Viral

Viral
59. Rollercoaster Kehidupan


__ADS_3

Seperti menaiki rollercoaster


berjalan perlahan


lalu mulai menanjak


kemudian menurun dengan cepat


berkelok, menukik


kembali perlahan ketika


telah tiba di perhentian


tapi entah kapan perhentian berakhir. Jantung ku semakin sering berdebar akhir-akhir ini.


******


Telpon dari papa Bian membuat aku menjadi gusar. Setengah sadar berjalan menghampiri gerai es krim. Menjumpai Bian yang sedang duduk sendiri, Dia tampak mengambil foto dua gelas es krim di meja.


Dari samping wajah kekasih ku begitu rupawan. Dia dengan segala perhatian dan kejutan kecilnya telah menarik ku dalam cinta mendalam.


"Anggrek foto kita di pernikahan Nadia tadi tampak menarik ya? Sudah aku upload di sosial media" Aku menghela napas pantasan papanya marah besar kemungkinan dia melihat postingan Bian atau melihat postingan ku juga


"Iya sayang" Aku duduk di depan Bian, Suara lemah ku menarik atensi Bian dari layar handphone ke wajah ku.


"Kamu tampak pucat, Anggrek"


"Iya kah?"


"Kamu masih takut karena rollercoaster tadi? Maafkan aku ya sayang memaksa mu naik"


"Tidak apa-apa kak Bian" Aku mencoba tersenyum dan segera meraih es krim di meja untuk mengalihkan perhatian.


"Benarkah tanganmu begitu dingin" Dia meraih jemariku kemudian di genggam dengan segala kehangatan yang mengalir membuat ku mulai merasa ketenangan


"Iya benar, Aku cuma masih shock saja. Ayo makan es krimnya rasa enak banget"


Aku tidak sepenuh berbohong karena memang masih shock hanya bukan karena rollercoaster tapi telpon dari papa Bian.


Pikiranku mulai tak sabar menunggu kabar dari Adiwarna. Apakah yang menghubungi Adi sama dengan nomor pak Setya? Jika berbeda aku akan menelpon nomor yang menghubungi Adi.


Harus ada langkah yang aku ambil untuk mengetahui mereka yang bermaksud mengacaukan usaha ku.


Aku tersentak ketika merasa genggaman di tangan ku menguat lalu melonggar perlahan. Bian sengaja melakukannya untuk menyadarkan ku dari lamunan.


"Es krim kamu bisa mencair kalau hanya dipandang saja."


"Iya sayang."


"Memikirkan apa?'


"Bukan apa-apa, Kak Bian. Es krimnya enak" Aku menyendok es krim ke mulut dibawah tatapan mata Bian.


Melihat kondisi ku yang tampak shock, Bian memutuskan untuk tidak mencoba wahana permainan lainnya.

__ADS_1


"Kamu yakin baik-baik saja membawa mobil sendiri ketika pulang mengantar ku nanti?"


"Iya tidak masalah. Ini juga sudah baikan" Aku tersenyum berharap bisa menutupi rasa yang ada.


"Atau aku mengantarmu pulang nanti dari rumahmu aku memesan taksi online saja ya sayang"


"Tidak perlu sayang, Aku mau menebus karena tidak bisa menikmati permainan ini padahal kamu bermaksud menghibur ku"


"Kamu tidak sepenuhnya salah, Sayang. Kita pulang saja ya. Apalagi hari sudah menjelang sore."


"Iya sayang."


Aku pernah menaiki rollercoaster sebelumnya walaupun tidak menyukai permainan ini. Tidak membuat ku shock dalam waktu lama. Hanya takut sementara saja.


Shock yang ada ditimbulkan oleh intimidasi pak Setya. Aku memperhatikan mainan dashboard di mobilku. Mainan monyet yang mengangguk-angguk sepanjang perjalanan.


Dibawa mengebut, berbelok bahkan ketika harus masuk jurang sekalipun. Mainan dashboard ini akan mengangguk tanpa mengeleng.


Seperti itulah yang diinginkan pak Setya, Setiap orang harus mengangguk menyetujui semua perintah dan keinginannya seperti mainan dashboard ini.


Jika menggeleng Setya akan menekan lalu melepasnya lagi setelah dia memastikan untuk kembali mengangguk menyetujui apa keinginannya.


Aku terperanjat kaget ketika bibir ku tersentuh sesuatu yang lembut. Bian mengecup bibir ku lalu melepas perlahan. Sekarang dia berada dalam jarak setipis kertas. Sebelah tangannya menahan pipi ku untuk tidak menghindar.


"Kak Bian, Minggir" Aku memalingkan pandangan ke jendela. Kami sudah tiba di rumah Bian rupanya.


"Apakah mainan monyet di dashboard itu lebih menarik dari ku sampai kamu dari tidak berpaling darinya. Memandangnya terus menerus?"


