
Jangan jadikan kebahagiaan orang lain
sebagai parameter kehidupan
semua punya jalan
hidupmu milikmu bukan milik orang lain
Berbahagialah dengan apa yang kau punya
karena apa yang ada hari ini
belum tentu akan kamu miliki
di kemudian hari
Karena yang ada saat ini hanya sebuah titipan
Caption Anggrek hari ini. Ditulis dalam kehidupan seperempat abad yang dia jalani.
*********
Aku bukan orang bijak atau motivator. Apa yang menjadi dasar pemikiran di setiap caption ku di sosial media berdasarkan pengamalan hidup ku selama 25 tahun.
Angka usia mengukur lama kehidupan di dunia. Seperempat abad yang ku lewati dengan segala kisahnya.
Parameter kebahagiaan dan jalan menemukan jodoh Nadia dan Natasha memang bukan seperti kisah ku karena aku memiliki kisah sendiri.
Terimakasih teman-teman semoga hari kalian menyenangkan
Foto kami berempat dalam sosial media ku berlatarkan pantai, Resort dan kebersamaan di dalam mobil. Liburan sebentar bersama Natasha, Tania dan Nadia seakan mengisi ulang semangat yang mengendor berapa hari lalu.
Trrrttttttt.. Trttttttt
Aku baru tiba di rumah setelah mengantarkan ketiga sahabat ku ketika ada telpon masuk dari pak Irwan.
"Selamat siang, Bu Anggrek. Saya mengirimkan portofolio bangunan ibu dan estimasi biaya yang akan dibutuhkan untuk pembangunan ke email ibu"
"Baik Pak Irwan nanti saya pelajari dulu karena kebetulan Saya baru tiba dari luar kota"
"Iya Bu Anggrek nanti bisa hubungi saya apabila setuju dengan portofolio berikut estimasi biayanya"
"Terimakasih secepatnya saya akan memberi kabar"
"Baiklah, Bu"
Gara-gara ide Bian menggunakan pekerja bangunan yang merupakan mitra Danar. Membangun dapur pun menggunakan portofolio dan estimasi biaya segala.
Padahal di rumah yang Doni beli dari ku. Bisa ku rancang sendiri dan tinggal menghitung biaya bersama mandornya.
Segera ku tepis pikiran yang melintas seakan aku mengeluhkan kebaikan Bian. Anggap saja itu bentuk perhatian Bian untuk mempermudah pekerjaan ku.
Aku segera menuju ke ruang serba guna. Rumah tampak sepi. Beberapa pekerja di dapur sudah menyelesaikan tugas mereka. Mama pasti pergi ke supermarket belanja bulanan. Dewo dan papa sudah pergi ke sekolah dan kerja.
Dewo memang sudah kembali masuk sekolah walau secara bergiliran.
Segera ku buka laptop untuk membuka email dari pak Irwan. Setelah mempelajari semua yang ditawarkan pak Irwan. Aku segera memberi kabar menyetujui semuanya. Semakin cepat pengerjaan maka semakin baik.
Langkah selanjutnya aku menghitung biaya untuk penambahan produksi nugget, Menambah freezer, Pembelian mesin vacuum dan berapa item lainnya. Semua ku kerjakan dengan semangat.
Liburan memang dibutuhkan ketika pikiran penat dengan segala pemikiran. Tidak heran di jaman sekarang banyak keluarga menganggarkan budget khusus untuk liburan.
Setelah semua selesai aku bergegas mandi dan berganti pakaian. Meluncur kembali bersama mobil ku menuju Miepa, Booth dan butik.
***********
Dari kejauhan aku bisa melihat Rika dalam balutan pakaian hijau lumut.
"Siang Kak Anggrek"
"Siang Rika"
"Rika cosplay jadi cendol, Bu" Andi menunjuk Rika yang melotot ke arahnya.
"Kak Anggrek, Hmmmm mau nanya jadi kalau ada kak Bian sekarang sudah dibolehin ketemu kakak ya?"
"Gimana.. Maksudnya?"
"Kak Anggrek pernah meminta kami untuk mengatakan kalau teman kakak bernama Bian datang supaya memberitahu kalau kakak tidak ada ditempat. Rika lihat di sosial media sekarang Kak Bian jadi pacar kak Anggrek"
Rika menoleh ke Andi yang menunduk pura-pura sibuk menghitung uang.
