
Apakah itu terlalu mudah?
atau aku yang terlalu penuh prasangka
sehingga semua yang mudah menjadi rumit
di mata ini?
Mengapa membebani pikiran
Jika hanya menambah kegundahan hati
lebih baik melangkah terus
apapun rintangan yang ada
*********
Hari ini merupakan hari ketiga Bian di Jakarta dan pagi ini ku lewati dengan kegiatan seperti biasa tapi entah kenapa menjelang siang aku merasakan kebosanan.
Apakah belum ada kabar dari Bian lah yang membuat hati ku gundah dan bosan? Entahlah.
Rutinitas harian yang biasa ku jalani dengan semangat sekarang membuat jenuh. Sepertinya setelah kejadian dengan Adiwarna dan Cahya, Aku terlalu keras bekerja sehingga kurang memberikan ruang pada diri sendiri.
Natasha menyambut dengan semangat ketika ku utarakan rencana mengajak dirinya ke pusat perbelanjaan hari ini. Pergi ke salon dan belanja sepertinya menyenangkan. Semangat ibu hamil satu ini emang luar biasa.
"Nggrek kita beli skincare, makeup terus belanja keperluan baby ku, ya?"
"Iya sepertinya kita sudah lama tidak berjalan seperti ini ya, Nat?"
"Betul walau rada sepi ya." Natasha menarik masker diwajahnya. Lehernya celingak-celinguk melihat diskon di beberapa toko.
"Iya"
Lelah mengelilingi pusat perbelanjaan kami pun mampir di restoran tidak jauh dari air mancur. Aku sedang mengambil video untuk story di media sosial ketika Kenzo datang.
"Anggrek, Ketemu lagi."
"Hei Kenzo bukankah kamu ke luar kota kemarin."
"Cuma dua hari, Nggrek. Aku tidak berani terlalu lama. Kemarin ada rapat untuk perusahaan yang tidak bisa diwakilkan."
"Oh iya, Kenzo ini kenalkan Natasha dan Natasha ini Kenzo." Pria dihadapan kami yang sedang berdiri ini menganggukkan sedikit kepalanya ke arah Natasha.
__ADS_1
"Sudah pesan makanan? Aku boleh gabung?"
"Sudah, Silakan saja" Aku mempersilakan Kenzo untuk duduk. Dia duduk di depan aku dan Natasha.
"Kalian banyak sekali belanjanya." Kenzo melirik belanjaan kami.
"Iya sebagian untuk keperluan calon anak saya." Natasha menjawab santai.
"Kamu tidak pesan makanan. Sekalian aku traktir." Aku menyodorkan menu makanan. Aku teringat pada kebaikan Kenzo semasa kuliah yang sering membayar belanjaan Cahya dan menawarkan juga untuk ku.
"Tidak usah aku sudah makan. Aku kemari cuma mau bercerita Cahya dan Adiwarna. Aku bersyukur kamu tidak bersama Adiwarna?"
"Memangnya kenapa?" Natasha mencondongkan tubuhnya penuh minat. Sepertinya dia bisa menilai Kenzo tipikal pria yang suka berbicara.
"Adiwarna itu teman ku semasa SMP. Kami berasal dari kota yang sama. Dulunya keluarga mereka kaya bahkan dia termasuk paling kaya di sekolahan kami."
Kenzo melihat kearah ku menunggu reaksi lalu dia melanjutkan ceritanya lagi ketika dia melihat ku diam menyimak penuturannya.
"Sampai usaha keluarganya bangkrut karena ulah bapaknya yang suka judi dan main perempuan. Mereka lalu pindah ke kota ini dan memulai hidup baru. Bapaknya meninggal tidak lama kemudian. Dari yang pernah ku dengar karena tidak kuat hidup sederhana."
"Tapi saat kita double date kalian bukan seperti orang yang saling mengenal satu sama lain?"
"Tentu saja dia malu dulunya dia sombong, Nggrek. Kehidupan keluarga ku saat itu sih masih jauh dibawah keluarga mereka. Dia tidak menyangka bahwa aku kuliah di kota yang sama dengan dirinya."
"Tapi Adiwarna itu sebenarnya pekerja keras." Natasha berdehem mendengar pujian ku.
"Iya sebenarnya aku salut pada Adiwarna yang kembali bangkit pada masa itu. Hanya saja saat aku perhatikan sebenarnya yang paling banyak membantu dia justru kamu, Anggrek. Kamu dekil banget pada masa kuliah. Selalu pakai kaos oblong gede dan kulot."
"Parah dekilnya, ya?" Natasha terkekeh yang disambut tawa membahana Kenzo.
"Anggrek sering ke kampus membawa dagangan Adiwarna. Dia menawarkan ke kami sedangkan Adiwarna duduk santai saja"
"Itu karena kalau dia yang menawarkan dagangan, jarang laku."
"Pasti Adiwarna yang mengatakannya dan kamu percaya." Natasha dan Kenzo kembali tertawa seperti orang kesurupan. Aku merengut dongkol.
Dari Kenzo, Aku baru mengetahui ihwal kedekatan Cahya dan Adiwarna. Saat meluncurkan produk franchise minuman coklat merek Angdiwarna. Menurut Kenzo, Adi sudah mendekati Cahya tapi masih diabaikan oleh Cahya.
