Viral

Viral
90. Masalah Miepa


__ADS_3

Bagiku masalah


tidak pernah menawarkan pilihan


'dia' hanya menuntut


sebuah solusi


Caption Anggrek dengan foto outfit of the day, Penampilan feminim dan girly.


******


Bian kembali memberikan tangannya ketika melewati material bangunan. Aku menyambut tanpa tanya, Cleo memandang interaksi kami dalam diam. Sekarang aku tidak bisa menebak pikiran Cleo. Apakah lingkaran Prasetya memang seperti itu adanya?


Stiletto ini memang cantik tapi bermusuhan dengan keadaan saat ini. Aku berjalan perlahan, Tangan ku tidak membalas genggaman Bian tapi dia tetap menggenggam lembut. Mengarahkan jalan aman untuk di lewati sepatu cantik ini.


Kami sudah kembali dalam mobil, Kali ini Cleo yang menyetir. Aku yang keburu masuk ke kursi belakang, Kaget ketika Bian mengekori dan duduk di sebelah. Baru saja hendak membuka pintu untuk pindah ke kursi depan. Cleo langsung mengunci otomatis pintu dan mobil melaju.


"Hebat ya Pak Bian, Aku baru tahu lho ada asisten yang bertugas mengurus kehidupan pribadi atasannya," kali ini aku terang-terangan menyindir mereka berdua.


"Apa sih yang tidak bisa terjadi di dunia ini," Bian menjawab dengan seulas senyuman tipis.


"Cleo, Tiga mitra kenalan mu sampai detik ini bekerja dengan baik ya? Sama sekali tidak culas seperti pak Andre," Ucap ku untuk mengalihkan diri dari Bian.


"Tentu saja karena mereka merupakan orangnya pak Bian," ujar Cleo dengan santai.


"Apa!!" Teriak ku spontan, Sebuah kenyataan mengejutkan yang di jelaskan tanpa bersalah oleh Cleo. Astaga mereka berdua membuat ku gila.


"Aku membutuhkan solusi cepat memulihkan usaha mu. Dengan membuka 2 cabang Miepa tambahan di kota T dan A. Kamu bisa keteteran jika terus membuka cabang. Jadi aku memilih alternatif kemitraan. Sayangnya justru membuat mu lengah sehingga sembarangan menerima orang,"


"Seharusnya aku tidak membutuhkan bantuan mu,"


"Kamu butuh, Anggrek,"


"Apa yang kamu lakukan itu, Kak. Bentuk tanggung jawab karena ulah papa mu. Jika saja tidak dikacaukan oleh beliau walau tanpa bantuan mu. Aku yakin masih bisa maju,"


"Iya aku tahu, Semua bisa berjalan normal jika papa tidak mengacaukannya. Dari kejadian lalu aku mengambil tanggung jawab atas kesalahan orang tua ku. Selain itu aku juga sudah berjanji untuk membantu mu,"


"Kamu tidak perlu membantu ku saat ini, Aku bisa sendiri,"


"Hmmm,"


"Kenapa kamu menjawab dengan deheman?! Apa maksud mu?"


"Pacarmu melakukan apa sih? sekarang galak sekali."


Aku memalingkan wajah mendengar pertanyaan Bian, Kesal. Dalam keadaan ini Cleo dengan santainya memutar lagu BTS. Kepalanya mengikuti irama lagu seiring tangannya mengetuk stir. Luar biasa asisten Bian satu ini.


Nando menyambut kedatangan ku, Bian dan Cleo mengikuti langkah dari belakang.


"Aku masih harus bertanggung jawab dengan apa yang diperbuat papa, Hidup ku tidak tenang jika belum menuntaskan hal itu. Aku takut jika mati bisa menjadi arwah penasaran"


Bian berdiri di samping ku dan semakin mendekat, Otak ku segera memerintah untuk segera menuju ke ruangan.


Sejak kami berpisah, Bian kembali lagi ke keluarganya. Aku mulai melihat perubahan signifikan dalam dirinya, Dia mulai memperlihatkan sifat keluarganya. Berkemauan keras dan sedikit memaksa.


