Viral

Viral
67. Hari itu semakin dekat


__ADS_3

Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan,


memang ada maksud dan tujuan


apakah untuk ditakdirkan bersama


atau ada maksud lain


*****


Aku masih di sini, Di ruang tamu mencoba menghirup aroma menenangkan yang tertinggal. Bian telah pergi hampir satu jam lalu tapi aku masih enggan beranjak dari sofa.


Tubuh terasa lunglai, Entah karena lelah seharian mengikuti kursus online memasak atau sebuah bisikan yang mengguncang hatiku.


"Tanggal pertunangan ku sudah ditentukan."


Mengapa dia membisikkan kalimat tersebut ketika aku berada dalam pelukannya? Tangan ku meraba dada, Ada rasa sakit yang tertinggal.


Dia adalah calon tunangan seorang gadis yang menantinya saat ini. Sedangkan aku adalah kekasihnya yang dia cintai.


"Kenapa Tasya begitu ngotot harus memilih Bian sebagai suami? Dia memiliki segalanya tentu banyak yang mengantri menjadi suaminya."


Aku ingin bertanya tapi tertahan melihat kondisi Bian yang tak siap dengan rentetan pertanyaan.


Tiga bulan lagi waktu pertunangan Bian, Hampir satu bulan lagi sisa waktu sewa ruko Miepa dan tidak berapa lama Natasha akan memasuki masa hamil tua. Dia harus beristirahat jangan terlalu membebani dengan pekerjaan.


Rencana menjual makanan dalam kemasan, Mencari ruko baru, Menambah produk pakaian pria, Mengejar foto dan video untuk keperluan sosial media.


Semua berkumpul menjadi satu, Meminta untuk di prioritaskan. Aku memijit kening dan memejam mata tapi sekejap kemudian aktivitas itu ku hentikan, Aku teringat Bian yang usil ketika aku melakukan itu.


"Aaarrghh, Kepala terasa mau pecah."


Aku butuh penyegaran segera ku raih kunci mobil setelah sebelumnya berganti pakaian. Hanya hoodie, jeans dan masker hitam yang ku ambil sekenanya dari lemari.


****


Mobil ku melaju ke arah ke coffe shop 'Black and White'. Tempat yang merupakan favorit aku dan Adiwarna. Aku menyukai racikan seorang barista di sana. Sejak hubungan ku dan Adi kandas, Coffe shop ini merupakan salah satu tempat yang tak pernah ku kunjungi lagi.


Setiba di sana ternyata barista favorit ku sudah tidak bekerja lagi.Aku pun bergegas keluar dari coffe shop menuju ke kafe yang bersebelahan dengan Black and white. Dari yang ku dengar cafe dan coffe shop masih satu kepemilikan.


Selera menikmati secangkir kopi dari barista favorit berubah menjadi makanan ketika barista tersebut tidak bekerja di sana lagi. Sebuah perasaan mengingatkan ku kembali akan racikan mie ayam bang Ipul. Akankah jika dia tidak bekerja lagi di Miepa, Pelanggan kami pun akan pergi.


Aku memesan ferttucini carbonara, matcha tea, air mineral dan red velvet. Tak perduli kecocokan makanan yang ada. Aku hanya ingin menenangkan diri dengan makanan. Kebiasaan yang sudah lama tidak dilakukan lagi sejak aku menerapkan pola hidup sehat.


Tangan ku meraih tablet, Aku membutuhkan perangkat ini untuk mencatat berapa rencana ke depannya. Ada berapa plan yang harus di susun kembali. Setya seperti hantu, Bergerak tanpa terlihat wujudnya.


Aku hanya lawan kecil bagi dia, Tentu saja gengsinya terlalu tinggi untuk meladeni ku langsung. Di sisi lain, keberadaan ku tetap mengancam rencana yang dia susun. Dia tidak akan diam, Aku juga.


"Belum pulang, Sayang?"


Atensi ku teralihkan dari layar tablet, Bian menarik kursi di samping ku sambil tersenyum memamerkan lesung pipitnya.


"Kak Bian, Kamu mengikuti ku?"


