
...Jika cinta pertama ku...
...tak kandas...
...maka saat ini aku...
...tetap bersamanya...
...Aku pun tak mau...
...berakhir seperti ini...
...tapi apalah daya ku...
...ketika yang ku cinta selalu menjauh...
Suara hati Anggrek ketika seseorang mencerca dengan kata pedas mengenai hubungan percintaan dirinya.
********
Pagi yang cerah, Menawarkan cerita baru lagi untuk hari ini. Mobil ku kembali melaju di jalan bergabung bersama pengemudi yang mayoritas pergi menjemput rejeki.
Lagu blackpink 'Ice cream' menemani perjalanan. Ajakan Kenzo untuk makan malam hari ini, Sedikit membuat riak kecil dalam hati. Aku masih menganggap Kenzo teman tidak lebih.
Riak kecil di hati ku timbul karena malam ini akan kembali mengunjungi restoran Rosemary. Tempat dimana janji Bian di ucapkan, Janji hanya sebuah janji.
Mobil ku berbelok ke parkiran minimarket menuju booth pentol unyu. Inilah tempat usaha ku bermula, Hanya pentol dengan taburan topping di atasnya.
Sebuah penjualan sederhana tapi disitulah berawal. Aku belajar mengelola bagaimana usaha kuliner dimulai.
Wajah Nando tampak sumringah. Dia pegawai ku yang setia. Hampir dua tahun Nando bekerja dengan ku sejak video viral lalu.
"Hai, Kak Anggrek. Kelihatan ceria sekali,"
"Iya Nando, Ada yang mau aku bicarakan,"
"Tentang apa kak?"
"Tentang kuliah mu, Apakah sudah selesai tahun ini?"
"Syukurlah kak, Nando berhasil menyelesaikan tahun ini. Setelah lima tahun yang berdarah-darah,"
"Haha, Sekarang masih berdarah?"
"Sudah tidak kak, Sudah terobati dengan wisuda visual," tampak senyuman lega di wajah Nando.
"Selamat ya Nando! Oh ya kamu kan sekarang sudah menjadi sarjana, Pastinya kamu berencana untuk lebih dari menjadi penjaga booth kan?"
Nando tampak diam mencoba meraba arah pembicaraan ku.
"Aku mau menawarkan posisi koordinator atau semacam manager untuk mu. Memang saat ini usaha ku belum berbadan hukum sehingga tidak memiliki struktural pegawai. Aku hanya meminjam istilah itu untuk memudahkan menjelaskan saja,"
"Oh ya kak seperti apa pekerjaannya,"
"Saat ini aku sudah mempunyai lima cabang Miepa dan tiga kemitraan di kota yang berbeda. Ditambah dua tawaran kemitraan saat event bazar kemarin. Aku sedang mempelajari manajemen tepat untuk mengelolanya, Untuk sekarang aku membutuhkan seorang yang bisa mengkoordinasikan keseluruhan Miepa."
"Aku tersanjung kak Anggrek mempercayai ku,"
__ADS_1
"Iya karena kamu pegawai kedua ku dan paling lama bertahan sampai saat ini. Awalnya aku berencana mencari orang lain tapi aku ingat kamu pertama kerja sambil kuliah. Sekarang sudah tamat, Sementara sebelum mendapatkan pekerjaan lebih baik lagi. Bagaimana dengan tawaran ku?"
"Nando mau, Kak tapi dampingi aku juga ya, Kak."
"Iya Nando. Kita akan mencari ritme pas untuk memulainya,"
Aku tahu ini permulaan baru untuk usaha ku agar lebih rapi lagi. Aku hanya pemula yang sedang belajar.
"Anggrek! Ketemu lagi," Kami menoleh ke arah sumber suara. Cahya yang kelihatan baru selesai berbelanja di minimarket.
"Eh Cahya," Aku sebenarnya malas sekali menyapanya. Entah kenapa pagi ini diawali dengan bertemu Cahya.
"Pagi-pagi sudah pacaran saja. Kamu pacaran sama pegawai booth mu ya? Mana pacar mu kemarin yang katanya mau kirim undangan ke kami, Mana?!"
