
Berhenti melihat rumput tetangga
agar fokus merawat rumput sendiri
Berhenti membandingkan diri dengan orang lain
agar fokus membangun potensi diri
Caption Anggrek hari ini. Sebuah caption yang sebenarnya ditujukan Anggrek untuk dirinya sendiri.
*********
Mobil ku membelah jalanan bersama Bian, Kami diam dengan pikiran masing-masing. Aku masih bergulat dengan pikiran apakah perlu menyampaikan peringatan Setya atau tidak.
"Anggrek mau kemana dulu?"
"Ke rumah baru ku bisa, Sayang. Aku mau lihat aktivitas di sana"
"Baik sayang"
Sepanjang ini frozen food ku menghasilkan pendapatan yang baik. Gerai mungil frozen food yang ku bangun di depan rumah menghasilkan penjualan di luar ekspetasi. Begitu juga hasil dari para reseller.
Mila yang sedang berada di gerai frozen food menyambut hangat. Dia lah salah satu marketing frozen food yang paling gigih berjualan. Postingan di sosial medianya aktif menawarkan dagangan.
"Anggrek kamu sudah makan siang belum? Makan di rumah ku yuk"
"Merepotkan kamu saja, Mila"
"Tidak perlu sungkan, Sesekali mencoba masakan sederhana ku"
"Ah aku jadi gak enakan"
Mila sedikit memaksa akhirnya aku dan Bian mengikuti langkah Mila ke rumahnya yang berada di jalan buntu sebelah rumah baru ku.
Rumah Mila sederhana, mungil tapi bersih dan tertata rapi. Dia memasak telur balado, ikan goreng, sayur bayam dan sambal terasi. Ditambah kerupuk sebagai pelengkap.
"Untuk ikan goreng dan bayamnya disesuaikan dengan selera anak-anak juga agar aku gak perlu masak sampai dua kali masak" Mila menunjuk ke arah lauk pauk di atas meja.
"Makasih ya Mila" Masakan Mila kali ini merupakan salah satu menu rumahan favorit ku.
Bian menarik kursi untuk ku lalu dia melakukan hal yang sama untuk dirinya. Mila melihat interaksi kami tapi dia tidak menanyakan apapun lalu Mila ikut makan bersama kami.
"Anak dan suami mu mana, Mila?"
"Mengantar pesanan untuk pembeli dari forum jual beli, Nggrek"
"Wah kamu paling giat dan membukukan penjualan paling tinggi, Terbaik deh Mila" Aku memuji tulus.
__ADS_1
"Ah, Bu Bos bisa saja" Aku hampir tersedak tulang ikan mendengar panggilan bu bos. Baru kemarin bu bos ini sudah kayak orang linglung sampai menabrak mobil yang sedang parkir.
"Masakan mu enak, Mila."
"Masakan yang mudah saja, Anggrek. Oh ya, Nggrek. Kami sekeluarga bersyukur sekali ada frozen food kamu yang buka disini. Sangat membantu perekonomian keluarga dan tetangga. Suami ku selama pademi ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Dengan aku berjualan membantu dia"
"Sama-sama Mila. Kita saling membantu"
Aku baru mengetahui sebagian penghuni gang buntu bekerja di agen travel wisata tidak jauh dari daerah sini. Ketika pademi melanda mereka kehilangan pekerjaan karena tidak ada turis berkunjung membuat travel wisata memilih tidak beroperasi.
Ketika frozen food ku merekrut para reseller, Mereka dengan semangat turun langsung menawarkan door to door. Target mereka ibu-ibu pekerja yang anaknya menjalankan pembelajaran secara daring.
Target tersebut mencari celah kesibukan ibu pekerja yang mencari makanan keluarga praktis tapi masih bergizi dan sehat. Frozen food ku memang mengusung makanan tanpa pengawet.
Ada rasa terharu yang membuncah dalam hati. Tidak menyangka bisa membantu perekonomian keluarga lain. Aku pun lalu berpamitan pulang kepada Mila, Tidak lupa menitipkan 'uang jajan' untuk anaknya.
"Wah, Bu Bos makasih ya. Moga lancar rejeki dan di tunggu undangannya" Mila menerima dengan sumringah. Suara Bian nyaris tidak terdengar ketika mengucapkan 'Aamiin'. Ucapan pertama setelah sedari tadi dia diam di rumah Mila.
Setelah memastikan ketersediaan stok dan proses pembuatan frozen food berjalan lancar. Aku bersama Bian kembali menuju butik.
"Benar kamu tidak apa-apa mengantar ku?" Aku menoleh ke arah Bian yang sedang menyetir.
