
"Pak, Aman sedang bersama Pak Deno sekarang."
"Dari jam berapa mereka barengan?"
"Kata Aman atasannya menghubungi dia setengah jam setelah kecelakaan Bu Mulan terjadi, Pak."
"Kalau begitu udah pas berarti. Bilang sama Aman kita tunggu dia dipelabuhan Tanjung Priok." Bora mengangguk, kembali menghubungi ponsel Aman kaki tangan mereka.
Deno yang tengah mengikuti pertemuan bersama pendukung-pendukungnya di sebuah hotel tidak tahu apa yang sedang menunggunya di luar sana.
Dia masih sempat tersenyum dan menyalami semua pendukungnya sebelum keluar dari hotel bersama Aman.
"Kita mau ke mana lagi, Pak?" tanya Aman dari kursi kemudi.
"Pulang, aku capek mau istirahat." Aman mengangguk dan mulai melajukan mobil meninggalkan lobby hotel.
Pria yang benar-benar sudah sangat mengantuk itu tertidur nyaman di kursi belakang. Aman tersenyum dan tancap gas membawa atasannya ke tempat perjanjiannya bersama seseorang.
"Mobilnya sudah sampai, Pak." Bora memberi laporan setelah melihat mobil mewah berwarna hitam baru saja masuk ke dalam pelabuhan yang malam ini sangat sunyi.
Bora sudah mengatur semuanya dengan cepat sesuai perintah atasannya. Sebagai bawahan yang bekerja bertahun-tahun bersama Richard, pria berkacamata itu selalu bisa diandalkan olehnya.
"Donal udah ada belum?"
"Gue di sini!" Donal bersuara, ikut masuk ke dalam mobil sahabatnya.
"Lo ngapain ngajak-ngajak gue bikin masalah kriminal gini sih, Chad?! Kalo kita ketahuan gimana? Lo mau tanggung jawab sama anak dan bini gue di rumah?" protes Donal kesal.
Dia belum lama tiba di sana saat Bora mengatakan rencana atasannya yang menurut Donal sangat diluar nalar.
"Nggak usah bawel! Kalo ketangkep yah, masuk penjara. Lagian kita di dalem cuman berapa taun doang, kan...," sahut Richard santai.
"Astaga ... Lo pikir masuk penjara sama kayak lagi liburan?! Sinting bener pikiran Lo!" maki Donal makin kesal.
"Yah anggap aja kita lagi liburan, Nal. Kapan lagi lo liburan bareng gue bertahun-tahun."
"Lo bener-bener, yah...." Donal tidak mampu meneruskan ucapannya lagi.
Dia sungguh tidak habis pikir dengan isi kepala Richard saat ini. Menurutnya Richard terlalu berani melakukan tindakan kriminal yang akan membuat dia maupun keluarga mereka terkena imbasnya, kalau sampai masalah ini diketahui oleh polisi.
Mengingat Deno yang adalah Calon Wakil Presiden sekarang, Polisi pasti akan mengusut kenapa Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini menghilang begitu saja tanpa kabar.
"Udah nggak usah khawatir. Lo tenang aja, Nal. Semua udah gue atur dengan baik. Kali ini Lo cukup jadi temen gue dan nggak usah banyak protes. Soal anak Lo, nggak usah takut. Dia masih bisa hidupin anak gue sampe beranak cucu," sahut Richard mencoba menenangkan sahabatnya.
Donal berdecak, tidak bisa berkata banyak. Dua sahabat itu diam sampai mobil yang membawa mangsa mereka tiba di sana.
__ADS_1
"Pak," panggil Bora dari luar kaca mobil tempat Richard duduk.
"Lo mau di sini aja apa mau turun bareng gue?" tanya Richard sebelum membuka pintu.
"Ck, enggak! Gue di sini aja, gue nggak mau kena cctv kalo turun bareng Lo!" tolak Donal masih kesal.
"Apa bedanya Lo masuk ke sini sama keluar bareng gue, Nal? Kalo ketahuan mereka juga bakal tahu siapa yang nyewa agen pengiriman ini. Lo tetep kena pasal lah sama kayak gue...."
Donal lagi-lagi berdecak, membenarkan ucapan Richard. Sial! Dia memang sudah terjebak dengan kriminalitas sahabatnya sendiri.
Mau tidak mau Donal pun ikut turun dari mobil, mengikuti pria yang mulai beruban itu berhenti di dekat mobil Deno.
"Mana dia?"
"Lagi tidur di dalam, Pak," sahut Aman sopan.
