
Aku pernah mengatakan
Impian ku sederhana
menikah dengan orang yang ku cinta
*Te**rdengar begitu mudah bukan*?
ternyata meraihnya
tak semudah mengucapkan kata
******
Mobil antik Bian melaju bersama aku dan Dewo yang merajuk di dalamnya. Dari awal dia sudah kesal ketika aku menyuruhnya duduk di kursi belakang dan semakin kesal ketika aku membuat kesalahpahaman dengan perempuan yang ditaksirnya.
"Dewo marah tuh sayang"
"Biarin saja ntar juga baikan" Aku tahu salah satu kebiasaan mama memanjakan Dewo membuat dia terkadang bersikap kekanakan. Bian mengelus kepala ku gemas .
"Kasihan adikmu" Aku melirik Dewo yang memejamkan mata dan memasang headset untuk mendengar musik.
"Jangan mengikuti mama yang memanjakan Dewo" Bian mencubit lembut pipiku membuat aku kaget karena ulahnya. Dia tertawa lalu fokus kembali menyetir mobil. Aku masih mempelajari sikap Bian karena semua berubah saat kami sudah menjadi kekasih.
Dia yang dingin sekarang bersikap hangat kepada ku atau inikah yang dimaksud Danar? Kalau cara dia memperlakukan ku berbeda.
"Sayang bisa berhenti di minimarket untuk membeli titipan kak Danar"
"Iya boleh, yang" Kami berdua turun menuju minimarket tapi Dewo tetap di dalam mobil. Masih merajuk adik ABG ku.
Tidak banyak yang dititip Danar ketika keluar dari pintu minimarket kami berpapasan dengan dua orang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu ku, Adiwarna dan Cahya.
Refleks tangan ku mengenggam Bian mencoba menguatkan diri dari aliran genggaman tangan Bian. Aku tersenyum tipis kearah Cahya dan Adiwarna yang menatap ku dan Bian bergantian.
"Anggrek sudah lama tidak ketemu" Cahya melihat Bian lekat. Kelihatannya dia masih mengingat Bian ketika bertemu di Miepa.
"Iya, Kami duluan ya" Aku menarik Bian berjalan lebih cepat menyalip Adiwarna dan Cahya yang sama sekali belum bergeser dari pintu keluar.
Mereka pasangan ideal bertubuh tinggi dengan penampilan berkelas yang menarik. Pria berwajah manis dan wanitanya cantik. Andai tidak tahu dibalik persatuan mereka maka akan menilai pasangan serasi.
"Anggrek kalau jadi menikah jangan lupa mengundang kami ya" Cahya tertawa menutup mulutnya yang menggunakan masker dengan tangannya seakan menahan geli.
"Iya tentu saja kami akan mengundang kalian"
Bian menjawab Cahya dengan nada berat. Dia berhasil membuat Cahya terdiam, Manik mata Cahya bergerak gelisah. Bian menghampiri Adiwarna, Mempertipis jarak keduanya.
Aku melihat Adiwarna setengah menyeret Cahya masuk ke minimarket. Wajah Adi tampak memerah. Bibirnya terkatup rapat mengeram pelan. Aku tahu ekspresi itu, Dia marah.
Cukup lima tahun aku dekat dengan pria tersebut dan mengenal ekspresi tersebut.
"Aku tidak tahu bagaimana kamu di masa lalu tapi sepertinya bukan seperti Anggrek sekarang karena betapa mudahnya dia berniat mempermalukan mu tadi. Tanpa menanyakan siapa mereka aku bisa menebak pasti itu Adiwarna dan pasangannya"
Aku melihat ada emosi di wajah Bian. Bian memang tidak menyimak berita ku tahun lalu tapi dia sepertinya tahu sedikit mengenai itu. Terlebih dia pernah bersua sekali dengan Cahya.
"Aku tidak bisa menilai pasti bagaimana diriku di masa lalu mungkin begitu polos menganggap semua orang di dunia adalah orang baik sehingga bisa diperdaya dan diperalat"
Sepertinya itulah aku dimasa lalu. Menimbulkan sikap berhati-hati dan penuh praduga di masa sekarang karena pengalaman kejadian di masa lalu. Bukan kah guru paling berharga adalah pengalaman.
