
Aku berada dalam laut bergejolak
Dia kah yang akan menjadi nakhoda-nya?
*****
Bian tersenyum menyambut kami, Dia tampak berusaha untuk tidak selalu melihat ke arah ku. Menghormati Kakek Dan dan Den, Generasi pertama Anugrah.
Tidak lama kemudian tante Lusi, Diandra, dua laki-laki yang ku duga papa Bian dan suami Diandra. Dua putra-putri Diandra keluar dari dalam rumah menyambut kami.
Mereka memberi salam hormat dengan kakek lalu dua bocah menggemaskan itu menghambur meminta pelukan kakeknya.
Celotehan riang anak Diandra, Mengalihkan semua orang dari saling tatap sengit aku dengan Setya dan Diandra. Setya memiliki paras ketiga anaknya tapi memiliki kemiripan aura dengan Diandra.
Aku menegakkan tubuh. Gestur untuk mengatakan pada mereka, Aku tidak takut. Setidaknya aku datang dengan dua orang paling berpengaruh dalam keluarga Anugrah.
Atas dasar sopan santun, Tentu saja salam hormat takzim tetap diberikan pada keluarga Bian. Memberikan pandangan positif bahwa aku calon menantu yang baik. Bukankah mereka beranggapan begitu?
"Calon menantu? Putra kalian yang membawa ku kesini tapi justru seakan aku yang meminta," hati ini membatin.
Semua sudah terlanjur, Anggrek. Bukan kah dalam palung hati. Di suatu ruang dalam sudut hatimu, Inilah yang sebenarnya kamu inginkan. Keinginan alam bawah sadar yang menahan hati untuk melunak pada Kenzo.
"Tidak menyangka kita akan bertemu secepat ini setelah pertemuan terakhir," sindir Danar. Aku membalas dengan senyuman kecil.
Apakah aku harus menyalahkan pandangan Danar? pertemuan terakhir yang baru terjadi. Aku dengan status kekasih Kenzo sekarang hadir sebagai calon istri adiknya. Mungkin jika di posisi Danar maka akan berpikir sama jika belum tahu apa yang terjadi.
Bian mengambil posisi di samping ku, Sekarang semua tertuju ke arah kami.
"Kamu ceria sekali sampai aku merindukan masa muda," canda kakek Den. Aku bisa mendengar tawa sebagian kami yang di teras. Kecuali seorang ayah dan putrinya.
"Tidak sopan rasanya dari tadi kita hanya berdiri disini, Mari silakan masuk," tante Lusi mempersilakan kami semua masuk ke dalam ruangan makan.
"Lusi, Kamu mengundang chef Daniel?" tanya kakek Den, Pandangannya mengarah ke seorang pria dengan apron putih yang mengangguk ke arah kami.
"Iya, Kami sengaja mengundang menghormati papa Dan yang begitu menyukai semua masakan chef Daniel,"
"Kamu tidak memperhatikan selera ku, Lusi hanya Danny," seloroh kakek Den.
"Papa Denny penyuka semua masakan, Saya tahu apapun masakan tersaji tidak akan menjadi masalah,"
Danny tertawa pada adiknya, Kami lalu duduk di meja makan besar. Tasya berada di samping kiri ku, Sedangkan Diandra di samping Tasya. Bian memposisikan diri di samping kanan ku. Danar tentu saja di samping adiknya. Selanjutnya para orangtua berada di hadapan kami.
Konsep ruangan open plan, Menampilkan pemandangan taman dan kolam renang dari jendela besar. Marmer berpola memberikan tampilan menarik. Semenarik paras menawan para penghuninya.
"Terimakasih papa Dan dan Den sudah berkenan hadir dalam makan siang ini, Saya mewakili keluarga senang sekali di tengah kesibukan kita. Bisa bersama memenuhi gagasan Lusi untuk mengadakan acara makan siang bersama," ucap Setya.
__ADS_1
"Membutuhkan momen khusus untuk bisa hadir, Kalian akhirnya mengenalkan kami kepada calon menantu. Bian bahkan akan melangkahi Danar," jawab Danny sambil melihat ke arah kami.
Aku bisa melihat ekspresi datar Setya. Umur sudah memberikan pengalaman cukup untuk ekspresi mengelabui hati sepertinya.
"Iya tapi apapun bisa terjadi, Untuk saat ini karena ada hal yang harus diselesaikan kami belum resmi berkunjung ke keluarga Anggrek,"
Kalimat Setya secara harfiah menunjukkan bahwa dia belum melamar ku, Secara resmi aku bukan calon menantunya.
