
Perjalanan hidup ku
mengantar pada kekasih masa lalu
seseorang yang pernah menjadi sahabat ku
Seakan kami bertukar peran di masa lalu
Seandainya hubungan Anggrek dan Cahya tidak ternoda dengan Adiwarna. Beribu cerita akan dia katakan pada Cahya.
*****
Aku hampir saja terlelap ketika seorang SPG menepuk pundak, Dia menyembunyikan senyuman geli melihat ku yang terkantuk di kursi tunggu outlet.
"Sudah selesai, mbak?" aku bertanya ke arah SPG yang masih mencoba bertahan dengan kesantunan standar outlet ini.
"Iya, Sekarang sedang di kasir untuk pembayaran. Pacarnya baik kak, Dia mau pilih yang terbaik untuk kakak," dia berbasa basi masih dengan senyuman tertahannya.
Aku memaksakan senyuman ke arah SPG outlet. Sudah hampir tiga jam Kenzo memilih jaket touring untuk ku. Akhirnya dia selesai juga belanja, Dia sangat teliti. Letak zipper kanan dan kiri pun bisa menjadi persoalan.
Kenzo menghampiri kami dengan tiga paper bag di kiri dan kanan. Aku pikir ini akan berakhir ternyata salah.
"Sayang, Amarala butik mengeluarkan season baru. Pakaiannya cocok untuk mu. Kita ke sana, yuk."
Kaki ku melangkah mengikuti Kenzo, Bibir ku terasa berat untuk berkata. Amarala memiliki koleksi dengan harga cukup tinggi, Bukan masalah harga yang menjadi persoalan. Aku juga mampu membelinya sekarang.
Amarala butik memiliki ciri penampilan feminim dengan dominasi flora dan warna lembut. Pakaian daily mereka didominasi dengan tema yang sama. Tipe pakaian yang jarang ku pilih untuk penampilan harian.
Kenzo memilih beberapa pakaian untuk ku. Kembali paper bag memenuhi kedua tangannya. Iya, Dia baik dan royal. Dia membeli banyak pakaian tanpa perlu bertanya kepada ku
"Sayang, Ini bagus untukmu,"
"Cocok untuk kulit mu kelihatan tampak cerah,"
Tentu saja kedatangan kami disambut SPG dengan semangat. Mereka mempromosikan semua koleksi Amarala dengan antusias.
Aku bisa mendengar beberapa pengunjung berbisik, Betapa beruntungnya aku.
Semakin lama paper bag di tangan Kenzo beralih ke tangan ku. Dia menambah belanjaan, Tas khas dengan monokrom klasik, Sepatu dengan signature terkenalnya.
"Ken, Apa sebaiknya membeli tas dengan merek yang sama di outlet saja. Jangan di butik kan sama-sama asli juga,"
"Di outlet itu season lama, Nggrek. Kualitasnya jauh dibawah butik walaupun merek sama."
Aku tahu Ken tapi rasa sayang saja mengeluarkan uang untuk sebuah tas. Pemikiran yang hanya nyangkut di otak ku saja.
Tangan ku dan Kenzo di penuhi oleh paper bag barang belanjaan kami.
"Kenzo, Bukan kah kita menggunakan motor. Apa belanjaan ini tidak terlalu merepotkan,"
"Kamu benar, Sayang. Aku melupakan hal itu, Jadi sekarang baiknya gimana?"
"Aku naik taksi online saja ya, Sayang."
"Kamu jangan naik taksi online atau aku panggil karyawan ku untuk menjemput disini,"
"Tidak perlu, Ken. Terima kasih banyak untuk hari ini ya,"
"Jangan, Sayang nanti karyawan ku datang menjemput mu. Oh ya, kamu gunakan apa yang ku beli ya sayang."
"Iya, Ken,"
__ADS_1
"Kita ke salon dulu yuk, Sayang."
"Hah,"
Pantasan saja Cahya histeris ketika Kenzo bersama ku. Aku memang tahu Kenzo royal tapi ternyata lebih yang aku ketahui. Dia pria yang memanjakan kekasihnya dengan banyak hadiah.
