Viral

Viral
117. Memulai hari


__ADS_3

...Dua jiwa, Dua raga...


...dalam naungan satu atap...


...aku dan kamu...


...menjadi kita...


Caption sosial media Anggrek di semua foto pernikahan mereka, honeymoon dan kebersamaan dengan Bian.


"Sayang tak mengapa jika aku upload foto kita?"


"Memang kenapa, Kamu mau menyembunyikan aku sebagai suami?"


"Tentu tidak tapi kamu tidak keberatan kehidupan kita sedikit terbuka?"


"Kamu kan sudah lama menjadi selebgram, Tidak masalah sayang. Asal tahu mana yang sebaiknya di sampaikan,"


"Baiklah, Sayang,"


Anggrek tersenyum sumringah, Sebuah foto di jet pribadi, rumah, mobil dan beberapa momen dibagikan. Ah, Dia sudah lama menahannya dari kemarin.


Biarlah bukan kah selama ini foto mie Miepa dan kopi serta boba sering ditampilkan? jadi kali ini dia ingin bersenang-senang dulu dengan foto yang lain.


*******


Resepsi di Jakarta


Ballroom Diamond di King Hotel tampak megah dan menawan. Bagian langit-langit yang dihiasi lampu kristal indah dengan karpet motif cantik siap menyambut para tamu.


Di setiap sudut, Bunga-bunga yang saling terjalin menciptakan kesan seakan masuk ke dekorasi negeri dongeng.


Ditambah ballroom yang memiliki akses menuju taman yang telah disulap dengan dekorasi menarik. Memanjakan yang hadir di pernikahan kami.


Di pelaminan aku dan Bian kembali duduk menyambut tamu bersama orangtua kami. Kolega, rekan bisnis dan kerabat dari Bian memberikan ucapan. Beberapa wajah yang sering terlihat di televisi dan layar handphone sekarang hadir di sini.


Lantunan mertua suara Reina dan Arga mengalun di ballroom. Hari ini aku mengenakan gaun indah rancangan Zannah, Gaun yang di hiasi brokat dengan payet rumit di tambah cape yang menjuntai panjang menyapu lantai.


Bian meminta tambahan cape ketika dia tahu, Gaun yang akan ku gunakan terbuka di bagian bahu. Mengaplikasikan model empire waist seperti para putri Disney.


"Istri ku sudah cukup dewasa untuk bergaya seperti putri dongeng, Tambahkan cape untuk menutupinya," begitulah pesan Bian kepada Zannah ketika dia memesan jas pernikahan juga.


"Dia tidak mau miliknya terlalu ter-ekpose," kata Zannah ketika memasang cape di bahu ku.


Polesan make-up dari MUA terkenal yang di pilih Tasya, Memaksimalkan yang menarik di wajah dan memperbaiki kekurangan. Membuat Bian membisikkan kata mesra.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Aku tak sabar menunggu malam tiba,"


Keluarga besar dan sahabat ku hadir bersama pasangan masing-masing. Termasuk perwakilan dari Miepa dan frozen food.


Rangkaian acara berlangsung tanpa henti, Menyorot raja dan ratu sehari. Penempatan pengamanan di banyak titik, Menandakan banyak tamu penting hadir.


Netra ku menangkap Dewo yang sedang berjalan bersama seorang gadis mungil dan cantik. Belum pernah aku melihatnya.


Tahun ini dia akan menyelesaikan SMA dan rencananya dia akan kuliah di Jakarta. Menargetkan kampus yang terkenal dengan jaket almamater kuning.


Bian sudah menawarkan untuk tinggal di rumah kami. Jelas Dewo menyambut ide abang kesayangannya, sekutu.

__ADS_1


Aku harus mendisiplinkan Dewo agar tidak terlena dengan fasilitas yang ada. Tak terasa nanti rumah mama dan papa akan kosong. Mereka tinggal berdua kembali seperti awal pernikahan.


Roda kehidupan berputar sebagaimana tempat kita berpijak yang berputar 24 jam, Sepanjang waktu.


Semua pesta akan usai, Begitu pula acara kami. Selanjutnya temu keluarga, Saling mengenal kembali.