Aku menghela napas perlahan. Bisa-bisanya hanya mengobrol berdua dengan Nando. Dia menuding kami pacaran.
Gigi ku gemeratuk menahan geram teringat ketika Bian menantang Adiwarna dan Cahya. Mengatakan akan mengirim undangan ke mereka. Ah justru menjadi boomerang untuk ku saat ini.
"Heh, Sudah ku duga kalian akan putus. Sekarang pacaran sama pegawai sendiri, Kayak gak ada pria lain saja."
"Mbak jaga bicaranya ya," Nando sudah berdiri, Aku melihat dia mengepal tangannya. Andai Cahya adalah laki-laki. Entah apa jadinya.
Aku berdehem untuk menarik atensi Nando. Melihat Cahya yang tidak malu ribut dengan Adiwarna saat di baby shop atau sebelumnya juga saat dia berkelahi dengan kami dan Natasha di kafe 'Tentang Jiwa' aku sadar Cahya tak punya kemampuan meredam emosi di tempat umum.
Dia tidak akan malu mempertontonkan emosi dan nafsu amarahnya di depan orang banyak. Aku memilih diam saat ini karena aku masih memerlukan nama baik.
Nando melirik ke arah ku, Akhirnya dia kembali duduk. Aku meraih tas lalu berjalan melewati Cahya yang masih berdiri di depan kami. Lebih baik menghindari 'ranjau' daripada harus terkena ledakan yang justru merugikan diriku.
"Nando nanti kita bicarakan lagi ya,"
Kehadiran Cahya jelas menganggu pembicaraan ku dengan Nando.
"Kamu putus lagi kan? aku lihat di sosial media mu tidak ada lagi foto dia. Cowok hanya mau hartamu, Anggrek. Kasihan!"
Aku tetap berjalan tanpa menoleh. Kasihan kata dia? Setelah rumah tangga Cahya dan Adiwarna diwarnai kehadiran wanita lain. Dia bahkan masih mengejek ku, Luar biasa.
Seandainya dia tahu siapa Bian mungkin dia akan malu berkata seperti itu tapi Cahya tidak tahu keluarga Bian. Aku yakin ketika di supermarket Cahya memperhatikan kami sekedar melihat kendaraan yang kami gunakan.
Bian dan mobil antiknya bukan standar Cahya pastinya karena mobil antik Bian juga bukan mobil antik dengan nilai jual tinggi. Cahya masih orang yang sama, Menilai sesuatu dari kulit luar saja.
Kejadian di baby shop lalu seakan menunjukkan kepada ku. Apa yang mereka tuai dari perbuatan di masa lalu.
Satu lagi aku masih ingat perkataan Adiwarna tentang penawaran usaha dari plankton, Suruhan Setya.
Cahya hendak mengambilnya tetapi terlalu malas mengerjakannya. Dia membatalkan karena Adiwarna menolak mengelolanya. Cahya seperti ular berbisa. Entah kenapa dia bisa berubah seperti itu.
************
Sore mulai merambat naik menuju malam. Aku sudah tiba kembali di rumah. Mama, papa dan Dewo sedang melakukan kunjungan rutin ke rumah kakek dan nenek. Aku sudah berapa kali tidak mengikuti mereka.
Kesibukan sebagai wanita dewasa yang bekerja, Ku akui mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga.
Aku mandi, makeup dan berganti pakaian. Kali ini aku mengenakan dress berwarna peach untuk dinner bersama Kenzo.
Saat bersama Bian, Aku memilih dress berwarna hitam untuk dinner. Kali ini aku tidak mau mengenakan warna yang sama.
Aku menggelung setengah rambut ku yang sudah di curly sebelumnya. Menyisakan sebagian untuk diurai. Berat badan ku sudah mencapai ideal sekarang.
__ADS_1
Seiring umur yang bertambah, Kebiasaan melarikan masalah dengan menyantap makanan. Sudah lama ku hindarkan. Lebih baik memiliki aktivitas positif, Jauh bermanfaat untuk diriku dan orang lain.
