Viral

Viral
38. Hati Yang Terpaut


__ADS_3

Hati ku begitu ramai tapi mulut ku tak mampu mengeluarkan aksara untuk mu


Hanya pandangan kita yang saling bertemu membicarakan apa yang ada di dalam hati


Kita tahu apa yang kita rasakan sama. Untuk malam ini cukuplah pancaran mata kita yang 'berbicara''


******


Kami masih dalam perjalanan menuju rumah. Perjalanan yang kami tempuh sebenarnya tidak sejauh ini tapi Bian memilih mencari rute yang lebih jauh untuk pulang ke rumah ku.


Aku tahu pertemuan malam ini terlalu singkat untuk hati yang baru bertaut. Kami masih ingin merasakan kebersamaan yang baru direngkuh.


Esok kami akan berpisah untuk sementara waktu. Jantung ku berdegup sangat ramai sesekali aku menoleh ke arah pasangan jiwa ku yang baru. Dia pun melakukan hal yang sama.


"Bian, Bolehkah aku menanyakan sesuatu." Akhirnya aku membuka pembicaraan setelah di restoran, Bian mendominasi pembicaraan.


"Iya, Kamu boleh menanyakan apapun Anggrek. Aku pernah mengatakan padamu. Jika kamu menjauh maka kamu tak akan pernah mengenal ku padahal aku akan menceritakan apa yang ingin kamu ketahui."


"Aku ingin mengetahui sejak kapan kamu menyukai ku?" Aku melihat dalam remang cahaya di jalanan. Bian mengulum senyumnya, Apakah dia kelihatan malu.


"Dari pertama kali kita bersua ketika foto prewedding Natasha dan Gege di pantai. Entah kenapa aku suka melihatmu."


"Kamu mengabaikan ku pada saat itu. Justru berapa kali mengusir ku pada saat kamu mengambil foto Natasha." Aku protes pada Bian karena merasa dia tidak memperdulikan ku pada saat itu.


"Aku hanya ingin menyapa kamu hanya aku tidak terbiasa berbicara dengan orang yang baru di kenal jadi aku pura-pura mengusirmu."


"Ah, Bohong kamu tidak perduli pada saat itu."


"Buka galeri di handphone ku maka kamu akan tahu bahwa aku tidak berbohong, Sayang." Bian meraih handphone di dashboard mobil. Wajah ku memerah ketika dia menyebutku sayang. Rasanya aku ingin mendengar sekali lagi dia menyebut kata itu.


"Perhatikan jalanan, Bian." Aku tidak ingin Bian kehilangan fokus menyetir.


"Baiklah.. Buka galerinya ya, Sayang." Dia menekan kata itu lagi sambil memberi handphonenya. Aku tahu dia menginginkan aku memanggil dirinya dengan panggilan yang sama. Aku masih belum terbiasa saat ini.


Jari ku membuka galeri di handphone Bian. Seketika wajah ku memanas karena malu. Ada foto ku di Bukit Asri, Warung bubur pengkolan, Di alun-alun kota, Paling akhir foto ku dipantai saat prewedding dan pernikahan Natasha dan Gege.


"Bian kamu mengambil foto ku tanpa izin." Aku memekik gemas.

__ADS_1


"Kamu yakin akan mengizinkan ketika aku mengambil fotomu. Kamu hanya mengizinkan aku mengambil fotomu saat menggunakan jasa ku tentunya?" Dia tergelak dan aku begitu terpesona untuk pertama kalinya ketika kami sedang berdua. Dia tertawa begitu lepas.


"Jangan-jangan kamu pura-pura menawarkan jasa fotomu saat pulang dari rumah Natasha."


"Aku tidak menawarkan saat itu tapi ingat kamu yang menduga bahwa aku menawarkan jasa fotoku. Bagiku itu kesempatan berharga apalagi sejak itu aku mulai mengenal Dewo dan bisa mendekati untuk mencari informasi tentangmu."


"Kamu sengaja mendekati Dewo rupanya. Bian, Aku malu dengan foto- foto digalerimu. Hapus ya?." Foto-foto itu menampakan perubahan penampilan ku secara signifikan. Aku bisa merasakan perbedaan dari awal foto prewedding Natasha dan Gege sampai foto terakhir.


"Jangaan!! Aku follower mu lho, Sayang. Aku fans mu sejak itu, Ada rasa penasaran yang membuat ku ingin mencari tahu pancaran kesedihan dimatamu saat pertama melihat mu."


Bian memalingkan wajah kearah ku sebentar lalu tersenyum lembut ke arah ku.


