Viral

Viral
50. Refreshing


__ADS_3

Refreshing bersama sahabat wanita mu


Nikmat bukan berupa harta saja


Sahabat


keluarga


bahkan napas yang masih berhembus


adalah nikmat yang sering terlupakan


Caption Anggrek hari ini dilengkapi foto bersama ketiga sahabatnya.


******


Mobil ku melaju keluar dari kota menuju ke pantai yang akan menjadi tujuan bersama Natasha, Nadia dan Tania didalamnya.


Sebuah rencana mendadak untuk menikmati liburan bersama. Diawali oleh Nadia yang akan berencana menikah dalam waktu dekat. Dia ingin menghabiskan waktu lajang bersama teman-teman.


Aku yang sedang gusar dari berapa hari lalu jelas menyambut dengan semangat. Begitu pula Natasha walaupun hamil memiliki energi yang tak habis. Rencana pun semakin lengkap dengan sambutan Tania yang mau ikut.


Kami sudah lama tidak menikmati liburan bersama. Memilih menginap di resort pinggir pantai bisa menjadi alternatif untuk refreshing jiwa.


"Sayang apakah sebaiknya aku ikut mengantar"


"Tidak Bian khusus buat kami"


"Kenapa sekalian tidak mengajak aku, Gege dan Rian"


"Gak mau ah kami menginap nanti malah jadi fitnah kalau ada yang tahu"


"Kami tidak menginap hanya mengantar saja"


"Tidak sayang kasihan Tania jomblo"


Aku tersenyum geli membaca chat Bian. Dia merayu ingin ikut. Kata Nadia, Rian juga begitu mau ikut kecuali Gege yang ada tugas luar kota sehingga mempercayakan Natasha bersama kami.


Mobil ku memasuki parkiran resort setelah menyelesaikan urusan dengan resepsionis kami segera menuju family room. Tipe kamar yang kami pilih cukup untuk empat orang.


Menghadap pemandangan pantai dan memilki balkon sendiri. Dua ranjang tipe queen, ruang tamu dan dapur mungil memadai untuk kami berempat. Udara pantai yang khas menyeruak dari jendela kamar. Menggoda indera penciuman ku.ki


Semua meletakkan barang bawaan dan menyusun dengan rapi. Nadia merenggangkan tubuh dan mengambil posisi di sofa. Berkali-kali dia meminta Tania mengambil foto dirinya.


"Jelek ah, Aku kelihatan gendut"


"View pantainya tidak kelihatan"


"Oh aduh pipi ku tampak chubby"


"Jangan dari bawah Tania. Lihat aku tampak boncel"


Tania tampak kesal karena selalu salah mengambil foto Nadia.


"Kenapa kamu dan Anggrek tidak mengajak pacar kalian biar bisa jadi tukang foto" Selorohnya dongkol.


"Kasihan kamu nanti jadi umpan ikan di laut kalau kami mengajak pasangan" Nadia terkekeh geli menggoda Tania yang memang masih belum memiliki pasangan.


"Dunia begitu kecil ya ternyata pasangan kita saling mengenal" Natasha mengambil posisi di ranjang sambil senderan dan mengusap perutnya.


"Aku mengenal Bian justru dari kamu kan Nat saat foto prewedding" Aku mengingat kali pertama bersama Nadia menemani Natasha dan Gege prewedding.


"Eh kenapa tidak ada yang menanyakan dari mana aku kenal Rian?" Nadia duduk bersila di sofa matanya melirik ku.


"Darimana? Tania ikut duduk di samping Nadia. Dia tampak penasaran.


"Anggrek jangan marah ya karena aku baru tahu dari sosial media mu kalau kamu memiliki hubungan dengan Bian"


"Kenapa harus marah memangnya ada apa?" Aku bertanya heran kepada Nadia yang tersenyum-senyum sambil tertawa kecil.


"Aku kenal Rian justru dari Bian. Setelah melihat Bian pada saat pemotretan prewedding aku mendekati Bian"


"Haaaahhh serius" Kami bertiga memberi respon berbarengan yang di sambut tawa Nadia.


"Apakah begitu cara jomblo mendapatkan jodoh. Aku harus memberanikan diri untuk bertindak" Tania berdiri dari sofa sambil mengibaskan rambutnya.


