Viral

Viral
49. Semangat kembali


__ADS_3

Kebenaran yang pahit


atau kebohongan manis


yang dipilih


Andai bisa memilih


Aku lebih menyukai kebenaran yang manis


sesuatu yang akan membuat aku bahagia


*****


Jumat pagi aku terasa enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Memeluk bantal pisang erat dan membiarkan rasa malas menguasai diri. Ditambah hari Jumat merupakan hari libur untuk Miepa dan pentol unyu membuat aku semakin lekat dengan bantal.


Setelah mengetahui keluarga Danny Anugrah dan Setya Prasetya semangat menjalani hari ini luntur. Rasa tidak percaya diri menghantam keras diriku.


Bian tidak salah kah memilih ku? Apakah garis takdir mempertemukan kami?


Terlebih melihat Tasya Anastasia. Bersaing dengan Cahya pun aku sudah kalah telak apalagi disandingkan dengan Tasya.


Aku melawan rasa malas dengan berjalan keluar kamar. Menggunakan piyama kekinian yang naik status menjadi homedress menuju dapur. Perut keroncongan menagih minta di isi.


"Anggrek kamu masih di rumah ya? Mama pikir tadi sudah keluar rumah" Aku melirik sekilas ke mama yang berdiri di pintu teras belakang.


"Iya Ma hari ini kan Miepa dan pentol libur. Siangan dikit ntar Anggrek ke butik" Aku menghempaskan diri di kursi meja makan lalu mengambil nasi goreng yang tersaji di meja makan.


"Anak gadis jaman sekarang memang gitu, Don. Bukannya langsung mandi tapi malah makan"


Aku yang sedang mengunyah nasi goreng tersedak. Doni rupanya ada di teras belakang sepertinya dia baru selesai mengantar ayam potong.


"Uhuukkk.. Uhuukkk" Sekarang aku terbatuk-batuk. Kepala Doni menyembul dari balik pintu. Dia tertawa kecil melihat ku.


"Hati-hati makannya, Nggrek" Doni lalu melanjutkan obrolan dengan mama. Entah apa yang mereka bicarakan.


Aku juga pernah mengandaikan Doni sebagai buku. Doni adalah buku yang semua bab hampir ku baca dan bab selanjutnya tinggal menunggu waktu untuk dibaca. Doni adalah hal yang terjangkau oleh ku.


"Anggrek gimana kabar rumah mu?" Doni berdiri di pintu masuk menggantikan mama yang sudah berlalu menuju tanamannya dibelakang rumah.


"Baru mau rencana untuk melebarkan dapurnya, Don" Aku tidak menanyakan tukang yang digunakan Doni karena Bian sudah meminta Danar untuk mencarinya.


"Iya aku menambah tukang lagi agar cepat selesainya"


"Kejar setoran ya, Don"


"Iya tidak lama lagi anak ku akan kesini karena mantan istriku akan menikah"


"Oohh.." Aku mengangguk karena tidak tahu akan merespon apa. Doni membicarakan hal itu dengan nada biasa. Apakah karena dia sudah tahu ini akan terjadi sehingga bisa bersikap seperti itu. Entahlah aku semakin sulit menerka pikiran orang.


"Anak ku lucu banget lho, Nggrek" Doni menyodorkan foto di galeri gawainya ke arah ku. Seorang anak laki-laki yang gempal sedang tertawa sambil memamerkan gigi ompongnya.


"Gemesin banget, Don. Usianya berapa?"


"Tiga tahun, Rencananya aku ingin dia tinggal bersama ku di rumah baru nanti tapi mama tidak mengizinkan daripada diasuh berdua sama pengasuh saat aku kerja lebih baik di rumah mama saja biar pengasuhnya di rumah mama juga"


"Iya benar juga kata mamamu"


"Oh ya untuk berapa hari ke depan yang akan mengantar ayam potongnya namanya Mang Ujang ya Nggrek karena aku mau ke Bandung menyelesaikan semua urusan yang tersisa di sana"


"Baiklah, Don moga lancar semuanya ya"


"Iya Anggrek makasih ya. Aku dan mantan istri memilih berdamai dengan pilihan yang kami ambil jadi urusan ku lebih ringan sekarang"


"Syukurlah, Don"


Doni lalu berpamitan sama mama dan aku mengantar Doni sampai jalan. Memperhatikan dia berlalu dari hadapan ku. Status kehidupan ku dan Doni tidak berbeda jauh.


