
"Aaaa...!"
"Apa, sih teriak-teriak begitu, Na?!" kesal Jacob ikut kaget.
"Pa-pak Jacob kenapa Bapak nggak pake baju?!" sahut Anna menutup matanya cepat.
Pria di depannya hanya memakai handuk dengan tubuh bagian atas yang terlihat memukau di matanya.
Dada yang bidang dengan bulu halus dari bawah pusar sampai ke tubuh bawahnya sontak membuat pikiran Anna berkeliaran.
Ah, sial! Kenapa juga dihari pertama dia tinggal disini dia harus melihat pemandangan seperti ini, kesal Anna dalam hati.
"Kenapa emangnya kalo aku nggak pake baju? Ini, kan apartemen aku. Aku punya hak, dong ngapain aja disini!" Jacob meneruskan langkahnya mendekati Anna yang berdiri tepat membelakangi meja dapur.
Wangi aroma sabun segar dari tubuh Jacob menyeruak ke indera penciuman Anna. Dia tahu pria bertubuh tinggi itu sudah berhenti dan berdiri sangat dekat dengannya.
"Minggir sana, aku mau minum!" usir Jacob sengaja membuat Anna salah tingkah.
Anna yang gugup dengan pikiran kacau melangkah cepat menjauh dari Jacob. Kakinya yang jenjang tidak sengaja menginjak kakinya yang lain saking gugupnya Anna saat ini.
"Aaaa...." Anna berteriak, jatuh menarik handuk putih yang melingkar di pinggang Jacob.
Pria itu tidak sempat menahan tangan Anna hingga wanita yang tadinya berdiri di depannya kini sudah berlutut tepat di bawah kakinya yang polos.
"Kamu kayaknya demen banget, yah narik-narik aku dari dulu!"
Anna membola, menatap benda bergelantungan yang tampak gagah di depan matanya.
Buru-buru wanita itu memejamkan mata, beranjak dari bawah kaki Jacob dengan cepat. "Ma-maaf, Pak. Aku nggak sengaja!" ucapnya dengan wajah memerah.
"Ck, sengaja juga nggak pa-pa, kok. Aku bisa ngasih biji aku kalo kamu mau. Harusnya kamu ngomong aja sama aku kalo perlu!" sahut Jacob santai.
"A-apa? E-enggak usah, Pak. Aku cukup liat 'dia' aja!" sahut Anna gelagapan merutuki mulutnya yang asal bicara.
Anna pun refleks menyodorkan handuk milik atasannya tanpa membuka mata. Dia harus segera pergi dari sana sebelum pikiran aneh dan rasa malu semakin membuatnya salah tingkah di depan Jacob.
__ADS_1
"Yakin kamu nggak mau? Nggak penasaran gitu sama rasanya?" goda Jacob menahan tangan Anna tanpa mempedulikan handuk di tangan sekretarisnya.
"E-enggak, Pak. Beneran nggak perlu."
"Sayang banget, loh kalo kamu nggak mau rasain. Punya aku yang standar ini bisa bikin kamu merem melek, Anna...," goda Jacob lagi tidak puas melihat wajah wanita yang makin memerah bak tomat di depannya.
"Enggak, Pak makasih. Aku sama sekali nggak tertarik, tolong lepasin tangan aku, Pak!" pinta Anna berdebar.
Jacob tersenyum menikmati wajah malu wanita berambut panjang dengan hidung mancungnya itu. Semakin dilihat Anna semakin memikat hatinya, sekali lagi Jacob ingin mengecapi bibir yang sempat dia sesapp kemarin.
"Kalo gitu sebelum kamu pergi, aku mau minta sarapan pagi aku, boleh?"
Anna mengernyit, membuka matanya sedikit melirik ke arah Jacob yang tampak masih polos di bawah sana.
Anna langsung menutup kedua matanya kembali rapat-rapat, menelan salivanya dengan susah payah dan mencoba menepis pikiran aneh yang perlahan masuk menghantui pikirannya.