Apakah penerimaan keluarganya telah memulihkan kepercayaan dirinya? entahlah, Kali ini aku akan mengikuti permainan mu, Bian Prasetya.

__ADS_1


Seharusnya aku bisa berkonsultasi dengan Kenzo. Hanya saja ada poin yang tidak mungkin aku jelaskan, Tentang properti calon restoran Miepa di sudirman dan tiga mitra kami yang ternyata merupakan 'orang' Bian.


Dengan kata lain, Bian merupakan mitra usaha Ku. Dia memang mengikuti kemana pun aku pergi.


...____----_____----_____...


Kami berempat duduk di ruangan pribadi ku, Nando sudah menjabarkan garis besar kelakuan pak Andre, Seperti yang telah dia jelaskan melalui telpon sebelumnya.


"Aku menyarankan sebaiknya kamu membuat perusahaan terbatas (PT) untuk usaha kecil. Sejak tahun 2021 persyaratan lebih mudah,"


"Masa sih, Kak Bian?"


"Iya benar, Anggrek. Aku akan membantu mu untuk mengurusnya. Disini aku jelaskan poin penting yang harus disiapkan untuk usaha kecil. Salah satunya untuk membuatkan surat pernyataan pendirian lalu didaftarkan secara elektronik kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (“Menkumham”) dengan mengisi format isian. Ada beberapa kelengkapan surat juga yang perlu dilengkapi,"


Cleo menjelaskan dan aku melihat Bian menyimak setiap penuturan Cleo dengan seksama. Entah sudah berapa lama mereka bekerjasama.


"Jika sudah berbentuk PT, Kamu lebih mudah melakukan ekspansi dan menetapkan aturan. Bisa berkonsultasi dengan pihak berwenang juga. Oh ya, Besok apakah aku perlu ikut ke tempat pak Andre?" tanya Bian untuk kedua kalinya.


"Tidak usah, Aku sama Nando saja!" pungkas ku.


Terlalu beresiko bersama Bian. Kenzo memiliki pertemanan yang luas, Jika aku ketahuan bersama Bian akan menimbulkan praduga dalam hubungan kami. Bukan kah perselingkuhan Cahya dan Adi di ketahui Ken dari temannya.


"Berarti besok kita pergi pagi, Kak. Butuh waktu tiga jam ke sana. Kakak tidak merasa perlu menghubungkan pak Andre sekarang?" tanya Nando memastikan langkah awal yang ku ambil.


"Aku lebih suka berbicara langsung,"


"Baiklah, Kalau begitu kami pulang dulu ya," Cleo beranjak pergi di ikuti Nando. Tersisa Bian yang tetap diam di tempat.


"Aku berusaha untuk selalu ada untukmu, Anggrek. Maafkan emosi ku turun naik ketika berhadapan dengan mu. Kenyataan yang ada saat ini masih belum bisa ku terima sepenuhnya. Moga besok lancar ya urusannya," Bian berkata pelan kali ini.


Ketika Bian keluar dari pintu ruangan ku, Secepat kilat dia berbalik dan berbisik ditelinga ku.


"Masih ada harapan sampai pernikahan kalian dilakukan. Jaga dirimu baik-baik, Sayang," Dia melemparkan senyuman dan mengacak rambut ku.


"Kak Bian!!"


..._____----____--____...


Aku menutup pintu, Menentramkan jantung ku. Bian bisa bersikap biasa saja di depan Nando tetapi tidak di depan ku atau Cleo.


Memikirkan Bian tidak akan habisnya. Disisi lain aku harus memikirkan ulah pak Andre. Kami mati-matian menjaga citra dan rasa Miepa agar sama di tiap cabang dan mitra. Dari laporan Nando, Dia mengatakan menu dan rasa berbeda dari mitra pak Andre.


Tangan ku mengambil laporan untuk pak Andre, Pantasan ada lonjakan pengambilan bahan baku berapa bulan terakhir ini.


"Apakah dia mengambil keuntungan dengan menjual lebih mahal ke orang lain," batin ku.


Tokk.. tokkk


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan tentang pak Andre, Rika melaporkan Kenzo sudah menjemput.