Berbeda dengan Bian. Status sosial kami begitu jauh. Apalagi ada Tasya di antara kami. Aku menggigit bibir bawah membayangkan gadis rupawan yang menyukai dan menginginkan Bian. Andai Tasya tahu aku pernah hampir menolak Bian.


"Ya Tuhan apakah aku bermimpi harus berurusan dengan pria seperti Bian"


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, Semua jadi membingungkan untuk ku. Bahkan dalam khayalan aku tak pernah memimpikan bertemu pria dengan latar seperti Bian.


Dari segi penampilan Danar masih menampakkan kelasnya berasal. Penampilannya memang kasual tapi semua yang melekat ditubuhnya dari brand ternama.


Sedangkan Bian yang paling menonjol dan mahal hanya kamera yang digunakan. Mengingat itu adalah sumber penghasilan Bian tidak mengherankan jika dia memilikinya.


Aku kembali masuk ke dalam rumah dengan segala data keluarga Bian yang melintas dalam ingatan. Tentang Diandra yang merupakan lulusan terbaik dari salah satu universitas terbaik di Amerika.


Diantara mereka bertiga dalam segi akademik Diandra paling menonjol. Sepertinya Diandra merupakan wanita ambisius dan bertalenta. 'Berlian' dalam keluarga Setya Prasetya.


Dia mengikuti jejak mama Laura atau memang disiapkan kakeknya untuk itu.

__ADS_1


Aku sekarang memahami mengapa Bian jarang merespon ketika aku mengomentari Diandra karena justru saudara perempuan Bian inilah yang berkuasa. Danar lebih suka bersenang-senang sehingga Diandra lah yang banyak mengambil peran.


Sedari tadi aku bolak balik sendiri dikamar. Andai aku tidak penasaran mencari tahu keluarga Bian dan dengan sabar menunggu dia mencari jalan. Tentu aku tidak perlu berada dalam rasa tidak percaya diri yang menghantam begitu kuat.


Ah aku tidak bisa menunggu dan gusar sendiri seperti ini. Aku segera mandi bersiap untuk keluar rumah menemui seseorang.


*********


Waitress berambut klimis mengkilat dan seragam rapi itu mengantar kopi dengan senyum dan gestur yang terlatih. Dia pasti sudah latihan dengan owner coffe shop ini. Dengan karakter owner seperti dia sudah jelas standar yang dimilikinya.


Aku sedang menyesap kopi perlahan ketika suara ketus itu mengejutkan ku.


"Ada apa datang kesini? Kamu mau menanyakan mengenai pekerja bangunan untuk rumah mu ya?" Danar menarik kursi di depan ku dengan penuh gaya. Tumben dia mengenakan kaos hitam bukan hoodie.


"Salah satunya iya"


"Berarti ada yang lain? Kenapa kamu dan Bian begitu berniat merepotkan ku?"


Sabar.. sabar Aku mesti bersabar menghadapi Danar. Born with a silver spoon in mouth. Kata itu melintas dalam pikiran ku.


"Inikah jodoh Bian" Aku meletakkan gawai di meja yang menampilkan foto Tasya dan Bian dalam sosial media Diandra.


"Kamu tanyakan saja dengan Bian"


"Kak Danar kalau memang mau aku tanyakan dengan Bian mungkin aku tidak perlu kesini" Aku mencoba tersenyum lembut kepada Danar.


"Kenapa mesti aku yang menjawab?"


"Bukankah Kak Danar yang mengatakan dari awal untuk menjauhi Bian karena dia menjadikan aku pelampiasan patah hati lalu kak Diandra juga mengatakan Bian sudah dijodohkan"


"Aku hanya tertarik mengatakan saja tapi tidak berminat menjelaskan kepada mu"


"Tetapi Kak Danar sampai dua kali mengatakan hal yang sama untuk menjauh Bian"


"Itu ketika aku masih berharap dia mau memperbaiki hubungan dengan kakek dan papa. Sekarang aku mengikuti mama, Apa yang membuat dia bahagia akan kami dukung"


Cara Danar menggunakan kata 'kami' mencerminkan dia memiliki hubungan baik dengan mama tirinya. Danar memang berbeda dengan Diandra. Dia lebih suka menunjukkan jati dirinya sesungguhnya.


