Viral

Viral
96. Mendekati Grand Opening Restoran


__ADS_3

...Sebagian dari kita adalah aktor dalam kehidupan...


...berakting seakan baik-baik saja...


...menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan...


******


H-4 Grand opening


Jumat pagi, Hari ini Miepa libur tapi aku tetap akan ke restoran Miepa. Team pelaksana acara akan berkumpul untuk persiapan gladi resik. Aku baru menyelesaikan pemanasan ringan ketika mama masuk ke dalam kamar.


"Nggrek, Mama mau bicara mengenai Kenzo," ucap mama sambil menarik stool rotan di depan meja rias.


"Ya, Ma," aku duduk di karpet kamar sambil menyimak apa yang mau mama sampaikan mengenai Kenzo.


"Anggrek, Apakah benar Kenzo akan melamar mu?"


"Iya, Ma. Kenzo sendiri yang mengatakannya dan hal ini juga telah diketahui kedua orangtuanya," aku melihat kening mama berkerut, "Memangnya mama tidak mempercayai hal ini?"


"Bukan tidak percaya tapi kedekatan mu dengan Kenzo sedikit berbeda, Tidak seperi ketika bersama Adiwarna dan Bian. Kenzo jarang terlihat di rumah, Bahkan kamu tidak mengenal secara pribadi ke mama dan papa," pungkas mama.


"Iya, Ma karena dua kali gagal. Anggrek menetapkan hati menyampaikan keseriusan hubungan kami ketika semua sudah mendekati pasti,"


"Mendekati pasti?" tanya mama dengan nada heran. "Apa yang kamu maksud dengan mendekati pasti?"


"Karena belum lamaran maka Anggrek katakan mendekati pasti, Sebelumnya Anggrek telah bertemu dengan keluarga Ken,"


"Kamu tidak menceritakan hal ini kepada mama, Nggrek," ada nada kecewa dalam suara mama.


"Maafkan Anggrek, Ma tapi pertemuan dengan keluarga Ken bukan untuk membicarakan lamaran tapi undangan makan siang,"


"Oh begitu, Bagaimana sambutan keluarga mereka?"


"Sangat baik, Keluarga mereka ramah kok, Ma." aku tidak menceritakan pertemuan lanjutan dengan mama Ken. Khawatir mama kecewa karena aku tidak berbagi cerita dengan beliau. Kesibukan bekerja mengurangi waktu berbincang dengan mama.


Bahkan belum menikah pun waktu bersama keluarga sudah jauh berkurang. Roda perputaran kehidupan ketika anak-anak tumbuh dewasa, Mereka memiliki dunia yang lebih beragam.


"Syukurlah, Nggrek Mereka menerimamu dengan baik. Oh ya, Kamu sudah tahu kapan pasti tanggal lamaran? mama harus menyiapkan banyak hal. Keluarga Ken merupakan keluarga terpandang, Papanya mantan wakil walikota dan berapa kali menjabat posisi penting. Mamanya seorang dokter spesialis. Kalau kamu dengan Adiwarna atau Bian, Kita masih bisa menyesuaikan tapi dengan keluarga Kenzo sedikit berbeda,"


Aku terbatuk ketika mama menyebut keluarga Bian. Ah, Mama keluarga Bian bukan saja sebagai pemilik perumahan Bukit Asri Hijau. Mereka lebih dari itu.


"Menurut mama dan papa, Sebaiknya lamaran dilakukan di rumah atau hotel?"


"Mama lebih condong dilakukan di hotel tapi biayanya lebih besar," suara mama tampak bimbang.


"Mama, Sekarang penghasilan Anggrek sudah membaik. Untuk biaya nanti bisa membantu papa dan mama," kata ku, Sepertinya mama sedikit melupakan anaknya sekarang sudah memiliki penghasilan dalam kategori baik.


"Mama terkadang lupa kamu sudah dewasa. Ada masa ketika mama masih merasa kamu sulung kecil mama yang sering menangis, Ketika pulang sekolah. Waktu berjalan tanpa terasa sekarang kamu akan bersiap memulai kehidupan baru, Melangkah kaki keluar dari rumah ini. Bersama pasangan yang terpilih oleh takdir,"


Kata demi kata dari mama membuat ku terharu. Aku memeluk mama seperti yang ku lakukan ketika kecil dulu, Ketika perundungan yang ku terima. Kata-kata julukan ejekan dari anak-anak lain. Kala itu mama akan memeluk ku erat dan membisikkan kata-kata menyejukkan. Kalimat yang membesarkan hati ku dan membangkitkan semangat dalam jiwa.


