
...Riak itu kembali hadir...
...dari ketenangan yang selalu hadir...
...tapi bukan kah itu kehidupan?...
...tidak ada yang abadi didalamnya...
******
Pagi kembali menyapa memberi kesempatan untuk semua pengisi bumi, Apakah terus bergelung dibawah kasur atau melawan rasa dingin untuk mandi.
Ya, Pagi ini hujan turun deras. Angin menggoyangkan pepohonan di trotoar depan rumah. Papa sudah pergi dari tadi setelah sarapan.
"Mungkin di daerah kantor cerah, Biasanya hujan tidak merata, Ayo Dewo!" alasan papa ketika mama meminta untuk menunda dulu berangkatnya.
"Sekolah Dewo banjir kayaknya, pa,"
"Lokasi sekolah mu tinggi, Dewo. Jangan banyak alasan," tegas papa sama adik bungsu ku yang tampak angot-angotan.
"Begitu lho suami kalau dikasih tahu, Nanti pulang kerja giliran masuk angin, Kita yang kerok! Kamu juga bisa merasakan, Nggrek. Kalau menikah terus Kenzo minta kerok," kata mama sambil mengelap daun tanamannya.
"Mama...." aku manyun, Mana mungkin tipikal Kenzo main kerok. Bisa-bisa stress dia melihat kulitnya ternoda. Bahkan kulit wajah Ken lebih mulus dari kulit ku.
Hujan mulai mereda ketika aku menuju butik. Hari ini aku harus memenuhi janji dengan Natasha untuk mengurus proyek kami yang tertunda.
"Nggrek, Teman ku merekomendasikan fashion desainer namanya Meidina, Biasa dipanggil Mei. latar belakang pendidikan juga fashion design, Dia sudah berpengalaman bekerja secara freelance di beberapa tempat," ucap Natasha dengan nada menggebu.
"Jadi kita memperkerjakan secara freelance juga? memangnya job desk dia apa sih nantinya?"
"Yup secara freelance saja, Jadi kerjasama untuk setiap produk. Kita lihat dulu respon pasar jika memang baik maka bisa di pertimbangkan untuk part time,"
"Oh, Oke. Namanya Meidina, Panggilan Mei ya!"
"Yup betul, Tugasnya menganalisa pasar mengenai trend fashion yang sedang diminati dan dibutuhkan para konsumen, Membuat rancangan pakaian yang akan di produksi sesuai dengan hasil riset dan analisa, dan juga merancang pakaian yang dapat menjadi tren,"
"Lha terus ngapain aku harus ke Jakarta buat ketemu bu Tari, Kenapa bukan Mei?"
"Ih kamu gemesin banget sih, Bu Tari maunya ketemu pemilik langsung butik. Bukan pegawainya, Tugas Mei kan merancang dan menganalisa. Jadi jumat ini kamu bisa pergi?" tanya Nat.
"Aku usahakan, Natasha,"
"Nggrek!"
"Iya... Bisa, Nanti aku atur jadwalnya. Kamu sudah hubungi bu Tari,"
"Sudah, Nggrek jadi nanti kamu tinggal komunikasikan mengenai harga, jenis dan berapa yang beliau berikan ke kita. Harusnya bisa melalui telpon tapi untuk kerjasama jangka panjang. Bu Tari meminta untuk bertemu dulu," jelas Natasha.
"Baik, Nat. Jumat aku ke Jakarta,"
Pikiran ku melayang pada Dion, Bisakah dia mengajak ku bertemu Arga Danurmaya. Idola dari jaman ABG, Wallpaper handphone ku seringkali foto Arga.
Bertahun lamanya aku dulu suka mengaku Arga sebagai kekasih, Aku bertekad harus memaksa Dion untuk ini.
"Anggrek, Aku juga sudah buatkan janji dengan desainer yang mendesain pakaian ku kemarin," ujar Natasha membuyarkan lamunan ku tentang Arga.
"Iya, Natasha... Siap laksanakan!"
__ADS_1
......___---___----____......
Hari ini aku berniat memberikan kejutan pada Kenzo, Biasanya dia yang selalu hadir ke tempat ku. Tadi aku menghubungi dia, Ken sedang di Sky Roof top.
Tanpa memberitahu Ken akan datang aku berniat mengunjunginya. Sekalian memberitahu keberangkatan ke Jakarta.