Bian membuka pintu mobil dan berkata pelan di telinga ku.
"Mulai hari ini ku pastikan tidak ada lagi yang bisa melakukan itu"
Ada desiran lagi di hatiku, Perasaan bahagia yang perlahan menyusup hati. Perhatian Bian sederhana tetapi punya makna. Kembali mobil melaju mengantar Dewo pulang.
"Kak Anggrek kapan rumahnya di renovasi?" Setelah sekian lama akhirnya Dewo buka suara. Sebotol kopi latte dingin berhasil mencairkan hatinya.
__ADS_1
"Secepatnya" Aku lalu teringat ada yang harus ku lakukan saat ini.
Aku mengambil gawai di tas bermaksud menelpon Doni. Tukang ku yang di rumah Doni mempunyai cara kerja yang bagus dan rapi. Aku ingin menanyakan dia menggunakan tukang yang sama atau mengganti dengan tukang dia sendiri.
"Menelpon siapa?"
"Doni".
"Hei buat apa?" Bian tampak terkejut lalu dia menarik tangan ku membuat panggilan ke Doni batal.
"Aku hanya mau menanyakan tukang yang digunakan Doni karena itu dulunya tukang ku"
"Aku bisa bantu tanyakan ke Kak Danar ya sayang. Dia memegang proyek perumahan Bukit Asri dan menggunakan jasa pihak ketiga sebagai penyalur tenaga yang membangun rumah"
"Tapi aku gak enak sama kak Danar" Aku melepaskan diri dari tangan Doni tapi dia meraih tangan ku kembali.
"Ayolah aku bisa bantu membicarakan sama Kak Danar mengenai ini. Dia pasti tahu dari mitra penyalur tenaga kerjanya"
"Hmmm kamu cemburu ya aku menelpon Doni?" Aku bermaksud menggoda Bian.
"Iya" Bian menjawab singkat tapi berhasil membuat ku jadi mati gaya karena justru aku yang tersipu-sipu malu mendengar jawaban Bian.
"Uhukkk.. Uhukkk. Obat nyamuk, Obat nyamuk. Apalah seorang Dewo hanya obat nyamuk disini. Silakan saja mau bemesraan. Anggaplah aku debu di dashboard mobil"
Aku dan Doni segera kembali fokus ke arah jalanan setelah disindir Dewo. Sikap Bian hari ini menggugah rasa penasaran dalam diriku. Ada yang harus ku lakukan dan membuat diriku tak sabar ingin pulang ke rumah.
******
Malam merambat semakin larut. Urusan ku semuanya sudah selesai. Sekarang aku hanya tinggal sendirian di dalam kamar bersama laptop di meja kerja ku. Aku berniat mencari tahu keluarga Bian melalui google.
Jari tahu dengan jarimu, Jargon dari buku tebal kuning bertuliskan yellow pages yang pernah ku temukan di gudang. Kata mama di masanya dulu, Buku ini digunakan sebagai tempat mencari informasi.
Di jaman sekarang jari pun tetap bertugas mencari informasi hanya media yang digunakan berbeda.
Aku memulai pencarian untuk mencari tahu informasi mengenai keluarga Bian. Aku mengetikkan Danny Anugrah Company (DAC). Sekian detik kemudian layar sudah menampilkan data perusahaan.
Ada yang menarik mengenai pendiri salah satu start-up terbesar di Indonesia. Salah satunya adalah Diandra Prasetya dan dia beserta Danar Prasetya juga merupakan petinggi di DAC.
Setya Prasetya adalah Papa Bian, Danar dan Diandra yang juga merupakan petinggi dari DAC. Hanya satu anggota Setya Prasetya yang tidak ada di DAC yaitu Bian Prasetya.
Dari informasi yang ada perusahaan ini selain dipegang kakek Danny Anugrah juga melibatkan keluarga yang lain. Dari nama belakang 'Anugrah' aku menduga masih ada hubungan keluarga dengan kakek Danny.