"Ooohhhh.. Iya ya. Aturan itu sudah aku cabut mulai sekarang"
"Baik Kak Anggrek"
Aku cepat berlalu dari hadapan Rika dan Andi. Rasanya malu sekali mengatakan demikian sebelumnya ke mereka. Itulah tindakan di masa lalu ketika di ingat kembali menimbulkan rasa malu.
Deretan penganan ringan di rak Miepa sudah tertata rapi. Aku melihat keripik Ari dan Riko, Dua anak kecil yang ku bantu memasarkan dagangan mereka.
Sudah lama tidak bersua, Setiap mereka mengantarkan stok keripik pedasnya kebetulan aku tidak ada ditempat. Hidup terasa bermanfaat ketika bisa membantu orang lain.
Stok pentol frozen dan nugget sudah menipis. Hal inilah yang mendorong ku mempercepat pembangunan dapur. Pikiran ku buyar ketika gawai ku berdering dan nama Natasha tertera.
Trrtttt.. trrtttt
__ADS_1
"Halo Nat"
"Anggrek bisa kesini sejam lagi? Ada Bu Indah mau datang untung memperpanjang kontrak sewa yang aku bicarakan kemarin"
"Sekarang juga bisa, Nat"
Mobil ku kembali melaju di jalanan. Melewati jalanan sama yang sudah ku tempuh ratusan kali. Jalanan tampak lenggang karena masih di jam kantor dan sekolah.
Bu Indah tipikal orang yang on time. Dia datang tepat waktu dengan kemeja putih, celana pantolan hitam, boots dan kacamata kecoklatan yang sering dia gunakan walau dalam ruangan. Sedikit nyentrik tapi dia orang yang menyenangkan.
Tidak membutuhkan waktu lama kami telah selesai dengan kesepakatan dua tahun ke depan. Satu tahun yang kami lewati di ruko Bu Indah menunjukkan lokasi butik ini sudah tepat.
Pembeli offline mudah untuk datang dan penjualan online mudah dilakukan karena agen ekspedisi banyak terdapat di sekitar ruko.
Sehingga aku dan Natasha memutuskan mengambil sewa selama dua tahun ke depan. Sewa ruko Miepa pun tidak lama lagi akan habis. Waktu memang tidak terasa berjalan terus.
"Nggrek kamu kedepannya ada terpikirkan menggunakan jasa desainer untuk merancang pakaian kita?"
"Atau kita saja mengambil kursus mendesain pakaian. Ada enggak ya Nat kursus seperti itu?"
"Belum tahu nanti kita cari tahu ya, Nggrek tapi kalau sekarang aku fokus melahirkan dulu"
"Iya aku juga fokus untuk pengembangan frozen food Miepa"
"Kita jadikan ini plan kedepannya saja, Nggrek"
Aku mengangguk mengiyakan. Banyak rencana yang aku rancang untuk masa depan nanti.
******
Aku sudah pernah mengatakan merancang masa depan berkaitan dengan kebutuhan hidup menggunakan pikiran tapi merancang hubungan di pengaruh oleh hati.
Hari ini aku berada di restoran bersama Bian. Dia mengajak makan siang bersama sebagai tebusan karena tidak mengajak dia kemarin.
Bian menggunakan kaos, jeans dan kets. Tubuhnya ramping atletis kadang aku khawatir tampak lebih tua di samping Bian.
"Gimana liburannya"
"Seru banget lho sayang. Kami menghabiskan hari dengan bercerita dan bermain di pantai"
"Aku pernah ke sana untuk pemotretan memang tempatnya bagus. Nanti kita main ke sana ya Anggrek"
"Boleh Bian nanti direncanakan saja ya"
"Baik Anggrek ku sayang. Oh ya, Nggrek tadi mama menelpon aku. Mama berencana mau kesini dalam waktu dekat"
"Kapan sayang mama mu akan datang?"
"Belum tahu tanggal pastinya tapi dalam waktu dekat ini. Masih menunggu papa apakah dia akan ikut atau tidak"
Aku menelan saliva mendengar penuturan akhir Bian. Teringat kata-kata Nadia, Mama Bian ramah tapi papanya tidak.
"Melihat ruko ya?" Aku bertanya basa-basi karena penuturan Bian sama dengan cerita Nadia.
