Viral

Viral
22. Pertemuan Bertiga


__ADS_3

Jagalah apa yang kamu miliki, nikmatin dan selalu bersyukur. Apa yang kau miliki dan terasa biasa saat ini justru merupakan hal berharga yang sedang diperjuangkan oleh orang lain.


Tentang oksigen yang kita hirup dengan mudah. Bukankah di sudut tempat di rumah sakit. Ada yang membutuhkan alat bantu untuk bernapas.


Ya itulah nikmat kesehatan terkadang kita abaikan baru terasa ketika rasa sakit menghampiri***.


Pelajaran yang didapat Anggrek hari ini


**********


Aku telah selesai mandi dan langsung berpakaian di dalam kamar mandi. Natasha masih menunggu dikamar. Dia duduk di tepi ranjang sambil memainkan rambut kecoklatan miliknya. Dia memiliki paras cantik seperti Cahya.


"Kamu masih pucat,Nggrek. Lebih baik kalau bibirmu diolesi lipstik". Natasha tidak menggunakan panggilan bebs lagi hari ini. Aku meraih lipstik asal di meja rias.


"Itu warna merah menyala. Astaga kamu pikir mau kemana. Gunakan saja warna peach lebih cocok di kulit mu saat ini". Natasha mengoleskan ke bibir Ku.


"Jangan kelamaan Nat. Aku gak enak sama kalian yang berkunjung".


"Tidak terlalu lama kok, Nggrek. Aku kesal sama kamu sebagai influencer yang selalu mengedukasi tentang hidup sehat. Sahabat sendiri malah menjalankan diet ekstrim". Natasha memandang Ku dengan ekspresi greget.


"Nanti aku ceritakan,yuk kita keluar dulu sekarang". Aku menarik pergelangan Nat sebelum dia menceramahi Ku lagi.


Aku melihat Doni, Gege, Dewo, Mama bercengkrama di ruang tamu itu berarti Bian masih di teras. Aku menyapa Doni dan Gege lalu meminta izin sebenar untuk ke teras rumah menjumpai Bian.


"Bian, kenapa tidak masuk ke dalam?". Aku duduk di kursi teras sebelah Bian. Kami dipisahkan satu meja kecil dengan pot sukulen tertata di atasnya.


"Kenapa kamu sakit?". Bian mengabaikan pertanyaan Ku.


"Drop aja sih. Butuh istirahat". Aku malu menjawab karena diet satu minggu ini.


"Butuh istirahat atau butuh makan?". Mama pasti sudah menceritakan sebelumnya terkadang Mama memang keceplosan dalam bicara.

__ADS_1


"Dua-duanya". Aku tidak bisa mengelak lebih baik menjawab jujur saja.


"Anggrek". Bian memanggil pelan.


"Iya".


"Yang didalam itu pacarmu?". Aku menajamkan pendengaran Ku. Suara Bian terlalu pelan seperti saat Aku dan Nadia sedang berghibah.


"Bukan itu teman Ku". Apalagi ini kenapa Bian menanyakan hal ini.


" Tadi Aku dengar Mama mu berkata kalau Doni itu menantu yang tidak jadi. Dia mengatakan pada Gege". Aku menelan saliva untuk kedua kalinya pada malam ini Mama keceplosan.


Aku menggeleng bukan Doni orangnya tapi orang lain. Hati Ku mengatakan pelan tentang sosok yang menghancurkan kisah cinta Ku.


"Dia teman SMP Ku dulu, Mama hanya bercanda saja karena dari SMP Kami berteman lama. Menantu Mama yang tidak jadi itu bukan dia tapi Adiwarna, Aku berkata dalam hati. Mata Ku menerawang jauh membayangkan sosok cowok manis yang sekarang menjadi milik Cahya.


" Baguslah". Bian menjawab singkat


"Maksudmu?". Aku menoleh kearah Bian.


"Ini nanti dimakan ya Anggrek". Aku tergagap melihat semua yang dibawa Bian adalah makanan. Demi turun dua kilogram Aku harus menempuh sakit seperti ini. Bisa- bisanya dia menyuruh Ku memakan semua yang dibawanya. Perjuangan Ku bisa sia-sia karena ulah Bian.


"Kamu tidak harus memakan habis malam ini, Anggrek". Bian tersenyum tipis ada raut kecewa di wajahnya. Aku lupa belum menerima bungkusan dan paper bag dari tangannya.