"Bukan" Aku mendorong tubuhnya tapi sedikitpun Bian tidak bergeser dari posisinya


"Sayang cobalah serius"


"Serius? Aku yakin kamu memikirkan sesuatu tapi tidak mau berbagi"


"Tapi... "


Selanjutnya bibir kami bertaut mengunci setiap kata yang ada. Menghasilkan aliran dalam setiap nadiku. Bian melepaskan ciumannya perlahan. Menatap ku dengan penuh kasih.


"Kamu bisa dengan mudah diculik ketika sedang banyak pikiran karena tidak menyadari sudah dalam perjalanan"


"Karena penculiknya kamu sayang kalau yang lain aku tak akan seperti ini"


"Jadi masalahnya apa?" Dia mengecup bibir ku. Aku tahu ini tak akan berakhir jika aku belum bisa menemukan alasan yang tepat.


"Jangan ajak aku menaiki rollercoaster lagi ya" Bian kembali pada posisi di kursi sambil tersenyum lebar.


"Maafkan aku ya. Sekarang kamu tidak sepucat tadi"


Tentu saja ciuman mu membuatku merona menepis pucat karena shock tadi. Aku berkata dalam hati


"Aku pulang dulu ya sayang"


"Iya, Hati-hati di jalan ya sayang. Kabari aku langsung jika tiba di rumah" Bian membelai kepala ku. Aku bersyukur kali ini dia mempercayai ku.


*******

__ADS_1


Mobil ku kembali melaju di jalanan disinari matahari sore yang hangat.


Aku masih dilanda keraguan untuk menceritakan peringatan papa Bian. Untuk saat ini aku masih dalam keputusan awal.


Menunggu kabar dari Adiwarna. Mencocokkan nomor Setya dengan nomor yang menghubungi Adiwarna.


Memastikan apakah benar peringatan pak Setya memiliki hubungan dengan sewa ruko yang tidak diperpanjang. Aku harus menyambung kejadian yang terpotong ini


BRAAAKKK.. BRAAKKK


Kepala ku membentur stir mobil. Untuk sesaat aku merasakan pusing. Aku menubruk sesuatu memang bukan tabrakan besar tapi tak ayal mobil ku terhenti karena menubruk Ertiga putih yang terparkir di depan minimarket.


Aku turun dari mobil, Beberapa orang mulai mendekati ku dan mobil Ertiga. Aku masih memegang kepala yang pusing serta mencoba mencerna kejadian barusan.


Sekonyong-konyong semua orang menoleh ketika ada teriakan histeris.


"MOBIL KU SIAPA YANG NABRAK. ASTAGA SAMPAI PENYOK BODI BELAKANGNYA"


"Dion??"


"Anggrek! Kamu yang nabrak?"


"Iya"


"Ya ampun Anggrek. Sudah sekian lama tidak ketemu kamu sengaja menabrak mobil ku. Cicilan baru lunas, Anggrek!!"


"Iya maafkan aku. Aku tidak sengaja, Dion. Dia teman ku, Kami akan menyelesaikan secara kekeluargaan" Aku mengatakan dengan suara cukup keras untuk orang-orang yang mengerumuni kami. Mereka pun lalu bubar.


"Aduh Nggrek, Bengkel tutup ini sudah sore"


"Ini kan cuma bagian belakang, Dion. Kamu masih bisa pulang. Besok kamu ke bengkel aku akan segera mengganti biaya perbaikannya. Nomor ku masih kamu simpan?"


"Enggak lagi sejak aku beli handphone baru. Banyak nomor kontak hilang termasuk nomor handphone mu, Berapa nomormu?"


Dia mengeluarkan dengan penuh aksi lalu meletakkan tepat di depan wajah ku handphone berlambang buah digigit.


Aku menyebutkan nomor ku lalu dengan cekatan Dion mengetiknya. Cowok pertama yang mendekati ku saat putus dari Adiwarna saat video ku Viral, Dia mendekati ku untuk menaikkan follower sosial medianya.


"Sampai besok ya Dion nanti kamu bisa kabari berapa biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan mobilmu"


"Oke Anggrek segera ku laporkan dengan senang hati riang gembira biayanya"


"Kamu kirim via pesan saja ya. Nanti aku transfer"


"Aku kabarin deh gimana besoknya"


"Dah Dion"


Aku meninggalkan cowok ganteng satu ini. Aku baru menyadari betapa parahnya aku dulu ketika patah hati. Sampai bisa kencan dengan pria seperti Dion. Dia bahkan tidak menanyakan keadaan ku sesudah menubruk mobilnya.


Mobil ku melaju dengan penyok di bagian depannya. Kali ini aku tidak memikirkan apapun, Masih untung ku tubruk tadi Dion jadi lebih mudah menyelesaikannya.


Kehidupan terkadang menyerupai rollercoaster. Naik turun membuat jantung seakan mau lepas dari tempatnya. Seperti aku saat ini, Berapa masalah datang bersamaan.


********

__ADS_1


__ADS_2