Aku membuka menu sosial mencari nama Diandra. Sedikit mengejutkan ternyata dia merupakan follower akun sosial ku jadi selama ini dia mengikuti aktivitas yang ku lakukan dari sosial media.
"Astaga berarti mereka sekarang sudah mengetahui aku memiliki hubungan dengan Bian" Aku bergumam sendiri teringat foto bersama Bian yang baru ku posting.
Danar tidak berkomentar banyak ketika mengambil foto ku dengan Bian selain celetukan gerah melihat kebersamaan kami. Dia lebih banyak tahu aktivitas Bian secara nyata dan Bian pun tak sungkan berbagi cerita dengan Danar.
Kemewahan terpampang dalam akun sosial media Diandra. Cantik, Penampilan mewah, Mulus dan ramping. Dia juga memiliki bakery terkenal pantesan saja bolen buatan Diandra enak.
Aku menggaruk kepala yang mendadak gatal. Berarti kemarin mereka makan di bubur ayam pengkolan bisa jadi itu pengalaman mencoba food street yang jarang mereka lakukan.
Diandra memiliki suami pengusaha juga. Jika akun sosial Diandra lebih banyak mengungkapkan kehidupan sosialnya. Akun Danar dan Bian tidak banyak menyajikan apapun. Akun Bian bahkan nyaris tidak ada foto dirinya di dalam sosial media.
Aku tersenyum kecil ketika melihat foto ku dan Bian yang diambil Danar dalam akun sosial media Bian. Sedikit foto diri Bian dari sekian banyak foto pemandangan atau perjalanan liburan yang dia lakukan.
Bian memang tidak melibatkan diri dalam kehidupan DAC. Apa yang dikatakan dirinya benar, Dia hanya mengelola ruko yang berdiri di tanah milik keluarga mamanya.
Jari ku kembali bergerak ke bawah komentar di foto Bian dan diriku. Ada satu namanya yang membuat keringat dingin membasahi kening ku. Tasya Anastasia yang berkomentar singkat.
"Oh inikah orangnya, Bi"
"Iya dia lah orangnya". Jawaban singkat dari Bian. Emoji tersenyum dari Diandra tidak dibalas oleh Bian.
Tasya memanggil Bian dengan sebutan Bi karena berapa kali dia mengomentari postingan foto Bian dengan sapaan 'Bi'. Jari ku bergerak terus sampai ke foto paling bawah Bian.
__ADS_1
Sebuah foto yang menampakkan siluet matahari dari kapal pesiar. Aku menduga kapal pesiar karena bagaimanapun aku belum pernah menaikinya.
"Indah sekali ya Bi. Terimakasih untuk malam ini, Bi"
Tidak ada balasan dari Bian untuk komentar Tasya. Aku penasaran mengenai apa yang mendasari ucapan terimakasih tersebut
Akun Tasya di private sehingga jiwa kepo ku tidak bisa disalurkan tetapi dari akun sosial Diandra. Keakraban Diandra dan Tasya terpampang sangat jelas.
Tasya memiliki wajah putih mulus yang terawat baik, Rambutnya panjang kecoklatan. Matanya berwarna coklat hazelnut, penampilan modis dengan barang high end melekat di dirinya.
Dalam akun sosial media ada foto Tasya dan Bian yang diambil secara diam-diam. Aku bisa melihat Tasya menyenderkan kepalanya di lengan Bian. Dia Tersenyum bahagia sedangkan Bian menunduk memainkan gawai. Mereka sedang berdiri di depan halaman berumput yang luas.
Itu foto lama dari tahun dan tanggal yang tertera. Apakah dulunya mereka sedekat ini. Dadaku terasa sakit melihat keakraban ini. Aku cemburu bercampur sedikit kekhawatiran. Aku khawatir karena Tasya begitu memikat.
"Ya Tuhan saingan ku berat sekali rasanya aku ingin menangisi diri"
Jari ku kembali bergerak mencari figur kakek Danny dan istrinya. Sepasang suami istri dalam usia senja yang elegan dengan aura mengintimidasi tampak jelas dari foto mereka. Foto mereka menampilkan keluarga berkelas dengan aura berkuasa yang kuat.