"Aduh jadi merepotkan gini. Banyak banget Bian, makasih ya". Segera Ku raih semua bungkusan dari tangan Bian.


"Balasan kamu mentraktir di seafood kemarin".


"Aku tidak berharap balasannya". Aku tertawa kecil mendengar alasan Bian.


"Iya, Anggrek Aku mau pulang dulu ya. Gak enak ada tamu lain. Nanti kalau kamu tidak sibuk, Aku hubungi kamu ya. Ini Aku mau pamit dulu sama Mama kamu". Tanpa menunggu jawaban Ku, Bian masuk ke ruang tamu. Dari balik jendela Aku bisa melihat dia berbincang sebentar lalu memberi salam kemudian keluar menemui Ku di teras.

__ADS_1


"Aku permisi dulu ya,Nggrek kalau sudah baikan. Aku balas traktirannya di seafood kemarin". Aku memandang Bian dengan perasaan campur aduk. Ini maksud dia mengajak kencan atau apa. Detik kemudian Aku malu sendiri hanya di ajak makan saja pikiran sudah melayang kemana-mana.


Aku memasuki ruang tamu dan melihat tatapan semua orang ketika melihat bungkusan dan paper bag ditangan. Mama dan Natasha berinisiatif membantu membawa ke dalam. Dewo pun dengan sigap mengambil paper bag dari bakery favoritnya yang kebetulan dibawa oleh Bian.


"Whuiiih calon ipar Ku tahu saja yang Aku mau". Suara Dewo begitu lantang membuat Ku melotot sangar tanpa memperdulikan semua yang ada di ruangan. Darimana Dewo mendapat ide memanggil Bian dengan calon ipar, wong tadi orangnya ditinggal sendirian di teras sedangkan Dewo malah asyik nimbrung sama Mama dan Doni.


"Itu teman Ku, Dewo".


"Ya siapa tahu, Mama butuh menantu kan ". Dewo melenggang santai ke dalam membawa paper bag. Langkah Dewo diikuti Gege. Meninggalkan Aku dan Doni diruang tamu.


"Maaf menganggu ya Anggrek".


" Ya tidak Aku malah berterima kasih karena berkenan mengunjungi".


"Resmi amat, Aku baru pulang dari Bandung". Doni menyodorkan sebuah bungkusan.


" Terima kasih Doni, Aku jadi merepotkan ".


" Iya ada salam dari Mama. Dia masih teringat sama kamu, Nggrek".


"Oh ya? Wah Aku tersanjung tante masih mengingatkan Ku".


Kami berbincang tentang masa-masa sekolah dulu. Doni tidak menyinggung sama sekali tentang penyebab sakit Ku. Hal ini membuat nyaman sedangkan Nat dan Gege tidak bergabung bersama kami. Sepertinya mereka memberi ruang pada Aku dan Doni untuk berbincang atau malah menghabiskan makanan yang dibawa Bian. Entahlah.


Doni lalu berpamitan pada Aku dan Mama. Gege dan Natasha pun izin untuk pulang karena mereka melihat Ku masih membutuhkan istirahat.


Mama tidak banyak bertanya setelah kepulangan teman-teman Ku. Dia sibuk membereskan ruang tamu dan menata makanan yang dibawa Bian dan Doni.


Mama tidak bisa melihat sesuatu berantakan. Dia akan membereskan kembali dan menata dengan rapi. Andai saja menata hati Ku bisa dilakukan Mama mungkin keadaan hati Ku sudah tertata rapi kembali.


Aku menuju tempat tidur setelah menghabiskan makanan dengan diawasi Mama. Beliau tidak mau kecolongan lagi dengan diet kemarin. Jujur saja untuk saat ini Aku kapok menggunakan obat pelangsing yang tidak menggunakan BPOM, diet tidak sesuai dengan anjuran.

__ADS_1


Sakit itu tidak enak apalagi sakit yang disebabkan kesengajaan oleh diri sendiri. Aku harus memulihkan energi kembali. Banyak pekerjaan tertunda karena sakit ini. Aku juga belum melihat proses pembangunan rumah Ku, belum lagi Miepa dan Pentol yang menjadi kerjaan Mama. Ditambah butik yang akhirnya dipegang Natasha untuk sementara.


Sehat datanglah Aku merindukan mu. Aku berkata dalam hati dan membulatkan tekat untuk hidup sehat.


__ADS_2