Setelah usaha Adiwarna berkembang dan hubungan Kenzo dan Cahya putus. Kedekatan itu mulai terjalin walau belum begitu kentara. Kenzo pun saat itu belum berani menyimpulkan. Dia menduga Cahya sakit hati karena Kenzo memutuskan hubungan.
Gaya hidup Cahya yang berlebihan dan selalu meminta barang mahal pada Kenzo. Membuat pria tampan itu mengakhiri hubungan dengan Cahya. Kami saat itu baru tamat kuliah sedangkan Kenzo baru memulai menjalankan usaha keluarganya. Kelakuan Cahya memberatkan dirinya.
Di saat yang sama usaha Adiwarna semakin berkembang maju. Kenzo berapa kali bertemu mereka makan malam di restoran mewah. Itu berarti saat umur kami 22-23 tahun dan di usia kami yang ke 24 tahun mereka menikah.
__ADS_1
Aku mengigit bibir mendengar cerita ini.Mengingat Adiwarna paling senang mengajak ku makan ala foodstreet.
Dia memulai usahanya dari awal kuliah dan berkembang terus semasa kuliah. Aku pikir dia berhemat untuk mengembangkan usahanya.
"Di saat kamu sudah tamat kuliah dan bekerja tapi kamu kan tetap sering mengawasi promo usaha Adi di alun-alun, Menawarkan paket makanan cafe dan restoran milik Adi ke kantor-kantor dan kampus. Mereka berdua justru bersenang-senang."
Aku mendengus kesal mengingat itu. Memang aku hanya lah pekerja di mata Adiwarna. Diam-diam dia mendekati Cahya dan gadis itu menerimanya sebagai pelarian dari Kenzo.
"Mereka sering menghabiskan liburan keluar kota, Menginap bersama. Hal itulah yang membuat keluarga Cahya dan Ibu Adi merestui hubungan mereka. Apalagi ibunda Cahya matre sih, Haha." Kenzo tertawa tapi dalam sisi lain hatiku mengiyakan hal itu
"Pajero sport milik Cahya diberikan oleh Adi lho."
"Serius, Kamu tahu darimana?". Aku sudah menduga lama tetapi kepastiannya belum aku ketahui sampai saat ini.
"Dari saudara ku yang kerja di dealer mobil. Kamu kok tidak mencurigai mereka sama sekali, Nggrek?. Kenzo bertanya heran.
"Terkadang cinta membuat 'buta' dan 'tuli'." Aku berkata lirih walau pertanda menampakan kejelasan. Rasa cinta menolak pertanda tersebut. Kenzo mengangguk mengiyakan.
"Kamu kurang bergaul pada masa itu hanya fokus pada hubungan dengan Adi dan pertemanan dengan Cahya. Aku mendapatkan cerita ini dari sahabatku yang mengenal Cahya dan melihat sendiri kedekatan dia dan Adi."
Kenzo menghela napas berat saat mengatakannya.
"Iya, Aku seperti katak dalam tempurung pada masa itu." Aku mengakui seperti itulah diriku saat dulu.
"Tidak apa-apa, Nggrek. Kamu diselamatkan dari orang yang tidak tepat. Lihat sekarang dirimu, Penampilan mu pun jauh berubah." Aku tertawa kecil menanggapi keterusterangan Kenzo.
"Iya benar kalau bukan karena pengkhianatan mereka belum tentu kamu menjadi wiraswasta mandiri seperti saat ini." Natasha menimpali.
"Tetap jadi kacung Adi.. Eh kacung, Canda ya Anggrek." Aku melemparkan tissue di meja kali ini kearah Kenzo yang tergelak tertawa. Komentar jahilnya kali ini begitu jujur.
Kenzo memang mengetahui kedekatan Cahya dan Adiwarna tetapi dia tidak menyangka ketika hubungan tersebut berlanjut sampai pelaminan. Kesalahannya dia merasa sungkan untuk memberitahu ku ketika kedekatan itu baru terjalin karena merasa tidak pantas ikut campur.
Pernikahan Adiwarna dan Cahya diketahui Kenzo dari sosial media kami yang heboh tahun lalu. Sebuah kabar yang tidak terlalu mengejutkan dirinya.
Kami melewati makan siang dengan bicara banyak hal. Restoran tersebut rupanya milik Kenzo. Justru dia yang mentraktir kami makan. Perputaran roda kehidupan membawa cerita sendiri dalam perjalanan hidup. Bahkan aku sudah bisa bercerita dan tertawa atas peristiwa yang menyakitkan itu.
Satu yang ku pelajari dalam pertemuan dengan Kenzo. Rencana yang di belokkan terkadang jalan indah yang disiapkan pencipta untuk hambanya.
Sebuah garis takdir yang harus dijalankan umatNya. Aku melewati banyak hal luar biasa setelah kejadian bersama Cahya dan Adiwarna. Pertemuan dengan orang-orang yang tulus seperti Natasha. Potensi diriku yang membangkitkan kemandirian dalam diri.
Hidup memang perjalanan. Melangkah lah dan hadapi semua rintangan yang ada sampai batas tugas kita pun berakhir nantinya.
****
__ADS_1