
...Terkadang untuk memahami orang lain...
...kita harus menempatkan diri...
...dalam posisi mereka...
Anggrek berkata dalam hati ketika sarapan di pinggir kolam renang kediaman Tasya.
******
Bian berbicara dengan Tasya, Aku masih menjaga jarak dengan mereka. Tidak lama kemudian Bian menghampiri ku.
"Nggrek, Kenalan sama Tasya dulu ya," ujar Bian, Sebenarnya aku kesal pada kelakuan lancangnya. Dia tanpa memberitahu membawa ku kesini.
"Anggrek, ya? aku, Tasya. Senang akhirnya bisa bertemu, Bi banyak menceritakan kamu," sapa Tasya ramah dengan senyuman yang memamerkan kilauan giginya.
"Sama-sama Tasya, Moga cerita dari Bian yang baik ya" jawab ku, Grogi sedikit menghilang karena sambutan ramah Tasya.
"Sangat baik, Mari aku antarkan ke kamar. Kamu boleh meminjam pakaian ku malam ini,"
"Maaf merepotkan,"
"Tidak apa-apa,"
Aku melihat Tasya menekan tombol pintu dengan ornamen flaminggo putih. Ternyata lift, Tenggorokan ku terasa kering. Bian diam mengikuti kami, Dia tahu kalau aku kesal.
Tidak lama pintu terbuka, Ruangan dengan interior klasik dan mewah menyambut kami. Lampu kristal besar menjadikan diri sebagai fokus utama ruangan. Aku tidak paham mengenai interior tapi sepertinya tipikal rumah gaya Victoria.
"Ini ya Anggrek, Kamarmu. Aku sudah siapkan peralatan mandi dan pakaian tidur ku. Pakaian mu untuk besok sudah aku taruh di sana, Bian meminta ku memesan pakaian untuk digunakan besok, Jadi aku tadi meminta asisten ku membelinya, Semoga suka. Sampai ketemu besok, Nggrek,"
"Makasih ya, Tasya,"
Sepeninggalan Tasya, Aku menatap sosok pria di depan ku. Dia memasukkan kedua tangannya di saku jaket.
"Kamu mau marah? iya aku salah, Maaf ya Anggrek,"
Aku mendengus kesal, "Kamu tidak menghargai ku, Kak Bian. Harusnya kamu bertanya apakah aku mau tidak bertemu dengan keluarga mu. Aku membutuhkan waktu untuk menerima ini,"
"Aku mau kamu bertemu keluarga ku, Anggrek!" tegas Bian.
"Kak Bian! tidak sekarang ya, Aku belum siap. Kamu paham kan,"
"Tidak, Aku tidak paham. Kamu tidak selalu ada pekerjaan di Jakarta. Saat inilah aku akan mengenal mu pada keluarga ku,"
"Bukan berarti kamu langsung mengajak ku menginap seperti ini. Kamu bisa mengantar ke hotel," dengus ku kesal.
"Hotelnya lebih jauh, Nggrek. Kita bisa terjebak macet, Aku sedang mengejar waktu kakek Danny. Dia ada di rumah pagi hari. Tasya akan membantu mu, Rumah ku bukan disini tapi kami masih dalam satu kawasan. Aku tinggalkan kamu bersama Tasya ya,"
"Kak Bian, Aku baru putus dengan Kenzo pagi tadi. Bukan berarti aku bisa langsung menerima laki-laki lain. Aku membutuhkan waktu, Disini ada mama dan papa yang harus menerima penjelasan. Aku pun harus menghubungi mama Kenzo,"
"Aku akan menunggu sampai kamu siap! Mengenalkan pada keluarga ku bukan berarti aku memaksa menerima ku kembali. Hanya untuk membuktikan pada kamu, Nggrek. Keluarga sudah menerima pilihan hidup ku."
"Terserah kamu lah, Kak. Aku lelah,"
"Aku harap kamu mengerti, Nggrek. Met tidur ya Anggrek....," Bian meninggalkan ku sendirian.
Aku baru hendak memasuki pintu kamar ketika langkah kaki mendekati tempat ku berdiri. Tasya menghampiri dengan senyuman lembut.
..._____-----____------____...
