Viral

Viral
63.Harapan untuk bertahan


__ADS_3

Aku kembali di pantai ini


membawa kegundahan hati


Seakan berharap pada ombak pantai


membawa pergi kegundahan ini


Anggrek pernah menghabiskan waktu liburan di pantai yang sama. Melupakan kesedihan atas pengkhianatan Adi dan di pantai yang sama dengan hari ini. Saat Bian mulai bercerita kembali tentang hidupnya.


*******


Matahari pagi telah memasuki jendela kamar. Hari ini Miepa dan booth pentol libur. Setidaknya aku mempunyai waktu untuk bersantai.


Aku sudah selesai mandi dan berganti pakaian ketika sedang mengeringkan rambut, Ada panggilan telpon dari Dion.


Trrttttt.. Trrttttt


"Pagii, Nggrek sudah bangun?"


"Iya kalau belum bangun tidur gak bisa angkat telpon dong."


"Nah gitu anak gadis mesti rajin."


"Kamu ngapain nelpon pagi-pagi?"


"Nanya gitu amat, Nggrek. Tega amat sama mantan."


"Ihhh enak saja. Gak ngaku punya mantan kayak kamu, Diooonn."


"Kamu kok gitu. Giliran sama pacar aja, Beuuhh lembutnya. Sampai kening aja diperiksa sama tuh laki. Padahal lecet dikit doang, Manja amat."


"Kamu kepo amat, Pura-pura cuek saat di bengkel taunya memperhatikan"


"Nggrek."


"Apaan sih Dion, Lama dikit aku bisa emosian nih."


"Aku lagi kere, Nggrek. Kena PHK, Mana job MC lagi sepi. Selama pademi jarang ada acara. Dari teman sesama selebgram katanya butik kamu cari model buat foto produk baru kalian. Aku mau dong, Nggrek."


"Itu produk pakaian wanita, Dion! Gak mungkin juga kamu pake."


"Aku kan bisa jadi talent cowoknya. Jadi pacar kek di samping model pakaiannya atau jadi apa saja deh aku jabanin."


"Belum tahu konsep fotonya gimana yang mengatur partner di butik. Nanti aku bicarakan sama mereka."


"Nah makasih mantan terindah. Eh Nggrek, Jadi Brand Ambassador Miepa juga ya? Lumayan dong aku kan model iklan deodoran dan sepatu"


"Iya ketek dan betis yang kelihatan. Oh ya Dion, Pesangon PHK mu kenapa gak dijadikan modal usaha?"


"Habis, Nggrek."


"Buat biaya hidup?"


"Iya, buat beli handphone baru sama melunaskan cicilan mobil."


"Dion itu gaya hidup!"


"Aku khilaf Nggrek. Biar dompet kere tetapi penampilan harus keren. Tolong dong bantu mantanmu ini."


"Aku bukan mantanmu!! Mindset mu harus dirubah Dion, Giliran lapar emang tuh handphone bisa dimakan apa?"


"Sudah terlanjur, Nggrek."


"Kamu mau enggak jadi reseller frozen food ku aja."


"Oke aku mau dong, Nggrek."

__ADS_1


"Aku kasih nomor Mila ya nanti koordinasi sama dia."


"Siap, Mantan terindah."


"Sekali lagi bilang gitu. Aku gak mau bantuin kamu yaaaa."


"Hahaaaa, Ampuuuun."


Aku menutup telpon sambil teringat sama Tania yang menyukai cowok ganteng kalau cowoknya seperti Dion bisa puyeng.


Setidaknya walau begitu Dion masih mau bekerja. Dia tidak meminjam uang tetapi meminta pekerjaan.


Suara bel rumah terdengar, Bian kah? Pagi sekali dia datang. Aku segera keluar kamar untuk membuka pintu karena hanya aku sendiri di rumah. Mama sedang ke pasar, Dewo sedang sekolah dan papa bekerja.


"Kak Bian, Pagi sekali." Aku segera mengarahkan Bian duduk di kursi teras.


"Iya baru jam delapan ya? Jarak tempuh ke pantai kan membutuhkan waktu hampir empat jam. Jadi lebih baik pagi saja berangkat ke sana supaya saat tiba sudah waktu makan siang dan bisa bersantap di sana."


"Iya benar juga tapi kamu sudah sarapan belum?"


"Sudah sama kak Danar, Aku meminjam mobil Kak Danar kalau mobil ku makin lama tiba di sana."


"Iya, Kak Bian"


"Sumringah banget sayang."


"Kan mau jalan sama kamu, Kak Bian."


Aku menutupi kebenaran yang ada karena sebenarnya aku sedang membandingkan Dion dan Bian, Satunya memaksa diri supaya tampak punya harta. Satu lagi justru menutupi jati diri sebenarnya.


"Aku suka melihatmu ceria karena selama berapa hari suram."


"Iya, Sayang."


Aku mengikuti langkah Bian menuju jeep Danar. Aroma mobilnya 'Danar' banget. Kuat dan maskulin, Aroma yang sama dengan ruangan Danar di 'Tentang Jiwa'.


Wajah ku memerah ketika Bian mengatakan hal tersebut karena mengingat kejadian yang lalu.


