
...Sepanjang waktu,...
...pasang surut terjadi di laut...
...tapi rasa laut...
...tidak berubah...
...Begitulah rasa yang ku miliki...
...aku pintar dalam banyak hal...
...tapi bodoh pada satu hal...
...ketika cinta ku jatuhkan pada mu...
Dia merobek kartu ucapan yang terselip dalam buket bunga anggrek paling indah di antara yang lainnya, Merobek dalam bentuk kecil. Menyalip di tangan Rika,
"Pastikan tidak ada yang tersisa untuk kartu ucapan ini,"
Rika menatap wanita yang dikagumi dari dulu. Dia hanya membuang kartu tapi tidak tega membuang semua bunga, Matanya pun sulit berbohong, Pasti tidak mudah melewati hal ini. Rika membatin dalam hati.
Dia sedang mengingkari hati dan membenarkan pikiran.
********
Grand Opening
Pukul 04:45 wib, Aku baru selesai mandi ketika handphone ku berdering. Kenzo??
Trrrrrrttttt.. Trrrttt
"Halo,"
"Sudah bangun, Sayang?"
"Sudah Ken, Malah sudah mandi ini mau mengeringkan rambut,"
"Masa?? coba aku lihat,"
"Videocall ya, Ken,"
"Kenapa harus video call? aku sudah di teras rumah mu, Nggrek,"
Refleks aku berlari dan mengintip jendela. Kenzo sudah rapi dengan kemeja abu-abu gelap. Wajahnya tampak segar dan cerah. Dia tersenyum manis di teras dengan sebuket mawar dan paper bag.
"Pagi sekali, Sayang," ujar ku sedikit kaget karena dia sudah rapi subuh hari. Sebelum ayam berkokok dan Dewo masih molor.
"Merayakan hari mu, Selamat ya. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan," Kenzo mendekat dan mendaratkan kecupan di kepala, Ketika pintu sudah terbuka.
"Makasih sayang," aku menyambut buket mawar dan paper bag dari Kenzo, Dia manis sekali.
"Kita menggunakan pakaian sama ya, Aku sengaja membelikan untukmu,"
"Iya, Ken sekali lagi terimakasih,"
Aku bisa melihat ekspresi kaget papa dan mama ketika Kenzo masuk ke ruangan makan. Masih pagi untuk sarapan jadi mereka mengobrol sambil menonton berita.
Aku menghampiri mama dan meminta mama menggunakan pakaian abu-abu.
"Mendadak banget sih kamu, Nggrek. Kemarin bukannya rencana pakaiannya biru," gerutu mama dengan nada kesal.
"Ken baru berikan pagi ini dress-nya, Biar kembar katanya,"
"Kamu kan bisa menolaknya!" bisik mama sambil melirik ke arah Kenzo.
"Gak tega, Ma, Apa sebaiknya Anggrek dan Ken aja yang warna abu-abu,"
"Iya kalian berdua saja, Kami tetap biru. Sayang baju baru,"
Aku meninggalkan mama dan segera bersiap. Ken membelikan loose midi dress warna abu-abu gelap, sedikit motif bunga putih di bagian bawah dan ujung lengan, Dia memilih krah shanghai. Masih formal tapi tidak terlalu kaku.
"Apakah Ken tidak merasa janggal membelikan gaun wanita sendirian? atau Raisa dan Riska yang membelinya?" batin ku membayangkan seorang pria membeli pakaian wanita.
Setelah sarapan, Aku dan Ken pergi ke restoran. Sedangkan Papa, mama dan Dewo yang ijin dari sekolah akan menyusul.
Pukul 06:05 Aku bersama Nando memeriksa persiapan akhir acara, Kami berkeliling memastikan semua sudah pada tempatnya. Sedangkan Ken pulang ke rumah menjemput tante Melinda dan Riska.
Pukul 06:15, Aku mengambil catatan kata sambutan dari dalam tas. Ketika Rika menghampiri ku.
"Kak Anggrek sudah masuk ruangan?"
"Belum, Ada apa Rika?"
"Malam tadi Kak Bian mengirimkan banyak buket bunga anggrek sebagai ucapan. Pekerja yang merapikan meja prasmanan, Meletakkan di ruangan kakak," bisik Rika di telinga ku.