"Ah tidak juga kalau Gege, Dia yang mendekati ku. Kami menjalankan hubungan yang akhirnya Gege melamar ku lalu menikah dan berakhir dengan perut ku yang membesar saat ini"


"Aku juga Bian yang mendekati ku"


"Nah tahu tidak dari awal di pemotretan aku melihat Bian berapa kali mencuri pandang melihatmu tapi kamu abai, Nggrek"


"Terus kamu masih tetap mendekati Bian juga. Bagaimana ceritanya?"


"Iya karena aku penasaran dengan sikap coolnya mengingat ku pada Nicholas Saputra"

__ADS_1


"Kalian berdua ngaco. Satu bilang Park Bom Gum dan satu lagi Nicholas Saputra" Natasha menggeleng takjub melihat cara pandang aku dan Nadia.


"Dan Bian risih karena aku selalu menghubunginya lalu dia mengenalkan ku kepada Rian. Ternyata banyak persamaan aku dan Rian. kami menyukai alam, suka masak dan satu lagi ternyata kami suka drama Korea"


"Rian suka drama Korea?" Kami bertanya heran


"Iya betul sekali" Nadia terkekeh geli dengan reaksi kami.


"Kalau begitu kenalkan aku dengan circle cowok kalian dong" Tania pura-pura bersender manja pada Nadia.


"Ada Dewo adik Anggrek"


"Masih bau kencuuurr" Kami tertawa melihat reaksi Tania yang manyun.


Aku memang ikut tertawa riang bersama mereka tapi ada sudut hati ku yang nelangsa. Semudah itukah Natasha dan Nadia menemukan jodohnya tanpa jalan berkelok seperti ku.


"Eh kita ke pantai yuk" Nadia beranjak dari sofanya.


"Aku tetap dikamar ya mau ngadem" Natasha tidak ikut dia memilih di dalam kamar.


************


Pasir putih pantai menyentuh kaki kami, Hembusan angin menerpa wajah kami bertiga. Matahari terasa hangat karena hari telah menjelang sore. Waktu pas menikmati suasana pantai.


Tania menyingkir dari kami dengan menggunakan tripod. Dia hendak mengambil foto sendiri tinggal aku dan Nadia yang menyusuri pantai.


"Anggrek kamu sudah tahu cerita keluarga Bian"


"Sedikit banyak ada yang ku ketahui" Aku berhati-hati membicarakan perihal keluarga Bian kepada orang lain walaupun kepada Nadia.


"Kamu masih ingat ketika aku bertemu Danar dan mengagumi betapa tampannya dia. Aku bertanya pada Rian. Dia ternyata kakak beda ibu dengan Bian"


"Iya benar sekali"


"Rian mengatakan kepada ku kalau papa mereka memaksa Bian menikah dengan gadis pilihan keluarga mereka tapi Bian menolaknya"


Aku mengangguk karena sudah mengetahui hal ini sebelumnya.


"Kata Rian, Gadis itu sangat cantik. Dia pernah satu kali datang ke studio Rian"


"Apaaa! Dia pernah datang kesini? Kapan?" Aku terperanjat kaget.


"Sepertinya sebelum kita mengenal Bian karena kata Rian. Dia datang pada awal Bian pertama kali kesini dan mengurusi sewa ruko untuk studio Rian"


"Dia mencari Bian?"


"Rian cemburu hehee"


"Bisa jadi cemburu atau memang dia tidak banyak tahu juga karena Bian tertutup mengenai keluarganya. Itu juga Rian tahu karena gadis itu menunggu Bian di studio Rian"


"Aku tahu sedikit mengenai gadis itu dia bernama Tasya tapi Bian tidak pernah memberitahu kalau dia pernah datang kesini"


"Itu kan sudah lama Anggrek bahkan Bian juga tidak pernah cerita kalau aku mendekati dia dan akhirnya Bian mengenalkan ku pada Rian"


"Iya dia memang baru banyak bicara akhir-akhir ini sebelumnya juga dia irit bicara" Aku masih ingat perkataan Bian ketika pertama kali dia mengutarakan perasaannya.