Kami duduk di balkon, Netra ku memandang jejeran rumah mewah dengan pagar yang menjulang menawan. Langit malam penuh bintang membuat perumahan ini anggun dalam gelap malam. Aku dan Tasya duduk berdampingan. Dua gelas coklat hangat menemani kami.
"Di sana rumah kakek Danny dan kediaman paman Prasetya, Rumah mereka saling berdampingan," tunjuk Tasya, Aku mengikuti arah telunjuk Tasha. Tidak terlalu jauh rupanya.
"Iya, Maaf ya Tasya aku jadi merepotkan kamu. Semua di luar kendali," kata ku tulus, Bagaimanapun Tasya adalah mantan tunangan Bian.
"Tidak apa-apa, Aku menebus kesalahan karena kegaduhan yang ku buat. Bian membantu ku keluar dari rasa frustasi mendalam, Aku bersikap kekanakan ketika memaksa perjodohan. Bian dan Arga bersahabat dari kecil mereka seperti saudara. Ketika Bian menolong ku dalam sebuah insiden, Aku merasa dia pahlawan. Di sisi lain aku bermaksud membalas Arga, Semua menjadi kacau karena ku,"
"Itu hanya sebuah perjalanan hidup yang harus di lewati," tanggap ku hati-hati, Tasya baru keluar dari depresi karena patah hati. Aku takut melukai hati yang rapuh.
__ADS_1
"Iya, Bian membantu ku melewati fase tergelap. Dia, Kakak yang baik bagi ku. Kami adalah saudara walau tanpa darah yang mengikat. Dia sepupu ku yang terbaik,"
Tasya meneguk minumannya "Kamu baru putus ya?"
"Iya, Bian mengatakannya?" tanya ku.
"Tentu saja, Dia juga meminta tolong supaya kamu menginap di rumah kami. Anggrek, Maaf ya bagaimana perasaan mu setelah putus?" Tasya bertanya hati-hati. Dia sangat jauh berbeda dengan Diandra dan Danar. Didikan keluarga mereka apakah berbeda?
"Aku sudah tiga kali gagal dalam hubungan, Dua hubungan karena mereka tidak menginginkan ku. Satu lagi terhalang restu orangtua, Pengalaman ini membuat ku lebih kuat," kata yang terasa hambar ketika di ucapkan.
"Aku tidak bermaksud mengungkitnya Anggrek tapi yakinlah Bian akan memperjuangkan, mu. Besok kita akan bertemu kakek Danny dan kakek Denny. Kakek Denny dari keluarga ku, Papa Bian paling segan dengan keduanya,"
"Kenapa kamu mau melakukannya?" tanya ku heran.
"Aku ingin menjadi mak comblang atau pemersatu ya, Haha...." tawa Tasya renyah.
Kami berbincang ringan sampai malam menjelang dan kantuk menyergap. Aku sudah masuk ke kamar tamu.
Selalu begini, Terkadang aku membenci saat menjelang tidur karena menjadi waktu yang menyiksa. Sendiri, Memejamkan mata dan ketika lelap belum hadir. Semua lintasan bayangan justru menghampiri.
Kenapa aku menjadi workaholic yang begitu mencintai pekerjaan? semua berawal dari pengkhianatan Adiwarna.
Ketika melangkah untuk melupakannya. Bekerja adalah cara mengalihkan pikiran dan perasaan. Memaksa fokus pada tumpukan pekerjaan.
Tanpa sadar aku terlena merasa nyaman dengan dunia ini. Sebuah 'dunia' yang ku ciptakan sendiri tapi pada akhirnya kemarin. Justru menjadi boomerang dalam hidup ku.
Ah malam semakin naik, Aku sendiri dalam kamar yang besar dan megah. Kesendirian yang memberi peluang semua bayangan hadir. Merenung kembali apa yang salah dalam hubungan.
Kemudian berakhir dengan sebuah rasa tanya yang terus menuntut jawab, Apakah aku memang pantas disalahkan? bertambah dengan rasa tidak diinginkan, tersingkirkan.
Aku tidak melakukan kesalahan fatal tapi semua di luar keinginan. Ah aku benci menjelang tidur, Kembali ingatan tentang Kenzo hadir. Air mata ku turun mengalir seiring kepedihan yang terasa.
...___---____---____...
Pagi di kediaman Tasya, Aku harus mengompres mata dengan tisue yang dibasahi air dingin. Menangis semalaman membuat mata ku bengkak. Untung saja pouch make-up masih dibawa.
