
***Jika kau di hadapkan pada sebuah keajaiban yang bisa memberikan dua pilihan 'cantik dan pintar'. Manakah yang kau pilih.
Aku akan memilih keduanya. Ah begitu serakah Aku itulah manusia kadang terlalu sulit memilih. Lebih baik mengoptimalkan kemampuan diri secara maksimal***.
Caption Anggrek hari ini
*********
Pikiran Ku jika melihat perempuan cantik atau foto mereka yang memiliki paras menawan. Keberuntungan selalu dan terus menaungi mereka tapi ketika melihat Cahya hari ini. Pikiran tersebut berubah selain cantik harus ada aspek lain untuk menunjangnya.
Hari ini dia datang lagi. Sahabat yang bertahun lalu mengisi hari Ku. Kehadirannya telah menemani masa remaja sampai masa dewasa kemudian tanpa alasan dia juga lah yang merampas kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku. Cahya Kumala.
Aku memandang tanpa rasa pada Cahya Kumala. Entah perasaan apa yang harus ku berikan. Marah, benci, dendam atau memaafkan?. Semua bercampur aduk menjadikan hatiku mati rasa ketika berhadapan dengan dirinya.
Dia datang tanpa rasa malu. Kulit Cahya tidak semulus dulu, rambutnya kelihatan kering, wajahnya sedikit kusam tampak kerutan halus mulai tampak di bawah matanya. Sinar matanya tidak secemerlang Cahya yang Ku kenal tapi jika tidak mengenal Cahya Kumala berapa tahun lalu mungkin dalam pandangan mereka perempuan ini masih cantik.
"Apa yang kau lihat, Anggrek?". Aku mengangkat alis dan menaikkan bibir Ku sedikit membentuk senyuman sinis. Selintas 'pikiran saldo mu menentukan penampilan pasangan mu' berkelebat dalam pikiran ini. Apakah di masa pademi ini ekonomi Adiwarna merosot?.
"Menurut mu? Tumben kamu mau menemui Ku?". Aku menyandarkan diri di kursi melirik ke kursi pelanggan yang dipenuhi para pengunjung Miepa. Aku tidak ingin memancing Cahya berbuat ulah seperti yang dilakukan di tempat Danar.
"Usaha Adiwarna mengalami penurunan, Anggrek. Dari yang Aku dengar Adiwarna meminta mu untuk bekerjasama kembali. Kemarin Aku salah paham dan menuduh mu yang bukan-bukan". Cahya menatap Ku seakan hendak mengintimidasi. Dia sepertinya tidak belajar kalau Anggrek bukan seperti mereka yang kenal dulu. Bahkan bibirnya tidak sudi meminta maaf.
"Oh ya benar sekali tapi Aku menolaknya".
"Haaahh, menolak maksud mu tidak ada waktu karena harus mengurus jualan mie dan boba ini". Mata Cahya berkeliaran memandang setiap sudut Miepa dengan pandangan merendahkan. Sama seperti dia merendahkan usaha Adiwarna dulu lalu ketika usaha itu bersinar dia datang dan merebut Adiwarna dari sisi Ku.
"Yaaa begitulah.. Privilege sebagai keluarga kaya raya tidak ada maka harus berjuang dari nol. Merangkak, merambat, ngesot, jungkir balik,salto, koprol. Kamu kan tahu bagaimana perjuangan Adi".
__ADS_1
Ekspresi Cahya tampak berubah ketika mendengarkan kalimat dari mulut Ku. Sindiran itu mengingatkan dirinya pada akar dimana suaminya berasal.
"Aku kesini bukan mau berdebat, Anggrek. Hanya saja semua kejadian sudah tidak bisa diputar balikkan yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya. Masa lalu tidak diulang pun tidak perlu dibawa selalu untuk meraih masa depan. Bagaimana Anggrek kalau kita semua berjalan bersama menjalin hubungan baik seperti dulu bukan kah kita pernah berada dalam fase itu".
Suara Cahya kembali melembut membuat perut Ku mual mau muntah. Gila kerjasama ini jelas menguntungkan mereka. Dari dulu Aku yang bekerja tanpa bayaran dengan kamuflase kata cinta membantu usaha kekasih, jerih payah Ku hanya seharga kata cinta palsu seperti cek kosong yang tidak bernilai.
Kembali bersama mereka jelas menguntungkan Cahya juga. Aku tahu jumlah follower dja semakin berkurang. Cahya kebingungan menentukan citra diri sekarang. Sebagai selebgram cantik menawan atau sebagai ibu muda yang piawai. Semua jadi absurd sedangkan selebgram baru yang lebih fresh dengan ide dan content lebih menarik menyerbu dengan agresif.
Hidup dengan pencitraan palsu akhirnya terbongkar juga. Keadaan keuangan Adiwarna dan Cahya juga tampaknya tidak stabil saat ini. Kehidupan mereka yang selalu ingin menampilkan keluarga muda sukses dengan penampilan wah sepertinya tidak ditunjang dengan kestabilan usaha mereka yang baru sukses seumur jagung.