"Anggrek, Kamu dan Ken sama-sama anak sulung. Pernikahan ini akan menjadi pernikahan pertama dalam keluarga. Terlebih dalam keluarga Kenzo, Dia anak laki-laki pertama. Keluarganya pasti akan menyiapkan acara besar untuk Ken. Mama harap kamu bisa membawa diri dalam keluarga suami mu nantinya, ya."


Aku mengangguk selain anak pertama. Kenzo juga merupakan anak laki satu-satunya dalam keluarga.

__ADS_1


"Baik, Ma. Nasehat mama akan selalu Anggrek ingat," aku masih memeluk mama. Meresap kehangatan dalam tubuh wanita yang melahirkan dan membesarkan seorang Anggrek dengan segenap jiwanya.


Anugrah dalam hidup ku memiliki papa, mama dan Dewo. Mereka lah cahaya dalam hidup ku ketika bayangan gelap terkadang merengkuh erat.


..._____------______------_____...


Aku telah tiba di restoran Miepa. Memeriksa kesiapan tata letak ruangan restoran untuk acara selasa nanti, Tika karyawan administrasi kantor memberikan Informasi. Mengenai surat jawaban kesediaan bapak walikota menghadiri peresmian restoran.


Kesediaan bapak Walikota hadir menambah semangat membuncah untuk pembukaan restoran ini. Aku melihat antusiasme Rika, Nando, Andi, Mila, Bang Ipul, Ina. Mereka pegawai perintis usaha.


Dari awal aku berjualan mereka telah menyertai. Aku masih ingat ketika Nando menggantikan Tino yang memilih bekerja bersama Adiwarna, Entah apa kabar Tino karena booth pentol Adi tidak mampu bertahan lama.


Bang Ipul yang awalnya penjual gerobak keliling. Rasa lezat mie ayam buatannya membuat ku menarik bang Ipul untuk bekerja di cabang Miepa utama. Saat itu penjualan bang Ipul pun menurun karena pademi.


Seiring berjalan usaha, Aku lalu menambah varian dengan menggunakan resep beberapa chef dari kelas privat yang aku ikuti.


Rika yang menemani ku mencari ruko, Kami berjalan mengitari jalan Thamrin mencari ruko kosong.


Ina merupakan pegawai ku setelah Nando, Dia lah bagian dapur Miepa yang pertama. Andi yang memberikan ide mural wajah ku untuk Miepa kemudian menjadi ciri khasnya.


Mila yang secara tidak sengaja memberi ide untuk menjual frozen food melalui agen dan reseller. Selanjutnya satu persatu karyawan muncul sampai akhirnya kami bisa membuka banyak outlet, mitra dan memasukkan penjualan dalam kemasan kering.


Kami adalah team yang solid, Mereka lah team yang membantu perkembangan Miepa. Tanpa terasa susunan acara dalam gladi resik telah usai. Sekarang tinggal berharap pada grand opening akan berjalan lancar seperti hari ini.


Trrttt..trttt.


Dering telpon menarik atensi dari bayangan tentang Miepa saat awal berdiri. Panggilan telpon dari Kenzo.


"Halo, Ken,"


"Di restoran Miepa, Ken,"


"Makan siang bareng yuk,"


"Boleh, Jemput disini ya sayang."


"Iya, Tunggu bentar lagi ya,"


Tidak membutuhkan waktu lama Kenzo sudah tiba. Kami sudah di perjalanan ketika mobil Ken berbelok ke kafe Black and White.


"Makan disini, Ken?" tanya ku, Aku sama sekali tidak menyangka Kenzo akan mengajak ke kafe kepunyaan Danar ini.


"Iya, kenapa?" jawab Ken singkat.


"Nanya saja kok, Ken,"


"Oh gitu, Aku sudah tahu siapa pemilik kafe ini. Rencananya aku mau bertemu hari ini,"


"Hah? buat apa Ken?"