Mendengar perkataan Rika, Kaki ku segera melangkah ke ruangan yang belum ku kunci karena belum ada barang.
Ruangan ku sesak dengan berbagai buket bunga. Aroma wangi alami samar-samar tercium. Aku mengambil satu kartu ucapan.
__ADS_1
...Selamat, Anggrek...
...Bian...
Singkat sekali tapi bisa menimbulkan efek panjang jika Kenzo melihatnya. Aku segera meminta Rika menyingkirkannya.
Kartu berikutnya yang terselip dalam rangkaian bunga paling indah, Ku letakkan dalam genggaman Rika. Memastikan dia membuangnya.
"Tarok dimana, Kak bunganya?"
"Terserah Rika, Di sudut ruangan atau tempat lain untuk hiasan. Jangan lupa cabut kartunya, Kamu jangan ceritakan ke yang lain ya,"
"Baik, Kak,"
Aku tak sempat memikirkan kelakuan Bian karena pukul 07:30 wib acara akan dimulai. Rika dan beberapa pegawai memindahkan buket anggrek. Rika cukup kreatif menggabungkan menjadi satu buket anggrek besar. Diletakkan di sudut tidak jauh dari meja prasmanan.
06:45 wib
Papa, Mama dan Dewo datang. Tidak lama kemudian Kenzo datang bersama tante Melinda dan Rika. Untuk pertama kali keluarga kami bertemu.
Aku mengarahkan duduk di tempat yang memang disiapkan khusus buat mereka. Mama dan tante Melinda duduk berdekatan dan mereka sudah bercakap. Papa sedang menelpon rekannya, Dewo sibuk dengan handphonenya.
Atensi ku teralihkan ketika mendengar Kenzo memanggil seorang.
"Mas, Bisa ambil foto kami," aku menoleh dan melihat Bian yang menggunakan masker hitam, Sedang berjalan hendak memasuki restoran. Matanya memancar tatapan dingin, Aku memperhatikan senyuman tipis Kenzo.
Dia sengaja melakukannya
Kenzo menarik pinggang ku mendekat kearahnya. Kami berdiri bersisian dalam posisi rapat, Tangan Kenzo masih betah di pinggang.
Beberapa pegawai mencuri pandang. Aku melirik ke arah keluarga tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatan sendiri.
"Sayang, Fokus untuk foto," ucap Ken sambil merapikan rambut curly ku. Aku menahan napas, Bian mengambil foto kami. Aku tidak bisa melihat pancaran mata Bian karena sudah tertutup lensa.
"Oh ya, Mas. Sekalian foto kami di sini" Ken berjalan santai ke arah mural yang sengaja kami jadikan spot foto. Aku melirik Bian yang berjalan di belakang ku. Dia menatap dengan pandangan dingin.
"Ken ada tamu datang, Aku mau menyambutnya" aku menunjukkan mitra dari kota lain. Tampak pak Andre diantara mereka, Termasuk pak Rudi, Cleo dan dua mitra yang merupakan 'pegawai' Bian.
Aku meninggalkan keduanya. Acara jangan sampai kacau oleh mereka berdua.
..._____------___----_____...
Tamu mulai berdatangan, Termasuk bapak walikota dan ajudannya. Kami sekeluarga menyambut kedatangan mereka termasuk Kenzo, Walikota kami mengenal Kenzo rupanya.
Kenzo merupakan ketua himpunan pengusaha restoran dan cafe, Dia juga aktif dalam kegiatan pengusaha muda kota kami. Terlebih papanya mantan wakil walikota, Aku tak heran kalau bapak Prambudi, Walikota kami mengenalnya.
Nando menghampiri ku, "Kak, Biarkan aku dan team yang handle, Kakak fokus ke penyambutan tamu dan rangkaian acara. Percaya kan kali ini pada Nando ya,"
"Baik, Kak. Siap!"
Kali ini netra ku menangkap Bian yang sedang bersalaman dengan walikota, Interaksi terlihat lebih akrab tidak se-formal Kenzo. Aku tidak menemukan hubungan Bian dengan bapak Prambudi.
"Aneh sekali, Bahkan masih menggunakan masker. Beliau masih mengenali Bian," gumam ku.
07:30 wib, Acara di mulai. Rombongan Natasha dan Laura, Beberapa pejabat terkait, mitra dan calon mitra kami telah hadir. Tangan berkeringat, jantung berdebar. Aku berdoa dalam hati semoga lancar.
