
...Jodoh itu misteri...
...tidak ada yang tahu pasti...
...di mana hati akan berlabuh...
...Pasrahkan pada garis takdir...
*******
Tiga bulan menuju hari ku
Kami memundurkan waktu acara menjadi tiga bulan. Dikarenakan beberapa vendor telah penuh di dua bulan pertama.
Aku juga harus menyiapkan administrasi untuk kelengkapan syarat menikah. Bian tidak berdomisili di daerah kami sedangkan akad dilakukan di tempat ku, Resepsi dilakukan di dua tempat.
Aku tidak tahu bagaimana keluarga Bian mengurus pelaksanaan acara dengan waktu tiga bulan di Jakarta, tapi dengan koneksi dan finansial yang mereka miliki sepertinya tidak masalah.
"Mundur lagi satu bulan makin lama," keluh Bian ketika kami baru pulang dari menyelesaikan administrasi di kantor agama.
"Kita sudah melalui hubungan ini selama dua tahun lebih, Tinggal menambah 30 hari lagi, Kak. Itu tidak akan lama,"
"Aku sih maunya besok saja sahnya, Akhirnya cincin dari ku tersemat di jari mu," jawab Bian sambil meraih tangan ku. Segera ku tepiskan perlahan.
"Kak, Gak enak lho dilihatin orang," cetus ku karena kami jalan bersama menuju parkiran di kantor agama. Tanpa melakukan itu dari tadi saja banyak yang melirik paras menawan calon suami ku. Membuat dada jadi sesak, Aku cemburu.
"Eh, Lupa...," Bian tersenyum memamerkan lesung pipitnya. Kami telah memasuki mobil antik Bian ketika netra ku melihat mainan monyet di dashboard mobil.
"Kenapa? dia lucu kan. Kamu teringat sesuatu kah ketika melihatnya? mau nostalgia? aku kangen saat itu,"
"Jangan konyol ya, Kita di parkiran kantor. Udah ah, Kak. Ntar digerebek pula, Tinggal tiga bulan lagi," ingat ku pada Bian Prasetya.
"Siapa tahu langsung dinikahkan, Gak perlu nunggu tiga bulan lagi," seloroh Bian membuat ku gemas dan mencubit lengannya. Dimanakah gaya cool dan cuek Bian, Menguap ketika menjadi kekasih ku. Dia hangat dan menyenangkan jika kami bersama.
...____-----___-----___...
Aku mematikan handphone setelah sebentar lagi pesawat lepas landas. Tasya sudah mendesak ku berangkat ke Jakarta menemui desainer Zannah Jovanka.
Dia tidak sabar untuk ikut membantu merancang kebaya dan gaun yang akan ku kenakan. Benar saja, Aku baru melangkah keluar dari pintu keluar penumpang di bandara. Wajah cantiknya sumringah melambai ke arah ku.
"Aku sudah tidak sabar menanti saat ini," kata Tasya ketika kami memasuki mobil. Sopir Tasya tersenyum simpul melihat ke arah kami.
"Iya ada keperluan di tempat ku makanya baru bisa datang kesini,"
"Nanti aku ke kota kalian ya melihat persiapannya, Rencananya di gedung keluarga Prasetya di bukit hijau ya untuk resepsi?"
"Iya begitu lah rencananya,"
Mobil pun melaju langsung ke tempat Zannah. Bahkan belum sempat mampir ke hotel untuk check-in.
Sepertinya aku memang harus membiasakan diri dengan ritme keluarga Anugrah dan Prasetya, ketika mereka memiliki keinginan. Adaptasi salah satu cara bertahan menikmati hidup.
Setelah tiga jam akhirnya kami tiba di tempat Zannah. Dia lebih menarik dari penampilan di layar televisi.
"Lain kali lebih baik kita carter helikopter, Nggrek. Macet ini menghabiskan waktu saja," gerutu Tasya.
"Memangnya ada hall untuk mendarat," gumam ku tadinya aku ingin bertanya tapi batal.