"Iya, Aku tadi tetap berada di depan rumah mu. Entah kenapa aku enggan pulang dan melihat mobilmu pergi meninggalkan rumah,"

__ADS_1


"Kenapa tidak masuk ke rumah, Sayang?"


"Bukankah sudah di usir tadi, Kamu menyuruh ku pulang." Aku meringis malu karena baru menyadari ulah ku tadi.


Aku menatap Bian, Menelusuri setiap jengkal wajahnya. Menatap kedua matanya, Dia calon tunangan gadis lain, Mereka mungkin akan menikah setelah bertunangan. Suara hati ku berbisik perlahan.


"Atau kamu akan mengusir ku juga dari sini?"


"Tidak cafe ini bukan milikku, Tidak ada hak ku mengusir mu."


"Untunglah, Sudah tenang?" Bian membelai rambut ku tapi kemudian dia menarik tangannya kembali sepertinya dia menyadari keberadaan kami ditempat umum.


"Sedikit, Aku sedang menyusun berapa rencana" akhirnya aku memilih untuk berbicara hal lain. Aku tersenyum dan selalu bersemangat jika menyangkut usaha ku.


"Rencana apa, Aku suka melihatmu tersenyum." Kali ini aku bersikap lebih tenang menghadapi Bian.


"Kak Bian aku mau ke depannya Miepa membuka banyak gerai di kota lainnya. Berapa pelanggan ku membawa saudara mereka dari luar kota dan mengatakan bahwa rasanya beda dengan kota mereka. Bisa gak ya?"


"Kamu bisa memulai dari sini. Membuka cabang di tempat lain tapi aku tahu kamu pasti punya caranya sendiri."


Hari ini aku memilih menghabiskan waktu dengan bersikap lebih lunak terhadap Bian. Dia memiliki pilihan terbatas dalam hidupnya sedangkan aku memiliki kebebasan menentukan apa yang aku mau.


************


Minggu-minggu yang sibuk, Kami telah memindahkan cabang Miepa ke ruko yang pernah ditawarkan ke Kira. Seorang bernama Cleo menghubungi Kira dan memberi informasi bahwa penyewa yang menunggak tidak dapat membayar sesuai deadline dari mereka.


Mie ayam buatan ku ternyata diminati, Aku menambah beberapa varian mie yang kami buat sendiri hasil aku kursus privat dengan beberapa chef.


Dari Cleo juga aku mendapatkan tawaran membuka cabang di kota T dan A yang berjarak empat dan lima jam dari kota kami.


Frozen food masih stabil tidak naik maupun turun tetap mendapatkan penghasilan sesuai yang diharapkan.


Bian membantu mengambil foto semua produk untuk keperluan promo. Foto produk yang baik meningkatkan value produk dalam penjualan online.


Promo ku lakukan di sosial media untuk memperluas jangkauan pemasaran.


Hanya penjualan di butik menurun, Untuk sementara aku dan Natasha menunda membuka produk pakaian pria. Terlebih hari prediksi lahir buah hati Natasha dan Gege tinggal dua minggu lagi.


Tangan ku meraih kalender menghitung hari yang tersisa untuk Natasha di butik karena tidak lama lagi aku mengambil alih sampai Natasha selesai melahirkan.


Telunjuk ku menghitung setiap angka di kalender sampai kemudian aku teringat sesuatu. Tiga minggu lagi waktu pertunangan Bian dilangsungkan.


Aku menarik napas dalam-dalam tersadar setelah sekian lama menahan napas. Natasha menatap ku heran.


"Dua atau paling lama tiga bulan setelah melahirkan aku usahakan untuk mulai di butik kembali. Kamu gak perlu bengek gini kan menghitung tanggalnya,"


"Bukan tentang itu, Aku pamitan dulu ya Nat. Ada yang mau aku kerjakan."


******


"Ada Bian? aku bertanya pada Rian yang menatap ku heran di depan studio foto.


"Angin apa yang membawa mu ke sini? Tumben. Bian ada dibelakang," Aku tidak mengindahkan pertanyaan Rian. Kakiku melangkah ke arah belakang mencari keberadaan Bian.


Dia sedang duduk di depan laptop ketika melihat ku tampak ekspresi keterkejutan di wajahnya. Aku lalu menghampiri Bian.