"Kami belum melamar Anggrek, Kakek Dan. Ada banyak hal yang harus di selesaikan," imbuh Diandra mempertegas kalimat papanya yang di sampaikan secara halus.
"Iya karena Anggrek masih harus mengerjakan usahanya jadi sementara waktu tertunda, Aku nanti akan kembali ke kota Anggrek. Untuk membantu dia agar hubungan kami dapat segera diresmikan," Bian menatap kearah ku dengan senyuman manis. Aku tentu saja membalas. Kami berakting seolah polos tak tahu apa maksud 'banyak hal yang harus diselesaikan'.
"Usaha apa yang sedang kamu kerjakan, Anggrek. Bisa kamu ceritakan kepada kami?" suara Diandra terdengar merdu.
"Saat ini saya sedang mengelola usaha mie dan membuka franchise serta launching produk butik kami...."
"Oh warung mie ya? kamu memiliki butik atau toko baju biasa, Anggrek? untuk penamaan butik sendiri mengarah penjualan terbatas dengan produk eksklusif lho?" tanya Diandra dengan nada satir.
Dia berlagak menanyakan padahal tak lebih mengecilkan usaha ku.
"Boleh disebut juga warung mie tergantung sudut pandang yang melihat. Kami lebih senang menamakan outlet untuk cabang dan mitra karena sudah dikemas modern, Restoran untuk penjualan yang mencakup keseluruhan. Saya sudah menerapkan franchise bagi Miepa. Khusus butik sendiri selama ini saya dan rekan yang mendesain tiap produk, Teruntuk season kali ini kami menggunakan jasa fashion desainer," jelas ku penuh percaya diri.
Bukankah kakek Danny juga memulai usaha dari level terbawah.
"Anggrek juga mengemas kemasan mie dalam bentuk frozen food jadi bisa dikirimkan ke luar kota, Selain frozen food lainnya yang dijual melalui sistem agen dan reseller," tambah Bian.
"Oh ya lulusan dari mana fashion desainer kalian?" aku bisa melihat tatapan senang Setya pada putrinya yang bermaksud memojokkan ku.
"Dikarenakan target pasar kami menengah, Fashion desainer kami yang merupakan lulusan dari jurusan fashion. Memiliki kualifikasi baik dan berpengalaman dalam target pasar ini. Dia sudah pernah bekerja dengan beberapa butik dan mencapai hasil baik, Analisa untuk segmen pasar dan rancangannya mendongkrak penjualan butik tersebut, Pertimbangan itu membuat kami merekrutnya,"
Ya sudah lah, Aku jelas menambah bumbu untuk fashion desainer kami. Jangankan mengetahui background pendidikan bahkan yang mana Meidina. Sang fashion desainer dipilih Natasha, Aku belum tahu.
"Anggrek memulai dari bawah, Menurut pandangan saya. Dia memiliki jiwa entrepreneur. Idenya menarik, Mengemas sajian tradisional yang indentik dengan sajian sederhana. Menjadi kemasan frozen dan menyediakan tempat yang menarik minat semua kalangan termasuk anak muda, Dia memperkenalkan ide-ide baru di daerahnya," celetuk kakek Danny di tengah perbincangan.
"Sebuah ide baru biasanya menghadapi banyak rintangan dan risiko untuk meluncurkan ide-ide, Apalagi untuk daerah kalian. Apakah ini usaha mu yang pertama?" tanya kakek Denny.
"Betul, Kek karena di daerah saya sendiri belum ada franchise untuk berbagai varian mie. Bisa dikatakan usaha kami perintis awal untuk sajian mie dari berbagai bahan alami dan frozen food homemade yang dikemas modern. Tempat saya pun di usahakan memiliki nuansa instagramable, Range harga saya ramah di kantong kalangan muda dan menengah," jelas ku.
Apa yang ku jalankan memang amat jauh dengan Danny Anugrah Company tapi itu merupakan hasil kerja keras ku.
"Usahanya sederhana tapi kedengaran bagus karena di daerah kalau di Jakarta, Itu sudah biasa," Diandra memandang ku. Dia seakan mewakili suara hati Setya yang tampak mencari aman dengan kedua Anugrah.
"Kakek memulai usaha juga dari bawah, Diandra. Kalian yang ada di ruangan ini tinggal menjalankan apa yang menjadi hasil kerja keras kami," sela kakek Denny menatap Diandra dan Setya.