Dia tuan putri yang manja, Bukan selera Bian. Aku masih ingat perkataan Danar. Menurut ku bukan seperti itu, Ketika terlahir dengan fasilitas yang serba lengkap dan mudah di miliki. Bagi Tasya, Hal ini merupakan biasa.
Aku berusaha menahan diri tidak norak ketika Reina sang penyanyi terkenal berada di tempat yang sama. Tangan ku sudah gatal ingin mengambil handphone untuk foto bareng.
"Reina... Perkenalkan ini calon mempelainya, Anggrek. Reina salah satu penyanyi yang akan mengisi acara resepsi kalian," ucap Tasya ketika berhadapan dengan Reina. Aku menguatkan kaki demi mendengarnya. Nyaris pingsan rasanya.
"Calon istri produser eksekutif kita ya? ada request untuk lagu yang akan dinyanyikan?" tanya Reina ramah.
"Nanti aku bicarakan dengan Bian dulu," pelan suara ku keluar. Suatu situasi yang bahkan dalam mimpi tidak pernah hadir.
Atensi kami teralihkan ke Zannah ketika dia menghampiri ku. Tasya memberikan beberapa masukan ide untuk rancangan kebaya pada ku. Lalu dia mendiskusikan dengan Zannah.
__ADS_1
"Kamu antusias sekali Tasya?" komentar Zannah melihat betapa excited Tasya.
"Aku suka menyiapkan acara seperti ini, Sayang sekali kesempatan untuk berkecimpung dalam bidang ini belum datang. Papa justru mulai mengenalkan perusahaan galangan kapalnya, Aku sulit mencari alasan untuk menghindar kali ini karena kuliah ku telah selesai,"
"Katakan saja sejujurnya," balas Zannah melihat wajah Tasya menjadi keruh.
"Aku tidak ingin mengecewakan mereka karena cuma aku tumpuan harapan mereka, Mungkin jika aku bisa memilki suami potensial yang bisa dipercaya seperti om Setya. Masalah ku lebih ringan,"
Aku hanya diam, Dari interaksi Zannah dan Tasya tampak mereka memiliki hubungan dekat. Tasya ternyata memiliki selera yang sangat baik. Berapa kali dia memberi saran pada rancangan Zannah. Setelah sekian lamanya akhirnya Tasya mengangguk puas.
Di Jakarta bersama Tasya, Aku menghabiskan waktu ke desainer sepatu, MUA terkenal dan Bridal henna spesialist.
"Dia bisa melukis henna sesuai yang kamu inginkan Bahkan jika wajah Bian yang kamu mau," kata Tasya sambil merapikan rambut ku yang tersibak angin.
"Rambut mu kering Anggrek, Kamu bisa mencoba vitamin rambut milik ku. Aku pernah juga mengalami rambut kering," sarannya.
"Makasih Tasya, Kamu perhatian banget,"
Akhirnya hari ini aku kembali ke tempat kami untuk mengurusi persiapan pernikahan ku.
......___-----_____-----____......
Dua bulan sebelum hari H
Hari ini aku bersama Bian sedang berdiskusi dengan Lika, Salah satu team dari wedding organizer yang kami pilih.
Kami memilih Lika karena dia juga merangkap sebagai wedding planner. Jadi bisa berdiskusi banyak hal yang mencangkup persiapan acara.
Kening ku berkerut ketika melihat daftar catering. Sebagian besar pilihan terbaik berasal dari restoran dan catering milik Kenzo. Dia mendominasi bisnis ini di daerah ku rupanya.
Kami sudah memilih vendor untuk acara resepsi di kota kami kecuali catering.
"Kenapa kamu tidak memilih catering dari restoran dia?" tanya Bian ketika kami sudah berada dalam mobil. Bian masih enggan menyebut nama Kenzo.
"Aku tidak enak dengan keluarga Ken, Karena selisih waktu dengan rencana lamaran dia tidak terlalu lama," jawab ku jujur.