Dari sekian banyak foto Diandra dan keluarganya. Tidak banyak foto dirinya bersama mama Bian. Apakah Diandra tidak memiliki kedekatan dengan mama tirinya? Aku tidak tahu tapi menduga itulah yang terjadi.
Keluarga Kakek Danny sekaya inikah? Jika Bian melamar ku tanpa dihadiri oleh sebagian keluarganya bisa dipastikan aku menantu tidak dianggap oleh papa dan keluarga mereka.
Bian semakin terasingkan dalam keluarganya. Dia yang menolak untuk bergabung dalam Danny Anugrah Company menghindari dikte dan kuasa keluarga tersebut pada dirinya akan tersingkirkan.
Aku bukan lah yang membuat Bian tersingkir karena hal itu sepertinya sudah lama terjadi sejak Bian menolak bergabung di perusahaan. Hanya saja akan semakin parah jika aku dan Bian menikah.
Pengikat Bian dengan Danny Anugrah melalui mamanya yang merupakan mama tiri dari Danar dan Diandra dan papanya yang merupakan menantu kakek Danny dengan anak tunggalnya.
Ikatan dengan Danny Anugrah akan semakin kuat dan sepenuh akan membuat Bian bergabung dalam keluarga tersebut jika dia menikahi salah satu dari 'klan' Anugrah yaitu Tasya Anastasia.
Ada sedikit penyesalan karena keingintahuan aku malam ini. Rasa minder memeluk erat, Usaha ku seperti debu jika dibandingkan dengan mereka. Keberuntungan dan berkah dunia seakan menaungi keluarga mereka.
Tidak salah jika Anugrah tersemat dalam nama keluarga besar tersebut.
Ah tapi bagaimanapun kaya Danny Anugrah dan keluarga mereka. Hidup ku tidak bergantung pada mereka. Bukan mereka yang memberikan kehidupan pada ku tapi semua berkat usaha yang ku lakukan sendiri.
Kekasih ku ternyata orang yang tidak memperdulikan kekayaan. Dia bersama kamera dan mobil antiknya dengan santai menjalankan kehidupan.
Menolak perjodohan dengan gadis rupawan yang akan membawa dirinya masuk sepenuhnya dalam keluarga Danny Anugrah.
Dia sungguh unik bahkan aku pun tidak tahu akan bersikap seperti apa jika menjadi Bian. Bukan kah lebih mudah menerima apa yang telah ditawarkan daripada mencari sendiri.
Bian memilih menyingkir dari kehidupan keluarganya. Dia membuka jalannya sendiri berdasarkan keinginan dirinya.
Suara hati dan pikiran memang menguasai pilihan kehidupan. Inilah jalan yang dipilih oleh Bian dan dia memilih ku untuk menemaninya.
Aku menutup layar laptop dan mengambil gawai menekan beberapa kata penutup hari ini.
"Selamat tidur sayang. Mimpi indah, Aku menyayangimu"
"Terimakasih Anggrek sayang. Aku akan memimpikan dirimu karena itulah mimpi indah ku"
"Aku mimpi indah mu? Hmm apakah kalau tidak bermimpi aku tidak indah"
"Kamu bukan saja keindahan bagiku Anggrek Maharani tapi segalanya dalam hidup ku saat ini. Aku mencintaimu"
"Terimakasih, Sayang"
Aku bergetar menutup telpon. Entah itu sekedar ucapan atau memang kebenarannya yang di sampaikan oleh Bian. Semua tidak akan pernah mudah bagi kami.
Cukuplah aku mengetahui siapa yang ku hadapi agar tahu bagaimana akan bersikap.
Aku pernah mengandaikan Bian sebuah buku yang baru ku ketahui judulnya saja. Dia masih buku yang bab demi bab belum ku selesaikan dan aku harus terus mencari tahu siapa dia sebenarnya. Pria yang menjadi kekasih ku saat ini.
Semua keputusan yang ku ambil akan berdampak pada masa depan ku nanti. Bertahan atau tidak itu masih pilihan dalam hidupku tapi satu lagi kepingan puzzle kehidupan ini telah ku temukan.
__ADS_1
******
Aku juga menyayangi kalian para readers tersayang 😘😘❤❤