__ADS_1


"Sayang waktunya tinggal tiga minggu lagi,"


"Aku tahu," suara Bian terdengar serak. Dia berdiri dari kursi lalu menarik tangan ku duduk di sofa tidak jauh dari tempatnya bekerja tadi.


"Sayang, Kamu sudah mempunyai cara untuk menghindarinya?"


Bian menatap dengan pandangan nanar. Saat itu juga aku tahu jawabannya. Air mata ku mengalir untuk pertama kalinya aku menangisi hubungan ini.


Bian menghapus air mata ku seiring sayap-sayap patah Kahlil Gibran kembali menggema di hati ku.


"Anggrek.. Maafkan aku,"


"Bukan sepenuhnya salahmu sayang, Kenapa Tasya tetap mau pertunangan dilanjutkan? padahal dia tahu mengenai hubungan kita,"


"Berapa tahun lalu di kapal pesiar aku mencegah Tasya bunuh diri akibat frustasi karena putus cinta. Dia gadis manja yang keras kepala berpikir semua hal bisa berjalan sesuai keinginannya tapi pria itu justru meninggalkan dia. Tasya tidak kuat merasa tidak berharga."


"Apakah ini terdengar klise?"


Aku sedikit menyangsikan apa yang disampaikan Bian. Pria mana yang menolak dengan gadis secantik dan sekaya Tasya. Jika aku ditinggalkan Adiwarna bisa dipahami karena aku tidak secantik dan sekaya Tasya


"Kapan kamu berhenti keras kepala. Akhir-akhir ini aku mulai merasa kamu terlalu banyak berpikir daripada menggunakan hatimu, Sayang."


"Iya, Maaf aku ya kak Bian. Berapa minggu terakhir aku banyak berpikir untuk mengembangkan usaha ku. Banyak keluarga tergantung dari usaha yang ku jalankan, Siapakah pria yang meninggalkan seorang Tasya?"


"Pria yang meninggalkan Tasya, Seorang aktor ternama dan putra pengusaha kaya. Tasya tidak terima dia frustasi kebetulan aku menolongnya. Saat itulah dia menganggap aku sebagai pelindung dan penyelamat kehidupannya. Dia bergantung pada ku"


"Apakah Tasya tetap mau menerima mu walau ditolak? Bahkan ketika tahu kamu memiliki pilihan sendiri sayang,"


"Tasya tak perduli karena dia terobsesi memiliki apa yang dia mau. Tasya tahu aku akan mudah dia miliki daripada kekasihnya yang dulu,"


Aku teringat pada komentar 'Terimakasih,Bi untuk malam ini' di sosial media Bian dengan foto di kapal pesiar. Ternyata itu yang terjadi.


"Apakah kamu bisa tetap disini sayang tanpa kembali ke Jakarta?" aku tahu ini kedengaran egois.


"Anggrek ini lamaran dan pertunangan," Suara Bian semakin serak.


"Aku tahu kamu tidak mungkin mempermalukan keluarga mu ya, Bian."


Mata ku nanar, Mulut ku terasa berat menanyakan bagaimana posisi ku dalam hubungan Bian dan Tasya.


"Anggrek sebenarnya aku mempunyai rencana tapi tidak tahu apakah akan berhasil,"


"Apa sayang?"


"Mau kah kamu ikut aku ke Jakarta bertemu Tasya. Dia adalah kunci dari semuanya andai dia memutuskan hubungan ini maka semua akan berakhir."


Mata ku membulat mendengar rencana Bian kenapa tidak menelpon saja. Itu lebih aman karena perempuan mana yang sudi ada wanita lain menghancurkan hubungannya walau dia tahu sebenarnya justru dia berperan untuk itu.


"Kenapa tidak menelpon atau melakukannya dari dulu?"


"Aku terlalu fokus menolak pada proses perjodohan bukan pada akar kenapa perjodohan ini terjadi. Anggrek tapi kita masih ada waktu sampai pernikahan tiba. Ini baru pertunangan."


Aku menelan saliva, Kali ini apakah aku akan memerankan antagonis dalam kehidupan percintaan wanita lain.


********************

__ADS_1



__ADS_2