Aku membeli kemeja untuk Kenzo, Setidaknya aku harus menebus kejadian di grand opening. Sama sekali tak tahu hal apa yang membuat Ken kesal. Apalagi dia dan Bian menyalahkan ku. Entah apa salah ku pada mereka.
Kaki ku baru melangkah ke lantai rooftop ketika netra melihat Nindi dan Kenzo. Walau Ken membelakangi, Aku sudah hapal penampilan dirinya dari belakang. Nindi melihat kedatangan ku, Tampak dia sengaja menjulurkan tangan ke arah Ken.
"Hai," sapa ku menghampiri mereka.
"Sayang," Ken menatap ku terkejut, Dia menarik kursi disebelahnya. Aku duduk di samping, Ken.
"Aku menganggu kalian, ya?" sindir ku pada Nindi. Dia sungguh berani menantang dengan pandangan tajam.
"Tidak, Aku senang kamu datang," Ken membelai lembut rambut ku.
"Kalian sudah lama berhubungan, Ken?" ketus Nindi, Aku melihat ada 'Cahya' dalam dirinya.
"Iya, Maaf Nindi. Saat ini aku belum membutuhkan penawaran yang kamu ajukan," Ken menyodorkan brosur ke arah Nindi.
"Ken, Kamu harus tahu aku sekarang menyesal pada keputusan yang lalu. Sekarang aku sudah yakin, Kamu pilihan ku!" pungkas Nindi.
Dia mencoba meraih tangan Kenzo. Sebelah tangan Ken yang semula di meja. Diturunkan, Dia meraih tangan ku dan menggenggamnya.
"Maksudnya apa, Ken? penawaran apa," sengit ku.
"Nindi, Aku sudah katakan. Anggrek adalah kekasih ku, Kamu sudah menolak dan tidak ada lagi kesempatan untuk itu," ucap Ken terdengar malas dan lelah.
"Sudah Nindi, Berhenti. Aku katakan berhenti!! Anggrek kita didalam saja," Kenzo menarik ku. Pandangan mata Nindi membulat seakan hendak menerkam ku.
Kami sudah di ruangan belakang Sky rooftop. Space tersisa 2x1 meter dengan rumput sintetis dan satu kursi kayu lesehan, meja bundar dan tanaman palem.
Sepertinya ruangan ini khusus buat Kenzo, Terasa sejuk tapi tersembunyi oleh dinding di sebelahnya.
"Siapa dia, Ken?" lembut aku bertanya.
"Nindi,"
"Iya aku tahu sudah mengenalnya pada launching yourtea? hubungan kalian apa Ken?"
"Sebelum dengan mu, Aku pernah mendekati Nindi. Dia bekerja sebagai manager pemasaran apartemen 'Diamond Hill'. Awalnya aku tertarik membeli satu unit, Teman ku memberikan nomor Nindi,"
"Dan kamu tertarik pada Nindi?" tebak ku, Ken menoleh ke arah ku.
"Kamu cemburu?"
"Eh...," bibir ku terasa kelu. Apakah aku cemburu dengan Kenzo?
"Begitu lah perasaan ku pada Bian. Tidak menyenangkan, Sekarang kamu bisa bukan merasakannya!"
Aku menelan saliva, Kedua kali Kenzo membalas perlakuan ku. Tanpa sadar ternyata dia memperhitungkan apa yang ku lakukan.
"Kamu tak perlu khawatir. Nindi hanya kisah lama, Nindi menolak dan menerima teman ku, Ketika mereka putus. Nindi berusaha mendekati aku kembali. Dengan dalih menawarkan unit apartemen, Dia menemui ku tapi setiap datang, Bukan penawaran yang dibicarakan tapi sebuah hubungan. Aku sudah tidak tertarik lagi,"
"Gatel banget," sungut ku, Rasanya cukup heran dengan wanita seperti Nindi dan Cahya. Mereka sama sekali tidak mengenal apa rasa malu.
__ADS_1
"Tumben kamu datang,"
"Iya, Aku minta maaf kejadian di grand opening kemarin. Ada apa Ken? oh iya ini aku belikan untukmu," aku menyodorkan paper bag di tangan yang diterima Ken dengan seulas senyuman
"Makasih sayang, Tidak apa-apa!" tandas Ken, Tampaknya dia masih enggan membahasnya.