"Masih menjaga perasaannya? kamu tahu ketika grand opening Miepa. Aku nyaris menghajar dia karena menghambat pasokan bahan baku ke 'Black and White' dan 'Tentang Jiwa'...." suara Bian bergetar menahan emosi.
"Karena kamu yang salah saat itu, Ken memang mengatakan kalau dia akan memberi kamu peringatan," jawab ku teringat kemarahan Ken pada malam itu.
"Iya tapi aku kena imbas kekesalan Danar,"
"Kamu terus menerus menganggu pacar orang sih saat itu," goda ku membuat Bian tampak malu.
"Iya, Aku marah pada dia sebenarnya karena ia tipe pria baik dari keluarga terpandang. Bukan hal mudah untuk dilawan dan keluarga mu pasti akan menyetujuinya," aku Bian akhirnya.
"Kamu khawatir akan terlambat bukan?" tanya ku memastikan ke Bian.
"Iya, Sayang. Aku takut kehilangan mu"
"Semua sudah berlalu. Jangan cerita mantan lagi ya,"
"Iya, Anggrek Maharani,"
...___---____-----___...
1,5 bulan sebelum hari H
Hari ini, Aku sedang dalam ruangan pribadi ku di restoran Miepa bersama Tasya. Ya... Dia datang dari Jakarta malam tadi. Khusus membawa kebaya dan gaun yang sudah selesai dari Zannah.
Hari ini Tasya mau melihat persiapan acara resepsi ku di kota kami. Dia cermat dan pemilih.
"Aku ingin kalian merasakan kesempurnaan dalam acara," jawabnya ketika Bian protes dengan kelakuannya.
Kami sudah di ruangan ku, Bian yang mengantar kami ke Miepa.
"Lebih mudah bicara tanpa pria, Kadang mereka menyebalkan," kata Tasya sambil mengambil boba dingin.
"Nggrek, Sofa mu ada kancingnya. Kelihatan penempatannya agak aneh. Kenapa tidak memilih yang tanpa kancing?" tanyanya membuat ku tersenyum lebar. Astaga, Dia yang awalnya tampak lemah lembut dan manis di awal perkenalan. Justru sekarang pola tingkahnya mengingatkan ku pada seseorang.
__ADS_1
Tokk.. tok... tokk
Ketukan di pintu mengalihkan atensi kami dari kancing di sofa. Kepala Rika menyembul di pintu.
"Kak, Ada Kenzo," lirih suara Rika tapi justru membuat ku tersentak. Panjang umur sekali padahal baru saja terlintas dalam pikiran.
Kenzo masuk dengan wajah segar dan kemeja navy. Dia memadukan dengan jeans dan kets, Lebih santai dari biasanya.
"Anggrek apa kabar? maaf tidak menelpon untuk bertemu. Aku melihat mobil mu di parkiran jadi aku menebak kamu ada di sini," sapa Kenzo sambil menyalami ku. Aku bisa melihat Tasya yang duduk di sofa memperhatikan interaksi kami dengan minat.
"Tidak apa-apa Ken, Oh ya kenalkan ini Tasya," Ken tampaknya tidak menyadari kehadiran Tasya yang berada di sofa yang memang berada di sudut ruangan.
Aku menarik stool sofa ke sebelah kursi ku. Sekarang aku dan Tasya duduk berhadapan dengan Kenzo.
"Kenzo,"
"Tasya,"
Singkat, padat dan sangat jelas perkenalan mereka. Tasya tampak lebih diam saat Kenzo datang.
"Anggrek maaf menganggu waktunya, Restoran kalian belum bergabung dalam himpunan. Aku sudah mengirimkan salah satu rekan kami untuk menghampirimu, tapi dia belum sempat melakukannya," Kata Kenzo sambil menyodorkan amplop berlogo organisasi.
"Baik, Ken aku mau bergabung dalam Himpunan Pengusaha Restoran dan Kafe yang kamu pegang sekarang, Syaratnya apa saja," kata ku sengaja menyebut lengkap karena melihat Tasya memandang Kenzo tanpa kedip.
"Wajah mu berdarah, Ada goresan? kamu baik-baik saja?" sela Tasya yang membuat Kenzo tampak terkesiap.