"Bukan sesuatu yang mudah memulai usaha, Apalagi ide-ide baru, Kita akan menghadapi banyak rintangan dan risiko untuk meluncurkan ide-ide tersebut. Kami pernah merasakan fase yang sedang di jalankan Anggrek tanpa dukungan dari mana pun, Kita memulai dari nol," tambah kakek Danny. Membuat suasana menjadi senyap.
__ADS_1
"Iya benar sekali, Kakek. Usaha saya pernah mencapai titik yang disebutkan ketika ada seseorang yang berniat mencuri ide dan lokasi penjualan saya. Terkadang kita tidak bisa menebak alasan orang melakukan itu," aku berkata ringan sambil menatap Setya.
"Terkadang ada yang mau menjatuhkan kita dengan atau tanpa alasan," timpal kakek Denny.
"Sebaiknya kita memulai makan siang, Daniel sudah menyiapkan semuanya. Silakan untuk menu pembukanya," tante Lusi mengambil alih keadaan.
Akhirnya Daniel si private chef yang dipanggil keluarga Bian sudah menyelesaikan tugasnya, Aku bernapas lega. Keluarga ini selalu membuat jantung ku bergejolak.
Selesai makan siang, Kami pindah ke ruangan keluarga. Setya dan Diandra tampak lebih diam, Aku menarik napas lepas lega ketika Kakek Danny dan Denny memutuskan untuk pulang.
"Terimakasih jamuan makan siangnya, Saya harap setelah ini akan ada jamuan besar lainnya," kakek Denny menepuk lembut punggung ku.
"Aku juga tak sabar kembali sibuk dalam acara besar, Nanti saat lamaran aku ikut ya paman Setya dan tante Lusi," ucap Tasya, Suara pertama setelah sedari tadi dia diam.
"Tentu saja kita akan melamar Anggrek bersama mama dan daddy mu, Kita tinggal menagih undangan dengan Setya,"
"Baik, papa," Setya mengangguk hormat kepada dua Anugrah. Ya, Dia tidak mempunyai 'senjata' lagi setelah Tasya membatalkan perjodohan. Keluarga inti Anugrah tidak akan mencampuri urusan Prasetya lagi.
"Saya juga tidak sabar kembali ke kampung halaman, Senang mendapatkan calon dari kampung sendiri. Ada alasan untuk kembali pulang," tante Lusi tersenyum anggun ke arah kami.
"Terimakasih atas dukungan kalian semua dalam hubungan kami," Bian berkata sambil mengangguk.
"Anggrek pulang bersama kami atau kamu, Bi?"
"Bersama aku saja, Makasih ya kakek Dan dan Den serta Tasya sudah menerima Anggrek. Nanti kami mampir ke rumah kalian lagi," ujar Bian yang disambut tepukan kakek Den pada bahu Bian.
Sepeninggalan keluarga Anugrah, Keluarga Prasetya memilih meninggalkan aku dan Bian.
"Kamu mencari gara-gara, Kak Bian!" geram ku.
"Karena mencari gara-gara, Aku jadi tahu kamu pandai membela diri sekarang," bisik Bian di telinga.
"Kamu tahu aku harus memundurkan jadwal pulang, Besok banyak yang harus aku selesaikan!"
"Iya Anggrek, Kamu masih ingat pesan ku kan? kamu jangan ke mana-mana karena aku harus selalu di hatimu,"
"Kak, Aku harus menata dan menyelesaikan dulu semuanya,"
"Baik, Anggrek. Aku selalu menunggu mu,"
Aku tahu keluarga Prasetya telah merestui hubungan kami, Tidak ada alasan penolakan karena hubungan kami di dukung Danny Anugrah dan Denny Anugrah.
Satu dukungan saja Setya sudah kalah apalagi dua. Tinggal menjaga hati dan perasaan orang-orang di kota ku.
24 jam tak terduga, Tali kasih yang telah putus dengan Kenzo. Bukan berarti aku langsung merajut kasih dengan Bian. Aku membutuhkan waktu untuk menyelesaikan persoalan dengan keluarga yang masih ada.
__ADS_1
Orangtua ku bisa jantungan jika tahu anak gadisnya pulang dengan calon suami yang lain. Bian memang tidak pernah mudah tapi kali ini langkah awal sudah mulus. Kami tinggal 'merapikan' untuk melangkah ke hubungan impian.