
...Terkadang aku ingin...
...semua orang sependapat...
...dengan apa yang ku pikir dan inginkan...
...Hanya saja aku harus menyadari...
...setiap kepala memiliki pendapat...
...dan keinginan sendiri...
Jika semua memiliki pemikiran dan keinginan yang sama, Maka dunia tidak memiliki warna-warni kehidupan.
Caption Anggrek untuk hari ini.
********
Bian mengantarkan kami pulang ke rumah. Untung ada Mama jadi ekspresi kecut dan dingin tidak bisa dipertahankan lama. Bian pasti tahu, Hal itu tidak sopan dilakukan depan orangtua.
Dia berpamitan karena persiapan untuk pemotretan maternity Natasha dan Gege di studio Rian. Mama sudah masuk ke dalam rumah. Tinggal aku yang mengantarnya memasuki mobil.
"Aku pulang dulu ya sayang" ujar Bian.
"Iya hati-hati ya. Makasih ya sudah menemani," jawab ku sambil menatap wajah tampan di hadapan ku yang kembali kecut.
"Sama-sama kalau aku tidak menemani, Kalian sudah cosplay jadi orangtua" pungkas Bian, Dari nada bicaranya. Dia masih kesal karena ulah tante Santi kenalan keluarga Doni.
"Jangan gitu sayang, Namanya juga anak-anak. Jeno tadi meminta ku memangkunya, Mungkin dia senang melihat ku,"
"Sama aku juga senang lihat kamu apalagi saat kesal kayak kemarin," jawab Bian.
"Huhhh, Aku memanyunkan bibir teringat kembali kejadian malam tadi.
"Dah sayang,"
Dia mengelus kepala ku lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu. Ah, Aku merasakan desiran sampai ke hati. Sulit untuk memalingkan diri dari pesona Bian. Aku masuk kedalam rumah menjumpai mama di dapur.
Mama selalu telaten menata ruangan, Dapur kami selalu rapi..
Aku mendekat ke arah mama yang masih menata makanan dari rumah Doni. Aroma makanan membuat perut lapar kembali. Sebelum ke Miepa dan butik, Aku mengambil piring mau makan lagi.
__ADS_1
"Ma ada yang mau Anggrek sampaikan" Aku ingin menceritakan sebagian besar dulu cerita tentang keluarga Bian kepada mama.
"Iya tentang apa" Mama duduk di dekat ku sambil memakan kue.
"Perumahan Bukit Asri Hijau itu milik keluarga Bian," ucap ku yang berhasil membuat mama menghentikan aktivitas mengunyah kue.
"Hah yang benar nanti kamu dibohongi. Itu perumahan termasuk elit di daerah kita"
"Ih mama benaran tapi di kelola oleh Kakak pertama Bian jadi memang bukan Bian yang pegang tapi kakaknya namanya Danar,"
"Oh bearti nasib Bian dan kakaknya beda ya. Si Danar lebih sukses dari Bian. Memang dua bersaudara bisa berbeda nasibnya,"
Aku menganggukkan kepala dalam pandangan mama usaha ini milik pribadi Danar tapi ketika mama melanjutkan kalimat berikutnya aku nyaris pingsan.
"Eh Anggrek kenapa kamu tidak sama Danar saja. Dia lebih sukses lho,"
Aduh ternyata mama mempunyai penilaian sendiri. Sebuah penilaian yang membuat ku menepuk jidat.
"Ah, Mama jangan menilai dari hartanya saja," sela ku.
Seandai mama tahu bagaimana mulut si Danar. Judesnya level maksimal. Bisa cocok jadi partner tante Sri dan tante Rina.
"Namanya juga orangtua mau yang terbaik buat anaknya" Mama berkata santai sambil menyeringai lebar. Membayangkan Danar saja membuat nafsu makan ku mendadak hilang.
"Iya kah, Syukurlah kalau begitu,"
"Tapi ma, Papanya Bian hmmm.. Dia tidak menyetujui hubungan kami,"
"Kenapa?" Wajah mama tampak berubah kentara sekali dia tidak menyukai apa yang ku sampaikan.