"Oh, Masa? tadi buru-buru mencukur kumis,"
"Ini coba lihat sendiri," Tasya mengambil cermin pink dari dalam tasnya. Menunjukkan pada Kenzo, Tidak lama kemudian mereka membahas tentang krim wajah untuk menghilangkannya.
"Makasih sarannya tapi aku biasa menggunakan resep mama ku," tolak Ken halus pada Tasya.
"Mama Ken seorang dokter spesialis kulit," jelas ku pada Tasya. Membuat bibir Tasya membentuk huruf O.
Mungkin jika aku bisa memilki suami potensial yang bisa dipercaya seperti om Setya. Masalah ku lebih ringan,"
Perkataan Tasya berapa hari lalu kembali tergiang-giang. Aku memang terlalu memikirkan jauh ke depan tapi tidak salah bukan jika mengenalkan mereka.
Kenzo ganteng, Dia menarik dan memiliki karisma. Menurut cerita Laura, Kenzo memang tak mudah memilih pasangan. Tasya cantik dan baik, Mereka memang sedang terluka karena cinta.
Apakah suatu kesalahan jika aku berpikir jauh saat ini?
"Kenzo, Tasya adalah sepupu Bian. Dalam waktu dekat aku dan Bian akan menikah. Wedding planner kami menyarankan catering milik mu," jelas ku perlahan membuat manik coklat itu berkilat dengan emosi tertahan.
Aku sedang bermain api saat ini tapi ada tujuan yang sedang ingin ku lakukan. Untuk dua orang yang berada di ruangan ini.
"Oh cateringnya milikmu, Boleh kalau berkunjung ke tempat kalian untuk melihat menunya," tanya Tasya lembut. Kenzo berpaling ke arah Tasya ketika melihat gadis di depannya. Pancaran mata itu kembali normal. Senyuman terbit di bibir Kenzo.
"Boleh saja, Kapan acaranya?" balas Kenzo. Aku menarik napas lega ketika ekspresi Kenzo kembali rileks.
"Maaf ya Ken, Sangat mepet tinggal 1,5 bulan lagi," kata ku pelan dan berhati-hati.
"Aku akan mengusahakan untuk memberikan yang terbaik untuk mu, Nggrek," pelan suara Kenzo.
"Kalau tidak menganggu waktu mu, Boleh aku mampir melihat menu yang tersedia? sebagai 'timses' acara mereka. Aku memegang amanat untuk membantu mereka," ulang Tasya kembali.
Teringat kembali pada Tasya ketika meminta perjodohan dengan Bian. Gadis yang tampak lembut ini menyimpan kemampuan sendiri ketika menyukai seseorang.
Begitu pula ketika Kenzo meminta ku menjadi kekasihnya. Dia tidak bertanya tapi langsung melingkarkan cincin di jari manis ku.
Dua orang yang memiliki kepercayaan diri, Bahwa mereka memiliki pesona yang sukar di tolak. Tasya 'seorang' tuan putri, Dia manja. Kenzo adalah pria yang selalu memanjakan kekasihnya.
Kenzo secara tersirat menginginkan wanita yang memiliki sifat keibuan, Aku teringat pada betapa telatennya Tasya ketika menemani kakaknya. Dia mengambil alih walaupun ada asisten saat itu.
Aku sedang bermain dengan keberuntungan saat mengatakan ini. Boleh kah jika menggantungkan harapan. Ah, Terlalu dini untuk menyimpulkan.
Tugas ku hanya mengenalkan mereka satu sama lain. Selanjutnya biarlah garis takdir memegang perannya sendiri.
Di hadapan ku, Dua orang dengan manik coklat yang sama, Kulit putih terawat, Tubuh tinggi ramping yang sama saling berdiskusi tentang menu makanan, Tentang panas udara hari ini,Sunblock dan sunscreen yang baik di gunakan.
__ADS_1
Ah entahlah banyak yang mereka perbincangkan dan aku hanya sebagai penonton.