"Kamu tidak akan mengenalku kalau kamu menjauh dari ku"


Bian memang mulai membuka lembar demi lembar kehidupan dirinya ketika aku telah menjadi kekasihnya tapi ternyata lembaran itu tidak utuh sepenuhnya.


"Anggrek yang aku tahu papa Bian termasuk ambisius, Dia tidak menyukai Bian memulai usaha disini jika kamu bersama Bian mungkin akan berat meminta restu dari papanya"


"Kamu tahu darimana?"


"Dari cerita penyewa ruko kan itu berdiri di tanah mama Bian. Papa dan mamanya pernah datang saat awal ruko berdiri. Menurut cerita mereka mamanya ramah tetapi tidak dengan papanya"


Aku mengangguk tentu saja dari cara dia memilih mama Laura sebagai istri sudah menunjukkan standar selera papa Bian, Jika akhirnya dia menikah dengan mama Bian karena memenuhi permintaan dari mendiang mama Laura.


Harta dan tahta selalu menggoda dari jaman ke jaman. Selain cerita cinta yang sama tua dengan umur dunia. Cerita harta dan tahta pun menempatkan hal yang sama.


Butuh mental kuat untuk tidak tergoda dengan harta dan tahta karena kehormatan manusia terlalu sering ditentukan dua hal itu. Tidak selalu tapi sering terjadi.


Bahkan aku masih ingat perlakuan SPG kosmetik atau penjaga butik ternama ketika kami belanja. Dulunya aku jarang menerima pelayanan ramah dari mereka walau tidak semua tapi sering aku mendapatkan hal tersebut.


Itu baru pelayanan dalam skala terendah kehidupan belum lagi pelayanan lainnya. Semakin banyak uang yang di pegang maka pelayanan terbaik akan mudah didapatkan.


Tidak mengherankan jika banyak orang terpikat dengan magnet harta dan tahta. Aku mungkin jika dalam posisi Bian belum tentu akan menjalani kehidupan yang dipilih oleh dia. Mungkin Bian termasuk idealis.


Entahlah aku sedang ingin menyingkirkan praduga rumit yang ku karang sendiri.


"Anggrek, Aku minta maaf jika apa yang ku sampaikan menganggu mu dalam menjalankan hubungan dengan Bian tapi sebagai sahabat. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ku ketahui agar kamu siap menghadapinya"


"Tidak apa-apa Nadia. Aku justru berterimakasih mengenai informasi ini"


Apa yang ku ucapkan kepada Nadia tulus dari hati ku yang paling dalam karena ketika menjalankan hubungan dengan Adiwarna. Kenzo yang sudah mencurigai gelagat perselingkuhan mereka justru memilih diam.

__ADS_1


Aku memahami keputusan Kenzo karena kami sebatas teman dan dia seorang pria yang mungkin tidak selugas kami membicarakan hal pribadi.


Tak terasa langit mulai berwarna jingga sebentar lagi matahari terbenam akan muncul. Family room yang kami sewa memang lebih mahal dibandingkan kamar bertipe sama karena view matahari terbenam paling baik dari kamar yang kami pilih.


"Ayooo kita pulang. Aku sudah membuat banyak foto" Tania menghampiri kami sekujur tubuhnya penuh pasir.


"Kamu buat foto atau guling-guling di pasir, Tan"


"Kita harus maksimal dalam mengambil pose. Aku tadi dari gaya duduk, berdiri sampai baring"


Aku menoel pipi sahabat sekaligus asisten kami di butik ini dengan gemas. Dia memang periang yang punya ulah unik. Mungkin jika di pertemukan dengan Rika mereka akan menjadi partner heboh tak tergantikan.


Dari kejauhan Natasha melambaikan tangan dari balkon. Dia meminta kami menghampirinya, Kami berlari kecil. Berlomba lebih dulu mencapai Balkon. Berempat kami menikmati matahari tenggelam.


************


Malam menjelang datang mengantar kan sangat surya kembali ke peraduan.


Setelah menyelesaikan makan malam. Kami kembali ke kamar, Berkumpul bersama sambil menikmati cemilan. Nadia tampak penasaran dengan kehidupan rumah tangga yang dijalankan Natasha dan Gege.