"Iya tapi kali ini papa datang untuk melihat proyek yang dikerjakan Kak Danar. Perumahan Bukit Asri Hijau"
"Apakah papa mu pasti datang"
"Masih belum tahu karena itulah mama belum bisa memberikan kepastian"
Aku mengangguk sambil berdoa dalam hati agar papanya tidak jadi datang. Aku bukannya berdoa tidak baik tapi ada ketakutan tersendiri yang susah dijelaskan dalam kata-kata.
Seharusnya aku berdoa agar papa Bian bisa menerima ku bukan berharap dia tidak datang. Maafkan kekasihmu ini sayang bahkan belum mengenal langsung papa Bian. Aku sudah tidak ingin bertemu.
"Aku berharap papa tidak jadi datang?"
"Kenapa?"
"Dia pasti akan marah kalau tahu usaha ku hanya begini"
"Jangan berpikir jelek dulu tentang pendapat papamu"
Aku menghibur Bian walaupun serasa menjilat ludah sendiri karena apa yang diharapkan Bian sama dengan ku harapkan.
"Iya" Bian tersenyum lalu mengenggam tangan ku lembut. Dia melepaskan tangan ku ketika waitress datang mengantarkan makanan.
Aku menikmati makan siang dengan bercerita banyak hal tentang Bian. Dia lebih diam daripada biasanya setelah menceritakan rencana kedatangan kedua orangtuanya.
Bian baru tersenyum kembali ketika aku menjanjikan akan pergi ke pantai bersama dia.
*********
Hari-hari ku disibukkan kembali dengan pengaturan penambahan frozen food Miepa. Membeli peralatan yang mendukung penjualan frozen food, Mengawasi pembangunan dapur Miepa, Melakukan kesepakatan penambahan stok ayam kepada Doni.
Akhirnya hari ini aku bisa bernapas lega. Kami baru saja selesai melakukan syukuran rumah dan dapur baru ku yang telah jadi.
Menggunakan jasa pekerja bangunan Danar ternyata memaksimalkan penggunaan lahan dan bangunan. Dapur ku cukup luas dan penempatan peralatan memasak mudah diatur.
Tidak banyak undangan yang datang hanya keluarga dan tetangga dekat. Kondisi pademi lah yang membatasi tamu syukuran rumah ku.
Aku mengundang Doni juga dalam acara syukuran rumah. Bagaimana pun dia pemasok bahan baku utama salah satu produk Miepa.
Bian kembali dengan wajah datarnya ketika melihat Doni datang. Dia selalu menguntit ku kemana pun aku berjalan membuat Tasya, Nadia dan Tania tak henti menggodanya.
Padahal Doni selalu dekat dengan papa, mama dan kakek nenek. Tidak pernah mencoba mendekati ku
__ADS_1
"Anggrek nanti rencananya akan ada jualan apa disini. Bukankah kamu membuka Miepa?"
"Disini rencananya tempat tinggal ku dan pegawai serta dapur produksi Miepa juga" Aku menjelaskan kepada Mila yang mengendong anaknya. Mila berapa kali melirik ke arah Bian.
"Ada nugget gitu ya karena ku dengar tadi pegawai mu yang di sana membicarakannya"
"Iya nanti aku rencana jualan frozen food gitu. Rolade, Nugget, pentol"
"Kamu membuka jasa untuk reseller tidak, Nggrek?Aku mau jadi resellernya. Lumayan nambah penghasilan"
Pernyataan Mila memberikan aku ide selain bisa membantu penjualan dagangan ku juga bisa memberikan penghasilan kepada orang lain.
"Akan ku agendakan nanti akan segera ku kabari ya, Mila"
Dengan semangat Mila memberikan nomor telponnya pada ku.
"Sayang, Doni tidak berhenti mengejar mu?" Wajah Bian tampak tenang ketika mengatakan itu tapi pancaran matanya tidak mencerminkan ketenangan.
"Bian, Dia hanya tamu. Keluarga ku sudah lama mengenal dia"
"Kamu tahu kadang setiap orang mendekati calon pasangan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mendekati keluarga pasangannya"
Aku tersenyum geli mendengar penjelasan Bian. Astaga dia cemburu sekali dengan Doni.
"Baiklah kemari aku kenalkan dengan keluarga ku" Aku menarik Bian ternyata dia begitu bersemangat.