Ketukan di pintu menyadarkan ku, Segera aku membuka pintu. Sedikit terpana melihat penampilan Kenzo. Dia menggunakan dinner suits dengan warna navy, Untung saja Kenzo tidak melengkapi dengan dasi kupu-kupu.
Mengurangi kesan formal, Kenzo menggunakan sneakers berwarna senada. Berbeda saat dinner bersama Bian, Dia hanya mengenakan kemeja dan celana bahan.
Bian memang keseharian bergaya casual. Berbeda dengan Kenzo yang lebih sering mengenakan kemeja. Jadi tidak mengherankan pada momen lebih resmi dia menggunakan pakaian formal.
Aku segera menepis bayangan Bian. Sedari tadi aku selalu membandingkan Bian dengan Kenzo. Seakan semua keluar begitu saja tanpa diminta.
"Sudah siap, Nggrek." Kenzo bertanya sambil memamerkan senyum khasnya.
"Iya, Aku sudah siap."
"Kamu cantik, Nggrek"
"Makasih ya," Aku sedikit tersipu mendengar pujian Kenzo. Bian seingat ku tidak pernah memuji, Astaga kenapa nama itu keluar lagi. Aku segera mengenyahkan pikiran tentang Bian.
"Orangtua mu ada di rumah, Nggrek?"
"Sedang pergi ke rumah kakek dan nenek jadi kita langsung pergi saja ya,"
Aku dan Kenzo sudah melaju dalam perjalanan ke restoran Rosemary. Kami mengisi waktu dengan obrolan ringan selama perjalanan.
"Sepertinya ada acara peringatan pernikahan ke 25 tahun,"
Aku mengikuti arah pandangan Kenzo, Terlihat beberapa pasangan setengah abad dan beberapa pasangan muda menuju ke dalam restoran.
Restoran Rosemary termasuk restoran berkelas di kota ku. Dengan harga makanan termasuk tinggi. Menjadikan Rosemary bukan tempat nongkrong kalangan biasa. Pasangan muda biasanya ke Rosemary untuk acara dinner atau kencan.
Perjamuan yang menggunakan restoran Rosemary biasanya dari kalangan atas. Kami segera turun dan menuju ke Rosemary.
Beberapa pasangan yang kami lihat tadi sudah diarahkan waitress menuju ke meja yang sudah disiapkan. Dari semua pasangan yang hadir di sana, Ada yang menarik atensi ku. Ternyata juga dilihat Kenzo.
Cahya dan Adiwarna, Aku melihat Cahya memandang kami dengan mata menyala. Tubuhnya tampak menegang dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Adiwarna hanya melirik sekilas, Dia melengos kearah lain. Ada ekspresi keterkejutan di mata Adiwarna.
"Anggrek sepertinya seseorang menginginkan pertunjukan. Ayo kita tunjukkan, Pinjam sebelah lengan mu," Kenzo berbisik di telinga ku.
Dia membuka ruang sedikit di lengannya. Aku memasukkan sebelah lenganku didalam lengan Kenzo. Kami berjalan bergandengan seperti sepasang kekasih membuat wajah Cahya sungguh mengerikan untuk dilihat.
Cowok hanya mau hartamu, Anggrek. Kasihan!"
Ucapan Cahya pagi tadi dan sakit hati yang dia torehkan terhadap ku. Ku balas tunai cukup dengan sebelah lengan ku.
Tentu saja dia tidak akan berpikir Kenzo menginginkan harta ku karena nyatanya Kenzo jauh lebih kaya dari ku.
Kami melenggang dibawah tatapan mata Cahya. Kenzo adalah pria impian Cahya, Mantan kekasih Cahya. Dia yang diputuskan Kenzo jelas merasa sakit hati ketika pria itu bersama ku sekarang.
Ah Cahya aku tidak bermaksud menyakiti hatimu hanya saja malam ini kita dipertemukan dalam pertemuan tak terduga.
Kamu sakit hati kah? Kasihan.
******
haii otor kembali hadir untuk kalian. 😘😘
Met sahur yaaaaa 😘😘
__ADS_1