Suara master of ceremony menandakan acara di mulai. Diawali pembacaan doa, sambutan dari walikota dan berikutnya adalah sambutan dari ku. Jantung berdetak ketika sorotan tamu tertuju pada satu titik, Ya ke arah ku.
Kata demi kata yang sudah ku hapal keluar mengalir lancar. Undangan memberi tepuk tangan untuk kata sambutan yang ku berikan.
Selanjutnya pemotongan pita pada pintu masuk restoran. Sebagai simbol pembukaan.
Aku berdiri di samping bapak Walikota, Kami bersama-sama berdiri dengan memegang gunting yang dihiasi hiasan pita dan bunga. Bidikan kamera dan lensa mengarah ke arah kami.
Aku melirik satu orang dengan kamera ditangannya, Dia menurunkan masker tersenyum sebentar lalu menaikkan masker kembali. Fokus pada kamera di tangannya, Bian.
Pemotongan pita telah dilakukan, Untuk pertama kalinya langkah-langkah kaki diluar lingkaran kami memasuki restoran.
Aku mengarahkan bapak Prambudi ke meja yang dipersiapkan untuk jamuan tamu khusus. Kami duduk bersama termasuk keluarga ku yang berkenalan dengan bapak Prambudi.
Rangkaian acara sudah selesai kami lewati. Saat ini kami menikmati sajian prasmanan. Aku memesan dari restoran Kenzo tentu saja dengan potongan harga.
Jika dipikirkan kembali restoran Miepa ini berdiri dengan dukungan Bian dan Kenzo. Jika dulu aku lah yang selalu membantu Adiwarna. Sekarang kekasih ku lah mendukung setiap langkah dalam usaha yang dijalankan.
"Ah, Aku lupa mengundang keduanya Adiwarna dan Cahya" gumam ku.
Perhatian kembali pada saat sekarang, Sama sekali diluar dugaan, Bahwa akan duduk berdampingan bersama bapak walikota.
"Terimakasih atas kesediaan hadir dalam pembukaan restoran kami, Pak," aku mengucapkan kalimat tulus pada bapak Prambudi.
"Sama-sama Anggrek, Jangan sungkan saya selalu mendukung setiap langkah kemajuan usaha yang memajukan kota kita. Terlebih untuk generasi muda seperti dik Anggrek dan Kenzo," aku melirik ke arah Kenzo yang duduk bersama kami.
"Iya Pak, Saya merasakan dukungan pemerintah terhadap setiap usaha yang kami jalankan," Kenzo merespon ucapan bapak Prambudi. Selanjutnya kami terlibat dalam percakapan tentang hal di kota kami.
13:00
Bapak Prambudi meninggalkan acara, Sedangkan aku melakukan wawancara dengan beberapa wartawan lokal.
13:30 wib
__ADS_1
Semua tamu sudah meninggalkan acara, Termasuk keluarga ku dan Ken. Aku mengantarkan tamu terakhir. Rombongan Natasha, Gege dan Laura, Angel dan Inka.
"Anggrek kenal Laura?" tanya Natasha.
"Iya kami pernah kolaborasi untuk konten," Jawab Laura sambil merangkul ku.
"Laura ini seorang MUA juga, Nggrek," aku tahu arah Natasha. Secara tidak langsung dia memberitahu ku bisa menggunakan jasa Laura. Track record Laura dan Angel memang tidak diragukan dalam skala daerah kami.
Public figure yang datang ke daerah kami, Sering menggunakan jasa keduanya. Aku bisa memesan mereka nantinya.
"Sukses ya, Nggrek," Gege menepuk pundak ku.
"Makasih, Gege. Keren kamu ya sekarang sudah mendapatkan posisi asisten manager,"
"Berkat kamu resign, Nggrek. Akhirnya aku bisa menyingkirkan rival dengan mudah," kelakar Gege, Tentu saja dia hanya bercanda. Gege mendapat posisi asisten manager pemasaran. Sedangkan aku staf akunting, Posisi yang berbeda.
"Asem kamu, Ge,"
"Aku pamitan juga, Nggrek tadi Nadia sampaikan salam untukmu. Dia sedang di rumah sakit bersama Rian. Tania masih di bali bersama Doni juga," ujar Natasha
"Kami pamitan juga ya, Sukses selalu" ucap Angel diikuti Inka dan Laura.