Natasha, Tania, Nadia, Nando, Andi,Mila, Rika, Budi dan Ina menghampiri ku usai acara.


"Seperti mimpi aku berada di sini," kata Rika.


"Jodoh kak Anggrek ternyata kak Bian," sahut Andi. Membuat ku hanya bisa memberi senyuman karena mereka jelas tahu siapa yang sering berkunjung ke Miepa.


"Selamat ya, Nggrek. Maaf mama tidak bisa hadir karena papa sedang sakit," Doni menyalami ku, Sekian lama akhirnya aku bertemu kembali dengan Doni yang sekarang telah menjadi milik Tania.


"Makasih Don, Sudah berkenan hadir. Sampaikan salam pada mama mu,"


"Bu Bos, Terimakasih untuk tiket kami sekeluarga. Akhirnya anak ku bisa melihat monas," kata Mila yang datang bersama dua anaknya.


"Sama-sama Mila terimakasih juga untuk doa-nya dulu sehingga kami bisa bersama," jawab Bian membuat ku menoleh. Ternyata dia ingat saat dulu.


"Arga... Arga...," Natasha tiba-tiba berbisik pelan ke arah kami berlima. Serentak kami menoleh dan heboh. Semua pada heboh dengan Arga, Menenggelamkan Dion yang berada di samping Arga. Dia protes karena tidak disambut.


Aku melihat Gege mendelik ke arah Natasha, Membuat ku refleks tertawa tapi segera terhenti ketika Bian mengenggam tangan ku sedikit kuat.


"Jangan macem-macem, Suami mu di samping," bisiknya yang terlihat oleh Natasha. Kali ini dia balik menertawakan ku.


Atensi ku teralihkan ketika melihat Tasya yang hendak menuju kami. Langkahnya terhenti, Dia berbalik arah. Matanya Tasya tampak kaget ketika melihat Arga, Ah ternyata kisah itu masih membekas di hati.


"Selamat buat kalian berdua," ucap Arga. Tak lama kemudian dia menjadi 'milik' Natasha dan semua teman serta sepupu ku.


Pertemuan keluarga terus berlanjut keesokan hari, Kami pergi bersama ke berbagai tempat wisata. Hari keempat di Jakarta, Keluarga ku pulang kembali.


"Baik, Pa."


"Kalian jadi honeymoon?" tanya mama.


"Iya, Ma rencana setelah ini kami akan pergi untuk honeymoon,"


Kakek, Nenek dan semua saudara memeluk ku. Sebagian tahu kisah cinta ku, Sepupu bermimpi menjadi seperti ku nantinya.


......__---___---___......


Honeymoon


Paket honeymoon dari Diandra dan Danar ternyata berada di berbagai tempat.


Kami melewati keindahan pulau dewata Bali, Kemolekan pulau yang pernah ku kunjungi dulu. Terasa semakin menawan dengan keberadaan suami di samping.


Berlanjut ke raja ampat, menikmati keindahan alam yang membuat aku enggan pulang.


Ah, Aku enggan pulang mulu karena bagi ku ini bukan honeymoon tapi liburan. Hotel yang memang dipesan menyambut pengantin baru ini.


Bathup dengan taburan mawar berbentuk hati, Kamar yang dihiasi buket mawar selalu menyambut kehadiran kami.


Selanjutnya terbang ke Belanda, Mengunjungi desa Giethoorn, terletak Di Overijssel, Belanda. Sebuah desa kecil cantik. Dikelilingi kanal serta pepohonan rindang yang membuat desa ini seperti tertuang dalam buku dongeng.


Aku menikmati perjalanan saling mengenggam bersama Bian. Berkali-kali mata melirik ke arah suami ku, Keindahan satu ini memang membuat orang senang menatap dia rupanya.

__ADS_1


Terakhir kami mengunjungi maldives, Pantai ya. Kami kembali ke pantai. Suatu tempat yang disukai Bian.


Dimana pasang surut terjadi setiap hari tetapi tidak merubah rasa air laut. Begitu pula kisah hubungan kami yang harus mengalami pasang surut, Rasa yang ada di hati tak pernah berubah.