Jadilah setelah syukuran rumah Doni dan Bian berkumpul bersama keluarga ku. Mereka berdua sama sekali tidak beranjak. Padahal ku lihat tampak wajah kakek dan nenek sudah lelah.
Akhirnya aku lah berinisiatif mengajak Bian beranjak dari kumpulan keluarga ku. Tidak lama Doni pun ijin pulang.
Apakah perasaan ku kepada Tasya sama dengan yang dirasakan Bian kepada Doni. Kecemburuan terkadang datang karena sebuah rasa takut kehilangan.
*******
Aku mulai menata profesional semua usaha ku. Mempekerjakan Kira untuk membantu ku mengelola sosial media. Mengurus permintaan endorse, foto dan video.
Menempatkan Rika memegang Miepa utama dan kontrol ketersediaan produksi terhadap dua cabang lainnya. Menambah booth lagi dengan nando dan ina sebagai penjaganya. Menjadikan Mila untuk agen utama reseller nugget.
Tidak ku sangka semua penempatan ini mempermudah aku mengontrol semuanya dan semakin menambah penghasilan ku.
Aku sekarang bisa membeli barang yang dulu hanya impian. Memperbaiki penampilan dan menambah biaya untuk berbagi nasi kotak yang masih rutin ku jalankan.
Mama dan papa selalu mengingatkan ku untuk tidak lupa berbagi.
Hari ini aku menatap keluar jendela Miepa. Ada berapa rencana lagi yang ingin ku jalankan. Membuka franchise minuman ringan kelihatan hanya sebuah minuman tapi aku tahu keuntungan cukup menjanjikan. Aku mengetahui saat membantu Adi dulu
Ketukan di pintu membuyarkan rencana dalam pikiran ku.
"Kak Anggrek ada kak Bian" Kepala Rika muncul dari balik pintu.
"Suruh masuk ya, Rik"
Tidak lama kemudian wajah tampan kekasih ku muncul dari balik pintu. Tampak menyegarkan mata melihatnya. Dia muncul membawakan sebuket bunga Anggrek"
"Maaf menganggu Anggrek. Kamu sibuk ya sayang"
"Enggak kok dari tadi disini"
Aku memang sedang tidak sibuk bekerja tapi sibuk berpikir menambah penghasilan. Tangan ku meraih buket Anggrek yang dibawakan Bian dengan hati berbunga-bunga.
Segera ku pindahkan bunga artifisial dari vas dan menggantikan dengan yang dibawa Bian.
"Makasih ya sayang"
"Sama-sama. Telpon ku tidak dijawab olehmu, Nggrek"
"Maaf sayang, Aku dari tadi tidak memegang handphone" Tangan Ku refleks mencari gawai dan melihat berapa kali panggilan.
"Anggrek duduk disini dong sayang, Kenapa kamu menjauh. Apakah aku menakutkan?"
Aku baru menyadari masih duduk di belakang meja ku dan Bian di sofa depan meja. Aku segera menghampirinya.
"Tentu tidak sayang"
"Sore ini kamu ada waktu tidak, yang?"
"Iya ada apa?"
"Mama ku datang sore ini jadi aku mau menjemput di bandara. Kamu bisa ikut?"
Aku berusaha mengendalikan diri bersikap biasa saja padahal jantung ku seakan mau lepas.
"Tentu bisa sayang. Nanti jemput aku di rumah ya, Setidaknya aku perlu mandi dan menggunakan pakaian yang rapi"
"Kamu tidak perlu formil dengan mamaku. Beliau datang sendiri tanpa papa. Jadi besok langsung kembali lagi ke Jakarta"
"Secepat itu?"
"Iya Mama kangen dengan suasana kota masa kecilnya. Aku sebenarnya berencana mengajak mama berjalan-jalan tetapi ternyata beliau tidak lama datang"
"Dia juga merindukan mu pastinya sayang" Aku menatap Bian. Seorang Ibu pasti merindukan anaknya.
"Sama seperti aku merindukan mu saat ini"
Aku menatap Bian dengan bahagia lalu berganti memandang anggrek pink di atas meja. Aku pernah membaca bunga anggrek melambangkan cinta mendalam dan keagungan cinta.
__ADS_1
Sebuah lambang yang persis sama dengan namaku. Terdengar sangat indah dan bermakna dalam.
****