
Selamat membaca, Maaf ya kata cinta dari otor nongol di atas kali ini. Niat banget mau eksisπ
Aku boleh nanya yaπ, Kalian mengetahui novel otor darimana? apakah dari banner rekomendasi, banner pilihan editor atau saat promo ke karya author lainnya.. βΊ
Sedang mencari tahu saja promo paling efektif sebenarnya yang mana? bagi otor yang masih receh ini π
Makasih semua β€β€
...ππππππππ...
Kita harus tangguh,
kuat dan mandiri,
Jangan terlalu menyandarkan hidup
pada orang lain
Agar ketika sandaran itu pergi
kamu tetap bisa berdiri
tidak terjatuh
Nasehat nenek yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan apa yang terjadi hari ini. Hanya saja betapa merepotkan pria-pria yang sedang berada di dekatnya. Anggrek langsung teringat pesan nenek.
Ya dia harus menemukan sandaran yang bisa diandalkan, Anggrek tahu tidak sepenuhnya bisa bergantung pada mereka.
Dia juga tahu sama seperti dirinya. Pasangannya tak akan sempurna seutuhnya, Tidak ada manusia yang sempurna.
*********
Aku keluar dari ruangan Bian dengan perasaan campur aduk, Samar-samar dari luar gedung terdengar suara familiar dua orang. Kaki ku melangkah bergegas keluar dari pintu samping. Benar di sebelah pintu ada Danar dan Dewo sedang berbincang.
"Dewo, Ayo kita pulang!"
Kali ini sudah teramat malas menjaga image di depan Danar. Jangan sampai dia berpikir aku tidak bisa marah. Rasanya ingin sekali menyumpahi kakak Bian satu ini, Dia dengan santainya bersikap pura-pura budek asyik memainkan handphone ditangannya
"Sabar kak, Entar cepat tua lho," aku menarik tangan Dewo. Kalau tidak memikirkan Kenzo yang sudah menunggu. Segala petuah sudah mampir di telinganya. Bisa-bisanya dia bekerjasama dengan Danar dan Bian.
"Seharusnya kamu kasih tahu kalau ada Bian,"
"Sudah di pesan sama kak Bian jangan kasih tahu kakak, Kejutan katanya,"
"Kamu lebih patuh dengan orang lain? kebangetan kamu, Dewo,"
"Dia bukan orang lain tapi calon kak ipar,"
"Jangan konyol, Dewo!"
"Kak Bian yang mengatakannya,"
"Dewo! jangan katakan itu lagi ya. Apalagi depan Kenzo,"
"Kenapa dengan Kenzo? dia kan hanya teman kak Anggrek,"
Aku menghela napas lupa kalau menyembunyikan hubungan ku dengan Kenzo. Memang tidak adil ketika Kenzo memperkenalkan ku dengan keluarganya. Justru aku sebaliknya, Dua kali kandas dengan pria. Membuat ku tak mau membuat papa dan mama kecewa.
Lebih baik aku menunggu kepastian lamaran dari keluarga Kenzo setelah pengobatan papanya selesai.
"Pokoknya kamu jangan bilang apapun! Nah, Itu kak Ken" aku menunjuk Kenzo yang masih berdiri di pinggir daun pintu. Dia tersenyum melihat kearah kami.
"Maaf menunggu lama ya, Ken."
Aku bisa melihat lirikan mata malas Dewo mendengar suara ku melembut saat bicara dengan Kenzo. Sebelumnya aku bicara dengan nada sedikit keras dengan Dewo karena ulahnya tadi membuat ku mati kutu di depan Bian.
"Iya.. Tidak apa-apa, Sayang," Dewo tampak terkejut mendengar panggilan Kenzo kepada ku. Terlebih ketika Kenzo hendak melangkah masuk ke kafe. Aku menahannya tangannya.
"Kita pulang yuk, Ken,"
__ADS_1
"Kalian sudah makan?"
"Iya, sudah. Kamu belum ya sayang?"
"Belum, Anggrek,"
"Kita cari makan di tempat lain yuk,"
"Kenapa bukan disini? aku sekalian mau ngopi juga." Kenzo bertanya heran.
