
Luangkan waktu
agar kamu mempunyai
waktu luang
Caption Anggrek malam ini, Pengalaman pribadi karena selama ini dia berpikir tidak mempunyai waktu luang. Masukan dari orang terdekat akhirnya menyadarkannya.
Memang selama ini dia lah yang tidak meluangkan waktu untuk bersantai barang sejenak. Berkumpul bersama orang terkasih.
*******
Setelah sekian lama pulang selalu malam, Akhirnya hari ini tiba di rumah sebelum matahari tenggelam. Mama masih di halaman belakang dengan tanamannya. Ditemani papa yang masih menggunakan seragam kerja sedang membaca berita di tablet, Dewo baru selesai mandi asyik bermain PS.
Sudah berapa waktu aku tidak melihat pemandangan 'biasa' ini, Pemandangan yang jadi luar biasa sekarang.
Tanpa sadar terkadang kehidupan diluar kita menciptakan 'dunia' lain. Aku duduk di samping papa, dipisahkan meja bundar dengan dua kopi milik papa dan mama. Aku sengaja menyeruput kopi papa.
"Anggrek, Jangan habiskan kopi papa. Anak gadis jangan malas, Buat sendiri di dapur!" tegur papa ke arah ku. Entah kenapa aku merindukan hal sederhana ini.
"Kamu sudah pulang sayang? mama bersama tante mu sudah ke berapa hotel . Kamu bisa pelajari beberapa paket dari mereka. Sesuaikan dengan kebutuhan ya," mama menghentikan aktivitasnya. Mencuci tangan lalu mengambil lap. Beliau masuk sebentar dan menyerahkan beberapa brosur.
"Iya, Ma tadi Anggrek memantau persiapan grand opening untuk besok," jawab ku seraya mengambil beberapa brosur. Di antara lembaran promo ini, Dari hotel Citra Nusa lah yang menarik atensi ku. Mereka menggunakan art paper, Tampak elegan dan memang paket ditawarkan lebih mahal.
"Anggrek, Papa selalu mempercayai keputusan mu. Pada setiap langkah yang kamu ambil tapi peran sebagai istri membuat tanggung jawab mu bertambah?" papa meletakkan tablet nya. Mama lalu ikut bergabung bersama kami.
"Iya, Anggrek tahu, pa," jawab ku sambil mengambil kopi mama.
"Anggrek kamu bisa bikin sendiri di dapur kan!" kali ini mama yang menegur.
"Pernikahan merubah status dari sendiri menjadi berdua, Akan bertambah ketika kalian dipercayakan memiliki buah hati. Ketika kamu telah menjadi istri, Kamu harus menjalani peran sebagai diri pribadi dan istri. Membagi waktu antara pekerjaan dan rumah, Nak."
Aku menatap papa, Cara bicara papa mengingatkan pada ucapan yang disampaikan Kenzo. Dia selalu mengingatkan tentang kesibukan ku dan akhir-aknir ini Ken berapa kali menegaskan dia akan menjadi kepala rumah tangga.
__ADS_1
"Iya Anggrek, Papa mu benar. Kamu harus memiliki pengaturan tentang rumah tangga dan pekerjaan. Rumah tangga mu tidak sehat jika dari pagi sampai malam kamu diluar rumah untuk mengurusi usaha mu," timpal mama mendukung pendapat papa.
"Katakan lah manajemen rumah tangga, Ada porsi masing-masing. Seorang istri adalah tulang rusuk suami, Dia ada di samping suami. Kalian akan saling mendukung. Seorang istri bukan tulang punggung jadi bijaksana lah dalam mengatur waktu untuk bekerja dan mengurus rumah tangga," papa kembali menyeruput kopi.
"Benar Anggrek mulai sekarang belajar membagi antara pekerjaan dan kehidupan sosial. Kamu tidak harus terus menerus bekerja dari pagi sampai malam, Ada saatnya membagi diri dengan lingkungan sekitarmu," mama menambah setiap perkataan papa.
Aku yakin mama dan papa telah berdiskusi sebelumnya. Mereka tampak kompak, Semua kata-kata mama dan papa seakan mengulang kalimat Kenzo dalam bentuk berbeda.
"Iya ma, Ini karena perubahan status usaha Anggrek menjadi bentuk PT dan pembukaan restoran, Ke depannya semua sudah teroganisir. Kami memang masih penyesuaian tapi jika sudah berjalan, Maka beban pekerjaan Anggrek sudah terbagi ke team,"
"Papa dan mama mempercayai apa yang telah menjadi keputusan mu, Kami akan selalu ada di belakang mendukung kalian. Jika kamu sudah menikah, Hargai dan hormati suami mu. Kalian harus saling mendukung dan melengkapi,"
Aku mengangguk mengiyakan pada setiap perkataan papa dan mama. Semua perkataan Kenzo, Natasha, Nadia mengenai kesibukan ku kembali melintas. Apakah aku menjadi lengah sehingga melupakan ada hal lain selain bekerja.