"Papa Bian sudah mempunyai pilihan sendiri untuk istri Bian," kata ku perlahan khawatir mama semakin tidak menyukai hal ini. Nantinya aku takut mama akan melarang berhubungan dengan Bian.
"Jadi kalian masih menunggu restu dari papa Bian?"
"Iya Ma, betul,"
"Kamu harus pikirkan kembali karena mama melihat di TV ada artis yang sampai lima tahun terkendala restu. Ada juga yang mamanya marah karena anak gadisnya menikah dengan artis yang tidak dia sukai, Restu itu penting bisa menjadi penghalang besar, kalau ijin itu belum keluar,"
Kebiasaan mama saat memasak, Sambil mendengarkan acara yang membahas kehidupan pesohor negeri ini. Membuat mama hapal dengan kehidupan para public figure.
"Ma, Bian juga masih mengusahakan untuk mendapatkan restu dari papanya,"
__ADS_1
"Sampai kapan? waktu terus berjalan jangan sampai kamu menghabiskan dengan orang yang salah lagi,"
Kalimat mama pasti merujuk lima tahun bersama Adiwarna yang kandas begitu saja.
"Iya, Ma do'akan Anggrek ya biar hubungan kami berjalan lancar. Kalau menurut pendapat mama. Bagaimana andai kata Anggrek menikah tanpa restu papa Bian?" tanya ku memancing reaksi mama.
"Mama tidak mau Anggrek berarti Bian bukan jodohmu, Lebih baik kamu sama Doni saja. Mama Doni tadi sudah menceritakan kalau Doni dulu pernah menyukai mu, dan sekarang sempat mendekati kamu tapi keburu Anggrek dengan Bian,"
"Ma, Hati Anggrek tidak bisa berpindah semudah itu. Berikan kesempatan kepada Bian dan Anggrek ya, ma?" mohon ku sambil memegang tangan mama.
"Andai papamu tahu pasti dia sependapat dengan mama," jawab mama sambil membawa nama papa disini.
"Ma, Percayakan dengan Anggrek ya,"
"Baiklah Anggrek tapi jika tidak ada perkembangan sebaiknya kamu harus tegas. Tinggalkan saja hubungan tanpa kejelasan. Kamu terlalu berharga untuk menanti satu orang saja,"
Suara mama terdengar tegas tentu saja hubungan ku yang kandas dengan Adiwarna, Menjadi pertimbangan mama mengatakan ini. Apalagi keluarga kami sempat menjadi gunjingan tetangga.
"Iya, Ma tapi Anggrek mohon mama tetap biasa saja dengan Bian ya, Karena ini kan diluar kuasanya dia. Bian pun pasti menginginkan hubungan yang lancar,"
"Baik, Mama bisa menempatkan diri untuk hal ini.
"Terimakasih, Ma atas pengertiannya. Anggrek pamitan dulu ya untuk kerja,"
"Iya hati-hati sayang"
Aku berlalu dari hadapan mama memacu mobil ku kembali di jalanan kota. Menembus keramaian pengendara lainnya di jalanan.
Aku tidak bisa memaksa mama agar sependapat dan menyetujui keinginan ku. Setiap orang berhak memiliki pemikiran dan pandangan sendiri, karena semua punya kuasa atas pikiran dan hati masing-masing.
Aku hanya bisa menghargai pendapat mama untuk sekarang. Semua orangtua pasti menginginkan kebahagiaan anaknya.
Orangtua ku telah memperjuangkan memberi kehidupan yang baik untuk kami anak-anaknya. Sudah sepantasnya mereka menginginkan anaknya juga mendapatkan pasangan yang memperlakukan sama.
Aku memahami pendapat mama, Bisa disimpulkan daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah... Sebaiknya tinggalkan saja.
Pengalaman lima tahun bersama Adiwarna yang berakhir kandas. Membuat mama mencoba membuka pikiran ku tentang pasangan.
Kami memang sedang menjalankan sesuatu yang belum pasti akhirnya. Saat ini yang kami lakukan mengikuti kata hati, Mencoba mencari jalan untuk masalah ini.
Hubungan ini memang tidak mudah tapi bukan bearti tidak bisa.
__ADS_1
Mobil kembali melaju di jalanan menemani aku kembali untuk merajut kehidupan hari ini.
******