Suara hati ku berbisik "Aku takut kopi mu nanti mengandung sianida, Ken"
"Dewo sudah merengek minta pulang, Ya kan Dewo? kamu naik mobil kakak saja, Dew. Sudah punya SIM kan? mama juga bolehin kan bawa mobil,"
"Iya, Kak Anggrek,"
Aku tidak mau berlama-lama di pintu masuk karena Bian mengawasi dari CCTV yang terhubung dengan tabletnya. Aku memberikan kunci mobil kepada Dewo yang diterima dengan riang. Dia memang baru diperbolehkan mengendarai mobil.
"Permisi kak Anggrek dan kak Ken. Aku pamit dulu ya,"
"Hati-hati, Dik."
Aku melihat Kenzo memperhatikan dengan seksama Dewo. Dia tampak heran melihat sandal jepit di kaki Dewo.
"Aku boleh nebeng kamu kan, Ken?"
"Tentu saja, Sayang. Apalagi kamu hari ini menggunakan celana panjang."
Awalnya aku cukup heran mendengar jawaban Kenzo tetapi ketika tiba diparkiran. Kenzo menuju motor sport 1.500c. Aduh...
"Rumah ku satu lagi tidak jauh dari sini, Sayang. Nanti kita mampir ambil helm ya untuk mu. Lewat jalan kecil saja. Kamu pakai helm aku dulu ya, "
"Iya, Sayang."
Ken merapikan poni ku, Menyampirkan rambut dibelakang telinga kanan dan kiri, Mengangkat dagu ku, Memasang helm dengan hati-hati, Merapikan kaca helm, Memperbaiki posisi krah kemeja, Mengibaskan lengan baju kanan dan kiri lalu dia memandang ku sambil tersenyum.
Aku bergumam dalam hati "Mungkin karena motornya beda kasta, Cara menggunakan helmnya pun berbeda"
...__________-------__________...
Kami melewati jalan pintas karena Kenzo tidak menggunakan helm. Motor Kenzo bergerak lincah, Ini kali pertama aku berboncengan menggunakan motor sport. Kenzo melaju dengan kecepatan tinggi ketika arus lalu lintas sepi, Memaksa tangan ku mendekap erat Kenzo.
Perlahan kecepatan motor berkurang memasuki rumah yang mengingatkan pada rumah Natasha. Rumah tipe rustic industrial, Aku memilih menunggu di halaman.
Dua orang asisten rumah tangga Kenzo menyapa hormat. Halaman rumah Kenzo sangat tertata, Pohon pinang dengan ukuran persis sama berjajar rapi di pinggir pagar.
Pot tanaman berbaris teratur di sudut halaman, Semua dalam satu jenis tanaman. Kembali sisi Kenzo tercermin dalam halaman rumahnya. Rapi dan sempurna.
Kenzo keluar membawa dua helm, Aku mengernyitkan kening. Ditangan ku ada helm Kenzo yang aku pinjam. Buat apa dia membawa dua lagi.
"Sayang, Kita coba helm satu ini. Ukurannya pas tidak, Maaf ya helm ku tadi kebesaran. Rambut mu jadi berantakan,"
"Iya tidak apa-apa, Ken," aku baru memasangnya ketika Ken mengambil alih helmnya.
"Sini aku bantu ya" kembali dia melakukan seperti saat di parkiran kafe Black and White.
Mencoba helm pertama lalu helm kedua. Dia memandangi ku kemudian menggeleng tidak puas. Selanjutnya Kenzo kembali memasangkan helm pertama. Sekarang dia tersenyum puas.
"Nah yang ini pas buat mu, Kamu cantik menggunakannya. Ambil untuk mu saja ya sayang. Nanti kalau kita jalan naik motor, Kamu menggunakan helm ini saja"
Aku melihat pantulan diri di jendela kaca Kenzo. Penampilan ku saat ini mengingatkan pada serial 'Power Rangers'. Dimana kita bahkan tidak tahu pemeran di balik helm, Mereka perempuan atau laki-laki. Apalagi untuk melihat cantik atau ganteng.
...__________------________...