"Iya Kak Danar tapi ini jodohnya Bian bukan? Karena dia pernah mengatakan nama jodohnya Tasya dan gadis di foto itu dicantumkan sebagai Tasya Anastasia"


"Oh Bian sudah menjelaskan siapa yang akan menjadi jodohnya. Iya dia memang Tasya"


"Dia begitu cantik sekali" Aku bergumam mencoba memancing Danar.


"Apa yang terjadi dengan Tasya ketika Bian menolak perjodohan ini?"


"Keluarga ku marah besar kepada Bian. Apa susahnya sih menjalankan pernikahan. Cinta bisa datang belakangan. Tidak semua perjodohan buruk bukan?"


"Iya kamu benar, Kak" Aku berkata lirih mengiyakan apa yang disampaikan Danar. Banyak rumah tangga yang awet diawali dari perjodohan walaupun sisi lain aku bertanya kenapa Danar belum menikah.


Bagaimana pun kehidupan berjalan pasti berbeda pada setiap orang. Begitu pula jalan menemukan pasangan. Ada yang melalui pertemuan tak terduga atau lewat perjodohan.


"Anggrek, Aku masih disini sebenarnya untuk membujuk Bian kembali ke Jakarta. Jujur saja aku sedikit kecewa ketika dia memilih untuk menjalani pilihan yang diambilnya tapi aku tidak bisa memaksa"


"Pilihan untuk bersama ku?"


"Bukan, Kamu hanya salah satunya. Dari awal Bian sudah disini sebelum mengenalmu. Anggrek apakah benar kalian akan menikah?"


"Tidak Kak Danar itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat" Aku berkata jujur karena pembicaraan terakhir dengan Bian. Sisi keluarga ku juga harus dipertimbangkan.


Aku belum mengatakan kepada mama masalah ku dan Bian. Tentu mengagetkan jika Bian nekat datang melamar.


"Itu juga yang ku katakan kepada mama. Sejak mengenalmu Bian tampak berbeda" Danar berbicara sambil mengetuk pinggiran meja.


"Berbeda?"


"Ya dan aku tak perlu menjelaskan secara detail dengan kamu. Oh ya ini nomor telpon pekerja bangunan yang disiapkan untuk mu. Kamu tinggal hubungi nomor ini namanya pak Irwan".


"Baik Kak Danar terimakasih ya sudah membantu"


"Ya"


Danar lalu berdiri meninggalkan ku sendirian. Aku tahu diri kalau pertanda dia sudah tidak mau berbincang lagi. Ingat Anggrek, Danar merupakan versi anggota 'Anugrah dan Prasetya' yang baik.


Dengan memberikan nomor pak Irwan, Aku tahu Kak Danar tak ingin berbicara urusan Bian lagi.


*******


Aku menghembuskan udara dari mulut menghilangkan sesak di hati. Saat ini aku mencoba menguraikan benang kusut dalam hubungan kami. Aku menganalisa kembali hubungan Bian dalam keluarganya.


Bian tidak memiliki hubungan darah dengan Kakek Danny. Dari cara dia mengatakan kalau Danar sering melindungi dirinya dari sepupu yang masih menganggap Bian dan mamanya orang asing. Mencerminkan dari awal hubungan Bian dalam keluarga Anugrah antara ada dan tidak ada.


Dengan kata lain tidak terlalu dianggap keberadaannya. Saat itulah Tasya Anastasia hadir dalam hidup Bian. Dia menganggap Tasya sebagai adik dan teman yang mengakui keberadaan dirinya. Sedangkan Tasya justru jatuh cinta kepada Bian.

__ADS_1


Tidak mengherankan Bian jarang membahas papanya dan Diandra karena hubungan mereka tidak berjalan dengan baik.


Dari cara Bian yang tidak perduli akan kedatangan papa dan keluarga kakeknya saat akan melamar menandakan dia sudah lelah dengan pengakuan sebagai keluarga Anugrah. Dia tidak membutuhkan itu lagi.


Bian sudah menyiapkan hati tapi tidak dengan diriku. Aku tidak mau menaikkan status hubungan kami dengan sandungan yang belum selesai. Masih ada Tasya, papa, Diandra dan kakek Danny.


Aku tergagap dari lamunan ketika ada telpon dari pak Irwan yang meminta untuk bertemu. Ku putuskan langsung di rumah ku saja.