"Bangunin, aku mau sedikit bermain sama dia." Aman mengangguk, membuka pintu di mana atasannya tertidur pulas di dalam.
"Pak Deno, bangun, Pak. Kita sudah sampai...."
Deno tersentak bangun dari tidur. Pria itu masih sempat mengucek mata sebelum keluar dari mobil.
"Jangan lupa besok jemput aku jam tujuh yah, Man. Kalo ada yang nyariin aku bilang aja aku belum bisa ditemuin."
"Emangnya siapa yang mau temuin elo?!" Richard bersuara, menyadarkan Deno yang masih setengah mengantuk.
"Kaget, yah?" Richard tersenyum sinis dengan tangan berada di saku celana.
"Bagaimana aku...." Deno menatap kesekitarnya, terkejut melihat ada di mana dia saat ini.
"Nggak usah kaget begitu, Pak Deno. Anggap aja kita lagi ngadain pertemuan bisnis kayak dulu. Sayangnya bisnis kita kemaren malah nggak lanjut karena Pak Deno terlalu rakus sama duit!" sinis Richard menyindir mantan calon rekan bisnisnya.
"A-apa maksud kamu bawa aku ke sini, Pak Richard?! Aman, apa-apaan ini, hah?!" marah Deno pada ajudan sekaligus asisten kepercayaannya.
Aman yang berdiri tidak jauh darinya, hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Ngapain Lo tanyain Aman, dia cuman ngikutin perintah gue kalo Lo mau tahu!"
"Apa?!" kaget Deno.
"Iya, ajudan Lo ini sebenernya orang gue. Dia udah lama kerja juga sama gue!"
Deno sontak menatap Aman yang hanya meliriknya sekilas dan langsung membuang muka tidak peduli.
"Dasar brengsek!" marah Deno mencoba mendekati Aman yang segera ditahan oleh Bora.
__ADS_1
"Lepasin aku, bodoh!" pekik Deno berusaha melepaskan pegangan Bora darinya.
"Nggak usah teriak-teriak begitu Pak Deno. Come on (ayolah), nggak usah lebay begitulah sama bawahan Lo," cibir Richard tersenyum sinis.
"Brengsek! Kalian berani nipu gue? Kalian nggak tahu siapa gue, hah?!" teriak Deno menatap tajam Richard dan Donal bergantian.
"Lepasin gue, siap-siap aja kalian semua gue laporin ke polisi!" ancam Deno berontak dalam pegangan kuat Bora.
"Coba aja, emang Lo pikir Lo bisa lolos dari gue?! Nggak bakal ada yang nolongin Lo keluar dari sini Pak Deno yang terhormat. Malem ini bakal jadi malem terakhir Lo di negara ini!"
"Kurang ajar! Jangan gila Lo, brengsek! Cuman karena uang lima puluh juta itu Lo sampe nyewa orang buat nyulik gue?! Dasar nggak waras!"
Richard mengepalkan tangannya marah, berjalan mendekati Deno yang terus memakinya di depan sana.
Kepalan tangannya dengan cepat meluncur mengenai rahang Deno yang dibiarkan Bora jatuh terjerembab ke tanah.
"Berani Lo ngatain gue nggak waras, hah?! Lo yang lebih gila celakain cewek yang nggak punya salah apa-apa sama Lo!" marah Richard ikut menendang perut Deno.
Pria yang ditendang seketika bungkam dengan pikiran melayang mencoba mengingat-ingat siapa wanita yang dimaksud oleh Richard.
"Kalo nggak inget gue masih punya bini dan anak, udah gue bunuh Lo di sini!" sambung Richard masih terus menendang perut Deno, menumpahkan kekesalan dihati yang dia simpan sejak tadi.
"Chad ... udah, Chad," tahan Donal. "Bisa mati beneran dia di sini, Chad...," sambungnya mengingatkan.
Richard mendengus dan kembali menendang perut Deno sekali lagi sebelum mundur meninggalkan Deno yang tersungkur tidak berdaya, terbatuk-batuk dengan perut berdenyut.
Sial! Siapa lagi wanita yang dimaksud pria gila ini sebenarnya? Selama ini Deno selalu menghindari wanita-wanita yang hanya ingin mencari-cari kesempatan dengannya.
Deno sama sekali tidak menyadari ada wanita yang tengah berjuang di ruang operasi saat ini akibat perbuatannya.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang bisa ngasih ide kita mau apain si Deno dulu sebelum dikirim Richard jauh ke ujung bumi sana?
__ADS_1
Tulis di komen, yuk 🤭