"Aku hanya mikir alasan apa yang kamu pakai untuk meminjamkan mobil Danar."


"Awalnya aku bilang mau jalan sama kamu, Kak Danar nanya menggunakan mobil siapa? Saat aku bilang mobil ku. Dia menyarankan menggunakan mobil dia saja"


"Oh gitu"


"Iya begitu, Aku kangen Nggrek. Besok sudah mau pergi lagi ke Jakarta. Aku mau disini saja bersamamu."


"Kamu pulang ke rumah kan, Bian?"


"Rumah? Iya benar."


"Kenapa tidak suka?"


"Karena gak ada kamu di sana."


"Ya ampun sayang kamu bisa merayu juga."


"Kan cuma buat kamu, Nggrek."


Bian menggenggam tangan ku. Untuk sesaat kami menikmati perjalanan menuju pantai. Perjalanan bersama orang yang kita sukai membuat waktu tidak terasa.


*********


Selesai makan di restoran pinggir pantai, Kami berjalan melewati jalan setapak berbatu dari restoran menuju bibir pantai.


Bian membawa tas kameranya. Dia mengambil setiap sudut pantai dari balik lensanya. Sesekali Bian mengarahkan ke arah ku.


Kami lalu duduk di gazebo yang memang di bangun di pinggir pantai. Aku meletakkan tas sandang di pinggir gazebo. Bian menyodorkan minuman ke arah ku.

__ADS_1


"Minumlah kita tadi berjalan dari restoran di siang hari dan cuaca cukup panas, Kasihan kamu pasti kecapekan."


"Manja amat"


Aku meringis teringat ucapan Dion, Bukan aku bermaksud manja tetapi Bian lah yang memanjakan ku.


"Anggrek, Papa mulai bertindak. Aku mengkhawatirkan mu."


"Aku baik-baik saja, Sayang"


"Sementara ini, Nggrek. Aku belum pernah menceritakan sudah setahun papa memutuskan dana untuk ku. Memblokir semua kartu kredit dan menyita semua barang ku. Papa pikir dengan bertindak seperti itu aku akan menyerah."


"Semua barang kamu?"


"Iya semua barang yang merupakan pembelian papa, Aku meminjam uang dari Kak Danar untuk membeli kamera. Ketika Kak Danar mengambil alih proyek Bukit Hijau Asri, Aku mengikuti Kak Danar."


"Bukannya kamu kost awalnya?"


"Iya awalnya aku kost lalu mama memberikan pada ku ruko jalan Sudirman. Tidak lama kemudian Rian menyewa untuk membuka studio. Aku mengajak dia bekerjasama. Dari hasil sewa ruko aku membeli mobil untuk kendaraan operasional."


"Papamu tidak marah ketika tahu ruko tersebut diambil alih olehmu."


"Papa tidak bisa marah karena itu berdiri di atas tanah warisan mama. Kak Danar dan Diandra telah mewarisi kekayaan dari kakek Danny. Jadi mama memberikan pada ku."


Aku memahami karena Bian merupakan putra kandung mamanya sedangkan Danar dan Diandra adalah anak tiri yang sudah memiliki harta berlimpah dari kakeknya.


"Kak Danar lah yang mengajak ku tinggal bersama dia. Aku bisa bertahan untuk diriku sendiri tetapi aku takut papa bertindak lebih jauh untuk mu, Nggrek"


"Aku juga."


Kali ini aku memilih berkata jujur, Setya cukup menendang ku dari ruko dan hal ini telah membuat kalang-kabut berapa hari ini.


Demi satu orang dihadapan ku ini. Aku harus bertahan.


"Aku akan mencari jalan, Nggrek. Ada usaha yang sedang ku rintis bersama sahabat ku semoga bisa berjalan lancar."


"Iya, Kak Bian."


"Anggrek, Apa yang akan kamu lakukan? Tinggal satu bulan lagi."


"Memindahkan ke cabang kedua atau mencari alternatif ruko yang strategis selain di jalan Thamrin."


"Aku akan membantu nantinya, Sayang. Setiap berkerja di acara pernikahan, Aku berharap kita akan melewati juga saat itu."


"Aku juga berharap demikian."


"Bersama ku?"


"Iya, Sayang"


"Anggrek, Aku menjadikan semuanya menjadi sukar untukmu."


"Bian, Tersenyumlah dan menikmati apa yang bisa kita nikmati saat ini. Aku akan memaksimalkan semua kemampuan untuk mengatasinya. Aku harap kamu pun demikian."


"Ya, Sayang."


Hembusan angin menyentuh kulit kami. Masih di pantai yang sama tempat ku setahun lalu menghabiskan liburan untuk membuang sakit atas pengkhianatan Adi.


Sekarang di tempat yang sama dalam deburan ombak dan hangatnya sang surya menghabiskan waktu bersama Bian.


Satu orang saja, Ya satu orang saja yang ternyata bisa mengubah hati, pikiran dan jalan kehidupan.


...*S***ebuah harapan yang membuat semangat bertahan masih kokoh berdiri**....


******


Hai author kasih visual Bian ya, Maaf ketutup kamera 😂😂

__ADS_1



__ADS_2