24 jam yang aneh, Aku seakan mimpi berasa di kediaman salah satu keluarga Anugrah. Keluarga yang ku ketahuilah dari balik layar, ketika internet mengungkap sebagian jati diri mereka.
Selalu ada kondisi mengharuskan untuk melangkah menjauh dari keadaan ini.
Ketika keluar dari kamar seorang art mengajak ke bawah. Menemui Tasya dan tante Lusi yang berada di gazebo tidak jauh dari kolam renang. Aku menyapa keduanya, Tasya beranjak memberi waktu berdua dengan tante Lusi.
"Anggrek kita bertemu kembali," tante Lusi membuka pembicaraan.
"Iya tante," jawab ku sopan.
"Masih dengan cerita yang sama dalam situasi berbeda. Bian tetap memilih mu bahkan tidak tergoyahkan. Aku memutuskan akan mengikuti kata hati putra ku. Kuatkan mental mu, Nggrek. Tidak membutuhkan waktu lama. Aku akan pastikan kalian akan bersatu,"
Aku diam saja mencoba memahami keadaan. 24 jam dengan keadaan yang berubah drastis. Aku harus menjaga otak ku masih waras.
"Anggrek, Kamu harus tahu. Saat tante menikah dengan papa Bian. Dia tidak mencintai tante tapi hanya menjalankan amanah mendiang istrinya, Kakek Danny dan istrinya juga tidak menerima kehadiran tante. Bisa di pahami kepergian pewaris tunggal menyisakan luka mendalam tapi tante tetap kuat sampai akhirnya semua menerima kehadiran tante, Tidak mudah, Bukan berarti tidak bisa,"
"Benarkah tante?"
"Apakah harus berbohong untuk penolakan? kamu mesti 'ber-manuver' ketika masuk ke sini. Keluarga ini menyukai wanita cerdas, cerdik dan tangguh. Jadilah sosok itu, Tante juga bukan dari kalangan mereka," bisik tante Lusi.
"Iya, Tante," aku mengangguk. Bermanuver, cerdas, cerdik dan tangguh. Terdengar seperti sebuah tantangan.
"Anggaplah tantangan dalam hubungan kalian, Tante sudah mendengar dari Bian. Kamu merintis usaha di kota kalian, Itu sudah jadi modal awal. Kakek Danny dan Kakek Denny menyukai anak muda yang mandiri. Kamu harus belajar mengambil hati mereka," pungkas tante Lusi. Dia seakan tahu pikiran ku.
"Baiklah tante Lusi," jawab ku. Di saat seperti ini Bian entah menyangkut dimana.
Tidak lama kemudian, Netra ku melihat dua pria berusia senja. Mereka tampak gagah dan mencerminkan orang-orang yang kaya pengalaman hidup.
"Danny, Kita kedatangan tamu!" kata pria yang tampak lebih muda. Aku menebak dia kakek Denny dari Tasya. Aku menyalami keduanya dengan hormat.
"Kalian belum sarapan? Tasya mana? siapkan sarapan disini," perintah kakek Danny kepada seorang asisten yang berdiri di area kolam renang.
"Kamu bertingkah seperti tuan rumah disini," sindir kakek Denny.
__ADS_1
"Apa salahnya selagi Reinhard dan Elna di luar negeri," timpal tante Lusi membela kakek Danny.
"Tidak ada yang salah, Selagi anak dan menantu mu sedang di luar negeri kami sebagai tamu menjamu diri sendiri," Danny menepuk pinggir kursi Denny.
Mereka tertawa, Tidak lama kemudian Tasya datang bergabung. Bersama seorang pria dewasa yang tampak bertingkah seperti anak kecil. Inilah yang di ceritakan Bian. Kakak Tasya yang mengalami suatu sindrom sehingga dia tetap bertingkah anak-anak dalam usia dewasa.
Aku melihat Tasya telaten mengurusi kakaknya walau dibantu asisten mereka. Dia tetap mengambil alih.
"Kamu Anggrek, ya? Bian sudah menceritakan kepada kakek. Aktivitas mu sekarang apa, Nggrek?" tanya Danny.
Aku tahu kakek Danny sudah mengetahui kegiatan ku tapi dia ingin mendengar langsung.
