
"Apa yang terjadi sama Mulan, Ra?" Amanda datang bersama Richard begitu mendapat telepon dari Bora asisten kepercayaan suaminya.
Pasangan suami istri itu langsung meluncur menuju rumah sakit sesaat setelah mereka belum lama tiba di rumah.
"Mom, Dad...," sahut Rama lemah.
Pria bertubuh atletis itu duduk di depan ruang intensive care menunggu Mulan sedang ditangani oleh dokter.
Tangan dan tubuhnya masih bergetar dengan kemeja dipenuhi darah Mulan. Rama masih syok dengan kejadian naas yang menimpa istrinya.
"Astaga Rama ... baju kamu," kaget Amanda duduk di samping anak laki-lakinya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Amanda dibuat khawatir dan resah dengan kondisi Mulan yang dikatakan Bora terluka.
Melihat pakaian anaknya yang penuh darah, Amanda yakin kalau Mulan pasti tidak hanya terluka biasa saja.
"Pake jas Daddy, Ra." timpal Richard membuka jas hitamnya, memakaikannya ke punggung Rama yang tertunduk.
"Apa yang sebenernya terjadi, Ra? Bora bilang Mulan kecelakaan dikantor tadi sore." tanya Amanda lagi mengusap pundak anaknya.
Rama terlihat membuang nafas panjang dengan wajah penuh kesedihan. "Iya, Mom. Ada yang nyelakain Mulan di sana."
Amanda dan Richard kompak terkejut dan berucap bersamaan. "Siapa?"
"Kayaknya kakak tirinya si Menteri nggak tahu malu itu, Dad, Mom...," sahut Rama mengepalkan tangan.
Setiap kali mengingat nama Deno, rasa marah dan benci memenuhi hatinya. Pria yang sejak dulu tidak dia suka, benar-benar sedang mencari perkara dengannya.
"Kamu yakin dia orangnya, Ra?" tanya Amanda tidak percaya.
"Iya, Mom. Orang kepercayaan kita nggak mungkin salah ngasih informasi sama aku. Sekarang Bora lagi ngecek bukti-bukti yang ada di perusahaan Mulan tentang keterlibatannya."
Amanda seketika menghembuskan nafas panjang dengan hati yang sedih. Dia sudah yakin akan ada hal seperti ini yang bisa kapan saja menimpa menantunya.
Sempat mengingatkan Rama dan juga Mulan untuk berhati-hati pada pria licik seperti Deno, hari ini Mulan malah dicelakai olehnya. Naluri seorang ibu memang selalu saja kuat, pikir Amanda.
"Trus keadaan Mulan gimana sekarang, Ra? Dokter udah keluar belum?" tanya Amanda khawatir.
"Belum, Mom. Ini juga udah cukup lama mereka di dalem," jawab Rama tidak kalah khawatir.
Richard segera berlalu dari sana meninggalkan anak dan istrinya dengan marah. Tampaknya dia harus bergerak sendiri kali ini.
__ADS_1
Pria dengan rambut yang mulai beruban sudah muak mendengar Deno masih saja berkeliaran bebas diluar sana dan kini malah membuat menantunya celaka.
"Chad, kamu mau kemana?!" tahan Amanda yang ternyata mengikuti suaminya dari belakang.
"Aku nggak lama, By. Ada yang harus aku urus sebentar."
"Tapi Rama butuh kita di sini, Chad. Kamu bisa urus itu nanti!" pinta Amanda tidak ingin Richard kemana-mana dulu saat ini dan tetap menemani mereka.
Mau tidak mau pria itu pun berbalik kembali mendekati anak mereka yang diam memandang kosong ke arah pintu ICU.
Hampir setengah jam menunggu dengan perasaan tidak tenang. Dokter dan seorang perawat akhirnya keluar dari dalam ruangan ICU. Rama, Richard dan Amanda kompak beranjak mendekati pria berjubah putih di depan mereka.
"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rama lebih dulu.
"Maaf, Pak. Istri Bapak harus kami tangani lebih lanjut. Benturan yang terjadi menyebabkan adanya sedikit pendarahan di kepalanya. Istri Bapak harus di operasi untuk itu," terang Dokter Abian menjelaskan kondisi Mulan.