Berbeda saat bersama Bian, Keluarga Bian memang jauh lebih kaya dari Kenzo. Hanya saat itu akses keuangan Bian ditarik oleh keluarganya. Bian juga lebih apa adanya, Aku menghela napas. Mengingat Bian, Aku ingat satu pesan darinya.
***********
Sabtu pagi ini, Ku serahkan segala urusan ke Nando. Aku akan mengikuti Kenzo untuk touring bersama club motornya, Rombongan yang sering berpapasan di jalanan. Aku tidak menyangka kali ini akan ikutan dalam rombongan.
Kami melewati rute wisata, Pantai tempat Bian menceritakan keluarganya dan tempat aku menghibur diri dari Adiwarna. Restoran tempat aku dan tante Lusy terakhir makan. Jalanan yang biasa aku lalui bersama Bian.
Perjalanan bersama Kenzo justru mengingatkan ku pada sosok Bian. Aku menghela napas, Kedatangan Bian telah menyita pikiran kembali.
Tangan ku mendekap Kenzo di atas motor. Dia baik, Perhatian dan memanjakan kekasihnya. Keluarga dan temannya menerima ku dengan baik. Tidak ada kekurangan dari Kenzo.
"Sayang, Jaket mu dikancing sampai atas. Helmnya sedikit miring," Ken mengibaskan lengan jaket ku dengan lembut. Membersihkan sebutir, dua butir debu.
"Perbanyak minum, Sayang. Bibir mu kering atau kamu bawa pelembab bibir?"
"Aku minum saja, Ken,"
"Nggrek, Ini kertas minyak. Wajahmu tampak berminyak,"
"Iya, Sayang,"
"Mama akan tiba lusa nanti. Aku akan beritahu ke mama untuk buatkan resep krim wajah ya?"
"Iya, Sayang. Makasi ya" Oh, Betapa kekasih ku sangat perhatian. Semua dalam diriku tidak luput dari perhatian. Bahkan debu pun tak boleh hinggap.
"Iya sayang,"
"Wooiiii mau pacaran atau touring. Lanjut nih kita, Duh berasa dah hanya kalian berdua disini." Bima dan Dina menggoda kami di atas motor.
*******************
Hari ini di Miepa semua mata memandang penampilan baru ku. Rambut menggelung cantik membingkai wajah. Atasan dengan lengan balon berwarna lilac dipadu rok plisket putih selutut. Aku melengkapi dengan high heel berwarna senada dengan atasan.
"Nanti aku jemput saat makan siang ya, Sayang?"
"Baiklah, Ken."
Netra ku menangkap Cleo yang melemparkan senyum penuh arti di parkiran. Aku tidak sempat mengejarnya karena dia sudah memasuki mobil dan berlalu.
Setiba di ruangan atas, Aku mengunci pintu. Segera menggantikan atasan blus dengan sweater kaos, rok dengan celana panjang, Sepatu berhak dengan sandal jepit.
Hari ini aku dan Nando akan ke pasar untuk survey bahan baku. Persiapan untuk membuka restoran Miepa, Kami harus menambah pasokan bahan segar. Sekalian langsung ke pengepul sayur dan peternak untuk daging.
Selain mengunjungi pemasok langganan, Aku juga mencoba mencari pemasok lainnya sebagai alternatif.
"Aku hampir berpikir mengenai penampilan kakak ke pasar nanti,"
"Sama ke penjual daging potong ya, Haha."
"Nancap kak nanti sepatunya di tanah becek."
Nando tertawa begitu pula aku. Aku tidak mungkin menceritakan ke mereka, Siang ini akan makan siang bersama keluarga Kenzo. Dia sudah mengingatkan untuk menggunakan pakaian serta tas dan sepatu yang dibelinya.
Daripada harus berdebat mengenai pakaian. Membawa pakaian ganti adalah solusi terbaik. Setelah pulang dari pasar dan peternak. Aku segera menuju spa terapis. Cukup 1,5 jam perawatan sudah menghilangkan bau pasar.