"Iya, Benar saya Anggrek. Sekarang saya sedang mengelola usaha mie Miepa dan frozen food serta butik bersama sahabat saya,"
"Mie? berarti sama awalnya dengan kami. Danny ini dulu awalnya berjualan mie gerobak. Dia mendorong mie keliling kampung karena itu Danny kesulitan mencari gadis sebagai pasangan, Haha," tawa Denny tampaknya dia lebih lugas dari kakek Danny.
"Dan para gadis itu berbalik mengejar ketika aku mapan," pungkas Danny.
"Ya.... Sebagai perintis usaha. Semua di mulai dari nol. Untuk diwariskan kepada generasi keluarga kita, Kami pun demikian. Anak dan cucu kami yang menikmati kerja keras orang tua dan kakeknya,"
"Kita bekerja keras bukan saja untuk diri sendiri tapi demi masa depan anak dan cucu," timpal Denny.
"Berarti calon menantu saya, Sudah melangkah ke arah yang benar, bukan?" tambah tante Lusi. Sedikit mengejutkan ketika dia menegaskan kalimat tersebut.
"Calon Bian ya? tentu saja niat dan langkah merealisasikan adalah modal awal untuk sebuah mimpi. Tanpa niat dan langkah, Impian hanya lah kembang tidur," imbuh kakek Denny.
"Sarapan sudah siap, Kita makan di area pinggir kolam ya," kata Tasya menunjuk iring-iringan art mereka membawa sajian makanan. Sekaligus mengakhiri perbincangan kami di gazebo.
Perbincangan dengan kakek Danny, Denny, tante Lusi dan Tasya berlanjut di meja makan. Mereka berbagi pengalaman ketika memulai usaha.
Aku bisa menangkap betapa kerasnya mereka bekerja di masa muda. Terkadang harus memahami ketika mereka begitu pemilih mencari calon pasangan bagi anaknya.
Sebagai perintis kesuksesan dan pembuka jalan, Tentu saja mereka tidak mau gegabah memilih 'orang' yang akan masuk dalam lingkaran dalam keluarga.
Sarapan sudah selesai dari tadi, Semua di meja makan sudah dirapikan. Setelah berbincang lama akhirnya Danny dan Denny beranjak untuk pulang.
"Sampai ketemu di tempat kami untuk makan siang, Papa Danny dan Papa Denny," tante Lusi berkata dengan nada hormat. Ketika kami menyelesaikan makan siang.
"Tentu saja kami akan hadir di sana, Sampaikan salam pada Setya,"
"Baik akan saya sampaikan, Minggu ini suatu kebetulan kita bisa melewati sarapan dan makan siang bersama,"
"Membutuhkan suatu momen untuk menyatukan kita rupanya," imbuh Danny melirik ku.
Ketika mereka pergi, Tante Lusi berbalik memandang ku. Dia memegang kedua bahu dengan lembut.
"Anggrek nanti tante tunggu di kediaman kami, Kita akan makan siang bersama hari ini,"
"Iya, Tante,"
Aku meneguk saliva, Satu langkah pagi ini berakhir dengan baik. Masih ada satu langkah lagi. Pihak generasi pertama keluarga ini menerima dengan tangan terbuka. Sekarang tinggal pertemuan kedua saat makan siang.
Bian sepertinya sudah menyiapkan semuanya. Dia telah menceritakan segala garis besar tentang ku.
Entah bagaimana dia bisa meyakinkan dua orang paling dihormati dalam keluarga Anugrah. Dua orang paling berpengaruh yang jelas mengalahkan pengaruh Setya Prasetya.
Aku juga baru tersadar Bian masih belum datang di kediaman Tasya. Sepertinya dia menyiapkan langkah awal untuk masuk dalam lingkaran Anugrah, Selanjutnya menyerahkan pada ku untuk menyelesaikannya.
Sepertinya aku bisa menyelesaikan dengan cukup baik. Sekarang tinggal langkah berikutnya memasuki lingkaran keluarga Setya Prasetya. Kali ini rasa penasaran menggelitik ku.
Hmmm aku akan bertemu 'musuh' lama, "Ah, Semoga beliau bisa berubah kali ini," gumam ku dalam hati.
*********
...Selamat senin pagi...
...Semangat beraktivitas kembali bagi kita semua ya...
...Kita adalah perancang kehidupan tapi bukan penentunya...
__ADS_1
...☺...