Kami berhenti di warung makan tradisional, Ken memang belum makan tadi. Sebenarnya aku juga, Ketika dia menawarkan tentu saja aku mengiyakan.
"Sayang, nanti kapan-kapan ikut aku touring ya bersama club ku,"
"Boleh Ken, Biasanya ramai-ramai ya?"
__ADS_1
"Iya kita bisa memperluas pertemanan. Penting untuk kelancaran usaha dengan memperbanyak relasi"
"Kamu benar, Ken."
"Anggrek itu rumah pribadi ku yang kedua tetapi jarang ditempati,"
"Kenapa?"
"Aku membelinya diluar rencana, Anggrek. Aku tertarik membeli untuk masa depan. Lokasinya strategis dan banyak fasilitas yang menunjang untuk pasangan muda. Mungkin nanti setelah menikah kita bisa menempati rumah ini saja,"
"Fasilitas apa, Ken?"
"Dekat dengan day care, Yayasan penyalur art, Pasar modern, sekolah juga rumah sakit dan taman bermain. Jadi nanti kita mudah untuk mengontrol anak-anak selagi kita bekerja,"
"Wah, Sayang. Mendukung sekali ya" aku merespon basa-basi bahkan ketika membeli rumah ku dulu. Prioritas ku dekat dengan tempat usaha. Tidak terbersit sedikit pun tentang day care atau yayasan art.
"Usahamu sedang berkembang dengan baik. Rencana nanti kita akan menunda anak atau langsung saja ya?"
"Baiknya kita bicara hal ini ketika keluarga mu sudah resmi melamar ya, Ken. Sebaiknya persiapan menuju acara saja,"
"Oh kamu belum pernah ada gambaran, Bagaimana menjalankan rumah tangga?"
"Ada tapi tidak detail, Ken," aku menuangkan kuah sop ke nasi.
"Dekatkan mangkok mu ke piring, Sayang. Sehingga tidak tercecer kuahnya,"
"Baik, Ken,"
"Anggrek nanti ke kantor notaris ya membahas perjanjian pra nikah,"
"Notaris mana yang biasa mengurus perjanjian ini Ken? Natasha dan suaminya menggunakan juga,"
"Aku ada notaris yang biasa berhubungan mengurus semua dokumen usaha ku,"
"Oh iya, Aku ikut saja,"
"Anggrek, Papa ku sudah semakin membaik. Jika fisik kembali kuat nanti akan kembali ke sini secepatnya,"
"Syukurlah, Dokter Melinda juga masih menemani papa mu?"
"Panggil tante saja, Jangan dokter Melinda lagi. Beliau mama ku dan kamu kekasih ku sekarang bukan pasiennya,"
"Maaf Ken belum terbiasa,"
"Iya tidak apa-apa. Aku sudah mengabarkan ke mama telah melamar mu. Mama senang akhirnya aku sudah memiliki calon istri,"
"Mama mu berkata apa?"
"Dia memberi ucapan selamat pada ku, Mama sudah berapa kali mengenalkan aku pada beberapa putri temannya. Hanya saja aku tidak memiliki chemistry dengan mereka,"
"Iya, sayang,"
"Anggrek, Kuku mu sedikit kusam nanti menicure dan pedicure di salon langganan Raisa saja, Bagus pelayanannya,"
"Iya, Ken."
Trrttttttt... Trrtttttt
Aku segera mengambil handphone, Setidaknya memberi jeda untuk Kenzo berhenti bicara. Ada notifikasi pesan hijau dari Dewo.
"Anggrek, Kenapa nomor handphone ku masih diblokir. Sosial media ku juga, kamu dimana? *i**ni Bian, Aku pinjam handphone Dewo tadi aku menahannya pulang, Kami masih di kafe*"
Aku menghela napas kuat-kuat, Aku menyadari diri ini memang tidak sempurna begitu pula calon pasangan ku. Hanya saja kali ini aku membutuhkan lebih dari sekedar kopi tapi obat pereda sakit kepala.
Aku belum tahu menentukan dengan siapa berlabuh tapi sekali lagi, Mereka benar- benar membuat kepala ku migrain hari ini.
******
__ADS_1