"Aku mengagumimu ketika sama sekali tidak ada dendam atau kata-kata kasar kepada mereka yang menyakitimu. Kamu menyibukkan diri mengerjakan banyak hal positif. Kamu menginspirasi ku, Anggrek ku sayang."


"Terimakasih, Bian." Aku berkata tulus, Begitu kah penilaian dia pada ku. Saat aku sibuk memikirkan penampilan fisik ketika Bian mendekatiku. Bergulat sendiri dengan perkataan Danar dan Diandra. Dia justru menilai apa yang ku lakukan dalam mengisi kehidupan ini bukan pada penampilan fisik semata.


Aku kembali teringat pada pembicaraan dengan Natasha lalu. Ternyata dia lebih pandai menilai Bian daripada diriku.


"Anggrek"


"Apa, Bian?"


"Kamu tidak seperti biasa, Bian. Biasanya kamu dingin seperti es." Aku tidak bisa menutupi keheranan. Selain aku baru mengetahui ternyata dia bisa berbicara panjang lebar, Dia pun bisa merajuk.


"Karena aku kekasih mu, Anggrek sayang. Jangan panggil aku, Bian." Aku tersadar ternyata dari tadi dia memberi kode pada panggilan yang ku sematkan.


"Maaf sayang ini baru hitungan jam. Aku belum terbiasa." Aku nyengir mencoba mengambil hati. Bian menepuk lembut punggung tangan ku.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kita sudah sampai dirumah mu."


Mobil Bian memasuki halaman rumah ku. Mataku menangkap ada dua bayangan di jendela ruang tamu tapi perhatian ku segera teralihkan ketika Bian membuka pintu mobil dan menggamit ku keluar.


Aku mengucapkan salam dan membuka pintu rumah perlahan. Ada jawaban salam ku dan suara gerakan langkah kaki terburu-buru yang tertangkap ditelinga. Ada mama dan Dewo di ruang serbaguna.


"Eh, Anggrek dan Bian baru pulang. Mama sedang membaca majalah".


Aku menjulurkan leher melihat Mama memegang majalah terbalik. Dewo pura-pura sibuk di depan laptop yang baru saja dinyalakan. Betapa payah akting mama dan adikku yang jelas mengintip kedatangan kami di jendela tadi.

__ADS_1


Pupus sudah harapan kami berbincang di ruang tamu dengan kehadiran Mama dan Dewo. Tidak lama berselang. Papa muncul dari pintu teras tampaknya beliau baru pulang dari toko kentara dari bungkusan plastik ditangannya.


"Mobilmu ya, Nak. Wah bagus seperti mobil waktu om muda."


Sampai Bian pulang semua anggota keluargaku menguasai kehadirannya. Aku harus bersabar masih ada hari besok untuk berbincang dengan belahan jiwa ku yang baru.


***


Aku baru saja memasuki kamar ketika Mama dan Dewo mengerumuniku seperti wartawan mencari berita pada narasumber.


"Bagaimana Anggrek? Dia kah yang kamu pilih?"


"Kak Anggrek jadian sama Kak Bian? Beneran?"


"Iya Mama dan Dewo." Wajah ku memerah dan ingin memasuki kamar segera. Mama mengikuti ku ke kamar. Dewo memilih kembali ke kamarnya dia sendiri.


"Anggrek, Mama ikut senang atas pilihan mu. Baik Bian atau Doni mereka pria yang baik. Jalani dengan Bian sebaik mungkin. Mama akan mendoakan semua yang baik untukmu."


"Terima kasih, Mama."


Mama keluar dari kamar ku. Meninggalkan aku sendirian dalam kamar pink. Ku raih bantal boneka pisang dan menjadikan sandaran. Tangan ku mengetik pesan di gawai.


"Kabarin kalau sudah tiba ya, Sayang"


"Ya, Sayangku. Besok ada waktu ketemu di bandara? Pesawat ku sore pukul 16:15"


"Bisa kabarin saja ya kalau sudah di bandara."


"Terimakasih sayang."


"Sudah, Kamu fokus nyetir lagi."


"Siap sayang. Selamat tidur dan mimpi indah."


"Makasih ya, Bian sayang."


Aku tersenyum bahagia meletakkan gawai di nakas. Bergegas mencuci wajah dan berganti pakaian tidur. Satu hari ini telah terlewati. Ada pertautan hati yang akan menyatukan kami merubah lembaran hari esok dalam melakukan perjalanan hidup.

__ADS_1


*******


Author juga mau ikutan tidur ah. Biar mimpi indah juga 😌😌


__ADS_2