangis-nangis terus daritadi, kan?"

__ADS_1


Rama membuang nafas panjang, berganti mengusap kepala Mulan penuh cinta. "Iya, aku tahu. Tapi kalo kamu nangis terus trus kecapean gimana? Aku nggak mau kamu sakit, Yang...."


Mulan tersenyum, mengambil tangan Rama sembari mengecup punggung tangannya lembut.


"Iya, abis ini aku janji nggak bakal nangis lagi, deh. Kecuali kalo kamu nyakitin aku, airmata aku pasti bakalan keluar lagi."


"Nggak, aku nggak mungkin nyakitin istri aku sendiri. Pokoknya selama ada aku disisi kamu, airmata itu nggak akan pernah ada! Kalo pun ada, pasti karena kamu nyerah dan minta berhenti aku main di atas kamu kayak kemaren," sahut Rama tertawa geli.


"Ish, aku lagi serius, Ra!" kesal Mulan mencubit pinggang suaminya.


Rama sontak berjengkit, mengusap pinggangnya yang nyeri. "Aww ... iya, iya. Aku juga cuma becanda kali, Yang."


Mulan mencebik, gemas melihat tingkah Rama. "Udah, ih. Aku masih mau ngecek keadaan mami Wati juga."


"Eh, buat apa?" tahan Rama saat Mulan melangkah meninggalkannya.


"Yah cuman pengen ngecek aja keadaannya gimana, Ra. Kenapa emangnya?"


"Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, Sayang. Kita kembali kesini aja besok atau lusa, gimana?"


Mulan mengernyit, bingung kenapa Rama seakan tidak mengizinkan dia pergi melihat keadaan ibu tirinya di ruangan yang lain dalam rumah sakit ini.


"Permisi, Pak Rama ... Bu Mulan." Bora datang memotong pembicaraan keduanya.


Pasangan suami istri itu kompak menatap ke arah pria berkacamata yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Maaf menyela Pak, Bu. Tapi nyonya Wati belum bisa dikunjungi saat ini," sambung Bora memberitahukan informasi yang baru saja dia terima dari dokter yang menangani wanita itu.


"Kenapa?" tanya Mulan lebih dulu.


"Dokter bilang nyonya Wati sedang dalam masa yang sulit, dia diberi obat penenang dan juga obat pereda stress. Kayaknya ibu tiri Bu Mulan sempet depresi beberapa tahun yang lalu dan kambuh saat Pak Cokro meninggal."


Mulan tersentak, tidak percaya wanita kejam itu pernah memiliki riwayat penyakit depresi. Pasalnya selama dia tinggal bersama keluarga istri sah ayahnya, Wati tidak pernah menunjukkan gejala-gejala layaknya orang yang memiliki beban atau mengalami stress berat.


Yang Mulan tahu Wati hanya pernah dirawat dirumah sakit selama beberapa saat, tidak lama setelah dia datang dan tinggal di rumahnya.


"Trus gimana keadaanya sekarang?" Rama ikut bertanya.

__ADS_1


"Masih terus dipantau, Pak. Tadi katanya nyonya Wati sempat sadar. Tapi begitu sadar, dia mulai histeris dan berteriak-teriak nggak jelas. Jadi mau nggak mau dokter ngasih obat penenang sementara mereka mengobservasi keadaan nyonya Wati sekarang," terang Bora panjang lebar.


"Jadi aku belum boleh jengukin mami Wati, Bor?" tanya Mulan lagi.


"Iya, Bu. Mungkin lusa baru Ibu bisa ketemu beliau."


Mulan mengangguk pasrah, jika memang kejadian pembunuhan ini membuat wanita itu depresi dan tidak terima. Dia harus sabar menunggu hingga bisa bertemu dengan Wati meski hanya melalui jendela kaca pintu ruangannya.


"Yaudah, kita balik kesini lusa aja, Sayang. Sekarang kita pulang dulu, aku nggak mau kamu yang sakit abis ini." Ketiganya pun pulang ke rumah dan tiba di sana saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Setelah menidurkan istrinya, Rama turun ke ruang kerjanya menemui Bora yang sengaja menunggu atasannya di sana.


"Gimana, ada berita belum?"


"Udah, Pak. Menurut pengakuan Pak Deno, dia baru aja tiba di Milan tadi pagi karena udah berapa hari ini nggak bisa hubungin kedua orang tuanya. Dia terbang kesini dan nemuin pak Cokro meninggal dengan luka tusukan dan nyonya Wati berada di dekat dia sambil pegang pisau. Dan waktu polisi ngecek kebenaran pengakuannya, semuanya terbukti bener, Pak. Pak Deno nggak terbukti bersalah, dia cuman gugup aja pas polisi dateng ke rumah mereka sampe boongin polisi patroli."


Rama menggeram kesal dalam hati, sial! Sepertinya pria tidak punya hati itu bisa bebas besok pagi. Dia harus memikirkan rencana selanjutnya untuk menjerat Deno agar kakak tiri istrinya itu tidak akan bisa berkeliaran di luar sana dan mengancam keselamatan keluarganya dengan Mulan.


.


.


.


.


.


.


Author belum bisa up banyak, yah


Author lagi nyelesein karya yang satu lagi di Apk sebelah ...


Mudah-mudahan bulan ini bisa tamat dan author bisa fokus ke satu karya di NT dulu ...


Terima kasih yang masih setia disini dan udah vote sama ngasih hadiah

__ADS_1


Author sayang kalian semua 🥰


__ADS_2