"Aku kan ketua himpunan pengusaha kafe dan restoran daerah kita, Nggrek. Jadi mau mengajak dia bergabung,"


"Kamu sudah tahu orangnya?"


"Sudah," jawab Ken singkat. Dia sedang fokus memarkirkan mobilnya lalu dia menoleh ke arah ku.

__ADS_1


"Tahu dari mana, Ken?" tanya ku penasaran.


"Kamu juga sudah tahu kan orangnya?" Ken bertanya balik dengan ekspresi yang sulit ku terka.


"Iya... Aku tahu, Ken," aku memilih menjawab jujur karena perasaan ku mengatakan Kenzo sudah tahu ini.


"Aku pikir saat kamu kehilangan barista favorit disini. Belum tahu siapa pemiliknya rupanya kamu sudah mengetahui siapa yang punya,"


"Aku baru tahu kok, Ken,"


"Kapan kamu mengetahuinya?" Kenzo menatap manik mata ku. Situasi ini tidak aku sukai karena Ken bertanya tak hentinya.


"Aku tahunya ketika sedang berada disini, Pemiliknya Danar," aku menyembunyikan kenyataan mengetahui ketika bertemu Bian disini dan ketika itu Ken juga menyusul aku dan Dewo.


"Siapa Danar? kenal dimana? Tidak banyak yang tahu siapa dia?"


"Danar adalah abang mantan ku, Bian. Kamu juga kenapa baru tahu pemiliknya?" sekali lagi lebih baik aku menjawab jujur siapa Danar karena Kenzo tadi berputar dengan pertanyaan yang sama.


"Aku baru saja terpilih menjadi ketua, Salah satu agenda ku mengajak semua pemilik kafe dan restoran bergabung dalam himpunan. Jadi aku mencari tahu informasi mengenai pemilik restoran dan kafe yang belum terdata. Sungguh aneh ketika pacaran dengan Bian, Kamu tidak tahu pemiliknya,"


Ken mengatakan dengan intonasi menyindir. Ah, Apakah aku harus menjelaskan panjang lebar kepada Ken. Bukankah itu hanya masa lalu?


"Selamat ya, Ken,"


"Makasih, Nggrek. Oh ya, Aku juga baru tahu pemilik untuk bangunan restoran Miepa adalah Bian. Kamu tidak menceritakan pada ku, Nggrek?"


"Memangnya harus ya, Ken?" aku tidak tahu pertanyaan ini ternyata membuat wajah Ken memerah.


"Dia mantan mu, Nggrek! Kamu pasti masih berhubungan selama ini ketika renovasi restoran,"


"Bian hanya mantan, Ken. Dia masa lalu bukan masa depan,"


"Masa depan mu, Siapa?" tanya Ken.


"Menurut mu, Siapa masa depan ku?" aku bertanya balik.


"Aku adalah masa depan mu, Anggrek dan Aku tidak suka dikhianati ya, Anggrek." Kenzo lalu keluar dari mobil. Dia membuka pintu ku, Aku masih di dalam. Tidak mungkin berdebat di parkiran secara terbuka.


"Aku tidak mengkhianati mu, Ken," tegas ku sambil menatap manik coklat dibalik kacamata milik Ken.


"Seandainya kamu menyewa restoran itu dari orang lain, Aku tidak akan seperti ini ketika kamu tidak menceritakan siapa pemilik gedungnya. Ini adalah mantanmu, Nggrek. Ke depannya kamu akan berhubungan dengan dia selalu untuk urusan sewa. Kamu adalah calon istri ku, Nggrek!"


"Aku hanya berteman tidak lebih, Ken."


Kenzo mengatakan itu dengan terang, Selama ini aku tidak pernah mengkhianatinya. Seharusnya dia tahu penolakan ku pada Bian.


Di parkiran kami bertemu teman Kenzo. Mereka menyapa, Ken meraih tangan ku untuk keluar dari mobil lalu ia menggandengnya. Dia membalas sapaan teman-temannya dengan ramah.


Kami kembali tampak seperti pasangan yang akur dan harmonis. Menyembunyikan kejadian berapa detik lalu.


*****************


 


 

__ADS_1


__ADS_2