Hari sudah beranjak malam ketika papa memutuskan untuk mandi, Aku dan mama pun bersiap menyiapkan makan malam.
Hal-hal sederhana dan apa yang ku lihat sore ini. Suatu hari nanti tidak akan ku jumpai tiap hari, Dewo tahun ini akan lulus SMA. Dia mau kuliah di luar kota. Menargetkan kampus terbaik di negeri ini.
Papa dan mama akan tinggal berdua, Sebuah kehidupan yang berjalan dari fase ke fase
Aku memasuki kamar setelah makan malam dan membersihkan diri. Ketika melihat boneka pisang, Hati ku menjadi miris.
"Kamu bahkan berubah kuning menjadi kecoklatan, Maafkan tuan mu lupa mencucinya," batin ku berbicara pada boneka pisang.
Boneka pisang ini sudah bertahun menemani tidur ku, Dia merupakan hadiah dari Adiwarna. Aku baru teringat kenapa tidak membuangnya dulu. Lucunya dulu ketika usia masih lebih muda, hadiah dari pacar ternyata boneka.
Mata ku melihat ke jam dinding. Sudah pukul 20:50. Aku baru menyadari perkataan mama dan papa. Terlalu fokus dengan dunia ku sendiri. Bahkan selama bersama Kenzo kami jarang menghabiskan sekedar menonton bioskop atau ke pantai.
"Sudah lama tidak jumpa, Anggrek. Seabad mungkin,"
Penggalan kata Natasha kembali tergiang di telinga ku. Aku juga tidak pernah berjumpa dengan Tania sebelum dia menikah, Mungkin benar adanya kegiatan bersama orang terdekat ku berkurang.
Mama sudah mencari informasi untuk tempat lamaran sedangkan aku baru sadar, Ketika Natasha menanyakan kebaya dan MUA lamaran.
__ADS_1
Mungkin Kenzo benar mulai sekarang harus belajar membagi waktu. Aku menghempaskan diri di ranjang, Sambil mengambil handphone. Tepat ketika dering telpon berbunyi menampilkan panggilan dari Kenzo.
"Halo sayang,"
"Belum tidur, Nggrek?"
"Belum, Aku juga baru masuk kamar,"
"Papa mau bicara, Sayang," Terdengar suara Kenzo berbincang. Tidak lama kemudian suara serak dan berat pria mengucapkan salam dan aku membalasnya.
"Bagaimana kabarnya, Om?"
"Berangsur-angsur pulih, Anggrek. Om sudah bisa beraktivitas ringan tapi untuk besok maaf tidak bisa hadir. Dikarenakan acaranya membutuhkan waktu cukup lama. Khawatir tidak bisa mengikuti keseluruhannya, Selamat ya untuk pembukaan restorannya.
"Baik om, Tidak apa-apa. Anggrek mengerti, Terimakasih atas ucapannya. Semoga lekas pulih seperti sedia kala ya, Om,"
"Tentu saja, Anggrek. Anak laki-laki ku, Om juga sudah tidak sabar mau menikah," ada tawa kecil papa Ken ketika mengatakan itu. Tidak lama kemudian dia pamit karena mau istirahat.
"Sayang, Besok aku sama Mama dan Riska yang pergi. Raisa mau sekolah,"
"Iya, Ken. Terimakasih ya atas dukungan selama ini,"
"Sama-sama, Anggrek. Kamu belum tidur juga, Tidur dulu gih sayang. Istirahat yang banyak buat besok,"
"Iya Ken, Maaf ya akhir-akhir ini aku sibuk padahal ketika kamu membuka restoran lalu. Tidak seperti ini,"
"Kamu kan baru pertama kali, Aku juga sama sayang saat pertama kami membuka restoran. Anggrek, Aku mau mengerjakan sesuatu. Tidur nyenyak ya,"
"Iya Ken, Met kerja jangan kemalaman tidurnya,"
"Makasih, Sayang,"
Telpon terputus sebelum aku mengucapkan rangkaian kata indah. Ya, Kenzo memang tipe tidak romantis tapi dia adalah pria tulus. Keluarganya menerima ku dengan tangan terbuka.
__ADS_1
Aku meraih guling kali ini, Menyingkirkan boneka pisang karena kotor. Besok adalah grand opening restoran pertama. Jantung ku berdebar kencang, setelah berapa lama akhirnya kantuk menjemput ku.
************