Aku merapikan rambut dan memoles makeup tipis agar kelihatan segar. Perjalanan hari ini bersama Bian dan diskusi tentang rencana Miepa ke depan, Mencuri waktu sehingga tak terasa hari telah merambat malam. Stok Miepa pun sudah terjual habis.


Kaki ku melangkah anggun dengan si hak lancip. Betis, pinggang dan punggung ku terasa sakit. Setelah seharian menggunakan stiletto. Padahal Kenzo membelinya dengan harga cukup mahal. Aku pikir dengan harga segitu tidak membuat pegal.


"Hai, Sayang," sapa ku melihat ke arah Kenzo yang tampak rapi dan klimis.


"Kamu dari mana saja hari ini, Sayang?"

__ADS_1


"Hari ini sebelum makan siang bersama keluarga mu, Aku ke pasar lanjut ke spa terapi lalu melihat perkembangan calon resto Miepa, Kenapa?" tanya ku heran karena Kenzo memperhatikan dari atas sampai bawah kaki.


"Rok mu kotor dan rambut mu sedikit berantakan," jawab Kenzo yang sedikit membuat ku jengah. Ulah iseng Bian membuat rambut ku tidak rapi sempurna.


"Iya memang kamu benar, Ken,"


"Pulang yuk, Sayang."


Aku melangkah mengikuti Kenzo menuju Lexus di parkiran. Mobil pun melaju kembali di jalanan, Membawa tubuh lelah ku. Rasanya saat ini aku merindukan boneka pisang dan ranjang.


"Besok dijemput seperti biasa ya?" tanya Kenzo sambil menoleh sebentar ke arah ku.


"Tidak perlu sayang, Aku ada keperluan ke luar kota untuk menemui mitra kami di kota G,"


"Sama siapa?"


"Nando," jawab ku singkat. Aku sedikit lelah untuk menjelaskan kepada Kenzo.


"Kenapa bukan dia sendirian yang pergi?"


"Ada masalah dengan mitra kami, Aku harus turun juga untuk menemuinya,"


"Seharusnya Nando bisa menyelesaikan sendirian. Kalo banyak hal masih kamu kerjakan, Mulai sekarang harus memikirkan penempatan dia kembali sebagai koordinator Miepa," perkataan Kenzo membuat kening ku berkerut.


"Maksud mu, Sayang?" tanya ku.


"Hari ini kamu ke pasar, Melihat lokasi renovasi lalu besok akan pergi menemui mitra. Apa gunanya Nando?"


"Kami pergi barengan lho, Sayang,"


"Iya Anggrek, Kamu calon istri ku kalau Nando tidak bisa di andalkan untuk hal penting. Bisa merepotkan nanti ketika kita menikah," jelas Kenzo. Sebuah penjelasan yang menciptakan rentetan pertanyaan dalam benak ku.


"Iya," Aku menjawab pendek terlalu malas untuk membahasnya.


"Besok aku jemput kalau pun tidak sempat akan ada sopir mengantar kalian ya?"


"Maaf sayang, Terimakasih untuk bantuannya. Hanya saja aku merasa tidak perlu,"


"Kenapa?"


"Ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi" jawab ku tanpa menjelaskan secara detail. Memang aku berencana akan pergi ke tempat pak Andre, Sekalian mampir ke mitra pak Andre.


"Oh begitu ya?"


"Iya, Ken,"


"Sayang, Sepertinya ada beberapa hal yang harus dibenahi sebelum menikah. Mulai sekarang kamu harus belajar mendelegasikan pekerjaan pada pegawai mu, Carilah yang cakap. Jika tidak bisa sebaiknya mencari orang lain saja," perkataan Kenzo kali ini membuat ku tergagap, Mencoba mencerna setiap katanya.


"Kamu nanti akan mengurusi rumah tangga dan aku juga, Mulai saat inilah kamu belajar membagi waktu. Tidak semua hal harus kamu yang jalankan." tambah Kenzo melengkapi.


Aku terdiam mencoba mencerna. Apakah aku termasuk orang yang tidak menyiapkan langkah dalam pernikahan. Hal seperti ini luput dari perhatian ku.


Ah entahlah, Banyak hal yang ku pikirkan dalam satu hari ini.


********


Happy Reading dear 😍🥰❤

__ADS_1


__ADS_2