Seandainya mereka lebih bijaksana dalam mengelola keuangan dimasa ini tentu usaha mereka bisa bertahan lebih baik tapi melihat outfit Cahya tampaknya berat untuk menekan gaya hidup. Outfit inilah yang menutupi penampilan fisik Cahya. Dia masih tetap belanja barang high end sepertinya.
Penampilan fisik Cahya tidak serupawan dulu walau bisa dikatakan tetap menarik tetapi mengalami penurunan banyak karena Aku mengenal dia bertahun lamanya. Kecantikan memang harus dirawat terus menerus bahkan seiring waktu memudar berganti keranuman segar gadis muda yang terus bermunculan.
"Aku tidak bisa Cahya, usaha kecil Ku masih butuh dirawat untuk tumbuh dan menjaga agar bisa bertahan dan berkembang". Aku bisa melihat bola mata Cahya sedikit membesar. Kebiasaan dia saat mendengar sebuah penolakan.
"Tidak bisa Cahya". Aku menekan intonasi dan menatap datar ke arah Cahya.
"Kamu masih dendam?".
" Tentu tidak semua telah berlalu".
"Bohong kamu masih tidak mau melupakan Adiwarna". Cahya meninggikan suaranya. Aku meredam emosi untuk tidak menimbulkan kegaduhan.
"Laki-laki bukan Adiwarna saja, Cahya.Begitupula pegawai yang bisa kalian perkerjakan bukan Aku saja". Aku mencoba tersenyum meyakinkan perempuan yang tampak bodoh di depan Ku saat ini.
"Atau kamu memang menginginkan kejatuhan kami". Pandangan Cahya menelisik setiap sudut wajah Ku. Entah dari mana pikiran ajaib dan negatif itu hadir. Kejatuhan mereka jelas dari diri mereka sendiri. Bagaimana Aku yang menolak untuk bergabung dituduh menjatuhkan mereka.
__ADS_1
"Aku tidak pernah merugikan kalian, tidak perduli atas perlakuan kalian atau membalas apa yang kalian lakukan yang Ku lakukan hanya meninggalkan usaha kalian tanpa pamrih. Kalau mau bisa saja Aku meminta bagian bukankah Aku bekerja tanpa pernah menerima bayaran selama ini atau ternyata usaha Adiwarna ada karena semua hasil kerja Ku".
Cahya memundurkan tubuhnya. Aku memberi kode pada salah satu pegawai untuk membawa kopi dan boba. Jika saja kamu pintar Cahya, semua yang telah Ku kerjakan bersama Adiwarna telah menghasilkan. Seharusnya langkah yang kamu ambil tinggal melanjutkan apa yang telah Aku dan Adi mulai dari nol.
"Ini minumlah mungkin kau butuh kafein untuk menyegarkan otak mu atau boba untuk mendinginkan hati mu". Wajah Cahya tampak memerah, dia memandang Ku dengan tatapan marah. Tatapan yang Ku artikan sebagai tatapan seseorang yang kehilangan kendali atas 'sosok' yang bisa dia kendalikan dan dijadikan 'pesuruh'.
Netra Ku melihat seseorang yang Ku kenal memasuki pintu Miepa tanpa pikir panjang Aku berdiri dan berjalan cepat menarik pria tersebut.
"Bian akhirnya kamu datang kenalkan ini Cahya". Aku menyeret Bian dari pintu menuju kursi Cahya. Pria di samping Ku tidak sempat bertanya bahkan belum sempat berpikir mungkin. Tangan Ku masih betah di lengan Bian.
Cahya menoleh dengan tatapan mengerikan melihat Ku berdiri di samping Bian. Pria tampan dengan tatapan dingin dan penampilan stylish ini jelas selera Cahya dimasa lajangnya atau masihkah dia memiliki selera yang sama?. Aku meyakini pemikiran barusan ketika netra itu menampakkan tatapan iri.
"Aku Cahya, temannya Anggrek. Kamu siapanya Anggrek?". Aku menelan saliva meluapkan rasa eneg. Dia menegaskan kata teman karena Aku tak sudi memperkenalkan dia sebagai teman kepada Bian.
Bian mengernyitkan keningnya sekilas lalu kembali ke ekspresi klasik khas dirinya. Dingin, Bian hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Oh kamu bukan siapa-siapa Anggrek? atau jangan-jangan tak kenal dia?". Sorot terkejut Cahya tampak menemukan sesuatu yang bisa Ku tangkap. Dia menyesal mungkin sempat iri pada Ku.
Bian mengambil tangan Ku perlahan di lengannya lalu menepuk telapak tangan Ku.
"Apakah penting Ku beritahu siapa Anggrek Maharani bagi Ku?".
Tangan Ku mendadak dingin karena Bian menggenggam tangan Ku dan membawa ke dadanya.
"Iya siapa dia?".
Aku berdiri membeku menjadi patung es apa yang akan dikatakan Bian?.
__ADS_1