Hari ini kami kembali ke Jakarta, Ke rumah Bian yang telah menjadi rumah kami.


"Sayang, Kamu lelah?" tanya ketika kami telah kembali ke kamar.


"Tentu saja tapi terimakasih sayang karena mengajak ku ke tempat yang selama ini, Hanya ada dalam wallpaper,"


"Sama-sama tapi semua tempat menjadi indah karena ada kamu,"


"Aishh...," Aku tahu dia ada maunya. Ah tak mengapa, Bukankah ini keistimewaan untuk suami dan istri.


...____-----___----____...


Setelah sekian lama kami harus kembali lagi ke kehidupan nyata. Aku masih di jakarta dan memeriksa email, Laporan dari team Miepa, butik A&N, frozen food serta Kira.


Memeriksa semua laporan di meja kerja Bian. Dia menghampiri ku dan membawa segelas kopi.


"Bu Bos, Ini kopi untuk mu,"


"Terimakasih pak Bian, Ada yang lagi yang mau di sampaikan," balas ku meniru gaya Cleo.


"Ada! kapan kamu usai? di kamar dingin. Aku kesepian," bisiknya perlahan. Aku membalas dengan mengigit kecil lengannya.


"Kak, Nando mengirimkan pesan. Ada yang menanyakan mesin untuk mie kepunyaan Miepa. Kemarin Cleo melakukan pemesanan. Kamu bisa membantu ku meminta contact person yang mewakili pabrik itu gak ya?"


"Kamu mau memberikan contact person kepada mereka yang menanyakan?"


"Iya,"


"Jangan sayang, Kamu saja yang menjual kepada mereka. Akan ada dua pendapatan disini. Jadi pembelian harus melalui kamu,"


Aku menatap Bian menemukan sebuah pencerahan. Ah, Otak ku ternyata rada buntu kelamaan liburan.


"Benar juga, Aku bisa menjualnya juga. Mereka memang sedang survei harga. Aku yakin bisa menjual lebih murah dari tempat lain,"


"Iya sayang... Oh ya, Besok pemutaran perdana film Arga dan Dion. Kita hadir ya,"


"Baiklah sayang,"


......___---___---_____......


Aku memang selebgram lokal tapi follower ku yang cukup banyak, Membuat berada di tengah para Entertainer ini tidak terlalu menimbulkan rasa kaget.


Banyak video viral yang terjadi setelah dunia digital menjadi keseharian penduduk bumi ini. Hanya tak banyak yang bertahan di dunia hiburan.


Talenta tetap dibutuhkan, Dion termasuk yang bisa masuk dalam industri ini. Pamornya semakin menanjak. Aku bisa melihat keluwesan dia dalam promo film perdana.


Berbeda dengan Bian, Dia tampaknya tidak begitu nyaman dengan sorotan. Sikap itu membuat aku menjadk beruntung karena wajah tampan dan suara merdunya hanya menjadi milik ku.


Hampir tiga minggu terlewati. Banyak tempat dan kisah menjadi bagian dalam perjalanan hidup. Kami pulang kembali ke kota ku.


Memulai kehidupan lagi sebagai pasangan suami istri. Menata rumah kami di bukit asri hijau, Sebuah tempat yang akan menjadi saksi dimana perjalanan hidup dua anak manusia akan terjadi.


Minggu depan aku berusia 27 tahun, Tiga tahun setelah video viral beredar ternyata banyak yang aku lewatkan. Sebuah keiklhlasan ketika memilih menjalani kehidupan dan meninggalkan rasa sakit akhirnya berujung pada kehidupan yang manis dan lebih baik.

__ADS_1


Disini aku berdiri tidak sendirian lagi. Bersama seorang yang selalu berjanji melindungi dan dia selalu menepati janjinya.


Aku tahu akan banyak kisah yang akan kami lewati bersama. Mengukir lembaran kosong yang setiap pagi meminta di tuliskan. Kami akan menorehkan kisah hidup berdua dalam lembaran baru sebagai suami istri.


__ADS_2