Mobil ku melaju di jalanan kota menuju ke rumah ku yang akan direnovasi. Aku dan pak Irwan membicarakan semuanya di teras luar rumah.


Akhirnya di capai kesepakatan kalau pak Irwan akan memberikan portofolio bangunan dapur dan rumah mungilnya berikut estimasi biaya pembangunannya melalui email.


******


Aku sudah berada dalam mobil ku menuju butik melaju kembali membelah jalanan kota terjebak dalam hiruk pikuk kendaraan padat siang hari.


Baru saja sampai diparkiran butik ada telpon masuk dari Bian.


"Halo sayang tadi kak Danar menyampaikan kalau dia sudah memberikan nomor pak Irwan"


"Iya sayang, Aku sudah bertemu dengan pak Irwan. Terima kasih ya sudah membantu berbicara dengan kak Danar"


"Sama-sama.. Anggrek hari ini aku mau melakukan foto prewedding Nadia dan Rian. Kamu mau ikut?"


"Nanti saja sayang karena sudah berapa hari aku jarang di butik. Hari ini Miepa libur jadi bisa di sini seharian"


"Baiklah. Aku mau kerja dulu ya sayang"


"Iya, Bi"


"Apa, Anggrek. Bi?"


"Iya Bi.. Bian"


"Jangan pakai itu lagi ya, Sayang. Dah"


Aku sengaja menggunakan kata Bi untuk memancing reaksi Bian ternyata dia tidak menyukainya.


Kali ini aku tidak ingin menceritakan dengan Natasha. Reaksi Natasha yang santai terkadang membuat ku merasa dia terlalu meremehkan masalah yang ada.


Bagaimanapun walau tidak sekaya keluarga Anugrah dan Prasetya. Natasha tetap terlahir sebagai keluarga mapan.


"Ah maafkan aku, Natasha menilai mu sembarangan" Aku bergumam sendiri.


Ada perasaan bersalah karena memikirkan Natasha seperti itu. Bagaimanapun dia, Sahabat terbaik ku yang banyak membantu aku bangkit dari keterpurukan.


"Kamu kenapa sih komat-kamit sendirian?" Natasha tiba-tiba sudah di samping ku.


"Merapal mantra" Aku menjawab asal.


"Mantra biar pembeli ramai ya?" Natasha terkekeh.


"Iya dong"


"Nggrek, Wajah mu tampak lelah. Kantong matamu juga udah saingan ma panda"


Aku tersenyum kepada Natasha. Dia selalu memperhatikan hal kecil mengenai penampilan yang ada diriku.


Bergadang mencari tahu tentang DAC dan menghabiskan waktu selanjutnya untuk berpikir tentang mereka. Sedikit banyak membuat pikiran ku kembali penuh.


Natasha adalah sahabat baik yang ku punya. Aku harus mensyukurinya. Apa yang terjadi dalam hubungan Bian juga diluar kuasanya.


Bian sendiri sudah memutuskan menghadapi dengan caranya sendiri.


"Nggrek, Kontrak ruko kita ini habis dua bulan lagi. Aku sudah bicara sama Bu Indah untuk melanjutkannya"


"Oh iya kita akan memperpanjang lagi kan?"


"Tentu saja"


Dua hari ini aku sudah menghabiskan waktu memikirkan tentang DAC dan anggota keluarganya sampai tidak fokus pada kehidupan pribadi ku.


Jika Bian sudah mengusahakan hubungan kami. Aku pun harus bersikap demikian. Lebih baik fokus untuk meningkatkan kualitas diri sehingga mampu bersanding dengan Bian.


Aku memang tidak secantik dan sekaya Tasya tapi semua yang ku dapatkan murni dari hasil kerja keras ku. Mengapa aku membiarkan dua hari ini terpuruk dalam rasa tidak percaya diri.


Dimana semangat Anggrek Maharani? Aku harus kembali lagi mengumpulkan semangat agar bisa diterima dalam keluarga Anugrah.


Bahagia dan sukses itu kita yang tentukan. Kalimat yang sudah sering aku baca dalam kata-kata motivasi. Aku tersenyum dan mengepalkan tangan merasakan semangat yang kembali mengalir dalam diri.


"Kamu masih waras, Nggrek" Tangan Natasha menempel di kening ku membuat aku malu sendiri karena melupakan dia yang ada dihadapan ku.


********

__ADS_1


Semangat pagiii semuaaa ❤❤❤


__ADS_2