"Tunggu ulasan di feed instagram ku, Nggrek," Inka mengangkat jempolnya.
"Thanks, Inka jangan lupa periksa pesan dari ku. Mau endorse,"
"Wah kalau itu aku siap sekali," canda Inka memamerkan gigi putihnya.
"Kak Anggrek, Ikut ke belakang dulu yuk," Nando menghampiri dan berbisik di belakang.
Aku melambaikan tangan ke arah mereka lalu mengalihkan perhatian pada Nando.
"Ada apa?" tanya ku
"Pacar dan mantan mu sedang dibelakang," jawab Nando sambil mempercepat langkahnya.
Aku mengikuti Nando berjalan menuju belakang restoran. Melewati tatapan ingin tahu pegawai lainnya.
..._____-----_____----____...
Kami belum mencapai belakang gedung ketika berpapasan dengan Bian. Dia menarik tangan ku, Menuju ke ruangan kosong tepat di sebelah kami. Bian memahami sekali seluk beluk restoran ini.
"Nando tolong tahan Ken sebentar saja. Sebelum kesabaran ku habis menghadapinya, Aku perlu bicara dengan Anggrek," Bian menunjuk arah belakang.
Nando memandang ku menunggu persetujuan. Aku menganggukkan kepala memberi tanda setuju.
"Anggrek, Kamu mengorbankan perasaan demi keluarga, Aku hampir melepaskan kamu tapi ketika mendengar pertengkaran kalian. Rasanya sangsi kamu akan bahagia dengan dia. Pikirkan kembali Anggrek, Aku masih di sini. Menunggu mu!"
Tanpa basa-basi Bian mengatakannya kalimat tersebut dengan lancar.
"Kamu tidak perlu menunggu ku, Bian, Semua sudah berlalu. Bagi ku keluarga adalah segalanya, Aku bisa belajar mencintai, Ken?"
"Apa kamu katakan, Nggrek? kamu tidak mencintai dia? Keluarga ku juga sudah menerima mu"
"Bukan seperti itu, Sudah lah Bian! Jangan ganggu kami, Apakah kamu tidak bosan dengan hubungan ini. Aku bahkan sudah bosan dengan sikap mu,"
"Tidak, Aku tidak pernah bosan menunggu mu?"
"Dewasa lah, Bian Prasetya," aku menunjuk ke arah Bian. Dia menangkap tangan ku.
"Kamu yang harus belajar dewasa Anggrek, Mempermainkan perasaan Kenzo. Dia hanya pelarian, Kamu memberi harapan pada seseorang akan cinta semu. Tidak kah kamu merasa jahat melakukan itu?"
Bian berlalu meninggalkan aku yang tertegun. Sedetik kemudian aku menuju ke belakang gedung. Kenzo keluar dengan wajah keruh dari balik pintu bersama Nando.
"Ada apa, Sayang?"
"Mantan mu mencari masalah," dengus Ken dengan wajah memerah.
"Iya masalahnya apa?"
"Tidak ada!" pungkas Ken cepat.
"Ken, Kata mu dia mencari masalah. Masalahnya apa?" desak ku melihat dia enggan bicara.
"Masalahnya adalah kamu, Nggrek!"
"Maksud mu apa, Ken?"
"Anggrek, Aku membutuhkan waktu menenangkan diri dulu," Ken berlalu meninggalkan aku.
Disini aku berdiri terperangah dengan kepergian Ken. Nando menghampiri ku.
"Kak, Tadi mereka berbincang sengit di belakang. Anak-anak sudah berpikir mereka akan saling hajar. Kalau bukan karena posisi masing-masing, Pasti mereka sudah berkelahi,"
Posisi mereka? ya aku paham, Masih ada wartawan disini tentu demi nama baik mereka menahan ego. Untuk tidak berakhir dengan fisik.
"Kamu tahu apa yang mereka bicarakan,"
"Tidak terlalu jelas, Aku hanya mendengar Ken meminta Bian melepas kemitraan selebihnya aku sudah meninggalkan mereka. Ketika pembicaraan terjadi,"
__ADS_1
Aku menghela napas. Satu lancar tapi satu lagi tersendat. Oh kehidupan,
**********