"O-operasi, Dok?" sahut Rama terbata.
"Iya, Pak. Mohon Bapak menyelesaikan administrasi terlebih dahulu agar kami bisa menindaklanjuti persiapan operasi istri Bapak."
Rama terdiam dengan pikiran ngebleng seketika. Mendengar kata operasi rasanya tidak mampu dicerna dengan baik olehnya. Rama mundur dan terduduk di kursi depan ruang ICU membayangkan keadaan Mulan di dalam sana yang terbaring dengan kondisi lemah.
Rama tidak mampu menutupi rasa sakit dihatinya yang takut akan kehilangan Mulan. Dia merasa menjadi pria yang tidak berguna. Bahkan, menjaga wanitanya saja dia tidak mampu. Seharusnya dia tidak membiarkan Mulan sendirian tanpa pengawasan darinya di luar sana.
"Rama, kamu mesti kuat, Sayang." Amanda datang memeluk anaknya, mengusap kepala Rama lembut.
Amanda pun ikut kaget mendengar ucapan dokter barusan. Sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, Mulan akan terluka parah begini.
Rasa bersalah dan menyesal semakin memenuhi hati Rama. Pria itu mulai menangis sesenggukan dalam dekapan hangat ibunya.
"Aku bersalah, Mom. Ini semua salahku nggak bisa jagain Mulan dengan baik. Aku—"
"Enggak, Sayang. Ini bukan salah kamu!" potong Amanda cepat. "Jangan pernah nyalahin diri kamu untuk masalah ini Rama. Nggak ada yang bisa memprediksikan semua ini menimpa kita dan Mulan. Sekarang kamu cuma perlu fokus sembuhin Mulan dulu. Jangan mikir yang enggak-enggak dan bikin Mulan makin sedih di dalam sana. Kamu harus tetap kuat buat istri kamu Rama...," sambung Amanda memberi kekuatan pada anaknya.
Dia ingin Rama kuat dan kokoh berdiri di samping Mulan yang saat ini sangat membutuhkan kehadirannya. Walau bagaimanapun berita ini ikut membuat mereka semua syok dan sedih.
Amanda tidak mau ikut bersedih di depan Rama dan semakin membuat anaknya menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku pergi urus administrasinya dulu yah, By...," pamit Richard beralasan.
Pria yang telah dipenuhi rasa amarah dihati, berlalu meninggalkan rumah sakit begitu Amanda mengangguk mengizinkannya. Richard masih sempat meninggalkan satu buah kredit card di bagian administrasi rumah sakit dan meminta mereka melakukan yang terbaik untuk menantunya.
__ADS_1
Richard langsung tancap gas dengan mobil, menghubungi orang kepercayaannya. "Di mana kamu?!"
"Aku masih diperusahaan, Bu Mulan, Pak," sahut Bora dari ujung telepon.
"Keluar dari sana, tunggu aku di depan dan telepon Aman minta dia bawa kita kerumah Deno sekarang!" perintah Richard tidak sabar.
"Tapi, Pak. Bagaimana nanti kalau ada wartawan yang melihat?"
"Itu urusan kamu untuk memastikan tidak ada yang melihat kedatangan kita ke sana!" Richard mengakhiri panggilan mereka tanpa mendengar jawaban Bora di seberang sana.
Sudah terlalu lama dia bersabar, Deno harus mendapatkan hukumannya karena sudah berani bermain-main dengan hidup anaknya.
"Lo di mana, Nal?" Richard bersuara setelah panggilannya diangkat.
"Di kantor lah di mana lagi," sahut sahabat Richard santai.
"Cari agen pengiriman yang bisa bawa orang ke Kutub Utara sekarang juga!"
Diujung sana Donal mengernyit bingung. "Ngapain? Lo mau honeymoon lagi?"
"Ck, udah nggak usah bawel. Cari aja yang gue suruh sama Lo. Satu jam lagi gue mau agennya udah ada!" Richard kembali menutup panggilan teleponnya sepihak dan membuang ponselnya ke kursi samping.
Dengan kecepatan tinggi Richard meluncur menuju perusahaan milik ayah menantunya, menjemput Bora di sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kita action-action dikit yah, guys biar makin enak mainnya kata Richard 🤭
__ADS_1