"Iya sayang, Aku malah senang tahu aktivitas mu selama ini. Pantesan saja kamu sering tidak sempat membalas pesan ku."
"Maaf ya"
"Tidak apa-apa, Aku sudah memahami pekerjaan mu"
Sepanjang hari Bian menemani ku ke gerai frozen food, Tiga cabang Miepa, Butik dan Dua booth pentol. Menjelang sore kami mampir untuk menikmati sate ayam di daerah taman kota.
"Capek ya, Pak" Aku menggoda Bian.
"Enggak kok masa kalah dengan kamu. Inikan rutinitas harian mu, Sayang"
"Iya tapi aku senang melakukannya walaupun usaha ku belum besar tapi ternyata bisa membantu orang lain. Aku tidak menyangka keluarga Mila dan tetangganya terbantu dengan gerai frozen food yang ku dirikan"
"Perusahaan besar juga banyak beranjak dari usaha kecil Anggrek. Seperti kakek Danny dan Kakek Aryo, Kakek dari Tasya. Mereka membangun DAC dari usaha kecil"
"Iya kah"
"Ya betul, Aku mengagumi kamu Bu Bos tersayang"
"Jangan meniru Mila" Aku mencubit Bian gemas. Bian tertawa lalu sejurus kemudian ekspresi Bian berubah serius.
"Anggrek, Papa menelpon. Memastikan kami ke Jakarta dalam dua hari lagi."
"Sebenarnya untuk apa kalian harus datang?"
__ADS_1
"Aku akan mencari tahu ketika di Jakarta nanti"
"Bian" Aku meneguk saliva, Berat lidah ku untuk menyampaikan.
"Benarkah ini nomor papa mu? Saat kita sedang di wahana bermain beliau menelpon memperingati ku untuk menjauh darimu."
Bian mengambil handphone ku wajahnya tampak suram.
"Benar itu nomor papa. Aku sudah mencurigai dari awal tapi masih berharap bahwa hanya dugaan ku saja. Ternyata papa memang melakukannya.
"Berarti pemutusan sewa ruko ulah dari papamu?"
"Anggrek maaf, Ini semua terjadi karena aku. Tidak mudah membangun usaha dari nol. Kamu berjuang untuk itu"
"Semua diluar kuasa mu, Bian. Kondisi ini bukan sengaja kamu lakukan"
Sebuah tekanan dari Setya untuk membuat Bian patuh dan mengangguk pada setiap keinginannya. Dia tidak bisa menyerang Bian tapi melakukan pada orang yang disayangi Bian. Aku merinding dengan pemikiran ku sendiri.
"Aku akan melindungi mu sayang kali ini. Membantu memulihkan usaha mu. Aku malu jika tidak mampu melakukannya"
"Semua ada jalan Bian. Tidak semua hal berjalan mulus. Seperti keluarga Mila, Ada jalan untuk memulai rejeki lain"
Banyak pikiran melintas tentang papa Bian yang bahkan mencari tenggat waktu sewa Miepa. Sengaja merencanakan untuk memperkerjakan Cahya dan Adi yang pernah menyakiti ku.
Untuk hal terakhir bukan hal sulit mencari informasinya karena kami sendiri membeberkan pada publik kisah hidup di sosial media.
Setya bukan sekedar niat untuk memisahkan kami tapi memang dia melakukan berbagai cara agar jalinan kami terputus.
"Kita makan dulu sayang, Banyak energi dihabiskan berpikir membuat ku lapar" Aku mengalihkan pembicaraan yang membuat situasi jadi tidak nyaman.
Bian tersenyum kembali memamerkan lesung pipitnya. Berbagai pikiran dan langkah yang hendak ku ambil melintas dalam pikiran ku.
Pandangan ku berakhir pada kekasih ku. Dia memang memilih ku tetapi hubungan kami tidak akan semulus Natasha dan Nadia.
Aku ingin berhenti melihat rumput tetangga dan membandingkan dengan kondisi ku. Hanya tidak setiap saat aku kuat. Ada kalanya aku ingin hubungan ku berjalan lancar seperti teman-teman ku.
"Anggrek"
"Ya"
"Kami benar semua ada jalan pastinya. Kamu tolong bersabar dulu ya sampai aku kembali dari Jakarta dan memastikan apa yang ingin papa sampaikan"
"Baiklah"
Aku tersenyum sambil membatin kali ini aku hanya menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti.
*********
__ADS_1
Hai semuanya ❤❤❤
Selalu semangat ya untuk kalian ❤😘