__ADS_1
Ken menjemput tepat waktu, Kami sudah tiba di rumah orang tua Ken. Sebuah rumah yang di dominasi dengan kayu jati dan bata press. Pohon-pohon besar menaungi halaman yang luas
Di halaman rumah tampak tukang kebun memberi makan ikan koi di kolam. Deretan paralon untuk tanaman hidroponik berjajar sebelum memasuki rumah. Keasrian di tengah kota.
Ruang makan Ken merupakan ruang makan terbuka, Begitu pula dapurnya. Tante Melinda, Riska dan Raisa menyambut ku. Papa Ken diatas kursi rodanya tersenyum ramah. Beliau tampak masih lemas.
Berbeda dengan keluarga ku. Keluarga Ken makan dengan teratur tanpa banyak bicara, Membuat ku berpikir untuk mengambil kelas table manner.
Selesai makan tante Melinda membawa papa Ken ke kamar karena kondisinya masih lemas. Aku sedang sendirian di taman dalam rumah Ken ketika tante Melinda menghampiri.
"Anggrek, Tampil beda hari ini. Tante sampai pangling. Seperti ada diri Kenzo dalam dirimu?"
"Iya, Tante" aku meraba arah kalimat terakhir tante Melinda. Maksudnya apa?
"Anggrek, Kenzo sudah menceritakan ke tante mengenai keinginannya. Seperti Anggrek lihat kondisi papa Ken masih belum sepenuhnya pulih. Tante harap bisa bersabar dulu ya,"
"Baik, Tante." aku bahkan belum menceritakan kepada kedua orangtua ku. Mereka hanya tahu saat ini aku sedang dekat dengan Ken.
"Oh ya, Anggrek nanti luangkan waktu untuk kita bertemu ya? pertemuan perempuan."
"Dengan senang hati, Tante" pembicaraan kami berhenti karena Kenzo menuju ke arah ku dan tante Melinda. Entah apa yang ingin disampaikan tante Melinda sehingga mencari waktu khusus berdua saja.
"Anggrek pulang dulu, yuk. Kita masih mau kerja" aku lalu berpamitan dengan tante Melinda dan kedua adiknya. Kenzo mengantar ku ke Miepa.
"Anggrek kamu cantik jika berpakaian seperti ini,"
"Oh, makasih sayang. Pilihan mu tak pernah salah,"
"Tentu saja,"
Ah kadang hati dan mulut bisa berbeda pendapat. Apa yang keluar dari mulut barusan berbanding terbalik dengan yang dirasakan.
Aku nyaris tidak sabar kembali ke lantai atas. Menggantikan pakaian ini dengan kasual, Pekerjaan ku juga tidak membutuhkan high heel.
Jika Dina istri Bima berpenampilan elegan dengan barang mahal yang melekat. Itu bisa di katakan tuntunan pekerjaan. Sebagai pemilik restoran dengan pangsa kelas atas. Penampilan menjadi poin utama untuk Dina.
Berbeda dengan ku yang membuka usaha dengan menu belasan dan puluhan ribu. Siapa perduli dengan tas dan sepatu mahal.
Apakah dibesarkan oleh seorang dokter spesialis kulit dari klinik kecantikan terkenal, Lingkungan rumah dengan dua adik perempuan dan lingkungan sosial yang selevel status sosialnya. Mempengaruhi cara pandang Kenzo akan penampilan.
Aku memang suka berpenampilan menarik dalam momen tertentu Dikarenakan pekerjaan ku menuntut gerak bebas, Pakaian kasual dan kets atau flat shoes adalah gaya keseharian ku.
Semua pikiran itu melintas seiring aku memasuki Miepa menuju lantai atas ruangan ku. Aku baru saja memutar kunci ketika tangan ku ditarik seseorang.
"Bian,"
Aku memandang dari atas ke bawah pria yang ku temukan berapa hari lalu. Dia tampak kurusan dan sedikit lelah.
"Kamu kenapa? baik-baik saja?"
"Aku tidak baik-baik saja, Anggrek dan kamu tahu alasan apa."
Ya aku tahu alasannya apa, Selintas bayangan Cleo di parkiran tadi terbayang langsung. Kembali dia melaporkan ke Bian.
Mengapa harus bertemu kembali?
********
Selamat membaca semua,
Selamat beraktivitas dan semangat selalu ya☺🤗
__ADS_1