"Baiklah, Ken. Tak usah di bahas. Ken, Lusa nanti aku akan ke Jakarta untuk ketemu supplier kain kami. Rencananya aku dan Natasha akan mengeluarkan pakaian dengan desain butik kami sendiri, Untuk sekarang kami sudah memperkerjakan fashion desainer...."
"Anggrek! kamu sudah berjanji!"
"Berjanji apa, Ken?"
"Kamu berjanji akan mengurangi pekerjaan mu tapi sekarang justru kamu menambahkannya, Batalkan Nggrek!"
"Ken, Maaf ini project lama aku dan Natasha. Tidak mungkin dibatalkan, Bahkan lebih lama dari restoran Miepa,"
"Nggrek, Kamu masih belum bisa membagi waktu,"
"Ken, Ini tidak seperti pembukaan Miepa dan perubahan ke PT. Hanya bertemu supplier kain, Melakukan kerjasama, Kemudian pulang. Selanjutnya tugas fashion desainer kami,"
"Dan setelah produk jadi, Kamu akan sibuk memasarkan dan melakukan promo. Butik mu masih belum memiliki nama, pasti target kalian dan Natasha mencari 'nama' dan membesarkannya,"
"Ken, Aku bekerja sama dengan Natasha. Tidak akan memakan waktu seperti restoran Miepa. Tugas kami berdua,"
"Tidak, Kamu harus membatalkannya karena kamu sudah berjanji?"
"Ken tidak mungkin, Tolong di mengerti Ken, Aku....!"
"Tidak Anggrek! kamu calon istri ku. Setelah ini kamu pasti sibuk mengurusi project ini bersama Natasha, "
Ken menghela napas kesal, "Masa kecil ku dihabiskan dengan melihat orangtua sibuk bekerja. Sepanjang itulah 'dibesarkan' oleh kakek, nenek dan pengasuh. Aku tidak ingin itu terjadi dalam rumah tangga ku,"
Rumah tangga ku? kenapa rumah tangga ku bukan rumah tangga kita?
"Ken bukan kah setelah mama mu menyelesaikan pendidikan dan membuka klinik. Beliau sudah dekat dengan mu?"
Aku teringat cerita tante melinda awal masa kecil Ken, Tante Melinda dan papa Ken baru memulai karier mereka. Saat itu mereka terlalu fokus, Tante Melinda mengakui kesalahan di awal masa kecil Ken. Menjelang remaja beliau dan papa Ken memperbaikinya.
"tapi masa kecil ku tidak bisa kembali, Nggrek. Mama sering marah dan menuntut banyak hal. Beban kerja dan pendidikan membuat mama melakukan itu, Aku tidak menyalahkan orangtua ku dan sudah berdamai dengan semuanya. Hanya ini menjadi pembelajaran untuk mencari seorang istri," jelas Ken dengan mata lurus menatap ke langit.
Di sisi lain tanpa sadar hukuman ketika Ken tidak berhasil sesuai keinginannya, Menciptakan rasa takut Ken pada dirinya.
Aku tersadar pada cerita tante Melinda. Ya apakah ini yang mendasari Ken. Dia tidak ingin anaknya merasakan apa yang dirasakan, Tangan ku mengelus lengan Ken, Mencoba menenangkannya. Dia menoleh lalu menarik ku dalam dekapannya.
"Jadi kamu paham kan, Nggrek. Batalkan ya sayang project kalian atau kamu mundur saja dari butik, Aku bisa menggantikan biaya yang sudah dikeluarkan,"
Aku melepaskan diri dari Ken, "Kenzo, Aku bukan tante Melinda. Aku adalah diriku sendiri, Apa yang dilakukan mama mu akan menjadi pelajaran bagi kita tapi percayalah. Ketika kita berumah tangga dan setelah mengenal ritme pasti bisa mengaturnya tapi maaf aku sudah lama berjanji dengan Natasha mengenai project kami ini, Aku tidak bisa membatalkannya,"
"Kamu keras kepala, Nggrek!" Kenzo tiba-tiba berdiri dan meninggalkan ku.
Aku melakukan hal yang sama, Apakah kami dua orang yang saling keras kepala?
*******
Sabtu pagi..
selamat kerja bagi yang hari ini masuk kerja dan selamat libur bagi yang libur 🤗😘
__ADS_1