"Pa-pak Jacob mau sarapan apa? Mau aku bikinin sesuatu?" tanya Anna terbata gugup.
Jacob tersenyum dan menarik tangan Anna semakin mendekat padanya. "Kamu nggak perlu bikinin aku apa-apa Anna. Aku cuma perlu ini...."
Pria itu mengulumm, memainkan bibir tipis Anna dan memaksa masuk mengecapi isi dalam mulut Anna yang manis seperti madu.
Jacob sempat mengernyit bingung dengan rasa berbeda dari mulut Anna. Dia tidak tahu kalau sebelumnya Anna sempat meneguk teh madu sebagai sarapan paginya setiap hari.
Anna merasa jantungnya akan meledak saat ini juga, mata yang tadinya melotot kaget dengan ciuman tiba-tiba Jacob membuat Anna membatu tidak bisa bergerak di tempatnya.
Pria itu bahkan dengan sengaja mengarahkan tangannya yang terus Jacob genggam sejak tadi mengenai benda perkasa dia di bawah sana.
Anna menahan nafas saat bulu-bulu halus Jacob mengenai telapak tangannya. Bayangan erotiss pemandangan tubuh polos Jacob yang sempat dia lihat tadi langsung terbayang di pikiran Anna.
Benda perkasa yang menggantung indah dengan dadanya yang bidang sungguh membuat iman wanita mana saja akan tergoda.
Ini gila, Jacob seperti sedang ingin menyuruhnya menggenggam dan meremass itu seperti saat pertama kali mereka bertemu di dalam toilet club.
"Mmm...!" pekik Anna tertahan dengan bibir yang masih terpaut dengan bibir Jacob.
__ADS_1
Atasannya yang bertingkah tidak waras kini sudah menyandarkan telapak tangannya ke benda perkasa Jacob. Anna berusaha meronta menarik tangannya dari sana sebelum rasa penasaran dan pikiran gila ikut hanyut dalam ajakan Jacob merasukinya.
Ah ... Jacob sangat menikmati ini. Anna pasti akan menggelinjangg tidak tenang sebentar lagi. Terbukti dari wanita itu yang terus mendorongnya hingga perlahan berhenti mengikuti alur permainan tangan dan bibir Jacob.
Jacob merasa menang karena sudah berhasil membuat Anna larut dalam permainan godaannya. Ditengah sesapann bibir dan lidah yang bergantian, Jacob menarik diri melepaskan pagutan bibir mereka sepihak.
"Enak, kan?" goda Jacob tersenyum menang.
Wanita di depannya tampak tersengal dengan dada yang naik turun. Anna sedang berada di puncak menuju rasa inginnya saat Jacob melepaskan pagutan mereka, sengaja membiarkan sekretarisnya itu menggantung dengan perasaan berkecamuk.
Jacob segera mengambil handuk yang tergeletak begitu saja di lantai, memakainya dengan santai di depan Anna yang terdiam melongo.
"Aku udah kenyang, sarapan aku udah cukup. Besok jangan lupa sediain sarapan yang enak lagi yah, Na?" Jacob tertawa pelan, beranjak meninggalkan Anna yang merasa otaknya bleng seketika.
Sialan! Jacob pasti sengaja mengerjainya, Anna menggerutu kesal dengan tangan yang terkepal erat. Liat aja gimana besok gue kerjain Lo balik biji...! Batin Anna berteriak frustasi dalam hati.
Pagi itu menjadi pagi yang indah bagi Jacob. Dia terus bersiul rendah selama berada di ruangan kantornya.
Anna pasti tidak akan berani macam-macam dengannya setelah ini. Jacob jadi semakin tidak sabar kembali menggoda wanita berbibir tipis itu besok pagi.
.
.
.
.
.
.
.
Bisa aja sih, biji
__ADS_1
Demen banget gantungin begitu! 🤭😆