"Nat apa yang pertama kali kamu rasakan ketika serumah dengan Gege"


"Tidak banyak yang berubah dari kami saat pacaran karena aku dan Gege bukan tipe pasangan jaga image kami terbuka dari awal. Hanya saja aku baru tahu kalo Gege tidur ngorok"


"Hahaaa, Astaga kamu bisa tertidur mendengarnya"


"Untung saja aku tipe orang yang kalau tidur udah kayak kebo. Apapun terjadi tidak terdengar"


"Jodoh ini jodoh"


"Sebenarnya ada satu yang mau aku tanyakan" Tania membuat kami memalingkan wajah ke arah dia.


"Bagaimana cara kalian mendapatkan pasangan ganteng"


"Gege lumayan sih tapi kalau mau tanya bagaimana cara mendapatkan pasangan ganteng. Anggrek jagoannya"


"Iya betul tanyakan sama dia" Nadia menunjuk ke arah ku menyetujui pendapat Natasha.


"Tidak.. Tidak. Pasangan ganteng banyak beban memangnya kamu mau memiliki hubungan tandas seperti aku dan Adi? Patah hati itu berat, Rindu pun kalah"


Aku mengatakan setengah bercanda padahal apa yang ku sampaikan membuat hati ngilu. Kadang senyum dan tawa bisa menjadi topeng untuk menutup hal yang sebenarnya.


"Tidaakk, Aku tak akan sanggup. Lambaikan bendera putih ke kamera" Tania melambaikan tissue ke arah kami berpura-pura sebagai bendera putih.


Dia melanjutkan kalimatnya "Aku mau seperti Nadia tidak perlu pacaran lama tetapi dapat jodoh yang baik"


"Setiap orang memiliki jalan sendiri. Kita tidak bisa menentukan sekehendak hati jika bisa aku mau memilih. Aku akan menunjuk Nicholas Saputra sebagai suamiku"


Nadia melirik ku mungkin dia tidak enak dengan kisah cinta ku yang kandas dengan Adiwarna dan dia pun sedikit tahu hubungan ku bersama Bian kemungkinan terkendala restu papa Bian.


"Ah benar aku mau Jefri Nichol kalau bisa memilih dan menunjuk siapa jodoh ku"


"Huhhhh" Nadia dan Natasha bersorak kecil ke arah Tania. Dia memang paling muda diantara kami dan belum memiliki pasangan.


Malam kian larut. Langit diluar semakin mengelap bersamaan dengan cahaya lampu yang berpendar mengundang serangga untuk mendekat. Bintang-bintang mulai bermunculan.


Aku melihat ketiganya sudah tertidur lelap. Gawai ku berkedip, Layar menampilkan nama kekasih ku.


"Sayang sudah tidur?"


"Baru mau tidur. Kamu belum tidur, Yang"


"Menunggu kabar tapi sepertinya dia lupa karena keasyikan liburan"


"Hehee maaf ya harap maklum kalau perempuan sudah kumpul kadang cerita aja rebutan"


"Tapi eksis di sosial media masih inget tu. Foto dan story masih sempat cuma hubungi aku saja yang tidak sempat"


"Itu kan bentar sayang, Ambil foto dan story karena aku dapat potongan dari pihak resort padahal tidak meminta potongan harga. Mereka yang berinisiatif memberikan ketika tahu aku akan menginap"


"Yeeee yang selebgram ehem"


"Ihh kamu, yang"


"Ya sudah tidur sana gih. Sampai ketemu lagi ya dan met tidur serta mimpi indah ya honey"


"iya sayang. Makasih. Mimpi indah juga untuk mu"


Aku menutup layar gawai sambil memperhatikan keluar jendela menikmati pantai yang tenang. Sebuah ketenangan pantai seakan abadi selamanya.


Padahal pantai inilah berapa tahun lalu merenggut nyawa berapa orang ketika badai tiba-tiba menyerang. Seperti itulah kehidupan terkadang menenangkan dan membuai diri dalam kenyamanan.


Aku pernah merasakan badai kehidupan ketika sekian lama berada dalam ketenangan sebagai anak manusia tapi aku berhasil melewati badai tersebut.


Setelah badai aku menemukan kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Mengantarkan ku disini saat ini bersama sahabat dan kekasih yang baru.

__ADS_1


******


__ADS_2